Minggu, 13 Januari 2019

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #10-3









Sebelumnya



* * *



Pingkan membaringkan tubuhnya di ranjang. Lelah juga rasanya seharian tadi membantu Maxi pindahan. Selain itu, ada rasa lain yang ia susah untuk menerjemahkannya. Pendeknya, ada rasa sesak karena pada hari kerja ia cukup jauh jaraknya dari Maxi. Padahal, rasanya baru sejenak ia menikmati kebersamaan yang manis dengan Maxi. Dihelanya napas panjang.

Seandainya aku berani untuk memulai semuanya lebih awal ...

Tapi dilihat dari sudut mana pun, hal itu sudah terlalu lambat untuk ia sesalkan. Waktu sudah telanjur berputar maju. Toh, pada akhirnya, ia tetap bersama dengan Maxi.

Hanya saja ...

Pingkan menghela napas panjang, selanjutnya menguap lebar.



Malam sudah cukup larut. Sudah hampir pukul sebelas ketika ia tadi membuka pintu apartemen Andries. Menemukan sang abang menunggunya pulang hingga tertidur di sofa.

Ada rasa bersalah menyelinap ke dalam hati Pingkan melihat wajah Andries yang terlelap. Seberkas cahaya temaram yang berasal dari lampu balkon menyelinap masuk melalui sela-sela tirai, jatuh ke wajah Andries. Menampakkan gurat keletihan yang ada pada wajah abangnya itu.

Dengan gerakan dan suara sangat halus, Pingkan membangunkan Andries. Perlu waktu beberapa menit sebelum laki-laki itu mengerjapkan mata beberapa kali.

“Hei! Sudah pulang?” Suara Andries terdengar sedikit serak. “Pukul berapa ini?”

“Sebelas kurang dikit,” bisik Pingkan.

Andries bangun dari posisi berbaringnya. Duduk sambil menguap lebar.

“Maaf, Dries, aku baru pulang gini hari.” Pingkan menunduk.

Andries tersenyum lebar.

“Kayak anak SMP saja, Ke,” ujarnya. Tangannya terulur, menepuk lembut kepala Pingkan. “Nggak apa-apa. Gimana Maxi pindahannya? Sudah beres?”

Pingkan mengangguk.

“Kamu sudah makan?”

Pingkan mengangguk lagi. “Tadi diajak makan malam bareng sama keluarganya sebelum balik ke Jakarta. Sama Donner dan Tisha juga.”

“Besok masih bebenah lagi?”

“Enggak, sih. Tapi sudah janjian mau kelilingan lihat-lihat daerah sini. Sekalian aku mau beli termos air panas buat dia. Kamu mau titip apa? Nggak apa-apa aku pergi lagi?”

“Nggak apa-apalah .... Kan, memang kamu ke sini butuhnya untuk itu.”

Pingkan tersenyum manis. Kemudian ia teringat sesuatu.

“Kamu tadi jadi kontrol? Gimana hasilnya?”

“Jadi.” Andries mengangguk. “Baik-baik saja. Masih terkendali, kok, asal obatnya nggak telat.”

Pingkan memeluk Andries.

“Maaf, Dries, aku tadi nggak nemenin kamu,” bisiknya.

Andries balas memeluk. Sekaligus tangannya mengelus lembut kepala sang adik.

“Nggak apa-apa.” Andries menegaskan sekali lagi. “Aku baik-baik saja, kok. Sudah malem, nih. Bobok, yuk!”

Pingkan mengangguk sembari melepaskan pelukannya. Keduanya kemudian beranjak ke kamar. Andries ke kamar utama, sedangkan Pingkan ke kamar kosong di sebelahnya.



Pingkan menguap sekali lagi. Kedua kelopak matanya mulai terkatup. Mimpi indah pun segera menjemputnya, dengan senyum dan wajah teduh Maxi berada di tengahnya.

* * *

Dengan bibir mengulas senyum, Maxi mengeluarkan isi kantung plastik belogo minimarket ‘sejuta umat’. Sebungkus gula pasir, beberapa kotak kecil kopi instan aneka rasa, dua kotak minuman jahe dalam bentuk serbuk, sebungkus oatmeal, dan sebungkus besar bubuk coklat malt.

Tadi, dalam perjalanan pulang dari warung tenda ke indekosnya, Pingkan memintanya untuk berbelok ke sebuah minimarket. Gadis itu memborong aneka bahan pangan dan minuman itu untuknya. Ia hanya bisa tersenyum. Setengah rikuh, setengah senang menerima perhatian dari Pingkan.

“Besok kita keluar lagi, ya, Max,” begitu ujar Pingkan ketika mereka keluar dari minimarket. “Aku mau beli termos kecil buat kamu. Termos air panas. Jadi kamu tinggal rebus air di bawah, penuhin termos, dan bisa bikin minuman di kamar.”

Tak ada alasan untuk menolak ajakan Pingkan. Lagipula, ia juga butuh mengenal daerah sekitarnya, sebuah kompleks perumahan yang sangat luas. Terutama butuh mengetahui tempat-tempat makan yang ramah di kantung.

Dari obrolan singkat dengan beberapa penghuni indekos yang kebetulan bertemu saat ia diantar pulang Pingkan tadi, memang sudah ada ancar-ancar kedai atau depot yang ia maksud. Beberapa ada di luar komplek. Barangkali Pingkan tahu.

Ada juga yang menawarinya berlangganan katering. Sementara tawaran itu ditampungnya dulu. Siapa tahu suatu saat nanti ia memang benar-benar membutuhkan.

Ia menguap lebar tanpa bisa ditahan lagi. Kamar barunya ini cukup nyaman. Hampir sama dengan kamarnya di rumah. Bedanya, suasana di luar kamarnya bukanlah suasana rumah. Sementara ini baru dirasakannya sebagai suasana yang masih asing.

Ah, dinikmati saja ....

Ia tersenyum dan mulai memejamkan mata.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)