Jumat, 13 Juli 2018

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #20-2









Sebelumnya



* * *

Keesokan harinya, menjelang pukul sebelas siang, Alma dan Kresna sudah tiba di pondok Saijan. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu menyambut kedatangan keduanya dengan ramah. Ia kemudian membantu mengeluarkan barang-barang pasangan pengantin baru itu dari mobil. Semua ditata rapi di sudut beranda belakang. Setelah selesai, ia menatap Alma dan Kresna.

“Aku harus ke hutan untuk cari bahan obat,” ujarnya. “Ada pesanan dari orang di kecamatan sebelah. Kalian tunggu saja di sini. Sebentar lagi juga akan dijemput. Mobil kalian aman di sini. Ada ‘pagar’ khusus, kok,” senyum Saijan.

Alma dan Kresna sama-sama mengucapkan terima kasih. Setelah itu Saijan berpamitan, dan pergi dengan jeep-nya. Alma dan Kresna duduk manis di beranda. Keduanya bertatapan dan saling melempar senyum ketika mendapati bahwa mereka punya pikiran yang sama. Seperti apa bentuk jemputan yang akan membawa mereka pergi nanti?

Tapi mereka tak perlu menunggu lama. Beberapa menit kemudian, segumpal kabut tebal berwarna putih mendadak saja muncul di tengah pepohonan di kebun belakang pondok Saijan. Alma dan Kresna nyaris tak bisa mengedipkan mata ketika melihat kejadian itu. Perlahan, kabut itu menipis. Samar-samar terlihat sesosok manusia di tengah gulungan kabut yang terus memudar itu. Ketika kabut itu sudah benar-benar menghilang, barulah secara jelas Alma dan Kresna melihat siapa yang ‘datang’.

Keduanya segera berlari menghampiri Sentini. Dengan penuh hormat, mereka mencium punggung tangan kanan Sentini, yang dibalas dengan elusan lembut di kepala oleh perempuan sepuh itu.

“Nyai, apa kabar?” tanya Kresna dengan nada antusias. “Nyai sendirian? Mana yang lain?”

Alma segera menggandeng tangan Nyai Sentini. Mengajaknya duduk di salah satu kursi rotan di beranda. Kresna mengiringi keduanya.

“Iya, aku sendirian saja,” jawab Sentini. “Yang lain sedang bersiap-siap menyambut kalian di Bawono Kinayung. Dan, memang sudah jadi tugasku untuk menjemput kalian. Jadi, bagaimana? Kalian sudah siap?”

“Sudah,” Alma dan Kresna serempak mengangguk.

“Tapi bagaimana cara membawa barang sebanyak ini, Nyai?” sambung Kresna.

Sentini sempat tenganga sedikit melihat kardus-kardus yang bertumpuk rapi di sudut beranda.

“Banyak sekali bawaan kalian?” serunya.

Kresna menggaruk pelipis kanannya. “Titipan Ibu, Nyai. Oleh-oleh buat Bawono Kinayung.”

“Astaga...,” Sentini menutup mulutnya dengan tangan. Tertawa geli. “Ibumu itu...,” ia menggelengkan kepala, “... murah hatinya nggak ketulungan.”

Kresna dan Alma terkekeh mendengar ucapan Sentini.

“Baiklah, serahkan saja padaku,” ucap Sentini lagi. “Jadi kita mulai saja di sini,” ia merapat ke arah tumpukan kardus itu. “Ayo, kemarilah! Merapat padaku.”

Tanpa kata, Alma dan Kresna segera menghampiri Sentini dan berdiri di sisi kanan-kiri perempuan itu. Sentini segera mengangkat kedua tangannya lurus ke atas, dan membuat bentuk lingkaran besar menyerupai tornado. Perlahan, kabut berwarna putih membungkus mereka. Makin lama makin tebal, sehingga mereka tak lagi bisa melihat satu sama lain.

Baik Alma maupun Kresna sedikit demi sedikit merasa tubuh mereka melayang-layang dengan sangat ringan di ruang hampa berwarna putih selama beberapa detik lamanya. Bersamaan dengan mulai menipisnya kabut itu, keduanya merasakan bahwa bobot tubuh mereka kembali, dan kaki mereka pun terasa menginjak daratan lagi. Ketika kabut itu menghilang sempurna, keduanya ternganga.

