Kamis, 17 Januari 2019

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #11-1









Sebelumnya



* * *



Sebelas


Waktu bergulir begitu cepat, walaupun terkadang terasa sangat lambat saat Maxi merindukan Pingkan. Tak terasa sudah setahun lamanya ia bekerja di perusahaan itu. Betah? Sangat! Ia tak hendak memungkiri perasaannya sendiri.

Tapi ...

Maxi duduk tercenung di depan meja tulis di dalam kamar indekosnya. Menatap helai-helai kertas yang tergenggam di tangan. Surat keputusan pengangkatannya sebagai karyawan tetap Royal Interinusa. Sekaligus surat tugas untuk melakukan hal lain.

Pelan-pelan, Maxi menyandarkan punggungnya. Mengingat kembali peristiwa bagai mimpi yang dialaminya menjelang siang tadi.



Ia baru saja selesai melakukan uji akhir salah satu mesin di line tiga yang sejak pagi diperbaikinya ketika pengeras suara di sudut ruang pabrik berbunyi.

“Panggilan ditujukan kepada Saudara Maximilian Magenta, diharapkan segera menghadap Ibu Kurnia di kantor HRD. Terima kasih.”

Setelah menyerahkan mesin kepada salah seorang penyelia produksi, Maxi segera bergegas ke kantor HRD. Ia tahu, hari ini adalah penentuan nasibnya. Akan terus berada di sini, ataukah harus mencari lahan lain.

Dan, perempuan berusia akhir empat puluhan bernama Kurnia itu sudah menunggunya dengan senyum cerah. Setelah menyuruh Maxi duduk, tanpa basa-basi lagi Kurnia mengeluarkan sebuah amplop dari laci mejanya.

“Mas, gimana, betah kerja di sini?” tanya Kurnia sebelum menyerahkan amplop kabinet putih berlogo resmi Royal Interinusa.

“Betah, Bu,” jawabnya, jujur.

“Bagus!” Kurnia melebarkan senyumnya. “Karena Mas Maxi akan tetap berada di sini.” Kurnia menyodorkan amplop yang dipegangnya kepada Maxi. “Ini SK-nya. Silakan Mas baca baik-baik. Oh, ya, ada pesan dari Pak Andries, Mas diminta ke ruangannya setelah secara lengkap membaca isi amplop ini. Boleh Mas buka di sini sekarang juga. Silakan.”

Setelah menghela napas panjang secara tersamar, Maxi membuka amplop itu. Dibacanya kalimat demi kalimat baik-baik. Benar, isinya adalah surat pengangkatannya sebagai karyawan tetap. Dan, masih ada satun lembar lagi. Membuatnya segera menatap Kurnia sembari mengerutkan kening.

“Ini ...”

“Ya.” Kurnia mengangguk. “Ada tambahannya. Itu yang Pak Andries ingin bicarakan secara langsung dengan Mas.”

“Oh ...”

Maxi pun segera berpamitan seraya mengucapkan terima kasih. Langkahnya sepanjang lorong yang menghubungkan kantor-kantor manajemen dengan lokasi pabrik terlihat ragu-ragu. Bahkan, ia berhenti sejenak ketika sampai di pertengahan lorong. Di pangkal anak tangga yang menuju ke kantor direktur di lantai atas.

Hampir satu menit lamanya ia hanya berdiri mematung, sebelum suara gelegar guntur membuatnya terjingkat kaget. Dihelanya napas panjang, sekaligus berusaha menetralkan kembali debar jantung yang mendadak saja bertambah frekuensinya.

Beberapa detik kemudian, ia sudah sampai di depan meja sekretaris direktur. Disapanya perempuan berusia menjelang empat puluhan itu dengan sedikit ragu. Tapi balasan yang ramah segera menyambutnya.

“Oh, Mas Maxi, ya? Masuk saja, Mas. Tadi Bapak sudah pesan, kalau Mas datang, langsung disuruh masuk saja. Mari, saya antar.”

