Senin, 10 Desember 2018

[Cerbung] Portal Triangulum #9-1









Sebelumnya



* * *


Sembilan


Di bawah komando Xavier, seluruh pemimpin pasukan yang diperbantukan di Gerose berkumpul untuk koordinasi. Selama ini, keadaan galaksi Triangulum relatif aman dan terkendali. Begitu pula Gerose. Jadi, pasukan keamanan yang mereka miliki tidak cukup andal untuk menghadapi musuh dengan kualitas seperti kaum Maleus. Kaum kurang beradab yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata dan juga dilindungi sihir yang melekat sejak mereka lahir. Belum lagi senjata terkenal mereka berupa godam berapi, yang terkesan kurang canggih, tapi sangat mematikan.

Untuk itu, mereka bergantung pada kekuatan Ratu Amarilya untuk membentuk kubah transparan yang bisa membentengi mereka. Tapi tentu saja kekuatan ratu muda itu juga terbatas. Selain ia, tak ada lagi yang memiliki sihir ampuh untuk menghalangi gerak kaum Maleus nantinya di Gerose.

Begitu menerima kabar dari Masterina Bonemine, Xavier segera menutup gerbang-gerbang bungker. Menyisakan pasukan keamanan di atas. Seluruh penduduk Gerose sudah aman dalam perlindungan.

Salindri berpikir keras bagaimana cara menanggulangi kekuatan kaum Maleus ini. Jauh dalam lubuk hati, ia kurang yakin bahwa Maleus bisa dikalahkan ‘hanya’ dengan kekuatan sihir Ratu Amarilya dan strategi perang yang sedang mereka diskusikan saat ini.

Ia teringat pengalamannya bertahun-tahun lalu saat menghadapi makhluk asing dan aneh yang mendadak saja menyerang Javantara. Ternyata hanya butuh hal sederhana untuk mengalahkan makhluk-makhluk itu.

Apakah kaum Maleus bisa diberi perlakuan yang sama?

Sambil terus mengikuti rapat koordinasi dengan tekun, pikiran Salindri terus aktif bergerak, berputar, dan mencari pemecahan.

Apakah ada cara sederhana untuk mengalahkan kaum Maleus?

Saat ini, referensi tentang kaum Maleus hanya diperolehnya dari penuturan Ratu Amarilya. Kaum Maleus bisa dipukul mundur dengan bantuan Wiluta, ahli sihir abadi kerajaan Catana. Lokasi perang pun hanya di lokal Catana saja. Sialnya, sihir Wiluta sama sekali tidak mempan di luar lingkup Catana. Sementara, Ratu Amarilya masih bisa membentuk kubah yang bisa melindungi mereka dari serangan kaum Maleus walaupun berada di luar Catana.

Hmm ... Aku, kok, kali ini ragu-ragu betul dengan kekuatannya. Apalagi ...

Mata Salindri mengerjap. Pikirannya menangkap keresahan yang menguar dari pikiran Ratu Amarilya. Sejenak, Salindri mencibir dalam hati.

Astaga ... Dia sendiri tidak yakin dengan strategi sihirnya!

Salindri menggeleng samar. Tiba-tiba saja, pikirannya melayang pada Moses. Moses adalah salah satu ilmuwan terbaik yang dimiliki Observatorium Tandan dan Javantara.

Tapi ...

Bahu Salindri sedikit turun. Mengingat satu hal. Moses hanyalah ahli botani semesta. Sama sekali bukan ahli anatomi semesta.

Ah, siapa tahu dia bisa membantu?

Di tengah suasana serius itu, Salindri mengangkat tangan dan berdiri. Semua perhatian kemudian tertuju padanya.

“Mohon maaf, saya melakukan interupsi,” ucap Salindri dengan sangat sopan. “Saya membutuhkan ilmuwan saya untuk menggali info mengenai anatomi musuh. Bolehkah saya mengundurkan diri sejenak untuk menemuinya?”

“Yang Anda maksudkan apakah Tuan Moses, Puan Salindri?” Xavier menegaskan.

