Monday, July 2, 2018

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #15-4








Sebelumnya



* * *



Mahkota bunga warna-warni itu jelas layu karena tersekap selama sekian puluh menit dalam mobil Kresna. Tapi si kecil Pinasti tak jadi cemberut, karena setelah Pinasti berpamitan dan menyalami ibu gurunya, Kresna menyambutnya dengan sebentuk mahkota bunga segar yang baru.

Seketika mata Pinasti berbinar ketika melihat rangkaian bunga alyssum putih mungil beraroma manis di tangan Kresna, sebelum rangkaian berbentuk lingkaran penuh itu hinggap di puncak kepalanya. Dengan manis diucapkannya terima kasih. Kresna pun menggandeng adiknya masuk ke mobil.

“Kita ke kampus Mas dulu, ya, Pin,” ucap Kresna sembari menghidupkan mesin mobil. “Nanti setengah satu kamu dijemput Mas Seta, soalnya Mas Kresna mau ngajar lagi jam satu.”

“He eh...,” sahut Pinasti dengan patuhnya.

Sambil tersenyum, Kresna mulai melajukan mobilnya.

“Mas... Mas...”

“Ya?” Kresna menoleh sekilas.

“Nanti boleh maem pisang keju, nggak?”

“Di manaaa?”

“Itu... Yang Mas Seta sama Mas Kresna pernah ajak aku itu...”

“Oh... Di kantin kampus?”

“He eh.”

“Lho, bukannya tadi dibawain bekal sama Ibu?” Kresna kembali menoleh sekilas.

“Mm... Tadi itu, Mas, bekal Noni ketinggalan di mobil jemputan. Jadi aku bagi bekalku sama dia.”

“Oh...,” Kresna tertawa ringan. “Ya, deh, kalau begitu boleh...”

“Asyik!”

Sorakan dalam suara kecil dan lucu itu seketika membuat senyum Kresna melebar. Dengan tangan kiri, diusapnya sekilas kepala Pinasti.

Dalam waktu beberapa belas menit, Kresna sudah memarkir kembali mobilnya di tempat semula dalam area parkir Fakultas Ekonomi. Sebelum mereka keluar, Kresna sempat merapikan ikatan ekor kuda rambut adiknya. Mahkota bunga itu tetap bertengger apik di puncak kepala Pinasti.

Saat bergandengan tangan menuju ke kantin di sayap utara, beberapa kali mereka berdua berpapasan dengan dosen-dosen, mahasiswa-mahasiswi, dan juga teman-teman Kresna, baik yang masih jadi ‘mahasiswa abadi’ maupun yang sedang menempuh jenjang S-2. Colekan-colekan gemas pun sempat mampir ke pipi bulat Pinasti, membuat gadis kecil itu mulai cemberut, sehingga sang abang tertawa dan buru-buru menyeretnya ke kantin.

“Nah, kamu mau pisang keju saus cokelat atau karamel?” tanya Kresna begitu mereka duduk di sebuah meja kecil untuk berdua.

“Mm... yang karamel saja. Minumnya susu cokelat, pakai es,” jawab Pinasti, tegas.

“Susu cokelat atau stroberi?” senyum Kresna, setengah menggoda, karena ia tahu betul kesukaan adik kecilnya.

“Mm... stroberi saja, deh!”

“Yang benar...? Stroberi atau cokelat?”

“Stroberi!”

“Cokelat atau stroberi?” goda Kresna lagi.

“Ah... Mas Kresna, ah...,” rajuk Pinasti. “Stroberiii.”

Kresna tergelak karenanya. Pramusaji kantin pun ikut tertawa melihat tingkah Pinasti yang memang lucu dan menggemaskan.

“Pisang keju karamel dua, strawberry milkshake satu, cappuccino satu, ya, Mbak. Terima kasih,” pesan Kresna pada pramusaji. “Eh, tambah mi ayam pangsit goreng satu, deh!”

“Aku juga mau!” sahut Pinasti seketika.

“Iya, nanti sama Mas makannya,” bujuk Kresna sabar. “Kalau kurang, kita pesan lagi.”

“Oh, ya, ya,” si gadis kecil mengangguk-angguk.

“Hih! Adiknya gemesin banget, sih, Mas Kresna,” ujar pramusaji dalam senyum lebarnya sebelum berlalu.

Lagi-lagi Kresna tergelak. Setelah itu Pinasti kembali berceloteh. Dengan sangat sabar, Kresna mendengarkan dan menanggapi. Sesekali mereka tertawa dan terkikik berdua ketika Pinasti menceritakan ulah lucu teman-teman TK-nya.