Maxi menggumamkan terima kasih dan membuntuti langkah sekretaris bernama Imma itu.

* * *

“Duduk, Max.” Andries menyalami Maxi.

Pemuda itu menurut. Mengambil tempat di seberang meja kerja Andries.

“Sudah baca surat yang dikasih sama HRD?” tanya Andries.

“Sudah, Pak.” Maxi mengangguk sopan.

“Jadi?”

Maxi mengerjapkan mata beberapa kali sebelum memberanikan diri menatap Andries.

“Apakah harus?” Suara lirih Maxi nyaris menguap di udara.

Andries menatap Maxi dengan sikap sangat tenang. Bahkan ada segaris tipis senyum di bibirnya.

“Aku lihat kamu punya kemampuan lebih,” tegas Andries. “Dan, ilmumu harus bisa ditingkatkan lagi ke jenjang magister sesuai surat tugas dari perusahaan. Mungkin ada sedikit bau otoriter di sini karena aku mensyaratkan kamu harus ambil magister teknik industri.”

“Kalau saya tidak mau?”

Maxi sendiri kaget mendengar ucapan yang keluar begitu saja tanpa rem dari mulutnya. Tapi tampaknya ketenangan Andries sama sekali tak terusik. Bahkan mengeluarkan jawaban yang sama sekali tak bisa diduga Maxi.

“Kalau kamu pandang perlu aku memohon kepadamu, akan kulakukan sekarang juga.”

Maxi ternganga. Sudah kalah satu langkah.

“Tapi aku tak akan memaksamu, Max.” Andries mengalihkan tatapannya ke luar jendela ruang kerjanya. Tatapannya tampak setengah menerawang. Begitu juga suaranya. “Aku hanya mencoba untuk melakukan yang terbaik.”

“Kenapa saya, Pak?”

“Kamu punya impian untuk melanjutkan studimu ke jenjang magister, kan?” Andries kembali mengalihkan tatapannya kepada Maxi.

“Ya, Pak.” Maxi mengangguk. Tak punya pilihan lain. Ia sendiri pernah mengatakan hal itu kepada Andries saat wawancara dulu.

“Lalu apa keberatanmu?”

“Saya ....” Maxi mendegut ludah. “Kalau saya mendapat kesempatan ini karena ada hubungannya dengan Keke, lebih baik alihkan saja ke orang lain yang lebih berhak, Pak.”

Andries menyandarkan punggungnya. Terlihat menimbang-nimbang sesuatu sebelum melanjutkan bicaranya.

“Sedikit masuk ke masalah pribadi. Kalau boleh tahu, sudah sejauh apa hubunganmu dengan Keke?”

“Saya sayang padanya. Saya ingin menjadi teman hidupnya dan menjaganya selamanya. Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau keluarga Bapak juga mengizinkan.”

Andries mengulas senyum mendengar ada nada tegas dalam suara Maxi. Ia kembali menegakkan punggungnya. Melipat kedua lengan di tepi meja, tepat di depan dada.

“Kamu tahu kenapa aku memegang kendali dua pabrik sekaligus?” Ditatapnya Maxi baik-baik.

Maxi menggeleng.

“Keke nggak pernah cerita apa-apa?”

Maxi kembali menggeleng. Andries menghela napas panjang sebelum melanjutkan lagi bicaranya.

“Royin Cikarang ini milik Keke. Tapi kamu tahu sendiri minatnya sama sekali bukan di sini.”

Maxi sempat terperangah sebelum mengangguk. Paham seutuhnya.

Minat Pingkan memang jauh sekali dari urusan produksi baja. Tapi gadisnya itu sudah mulai menunjukkan sesuatu. Enam bulan lalu sudah membuka salon kecantikan yang dikelolanya sendiri sembari tetap melanjutkan kuliah. Operasionalnya dibantu oleh beberapa tenaga terampil dari rumah singgah Amey. Sejauh ini, hasilnya cukup menggembirakan.