“Selamat datang kembali!” seruan serempak itu membuat Alma dan Kresna tersadar.

Mereka sudah sampai di Bawono Kinayung. Tepatnya, di dalam pondok Paitun. Mereka semua pun berpelukan dengan gembira. Tak lupa Alma memeluk erat Janggo. Ajak cokelat kemerahan itu mendengking riang.

‘Mana Pinasti?’ Alma mengelus tengkuk Janggo.

‘Sedang cari anak-anak di danau,’ jawab Janggo. ‘Tadi, sih, mereka sudah kumpul di sini. Tapi namanya juga anak-anak, inginnya main melulu.’

Alma terkikik geli. Ia sudah tahu dari Wilujeng – yang mendapat kabar dari Kriswo – bahwa Janggo dan Pinasti sekarang sudah memiliki tiga ekor anak. Tak lama kemudian Pinasti muncul dengan menggiring tiga ajak kecil yang sungguh lucu dan menggemaskan rupanya. Satu berwarna cokelat kemerahan, satu berwarna putih bersih, dan satu lagi berwarna salem. Bila dilihat dengan saksama, maka tampaklah bahwa ajak kecil berwarna salem itu rambut tubuhnya merupakan perpaduan antara warna merah, cokelat, dan putih yang bercampur jadi satu.

“Awww... Kalian lucu sekali!” Alma berseru sambil berlutut dan mengembangkan tangan, siap memeluk ketiga ajak kecil itu.

Ketiganya segera menyerbu Alma sambil mendengking-dengking dengan nada gembira.

’Aku Lopis, Bibi,’ si kecil jantan berwarna cokelat kemerahan memperkenalkan diri dengan tegas.

‘Aku Klepon,’ jantan imut berwarna putih tak mau ketinggalan.

‘Aku Cenil,’ terakhir si salem yang memperkenalkan diri, dengan sikap malu-malu menggemaskan. Satu-satunya betina di antara ketiga ajak kecil itu.

‘Oh... Semuanya nama makanan kesukaanku!’ Alma tertawa. Menoleh pada Pinasti. ‘Pasti kamu yang kasih mereka nama.’

Ajak putih itu menjawabnya dengan dengkingan dan goyangan ekor berkali-kali. Terlihat sangat riang.

Paitun kemudian menggiring semuanya ke bagian belakang pondok. Alma menatap berkeliling dengan penuh kerinduan. Bilik besar itu tetap sama. Dapur merangkap tempat untuk makan dengan berbagai peralatan tradisional. Terlihat masih sama dengan yang bisa diingatnya. Selalu terasa hangat di hati.

Di atas dua meja besar yang sudah digabung jadi satu, terhampar aneka makanan yang sungguh menggiurkan. Alma tertawa ketika melihat apa yang ada di sebuah nyiru beralaskan daun pisang. Jajanan berupa klepon, lupis, dan cenil kesukaannya. Ia tahu, semua itu dibuat sendiri oleh Paitun.

“Ayo, sekarang kita makan dulu,” Paitun bertepuk tangan.

Sementara yang lain mulai memindahkan makanan di piring masing-masing, Tirto sibuk menyiapkan makanan untuk Janggo, Pinasti, dan ketiga anak mereka. Keluarga ajak itu menempati sudut dekat pintu belakang yang terbuka lebar, mengalirkan udara segar. Bilik itu riuh rendah oleh aneka cerita dan tawa. Khas suasana sebuah keluarga besar yang sedang berkumpul untuk menikmati makan siang bersama.

“Ni,” celetuk Alma pada suatu ketika, “apakah Mas Kresna dan aku masih bisa ke padang bunga dan padang rumput dengan cara seperti dulu?”

“Tentu saja bisa,” angguk Paitun. “Lakukan saja apa yang biasa kamu lakukan dulu.”

Alma tersenyum lega. Semua tempat yang pernah akrab dengannya selama tiga belas tahun di Bawono Kinayung seolah berebutan memanggilnya.

“Tapi ingat,” lanjut Paitun, “tiga hari lagi ada acara untuk kalian di Bawono Sayekti. Sebaiknya kita semua berangkat ke sana lusa menjelang sore. Terserah kalian, mau lewat jalur biasa atau bersama kabut Nyai Sentini. Kami menurut saja.”