Pada saat seperti itu, Kresna sungguh bersyukur karena masih diizinkan untuk punya adik perempuan yang sangat cerdas, pandai berceloteh secara runtut dan jelas, lucu, dan menggemaskan seperti Pinasti. Walaupun mungkin agak terlalu terlambat karena usia mereka berjarak cukup jauh.

Obrolan itu terjeda ketika pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Dengan mata berbinar, Pinasti menatap piring berisi pisang panggang yang ditaburi keju parut dan disiram saus karamel. Aroma sedapnya sungguh menggelitik hidung. Kresna memotong-motong lebih dulu pisang di piring Pinasti.

“Hati-hati, masih agak panas ini, Pin,” ujarnya lembut.

Sambil menggumamkan terima kasih, Pinasti mulai menancapkan garpu pada potongan pertama. Tapi asap yang masih mengepul membuatnya ragu-ragu. Maka, ia pun menunda keinginannya untuk menikmati pisang keju itu. Sebagai gantinya, ia meraih gelas milkshake-nya dan menyedotnya pelan-pelan.

“Mau makan mi ayam dulu?” tawar Kresna sambil mengaduk mi ayam dalam mangkuk di depannya.

“Masih panas juga, Mas?”

“Iya, sih...”

“Ng...”

“Mas tiupin, deh!”

Pinasti menyambut tawaran itu dengan wajah riang. Sekejap kemudian, satu demi satu suapan kecil gulungan mi ayam hangat pada ujung garpu masuk ke dalam mulutnya, diikuti dengan gigitan pada pangsit goreng.

“Enak?” Kresna tersenyum lebar. “Kamu lapar banget, ya?”

Pinasti mengangguk-angguk tanpa suara. Mulutnya masih penuh. Pada suapan kesekian, ia menggeleng ketika Kresna menyodorkan kembali suapannya.

“Sudah?” Kresna memastikan.

Pinasti mengangguk. “Nanti pisangnya nggak habis, gimana?”

“Kan, bisa dibungkus.”

“Oh...”

Maka, Pinasti pun kembali membuka mulutnya. Membuat Kresna tergelak untuk kesekian kalinya.

* * *

Semua yang dilihatnya menjelang siang tadi di kantin menancap kuat dalam benak Alma. Pun ketika ia menemukan ingatan bahwa gadis kecil yang bersama Kresna itu adalah gadis kecil dengan rangkaian mahkota bunga di puncak kepala, yang dilihatnya masuk ke sebuah kompleks sekolah pada pagi harinya.

Anak Pak Kresna-kah?

Ia menggeleng samar. Berusaha menepis pikiran itu.

Sepertinya Pak Kresna masih muda walaupun sudah jadi dosen. Mungkin keponakannya.

Lalu ia sedikit tersentak. Begitu saja teringat kejadian aneh di ruang kuliah pagi tadi. Saat waktu benar-benar membeku di sekelilingnya dan Kresna.

Pembicaraan dalam hening itu... Kemudian alarm berupa suara sayup-sayup guntur di kejauhan...

Ia kembali menggeleng samar. Seperti apa sebenarnya hubungannya dengan Kresna? Tiba-tiba ia teringat pula sesuatu.

Kertas itu!

Ia meloncat dari ranjang dan setengah berlari memburu gantungan baju di belakang pintu kamar indekosnya. Celana jeans yang dipakainya tadi tergantung di sana. Tangannya segera menemukan lipatan kertas yang tersimpan dalam saku celana. Sederet nomor ponsel tertera rapi pada kertas itu.

Sembari duduk kembali di ranjang, Alma meraih ponselnya. Tapi, sebelum mulai menyentuh layar, ia tercenung sejenak.

Bila pembicaraan dalam hening itu tadi bisa terjadi, kenapa tidak...

Maka ia mulai mencobanya. Berkonsentrasi pada satu sosok dimaksud.

‘Pak Kresna, selamat malam... Ini Alma. Bapak bisa mendengar saya?’

Tak perlu menunggu sepuluh detik berlalu, sebuah jawaban sudah menggema dalam benaknya.

‘Ya, Alma, aku bisa mendengarmu. Mencoba telepatikah? Ayo!’

Dan, gadis berambut ikal kriwil itu hampir saja melakukan salto berjumpalitan sembari berteriak kegirangan, seandainya tak ingat bahwa ia ada dalam suatu rumah indekos bersama teman-teman lainnya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)