“Sayangnya, pabrik sudah telanjur berdiri,” lanjut Andries. “Ada banyak mulut yang harus tetap diberi makan. Mau tak mau harus tetap dikelola dengan baik. Jatuhlah padaku untuk mengelolanya, tapi statusnya tetap milik Keke. Suatu saat akan jadi milikmu juga, kalau kamu benar-benar jadi belahan jiwa Keke. Melihat potensi kerja dan keseriusanmu menjalani hubungan dengan Keke, aku harus mulai menyiapkanmu dari sekarang, Max. Kalau kamu mencintai Keke, tolong, lanjutkan pendidikanmu seperti yang kamu inginkan, sekaligus tetap berkerja di sini dengan gaji penuh.”

Maxi terhenyak.

Rasa-rasanya ia tak pernah mencintai Pingkan dengan syarat tertentu. Pingkan saja seutuhnya sudah lebih dari cukup untuknya. Sama sekali bukan ‘Pingkan dengan embel-embel’. Lagipula, sesungguhnya ia tak suka pula bila harus melakukan sesuatu dengan alasan ‘hanya’ karena cinta. Tapi Andries mematahkan ‘kesombongan’ itu dengan kalimat-kalimat selanjutnya.

“Kalau kamu berkesempatan menjadi anak seorang pemilik usaha besar, memiliki pabrik, dan sejenisnya, aku yakin kemampuanmu lebih daripada aku, Max. Tanpa melihat posisimu dalam keluarga kami kelak, aku yakin kamu akan tetap mampu mengendalikan pabrik ini sebagai dirimu sendiri. Bahkan pabrik di Karawang sekaligus. Inilah yang aku coba untuk menawarkannya padamu. Kesempatan, dan masa depan.”

Maxi masih terdiam. Mencoba mencerna baik-baik maksud Andries.

“Satu hal lagi, kemungkinan besar umurku nggak akan panjang.”

Seketika Maxi tersentak. Diangkatnya wajah. Ditatapnya Andries. Tapi sebelum ia bisa membuka mulut, Andries kembali berucap,

“Dalam waktu yang masih tersisa ini, aku harus berusaha untuk menemukan penggantiku. Sebagai pengendali pabrik-pabrik ini, dan juga penjaga Keke. Dan, orang itu kamu, Max. Aku melakukan ini dengan dukungan penuh dari Papa dan Nicholas. Keke tahu, tapi dia sama sekali nggak mau ikut campur. Karena dia tahu, bisa kehilangan kamu kalau dia ikut-ikutan memaksamu. Aku tahu dia lebih memilih kamu daripada pabrik ini. Jadi ....” Andries mengedikkan bahu.

“Bapak ... kenapa?” susah payah Maxi menggumamkan itu.

“Tanyakan saja pada Keke.” Andries kembali mengulas senyum tipis. “Dan, maaf, sudah hampir pukul dua belas, waktunya makan siang. Aku mau makan dan secepatnya harus ke Karawang. Kuharap jawabanmu tidak mengecewakan, terutama mengecewakan dirimu sendiri.”



Nada panggil yang cukup nyaring menggema dalam kamar itu mengagetkan Maxi. Seketika ia tertarik keluar dari lamunan. Ia meletakkan helai-helai kertas yang sedari tadi dipegangnya di atas meja, kemudian meraih ponselnya.

”Ya, halo, Ke,” ucapnya, nyaris hanya berupa gumaman.

“Gimana?”

Hanya satu kata, tapi sudah membuat Maxi paham bahwa Pingkan tengah menanyakan nasib pekerjaannya, yang kemungkinan besar Pingkan pun sudah tahu jawabannya.

”Ya ..., aku jadi karyawan tetap mulai tanggal satu besok, Ke.”

“Wah, asyik, dong! Aku mau, dong, ditraktir!”

Suara ceria Pingkan di seberang sana mau tak mau membuat Maxi tertawa kecil. Sebelum ia sempat menanggapi lebih lanjut, suara kenes Pingkan sudah membuatnya terperangah.

“Aku sudah ada di depan indekosmu. Kamu keluar, ya!”

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)