Kamis, 06 Desember 2018

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #5-1









Sebelumnya



* * *


Lima


“Lu kacau banget kelihatannya.”

Pingkan mengangkat wajah mendengar gumaman Donner. Selanjutnya ia memilih untuk diam.

Walaupun berusaha untuk mengisi libur semester dengan banyak kesibukan, tak urung Pingkan tetap merasa kesepian. Karena biasanya ia cukup banyak melewatkan waktu luangnya bersama Donner. Dan, beberapa waktu belakangan ini ....

Maxi.

Pingkan kembali tertunduk. Berlagak sibuk dengan ponselnya.

Bagaimana kabarnya?

“Sampai kapan lu mau kayak gini terus, Ke?” usik Donner lagi.

Seketika Pingkan melengak. Ada perasaan tak suka menyorot dari sepasang matanya.

“Lu kalau sudah bosen temani gue, silakan pergi,” desisnya. “Nggak ada yang undang lu dalam kehidupan gue sekarang.”

“Bukan gitulah maksud gue, Ke,” bantah Donner, halus.

Ia tahu, harus berhati-hati sekali bicara dengan Pingkan sekarang. Sudah tak ada sisanya lagi Pingkan yang dulu. Pingkan yang periang, humoris, dan sedikit cablak. Mengingat itu, segunung rasa bersalah kembali bersemayam dalam hati Donner.

Seandainya ....

Donner menggeleng samar.

Ia dan Derby, abang satu-satunya yang ia pernah miliki, memang berbeda bak langit dan bumi. Tapi ketika menggulung memori hingga ke masa kecil, ia hanya bisa mendapati perasaan bahwa Derby adalah malaikat pelindungnya. Abang yang terpaut usia tiga tahun di atasnya itu selalu menyayangi dan menjaganya dengan baik.

Sayangnya, ketika Derby beranjak remaja, ada saja mulut usil yang membuka sejarah kehidupan Derby. Bahwa Derby hanyalah anak angkat. Bahwa Derby hanyalah anak ‘pancingan’. Derby memang hadir menjelang ulang tahun keenam pernikahan Michelle dan Sam. Derby memang diadopsi secara resmi oleh Michelle dan Sam. Barangkali benar tujuannya untuk ‘memancing’ kehadiran anak kandung dalam kehidupan mereka, tapi Michelle dan Sam telanjur jatuh sayang kepada Derby.

Sepanjang ingatan Donner, kedua orang tuanya tak pernah mengistimewakan ia yang merupakan anak kandung. Kedudukannya dan Derby sama dalam keluarga. Menerima hak dan kewajiban yang sama. Mendapatkan fasilitas yang sama. Dan lebih daripada itu, mendapatkan porsi kasih sayang yang sama. Sehingga ia sendiri tak pernah menyangka bahwa Derby benar-benar bukanlah abang kandungnya.

Saat kenyataan itu terbuka, Derby yang sedang berada dalam tahap puber dan sedang gencarnya mencari jati diri pun limbung. Apalagi ia mendengar kenyataan itu bukan dari mulut Michelle dan Sam. Sia-sia penjelasan Michelle dan Sam yang mengatakan bahwa mereka sedang mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan hal itu kepada Derby. Tak pernah bermaksud menutupi. Hanya menunggu waktu yang tepat. Apalagi mereka sangat menyayangi Derby.

Tapi, Derby yang telanjur terluka hatinya dan menganggap Michelle dan Sam berbohong berubah menjadi remaja pemberontak. Hilang sudah segala sifat manis dan baik Derby. Terlebih ia tahu pula kenyataan bahwa ia bukanlah anak yang diingankan oleh orang tua kandungnya, sehingga ‘dibuang’ di depan sebuah panti asuhan.

Kenyataan bahwa Michelle, Sam, dan Donner menyayanginya sepenuh hati tak berarti lagi bagi Derby. Seiring dengan waktu berjalan, ia makin liar. Jarang pulang. Entah seperti apa pergaulannya. Michelle dan Sam sudah benar-benar angkat tangan. Konsultasi dengan psikolog pun tak berguna karena Derby telanjur menutup hati dan memagari diri tinggi-tinggi. Tak terjangkau lagi. Oleh kasih sayang yang tulus sekalipun dari orang-orang yang selama ini menjadi keluarga terdekatnya.

Donner benar-benar kehilangan abangnya. Ia seolah menjelma jadi anak tunggal karena Derby sudah benar-benar jauh tak terjangkau. Karenanya ia menjadi jauh lebih dekat lagi dengan Pingkan. Selain memang sepantaran, keduanya memang sudah terbiasa dekat sejak kecil.

Ketika menghadapi kenyataan bahwa ia harus benar-benar kehilangan Derby yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, Donner benar-benar merasakan sedih yang tak terhingga. Bagaimanapun, Derby pernah dan masih akan tetap mengisi halaman-halaman indah masa kecilnya hingga ia berusia sepuluh tahun. Usia saat ia mulai kehilangan Derby.

Sayangnya, perasaan sedih itu berganti menjadi rasa marah yang luar biasa karena jejak perbuatan biadab Derby terhadap diri Pingkan, sepupu kesayangannya. Apalagi rasa marah itu benar-benar tak bisa ia salurkan karena Derby sudah tiada saat kasus itu terungkap.

