Minggu, 16 Desember 2018

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #6-4









Sebelumnya



* * *



‘Hai, Ke. Apa kabar?’

‘Baik.’

‘Belum tidurkah, Ke? Sudah tengah malam.’

‘Belum.’

‘Mm ... Kapan kita bisa bertemu, Ke? Aku kangen banget sama kamu.’

Ia tak membalas pesan itu dengan tulisan. Tapi langsung dengan tindakan. Yang hasilnya nihil besar, karena Maxi sedang tidak ada di rumah.

‘Ke, aku ke rumahmu, tapi kamu nggak ada. Kapan kita bisa benar-benar ketemu, Ke?’

Pingkan menatap layar ponsel dengan sorot mata kosong. Pesan dari Maxi kemarin sore itu juga belum dibalasnya. Karena sejujurnya ia tak tahu harus membalas dengan kalimat seperti apa.

Ia menangkap kerinduan yang sarat dalam pesan Maxi. Sama saratnya dengan kerinduan yang tertumpah dalam tatapan Maxi saat mereka bertemu menjelang siang tadi di salah satu lorong gedung Royal Interinusa Karawang. Kerinduan yang hanya bisa meluber dalam hening di tengah dengung sapaan dan keramaian. Ia juga mendapati ada keterkejutan melompat keluar dari sepasang mata teduh Maxi ketika melihat kehadirannya.

‘Memangnya dia nggak tahu siapa Andries?’

Itu pesan yang dikirimkannya pada Donner dalam perjalanan pulang dari Karawang menjelang sore tadi. Pingkan kini mengulangi membacanya.

‘Maxi? Dia nggak tahu, Ke. Bahkan dia juga nggak tahu kalau Royin milik kalian.’

Jawaban telak yang membuatnya mendesah panjang.

‘Memangnya lu nggak pernah cerita?’ Donner mengirim pesan lagi.

‘Ya, enggaklah, dodol! Lu kira gue type cewek tukang pamer?’

‘Soriii 🙏🙏🙏. Btw, gue emang bilang Andries kalau Maxi masukin lamaran ke sono. Gue segen ngomong sama Nicholas.’

‘Iya, tadi Andries udah cerita sama gue. Tanpa lu bilang juga Maxi lolos seleksi, kok. Btw, perasaan Andries pernah nengokin Maxi bareng gue, ya? Kok, Maxi bisa nggak kenal Andries? Andries sempatin diri wawancara dia langsungm, lho.’

‘Eh, dodol! Lu kata anak masih pengsan di ICU gitu bisa ngenalin siapa yang nengokin? Yang bener aja lu!’

Pingkan menggigit bibirnya. Menahan senyum. Menyadari ketololannya. Dan, masih panjang lagi pembicaraan dalam hening mereka.

Pingkan mengalihkan tatapan dari layar ponselnya. Hujan sudah lama berhenti. Hanya tersisa embusan angin dingin dan basah yang membuatnya merapatkan kardigan dan menarik lututnya lebih merapat ke dada.

“Ke? Belum tidur?”

Suara berat itu hampir saja membuat Pingkan melemparkan ponsel yang digenggamnya, saking terkejutnya. Ia menoleh. Mendapati ayahnya menatapnya dari ambang pintu yang memisahkan ruang makan dengan teras samping. Laki-laki itu kemudian menghampirinya. Duduk di sebelahnya.

“Urusan di Karawang tadi beres?” Harvey mengelus kepala putri bungsunya.

Pingkan mengangguk. Sepertinya memang belum waktunya bagi Andries untuk melaporkan hasilnya secara resmi kepada ‘bos besar’. Tapi bukan masalah besar kalau sang bos besar hanya sekadar tahu berita saja. Harvey melingkarkan tangan kukuhnya di sekeliling bahu Pingkan.

“Mm ... Papa dengar, Maxi masuk Royin, ya?” Suara Harvey terdengar sangat halus.

Oh, jadi tampaknya cuma aku doang yang ketinggalan berita ini? Pingkan mencibir dalam hati. Merasa kecolongan.

“Iya,” akhirnya ia menjawab, dengan nada berat.

“Lagi training di Karawang?”

Pingkan mengangguk tanpa suara.

“Tadi sempat ketemu?”

Pingkan mengangguk lagi. Masih tanpa suara.