“Ya,” jawab Salindri, lugas.

Tanpa banyak kata, Xavier memberi kebebasan bagi Salindri untuk menemui Moses di bungker. Salah seorang anak buahnya diberi perintah untuk mengawal Salindri. Pengawal itu kemudian membawa Salindri ke bungker tamu melalui jalur rahasia. Setelah berjalan beberapa menit melalui jalur yang berliku, masuk ke lift, keluar di sebuah lorong, masuk lagi ke sebuah kapsul yang membawa mereka keluar masuk lorong-lorong lain, akhirnya Salindri sampai di bungker yang ditempati Moses dan timnya.

“Kamu punya informasi penting tentang kaum Maleus, tidak, Mos?” tanya Salindri begitu bertemu Moses. Sama sekali tanpa basa-basi.

“Sebentar, Bu,” Moses masuk ke kompartemen.

Sejenak kemudian ia untuk keluar lagi dengan membawa serta bank datanya. Ia kemudian duduk di dekat Salindri, dan mulai mengoperasikan bank data itu. Diketikkannya ‘kaum Maleus’. Hanya perlu sedetik hingga informasi itu terpampang di layar. Bersama-sama Moses dan Salindri mencermatinya.

“Kaum Maleus merupakan penduduk asli planet Malvez. Planet itu bersama empat planet lainnya (yang tidak mendukung kehidupan) mengorbit bintang merah Placeton di rasi Justus, galaksi Andromeda. Ketika bintang Placeton sampai di akhir hidupnya, meledak dan padam, tata bintang Placeton pun musnah. Berakhir pulalah riwayat planet Malvez.

“Tapi, kaum Maleuz berhasil keluar dari tata bintang Placeton sebelum tempat itu hancur. Sempat terombang-ambing selama beberapa tahun di antariksa Andromeda. Itu disebabkan karena tak ada satu pun penghuni planet lain bersedia menerima kaum Maleus. Setelah beberapa waktu lamanya menyandang julukan sebagai ‘kaum terbuang’ di Andromeda, akhirnya koloni Catanora bersedia berbagi planet dengan kaum Maleus.

“Koloni Catanora yang merupakan gabungan dari kaum Manola, Pixer, dan Exoma tinggal di planet Catana yang berada dalam tata bintang kembar Ciro dan Solana. Sejarah mencatat ada beberapa kali pemberontakan dilakukan oleh kaum Maleus. Tapi selama ini pemberontakan itu berhasil dipatahkan oleh pemimpin-pemimpin koloni Catanora. Kebanyakan memakai ilmu sihir yang dimiliki penyihir abadi Wiluta dan para pemimpin Catana.

“Kaum Maleus juga dikenal memiliki senjata mematikan berupa godam berapi yang disokong oleh ilmu sihir yang mereka miliki. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan beberapa jenis organisme penghuni planet Catana seperti lumbricoid, sejenis cacing raksasa berkulit keras.”

Hanya itu. Hanya informasi umum yang sama sekali tidak mendalam tentang kaum Maleus.

Salindri dan Moses sama-sama mengangkat fokus mata dari layar bank data, dan saling menatap.

“Seandainya saya bisa menghubungi Doktor Orinid...,” gumam Moses.

Salindri menghenyakkan punggungnya ketika Moses menyebut nama ahli anatomi semesta terkemuka yang dimiliki Observatorium Tandan. Sejenak kemudian, Salindri kembali menegakkan punggungnya.

“Okelah,” ia menepukkan kedua telapak tangannya. “Bagaimanapun, sesedikit apa pun, informasi tentang kaum Maleus yang ada dalam bank datamu pasti ada gunanya.” Salindri berdiri. “Baiklah, Mos, aku kembali dulu ke rapat koordinasi. Tapi tolong, sedapat mungkin, carilah informasi lagi mengenai kaum Maleus ini. Barangkali kamu bisa bekerja sama dengan Bibi Azayala. Siapa tahu dia punya pengetahuan lebih tentang kaum Maleus?”