Tinggallah penyesalan yang luar biasa dalamnya menggenang dalam hati Donner. Mengisi dari sudut ke sudut. Sudut yang diisi Pingkan sebagai sepupu kesayangannya, dan sudut tempat Derby bersemayam dalam kenangan sebagai abang yang begitu baik sepanjang masa kecilnya. Sudut tempat ia menyimpan rasa sayang terhadap Derby sebagai abang satu-satunya yang ia miliki, dan sudut tempat ia menumpuk rasa benci terhadap Derby. Kutub-kutub berlawanan yang sering membuatnya merasa lelah dan terbebani.

Pingkan memang tak pernah secara terbuka menunjukkan sikap menyalahkan Donner. Tapi Donner ‘tahu diri’. Bagaimanapun, ia ada di tempat kejadian perkara walaupun berada di ruang lain, dan sama sekali tak tahu kejadiannya. Posisi itu yang membuat Donner didera rasa bersalah dan mau melakukan apa saja untuk membuat Pingkan tersenyum kembali.

Tapi alangkah sulitnya ....

Donner mengerjapkan mata. Nelangsa.

Pada satu sisi, ia punya kehidupan sendiri yang harus dijalani dan layak untuk dinikmati. Terutama setelah hatinya tertambat kepada Tisha. Tapi, itu artinya ia harus mulai ‘meninggalkan’ Pingkan. Pada saat seperti itu, beban hatinya terasa dua kali lipat beratnya. Pingkan memang tak pernah sedikit pun mencemburui Tisha. Tapi mata hati Donner juga bisa melihat bahwa sedikit demi sedikit Pingkan mulai memagari lagi dirinya sendiri dan kembali menarik diri.

Sementara itu, Pingkan tercenung dalam lagaknya sibuk dengan ponsel. Pada saat seperti itu, mau tak mau kerinduan itu menyelip tanpa permisi dalam hatinya. Ia rindu terhadap kehidupan penuh warnanya yang dulu. Ia rindu terhadap irama teduh tetes-tetes air hujan. Ia rindu terhadap sejuk dan dinginnya rasa curahan air dari langit di sekujur tubuhnya. Dan, ia pun rindu terhadap ...

Maxi ....

Pingkan menggeleng tanpa kentara.

Apakah dia juga rindu terhadapku?

Pingkan mendegut ludah. Terasa pahit di kerongkongan.

Dengan segala cara ia sudah menghindar dari pemuda itu sejak ia ‘ditembak’. Hatinya ingin, perasaannya lebih lagi, tapi pikirannya menolak mentah-mentah. Ia merasa tak pantas untuk Maxi. Maxi yang dikenalnya adalah seorang pemuda yang sangat baik. Maxi berhak mendapatkan gadis yang lebih daripada dirinya.

Gadis yang BENAR-BENAR masih gadis. Bukan yang seperti aku.

“Kalau kenyataan itu tidak kita hadapi, sampai kapan kita akan kuat untuk ingkar?”

Mendadak saja suara Mai seolah terngiang di telinganya.

“Jujur di awal itu jauh lebih baik. Supaya ada kepastian, Ke. Kita benar-benar bisa dapatkan dia, atau justru kehilangan. Kalau benar bisa dapat, jangan lupa untuk bersyukur. Kalau justru kehilanganlah yang kita hadapi, segeralah pupuk harapan dan semangat untuk tetap optimis. Percaya bahwa masih ada tersisa satu laki-laki yang terbaik buat kita. Suatu saat, pada waktu yang tepat, kita akan bertemu dengannya.”

Pingkan menggigit bibir bawahnya.

Benarkah?

Dikerjapkannya mata.

Lalu, apakah aku sudah siap untuk kehilangan Maxi selamanya?

Pingkan kembali mendegut ludah.

Saat ini pun tampaknya ia sudah mulai kehilangan Maxi. Pemuda itu kelihatannya sudah bosan untuk ‘mencari’-nya. Buktinya, sudah sekian minggu berlalu sejak kebersamaan-tak-sengaja mereka bersama Donner ke Bogor. Tak ada lagi sapaan Maxi melalui WA, yang memang tak pernah lagi dibalasnya. Tak ada lagi sosok Maxi mencarinya baik di kampus maupun di rumah.

Cowok semenarik Maxi, pasti gampang dapat gebetan baru.

Memikirkan hal itu, hampir saja Pingkan tak bisa menahan air matanya. Ia mengerjap beberapa kali. Dan, ia hanya mematung ketika Donner berdiri dan berpamitan.

Di luar, hujan deras seolah tercurah begitu saja dari langit. Simfoni yang tercipta bersama desau angin kali ini terasa mengiris telinga dan hati Pingkan. Tak ada lagi keindahan yang bisa dinikmati telinga dan hatinya. Hanya ada nuansa kelabu dan aroma kepahitan. Juga rasa rindu yang menggunung terhadap seorang Maximilian Magenta.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Catatan :
Episode terbaru cerbung "Portal Triangulum" yang seharusnya mengudara kemarin (hari Rabu), sudah terbit siang tadi. Dapat dibaca di sini.
Terima kasih.