“Lewat jalan biasa saja, Nini,” ucap Alma. “Aku rindu suasana perjalanan di sini.”

“Baiklah,” senyum Paitun. “Apa pun yang kamu mau.”

Kresna menatap Alma dengan sorot mata jenaka. “Mm... Apakah di sini kamu juga masih bisa menyetrumku, Al?”

Seketika Alma tergelak. “Mau coba?”

Kresna nyengir sambil mengulurkan tangan. Alma menyentuh tangan Kresna. Tidak terjadi apa-apa. Keduanya pun tertawa. Semua yang ada di ruangan itu pun turut tertawa.

“Ternyata kamu sudah tak seampuh dulu,” ujar Kresna di ujung tawanya.

“Itu karena jiwa kalian sudah lebur jadi satu kesatuan,” timpal Sentini.

“Yah... Hilang sudah kesaktianku,” ucap Alma, berlagak menyesal.

“Tidak seluruhnya,” gumam Paitun.

“Benarkah?” Alma membelalakkan matanya yang indah.

Paitun tersenyum lebar. “Setidaknya, kamu dan Kresna bisa saling menyembuhkan. Kalian bisa berbagi dan menyeimbangkan energi satu sama lain.”

“Whoaaa...,” Alma terlihat takjub mendengar ucapan Paitun. “Bagaimana caranya?”

“Kalian akan tahu sendiri, seperti kalian menemukan cara untuk berkomunikasi dalam hening,” jawab Paitun.

Alma dan Kresna kembali bertatapan. Saling menemukan pikiran yang sama.

‘Kapan-kapan kita coba!’

* * *

Seusai makan bersama, Alma dan Kresna bermaksud membantu membersihkan bilik luas itu dan perabot makan, tapi Randu ‘mengusir’ mereka.

“Sudahlah, ini urusanku dengan bulikmu,” begitu ucap Randu. “Kalian ke danau saja. Sepertinya sudah ditunggu teman-teman lama kalian di sana.”

’Iya, Al,’ sahut Janggo. ‘Ayo, kita ke sana. Ini, anak-anak juga sudah ingin main air.’

Setelah berpamitan, Alma dan Kresna pun bergandengan tangan mengikuti Janggo dan Pinasti beserta anak-anak mereka. Janggo dan Pinasti sengaja berjalan pelan-pelan, memberi kesempatan pada Alma dan Kresna untuk menikmati suasana Bawono Kinayung. Sementara itu, Lopis-Klepon-Cenil sudah melesat lebih dulu dengan gembira.

‘Anak-anak tidak mengantuk?’ tanya Alma.

‘Semalam sudah kutidurkan secara paksa,’ Pinasti menjawab sambil tertawa ringan. ‘Jadi mereka sekarang belum mengantuk. Entah menjelang sore nanti.’

‘Ah, anak-anak kalian lucu sekali!’ Alma gemas sendiri.

“Jangan-jangan anak kita nanti juga kembar tiga, Al,” goda Kresna.

“Aduh...,” Alma menepuk keningnya. “Bisa pusing aku....”

Kresna tergelak, sementara Janggo dan Pinasti mendengking dengan nada gembira.

Begitu mereka sampai di puncak jalan mendaki, tampaklah bahwa danau bening di lembah di depan mereka sudah penuh dengan para ajak beraneka warna dan ukuran. Kresna teringat pengalaman pertamanya di danau itu. Bila dulu ia sempat merinding ketakutan melihat para ajak itu, kini ia bisa menemukan kemegahannya. Apalagi ketika para ajak itu melolong bersahutan saat mereka menuruni bukit, mendekati danau. Menyambut mereka dengan paduan suara yang begitu menggetarkan hati.

Alma tentu saja bahagia sekali bertemu dengan Suket Teki, Bondet, Sumpil, dan ajak-ajak lainnya. Ada keriuhan dalam hening di sekitar danau itu. Alma sibuk menjawab berbagai pertanyaan para ajak dengan sabar, sementara Kresna duduk tak jauh darinya, ditemani Lopis, Klepon, dan Cenil. Tangan Kresna sibuk mengelus ketiga ajak kecil yang lucu dan menggemaskan itu. Kresna tertawa ketika suara kecil Cenil mendadak mampir ke benaknya. Seketika mengingatkannya pada kelakuan Pinasti kecil, adik kesayangannya.

