Selasa, 13 November 2018

[Cerbung] Portal Triangulum #5-2








Sebelumnya



* * *



Moses menatap anggota timnya satu demi satu. Dodge, Leticia, dan Elmor. Semuanya tampak murung.

Ada dua hal yang cukup memukul mereka hari ini. Yang pertama, mereka mendapat kabar dari Profesor Azayala, bahwa salah satu anggota tim penjelajah di dalam karantina tak bisa diselamatkan, karena sistem pernapasan dan sarafnya telanjur terpapar spora jamur Lendiris lilac. Pagi tadi sudah menjalani suntik mati agar penderitaannya segera berakhir. Anggota tim lainnya terus dipantau ketat keadaannya. Yang kedua, sejak planet Gerose mendapat gangguan energi dari Lostrex, Moses beserta timnya diminta dengan sangat agar tidak meninggalkan kompartemen mereka demi keselamatan.

“Tampaknya makin tipis harapan kita agar bisa kembali ke Bhumi, Bos,” gumam Leticia.

“Jangan begitu!” sergah Dodge. “Tuan Xavier sedang mengusahakan stabilnya hubungan komunikasi dan keamanan portal antar galaksi.”

“Tapi lihat saja kenyataannya!” Leticia mulai meninggikan suara.

“Cukup!” ucap Moses, tegas. Kembali ditatapnya anggota tim satu demi satu. “Aku paham kita semua sudah merasa sesak di sini,” lanjutnya, dengan suara lebih rendah. “Aku juga merasakannya. Bagaimanapun terjaminnya hidup kita di sini, tetap saja jauh lebih enak bila kita bisa tinggal di rumah sendiri. Dodge benar, Tuan Xavier sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi pekerjaannya bukan hanya mengurusi kepulangan kita. Aku dengar selentingan, Gerose dan beberapa bagian Triangulum sedang terancam keamanannya. Ada kaum pemberontak dari Andromeda yang jatuh ke sini melalui portal-portal yang belum diamankan. Tepatnya, dari planet Catana. Gerose, mewakili Triangulum, sedang berusaha meminimalisir gangguan keamanan itu. Salah satu caranya, dengan menutup portal dan saluran komunikasi yang berisiko tinggi. Termasuk komunikasi ke Bhumi dan galaksi Andromeda yang terdekat.”

Suasana jadi hening. Hanya ada beberapa helaan napas yang terkesan begitu berat. Hingga Elmor memecahkan keheningan itu dengan suara beratnya.

“Sebenarnya, bagaimana kita bisa tersasar sampai ke sini, Bos? Lain galaksi. Jauh sekali.”

Seketika Moses menatap Elmor. Tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menjawab, dengan suara ragu-ragu.

“Kukira..., semua ini terjadi karena aku, guys.”

Semua anggota tim menatapnya. Penuh tanya.

“Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran profesor setengah sinting itu.” Ada nada gemas dalam suara Moses.

“Profesor Sverlin, maksud Bos?” potong Dodge.

“Ya,” Moses mengangguk. “Yang jelas, tampaknya dia sengaja memberikan koordinat yang salah, agar kita tidak sampai di tujuan, dan tersasar ke tempat lain. Aku. Lebih tepatnya aku, bukan kita.”

“Hmm... Pasti ada hubungannya dengan Doktor Kana, ya, Bos?” Leticia menatap Moses dengan sorot mata ragu-ragu.

Moses menghela napas panjang sebelum menjawab, “Sepertinya iya.”

Terdengar helaan-helaan napas.

“Seandainya tahu akan ada kejadian seperti ini, pasti aku akan bersikeras berangkat sendiri. Tidak melibatkan kalian,” suara Moses terdengar putus asa.

“Ah, Bos,” Elmor menepuk halus bahu Moses. “Kan, kita semua tidak tahu. Sudahlah. Kita baik-baik saja di sini. Semoga kita bisa pulang dengan selamat.”

Semua mengangguk. Setuju.

“Mm... Bos...,” Leticia menatap Moses.

“Ya?” Moses balas menatap Leticia.

“Mm... sebetulnya... bagaimana, sih, hubungan Bos dengan Doktor Kana?” Leticia meringis sedikit. Terlihat rikuh, tapi rasa ingin tahu sudah mengalahkan segalanya.

Moses terbengong sejenak sebelum akhirnya tergelak ringan.