“Sempat ngobrol?”

Pingkan menggeleng. Harvey manggut-manggut. Tapi seketika gerakan kepalanya terhenti mendengar suara lirih putri bungsunya.

“Jadi ... seberapa banyak Papa kenal Maxi?”

Harvey terdiam sejenak. Mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa ya ng ada di dalam pikirannya.

“Mm ... sebetulnya belum tahu banyak,” gumamnya kemudian. “Hanya sekadar tahu bahwa dia pemuda baik-baik, yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga baik-baik, seorang adik dan abang yang baik juga buat saudara-saudaranya, dan seorang sahabat yang baik buat Donner. Waktu dia masih dirawat di ICU dulu, Papa sempat ngobrol agak banyak dengan papanya. Dia seorang papa yang sangat bangga terhadap satu-satunya anak laki-laki yang dia punya. Tentu saja Papa paham betul perasaan itu, karena seperti itulah rasa yang Papa miliki terhadap putri Papa yang paling cantik ini.” Harvey mengeratkan rengkuhan lengannya.

“Dari Donner, Papa tahu bahwa prestasi Maxi juga bagus. Pendeknya, dia calon menantu harapan para calon mertua.” Harvey tertawa ringan. “Pasti tidak sesempurna itu, tapi kalau pada dasarnya karakternya sudah baik, ya, bisalah diharapkan banyak. Papa juga sempat dengar laporan bahwa skor tes akhir training di Cikarang minggu lalu dia paling bagus. Tapi lebih dari itu, semuanya terpulang padamu. Itu yang paling penting.”

Pingkan menggigit bibir. Sudah benar-benar jelas sekarang seluruh keluarganya berada di pihak siapa. Ia memang belum tahu pendapat Nicholas. Tapi dari keputusan yang sudah diambil dan kehidupan yang sekarang ditempuh Nicholas dengan teguh, rasanya ia sudah tahu sikap abang sulungnya itu.

Ariana, istri Nicholas, bernasib hampir sama dengan dirinya. Ariana pernah diundang ke pesta ulang tahun ketujuh belas salah seorang teman sekolahnya. Namanya Betsy. Tak ada yang menyangka bahwa pesta itu jadi tak terkendali karena sepupu gadis yang berulang tahun berhasil menyelundupkan beberapa teman berandalannya. Tak tanggung-tanggung, terjadi rudapaksa terhadap empat orang gadis. Dua di antaranya adalah Ariana dan dan Betsy.

Betsy depresi, berhasil melakukan bunuh diri. Dua orang gadis yang lain pun trauma berat dan sama depresinya, tapi tak sampai melakukan hal yang diinginkan. Sementara Ariana? Akibatnya jauh lebih berat. Ia hamil, tapi bayi prematur yang dilahirkannya meninggal.

Nicholas mengenal Ariana dari Roman, salah seorang kawan kuliahnya. Roman adalah abang Ariana. Ariana yang manis, lembut, dan terkesan berselimut kabut kelabu berhasil menarik hati Nicholas. Masa lalu Ariana tidak membuat Nicholas mundur sedikit pun. Perlu waktu hampir enam tahun bagi Nicholas untuk meyakinkan Ariana, hingga Ariana bersedia dibawa ke depan altar.

Tapi perjuangan Nicholas belum selesai. Masih ada sisa-sisa trauma yang disimpan Ariana. Ketika trauma itu nyaris pupus seutuhnya, justru Pingkan mengalami hal yang sama.

Salah satu orang yang mendekap Pingkan erat-erat adalah Ariana. Ariana adalah orang yang paling mengerti perasaannya. Tapi soal Maxi, Pingkan belum bercerita apa-apa.

Mengingat hal itu, Pingkan sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah ayahnya.

“Aku mau ke Tangsel besok,” ujarnya.

Tentu saja Harvey tahu apa yang ada dalam benak putri bungsunya.

“Mau ketemu kakak iparmu?” senyum lega terbit di wajah Harvey.

“Ya,” angguk Pingkan.

“Besok, Papa antar kamu ke Tangsel. Papa juga sekalian mau nengok pabrik.”

Tanpa bisa dicegah, Pingkan memeluk Harvey erat-erat. Dan, tentu saja, sang ayah membalasnya dengan kehangatan yang tumpah ruah.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)