Rabu, 28 November 2018

[Cerbung] Portal Triangulum #7-3









Sebelumnya



* * *



Di bawah perlindungan Asubasita, Bendrat akhirnya berhasil mengisi penuh kedua kolektor cadangannya. Tepat pada saat itu, hujan meteorit menunjukkan tanda mereda. Ia mendongak dan mendapati bahwa meteorit yang jatuh kini hanya tinggal satu atau dua saja, sebelum benar-benar tak ada lagi yang jatuh.

Bendrat pun segera menarik perisai kubahnya. Ia kembali ke pesawat untuk mengambil kembali kolektor yang isinya sudah berkurang hampir delapan puluh persen. Sekalian saja ia mengisi penuh kolektor itu. Setelah selesai, ia pun bermaksud kembali ke pesawat. Tapi, sejenak ia berhenti. Kali ini, sensor energinya memberi sinyal, bahwa ada sesuatu yang memiliki energi lain sedang berada di sekitar tempat itu.

Setelah menyimpan kembali kolektor-nya ke dalam ruang kargo pesawat, ia mencolek Uysa, rekan satu timnya.

“Ayo, ikut aku memeriksa tempat ini,” bisiknya.

Uysa pun menangguk dan mengikuti Bendrat. Tentunya, Bendrat tak lupa untuk melapor lebih dulu kepada sang bos besar. Setelah mendapat persetujuan Asubasita, keduanya pun melangkah menyusuri tanah berdebu dan bebatuan.

“Ada apa memangnya?” tanya Uysa.

“Aku merasa kita tidak sendirian berada di tempat ini,” gumam Bendrat.

Keduanya sampai di depan sebuah batuan cadas yang cukup menjulang di dekat lubang energi yang ditemukan Bendrat. Uysa tak banyak cakap. Mengikuti saja gerakan Bendrat.

Menjelang sampai di puncak, Bendrat memberi isyarat untuk berhenti. Pada sebuah batu cadas yang berdiri tegak di depan mereka, dengan permukaan vertikal yang cukup datar, Bendrat mengerahkan kemampuannya untuk menerawang secara visual keadaan di balik bebatuan.

Seketika keduanya ternganga ketika melihat segerombolan makhluk asing tengah berbalik dan melangkah tersaruk meninggalkan tempat di balik bukit cadas itu. Bendrat dan Uysa bertatapan sejenak, sebelum segera beringsut tanpa suara. Turun kembali ke dataran.

“Bos, tampaknya planet ini berpenghuni,” lapor Bendrat kepada Asubasita.

Sang bos menoleh dengan gerakan malas dan ekspresi datar. Sama sekali tak tampak terkesan dengan laporan salah satu anak buahnya itu. Sejenak kemudian, Bendrat pun tersadar, bahwa Lurpmes dengan segala peralatannya sudah berhasil mendeteksi keberadaan makhluk penghuni planet tempat mereka mendarat.

Primates taurusineae,” gumam Lurpmes. “Kita ada di planet Monchaz.”

Menurut data yang muncul di layar proyeksi, planet Monchaz yang ada dalam satu sistem tata surya dengan planet Gerose, dihuni oleh makhluk yang masuk dalam spesies Primates taurusineae. Mereka tak hidup di permukaan tanah yang terlalu ekstrim kondisinya. Hunian mereka ada di dalam ceruk-ceruk dan gua-gua bawah tanah.

Primates taurusineae tergolong dalam makhluk primitif yang masih belum terlalu menguasai teknologi. Tertinggal jauh dari Gerose. Meskipun demikian, sistem komunikasi mereka selaras dengan semesta, dan dapat hidup berdampingan secara damai dengan penghuni planet Gerose.

“Tenang saja,” Asubasita mengibaskan tangan dengan sikap meremehkan. “Mereka tak bisa mendeteksi keberadaan kita. Aku sudah menutup pasukan kita dengan perisai antivisual. Tapi kita juga tak perlu lama-lama di sini. Begitu ada kesempatan menyerbu Gerose, kita lakukan!”

“Sementara ini, yang bisa kita lakukan adalah mengganggu sistem energi mereka, Bos,” ujar Lurpmes. “Bila mereka melemah, itu adalah saatnya kita masuk.”

Asubasita mengangguk. Wajahnya tampak bersemangat. Setahunya, Gerose berhubungan dekat dengan Catana dalam sistem antar-galaksi.

Bila Gerose ada dalam genggamanku, maka ....

Asubasita melebarkan bibir tebalnya yang berwarna ungu. Kebanyakan mengkonsumsi buah Syzygium cumini, yang disebutnya sebagai ‘cumini’ saja.

* * *

Sverlin mengembuskan napas lega ketika hujan meteorit berlalu. Masih tersisa beberapa saja meteorit yang jatuh dari langit dalam jangka waktu sekali tiap beberapa menit. Hingga pada akhirnya, peristiwa itu benar-benar berakhir.

Ia meneruskan niat untuk keluar dari pesawat dan menjelajah ke sekitar ceruk tempat pesawatnya tersembunyi. Hening menyergapnya begitu ia keluar dari pesawat. Ia melihat ke bawah. Pada tanah kering berdebu berwarna kelabu dan bebatuan cadas aneka ukuran yang mencuat di sana-sini dari dalam tanah.

Dataran sempit tepat di depan ceruk itu benar dikelilingi bukit batu aneka ukuran dan bentuk. Membuat dataran sempit itu seolah berada di dasar cekungan sebuah mangkuk. Setelah berpikir sejenak, ia pun memutuskan untuk mendaki salah satu bukit batu cadas yang terendah. Tingginya kurang lebih sekitar tiga sampai empat dekameter.

Sesampainya di atas, ia melongok ke bawah, ke balik bukit batu itu. Tapi ia segera menarik kembali kepalanya. Sedikit banyak, ia merasa terguncang atas apa yang baru saja dilihatnya.

Ada dataran yang cukup luas di balik bukit batu itu. Tapi alih-alih kosong, dataran itu penuh terisi dengan belasan pesawat kecil dengan bentuk yang nyaris seragam. Semuanya berwarna sama. Hitam legam. Ia tak sempat melihat ada apa saja selain pesawat-pesawat itu karena keburu menyembunyikan kehadirannya. Diaturnya napas untuk mengurangi debar kencang jantungnya. Ia duduk bersandar di sebuah batu bersisi tegak.

Pelan-pelan, frekuensi napasnya pulih. Membuatnya mampu berpikir lebih jernih. Setelah terdiam sejenak, ia kemudian memutuskan untuk mengaktifkan mode anti visual dan radar pada baju pelindung yang ia gunakan. Dengan demikian, keberadaannya tak akan bisa terdeteksi. Entah kawan ataukah lawan pasukan pemilik pesawat yang ada di bawah itu, ia tak mau ambil risiko.

Lalu, ia beringsut dari tempat itu dan berbalik. Tapi seketika ia tertegun. Ada sekelompok makhluk berbulu kelabu yang tengah mengepungnya. Makhluk itu badannya berbentuk primata tegak, tapi kepala dan wajahnya menyerupai banteng.

Sverlin sempat ternganga. Tapi ia kemudian tertawa. Bukankah ia kini berada dalam kondisi tak terlihat? Hanya saja, tawa itu menghilang ketika menyadari bahwa mode itu tampaknya tak berpengaruh terhadap mata makhluk-makhluk itu. Ia nyaris pingsan ketika dalam hening, makhluk-makhluk itu mengepungnya makin rapat, menangkapnya, dan menggiringnya pergi. Ia sama sekali tak bisa melawan.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)