“Hahaha... Hubunganku dengan Kana?” Moses tersenyum lebar di ujung tawanya. “Kami bersahabat sejak kecil. Berteman sangat baik. Sudah seperti saudara. Bahkan, kami dikembangbiakkan di laboratorium yang sama. Kami dibesarkan di rumah asuh yang bersebelahan letaknya.”

Leticia pun manggut-manggut.

Selain manusia alami seperti dirinya, yang dihasilkan oleh sebuah pernikahan yang sah antara sepasang perempuan dan laki-laki yang saling mencintai, ada juga manusia bibit unggul yang dikembangbiakkan di laboratorium. Diklasifikasikan sesuai kebutuhan. Hendak diutamakan kecerdasannya untuk kepentingan regenerasi peneliti, ataukah kekuatannya untuk regenerasi pasukan keamanan. Melalui serangkaian seleksi dan uji genetik yang rumit, dihasilkanlah sel telur dan sperma yang berasal dari donor terpilih, dan kemudian disatukan di atas cawan petri untuk melalui proses pembuahan.

Setelah pembuahan berhasil, bakal-bakal janin itu akan disuntikkan ke dalam rahim buatan yang seratus persen identik dengan kondisi rahim manusia, beserta seluruh sistem suplai makanan melalui aliran darah, gerakan, bahkan rangsangan dari luarnya.

Lantas tinggal menunggu hingga janin siap dilahirkan? Tentu saja tidak. Masih ada seleksi lagi saat janin berusia dua belas dan dua puluh minggu. Hanya janin yang benar-benar sehat dan memenuhi syaratlah yang lolos seleksi dan berhak untuk dilahirkan pada usia tepat empat puluh minggu. Dua orang di antaranya adalah Moses dan Kana.

Selanjutnya, bayi-bayi unggul ini ditangani oleh pusat-pusat pengasuhan, untuk dijaga tumbuh kembangnya dan diarahkan sesuai kebutuhan. Mereka android? Sama sekali bukan. Mereka tetap makhluk hidup biasa dengan segala aspek manusiawinya. Tetap bisa berkembang biak secara normal dan menjadi manusia seutuhnya.

Dan, perempuan seperti Doktor Kana..., pikir Leticia, sudah cantik, bibit unggul pula. Pantas profesor kenthir itu terkiwir-kiwir...

“Aku sungguh-sungguh minta maaf atas semua ini,” ucap Moses, dengan nada suara terdengar patah. “Seharusnya Profesor Sverlin tidak mengambil kesimpulan salah dan membuat keputusan ceroboh seperti ini. Kalaupun memang harus menyingkirkan aku, tak perlulah harus melibatkan kalian juga.”

“Tak apa-apa, Bos,” senyum Dodge. “Nanti kalau kita kembali ke Bhumi, tinggal membuat laporan resmi ke Yang Mulia Salindri soal ini. Biar diteruskan ke Yang Mulia Caruso. Biar habis karier Sverlin.”

“Jangan begitu...,” sergah Moses, halus. “Kita hanya punya dugaan, tak punya bukti apa-apa. Sudahlah, yang penting kita bisa kembali dulu ke Bhumi. Atau mungkin kita...”

Belum tuntas kalimat Moses, terdengar alarm berbunyi nyaring. Mereka berempat terloncat kaget dan segera memburu jendela untuk melihat keadaan di luar. Tapi terlambat. Belum sempat mereka bergerak, bagian luar semua jendela sudah tertutup lapisan metal. Bersamaan dengan itu, pintu kompartemen digedor dari luar. Moses segera memburu pintu dan membukanya.

“Maaf, Tuan,” sekilas Piero, salah seorang staf Xavier, membungkuk sedikit. “Tuan Xavier meminta saya membawa Anda berempat ke bunker. Ada masalah keamanan di seluruh Gerose. Silakan bawa seluruh benda pribadi Anda.”

Tanpa pikir panjang, mereka berempat segera menuruti ucapan Piero. Mengambil semua barang mereka, dan segera mengikuti langkah Piero.

“Sebenarnya, apa yang terjadi?” celetuk Moses.

Piero menoleh sekilas, tak mengurangi kecepatan langkahnya.

“Nanti Komandan Xavier sendiri yang akan menjelaskan, Tuan,” jawabnya lugas.

Moses mendegut ludah. Menangkap ada yang sangat genting dalam situasi yang mereka hadapi saat ini.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)