Jumat, 30 November 2018

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #4-2









Sebelumnya



* * *



Suasana di sekitar meja makan sudah cukup meriah saat Maxi turun dari kamarnya menjelang pukul sembilan pagi. Pada saat hari libur tanggal merah seperti ini, jadwal sarapan di rumah itu memang mundur jauh dari biasanya. Pada hari kerja, meja makan sudah sepi beberapa menit sebelum pukul enam pagi. Semua tentu tak ingin terjebak macet sehingga terlambat sampai di tempat kerja, sekolah, ataupun kampus.

Maxi menjatuhkan badan di kursi sebelah ayahnya setelah mengucapkan salam. Tak lama kemudian, Livi muncul dari dapur dengan membawa semangkuk besar nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas. Dari jarak sekian meter, Maxi sudah bisa mengenali aroma nasi goreng itu sebagai nasi goreng seafood racikan kakaknya. Kelezatan sudah tergambar jelas dari aroma sedap yang mengelus hidung Maxi. Membuat air liurnya hampir menetes.

Mereka pun menikmati sarapan sambil mengobrolkan banyak hal. Pada suatu jeda, saat suasana hening selama beberapa detik, Prima menatap Maxi.

“Kamu ditanyain, tuh, sama Pak Krisno. Disuruh masukin lamaran ke sana kalau sudah lulus.”

Maxi ternganga sejenak. Satu tempat kerja sama Papa? Nooo ....

“Kan, mau ada perluasan pabrik di Sidoarjo,” lanjut Prima. “Kalau kamu, kayaknya hampir 100% bakal diterima. Tapi penempatannya di Sidoarjo. Masuk kerjanya juga nanti kalau sana sudah resmi buka. Targetnya pertengahan tahun depan. Konsekuensinya, niat mau ke S2, ya, harus ditunda.”

“Wah, ada bau-bau nepotisme, nih!” Livi nyengir.

Prima tergelak ringan sebelum berkilah, “Nepotisme kalau oknumnya dudul, ya, tetap saja lewat, Liv. Pak Krisno, kan, juga tahu record adikmu. Kalau mau lanjut S2, pasti juga difasilitasi.”

Maxi terdiam sejenak. Menatap butiran-butiran nasi goreng yang masih tersisa di piringnya. Ia tengah menimbang-nimbang sesuatu.

Sebetulnya ia ingin menyembunyikan ‘hal itu’ hingga sampai pada saat yang tepat. Bahwa ia ....

Maxi pun akhirnya mengangkat wajah. Menatap ayahnya.

“Mm ... Ngomong-ngomong ..., sebetulnya ... aku dipanggil untuk ikut tes di dua tempat sekaligus,” Maxi meringis sekilas. Menutupi rasa senang sekaligus gugupnya.

“Maksudmu?” Prima mengerutkan kening, menatap anak laki-laki satu-satunya itu. “Kamu isi aplikasi beasiswa di dua tempat sekaligus?”

Sejenak Maxi terbengong sebelum menyadari secuil kesalahpahaman itu.

“Oh, bukan...,” ia tertawa ringan. “Beberapa minggu lalu aku masukin lamaran di dua tempat. Infonya aku dapat di papan pengumuman bursa kerja di kampus. Kemarin dapat email panggilan tes. Jadwalnya selisih dua hari. Dan aku ... deg-degan.” Maxi meringis lagi.

Prima tersenyum lebar menanggapinya. Sementara itu Livi kepo lebih lanjut.

“Kan, kamu belum yudisium?” celetuk Livi.

“Syaratnya minta yang fresh graduate atau yang menjelang lulus, Mbak,” Maxi menatap Livi.

“Oh ...,” sang kakak manggut-manggut.

“Terus, niatmu untuk cari beasiswa S2, gimana?” Prima mengerutkan kening.

“Aplikasinya sudah telanjur aku masukin, sih, Pa.” Maxi mengedikan bahunya. “Entahlah, belum ada jawaban juga.”

“Kalau nggak lolos beasiswa, masih bisa pakai biaya sendiri,” Prima menanggapi dengan nada tanpa beban. “Gampanglah itu.”

Maxi terdiam. Tak ingin mendebat keinginan sang ayah saat ini.

“Lagipula,” lanjut Prima, “kalau pakai biaya sendiri, kan, bisa lebih bebas pilih jadwal. Seandainya benar kamu diterima bekerja, kan, harus menyesuaikan jadwal kuliah dan jadwal kerja. Bisa lebih bebas pilih program ekstensi.”

“Hmm ... Kayak aku sudah pasti diterima kerja saja,” gumam Maxi, mengulum senyum.”

“Lho, kan, harus optimis,” sahut Livi.

“Yang penting, jadilah dirimu sendiri,” timpal Prima, serius. “Jadwal tesnya kapan?”

“Rabu sama Jumat besok ini, Pa.”

“Ayo, habis ini sama Papa beli celana, kemeja, dan sepatu formal,” Prima menepukkan kedua telapak tangannya dengan antusias. “Masa, mau tes kerja pakai celana jins, kemeja flanel, dan sneakers?”

“Hehehe ...,” Maxi terkekeh.

“Sekalian bisa dipakai buat wisuda nanti,” sambar Livi.

Maxi kembali terkekeh.

“Eh, ngomong-ngomong, di perusahaan apa, Mas?” Mela nimbrung.

“Permatin sama Royal Interinusa.”

Seketika Prima menunda suapan sesendok nasi goreng ke dalam mulut. Ditatapnya Maxi.

“Wah, perusahaan-perusahaan super besar itu, Max,” ujarnya. “Bukannya Papa mau melemahkan semangat dan optimismemu, tapi sebaiknya realistis saja. Sainganmu pastilah putra-putri terbaik. Itu artinya peluangmu tipis-tipis saja.”

Seketika Maxi termangu.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)