“Baik, Bu.” Moses mengangguk sambil berdiri. “Akan segera saya temui Puan Azayala.”

Salindri menggangguk dan berlalu. Antara merasa puas, dengan tidak. Kelemahan kaum Maleus belum terpecahkan. Menimbulkan ganjalan tersendiri dalam hatinya.

* * *

Sepeninggal Salindri, sambil tetap menenteng bank datanya, Moses segera menemui penjaga bungker. Walaupun ia bisa bebas berbuat apa saja dalam kompartemennya, tapi tetaplah ia berada di bawah tanggung jawab penjaga bungker. Tanpa syarat apa pun, ia kemudian diantarkan oleh seorang penjaga menuju bungker ilmuwan.

Bungker ilmuwan tak jauh letaknya dari bungker yang dihuni Moses dan timnya. Perempuan energik itu menyambut kedatangan Moses dengan hangat. Digandengnya tangan Moses hingga ke lobi kompartemennya.

“Bosan juga, ya, hidup di bungker, Tuan Moses?” senyum Azayala.

“Seperti yang Anda rasakan, Puan,” Moses mengangguk dengan sikap hormat.

“Anda pasti ingin pulang ke Bhumi,” gumam Azayala.

Mata bening perempuan itu tampak meredup dan menerawang tiba-tiba. Tapi sejenak kemudian ia menggeleng. Kembali menatap Moses disertai senyum tersungging di bibir.

“Ya, saya tahu betul apa yang Anda rasakan, Tuan Moses,” gumam Azayala lagi. “Nah, sekarang katakan, angin apa yang membawa Anda berkenan berkunjung ke sini?”

Moses segera menuturkan pertemuannya dengan Salindri baru saja. Azayala memberikan perhatian penuh. Sayangnya, ia kemudian menggeleng.

“Maafkan saya, Tuan Moses,” ucap Azayala, lirih. “Sepertinya saya tidak punya data yang Anda inginkan. Penelitian kami belum sejauh itu hingga sampai ke telaah morfologi dan anatomi kaum Maleus.”

Seketika, bahu Moses turun. Harapannya pupus sudah. Entah bagaimana pasukan keamanan nanti bisa menghadapi kaum Maleus.

Tak menemukan hasil, Moses pun berpamitan untuk kembali ke bungkernya. Tapi, permintaan Azayala berhasil menunda sejenak keinginan itu.

“Maaf, Tuan Moses, apakah Anda masih punya data tentang jamur Lendiris lilac yang sempat bikin heboh tempo hari?”

“Oh, ada, Puan!” Moses mengangkat lebih tinggi bank data di tangannya. “Kebetulan saya bawa bank data saya. Boleh saya transfer sekarang.”

Azayala menatap Moses dengan riang sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ia kemudian menghilang sejenak ke dalam kompartemennya untuk mengambil benda sejenis yang ia miliki.

Keduanya kemudian sibuk menyelaraskan frekuensi alat-alat mereka sambil bercakap tentang berbagai hal ringan. Ketika semuanya siap, Moses segera mentransfer data yang diperolehnya dari Orinid melalui Kana dan Aldebaran. Sambil sesekali menatap layar bank data untuk memastikan bahwa transfer informasi mereka lancar, Moses dan Azayala terus mengobrol ringan.

Hingga pada satu detik, tatapan Moses terpaku pada layar bank data yang dimilikinya. Jari telunjuknya segera menyentuh kotak ‘pause’.

“Puan, coba lihat!” serunya. Telunjuknya mengarah ke layar bank data miliknya. “Katakan mata saya tidak salah!”

Azayala mengikuti arah telunjuk Moses dan meneliti layar. Sejenak ia terpaku.

“Tidak,” bisiknya kemudian. “Anda sama sekali tidak salah lihat.”

“Astaga...,” Moses mendesis sambil menepuk keningnya. “Ternyata seperti itu!”

Tanpa menunggu lama, Azayala kemudian meraih bank datanya dan menarik tangan Moses.

“Mereka harus tahu!” seru Azayala.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)