‘Ikan, ikan, minggirlah sejenak ke sudut sana,’ begitu ucap Cenil. ‘Aku mau nyemplung, dan tak mau menginjak kalian.’

Seketika gerombolan ikan kecil yang ada di danau itu berenang ke sudut lain yang terjauh. Menyelamatkan diri, sekaligus memberi ruang pada para ajak untuk bermain dalam danau. Segera saja ketiga ajak kecil itu, bersama para ajak kecil lain, menceburkan diri mereka ke danau. Mereka bermain dengan riang.

Para ajak dewasa pun menyusul masuk ke danau. Pun Janggo dan Pinasti. Sebagian lagi tetap bergerombol dalam kelompok masing-masing di tepiannya. Alma mendekati Kresna dan duduk di sebelahnya. Direbahkannya kepala di bahu Kresna. Laki-laki itu pun merengkuhnya dengan hangat.

”Seperti mimpi rasanya, bisa kembali lagi ke sini,” gumam Alma.

Kresna mengangguk. Dulu ia memang hanya beberapa hari saja berada di Bawono Kinayung. Tapi waktu sesingkat itu telah memberikan pengalaman-pengalaman menakjubkan, yang dengan rapi disimpannya pada lipatan-lipatan hati. Membuat kenangan itu hanya sekadar memudar dalam mimpi, tak bisa terhapus sepenuhnya.

“Aku tadi sempat bicara pada Nini dan Nyai soal foto,” gumam Alma lagi. “Mereka mengizinkan kita mengambil foto di bawono ini untuk kenang-kenangan. Tapi hanya kita berdua dan Ibu yang nanti bisa melihatnya.”

Kresna mengangguk-angguk. Ia sudah lama terbiasa dengan keajaiban-keajaiban yang terjadi di sekitarnya. Diingatnya betul ucapan Wilujeng, yang mengatakan bahwa barangkali memang benar ada banyak hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

Keduanya pun kemudian asyik bercakap sambil menikmati pemandangan tak lazim yang terpampang begitu saja di depan mereka dengan begitu indahnya. Ketika tempat itu terasa makin teduh karena matahari di luar sana rupanya sudah mulai menggelincir ke arah barat, ketiga anak Janggo dan Pinasti keluar dari danau. Mereka menggoyangkan tubuh beberapa kali. Mengibaskan tetes-tetes air yang menempel pada lebatnya rambut yang menyelimuti tubuh mereka. Ketiganya kemudian menghampiri Alma dan Kresna, duduk manis di sekitar mereka.

Alma melihat Cenil mulai menguap. Diraihnya si kecil imut itu.

‘Kamu mengantuk, ya? Sini, Bibi peluk!’

Cenil bergelung nyaman di pangkuan Alma. Sekali lagi menguap sebelum mulai terlelap. Kedua saudaranya pun terlihat ingin mendapat perlakuan yang sama. Kresna meraih keduanya, mendudukkannya di pangkuan, dan mulai mengelus-elus tubuh keduanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sama seperti Cenil, Lopis dan Klepon pun segera memejamkan mata dan mendengkur lembut dalam lelap tidur mereka.

Tak lama kemudian, ‘pesta’ itu pun usai. Para ajak segera membubarkan diri dan pamit kepada Kresna dan Alma. Sebelum berpisah, Alma berpesan agar esok hari sebelum siang mereka bertemu lagi di tempat itu. Ia bermaksud mengambil foto bersama mereka semua untuk kenang-kenangan. Para ajak pun setuju, dan mereka pun segera mengundurkan diri, kembali ke tempat tugas masing-masing.

‘Letakkan Lopis di punggungku,’ ujar Janggo. ‘Dia yang paling besar dan berat.’

Dengan hati-hati, Kresna meletakkan Lopis yang masih terlelap di punggung Janggo. Ia sendiri kemudian menggendong Klepon, dan Alma menggendong Cenil. Mereka pun pulang ke pondok dengan perasaan senang tak terhingga.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)