Thursday, July 26, 2018

[Cerbung] Kuncup Mawar dan Selembar Kenangan #3-1









Sebelumnya



* * *


Tiga


Cabang kesepuluh Warung Ketan AV berjalan dengan baik dua mingguan ini. Walaupun berkelas kafe, sama seperti cabang-cabang kedai lainnya, Adita tetap menyelipkan kata ‘warung’ dalam nama kedainya, karena itu sudah jadi semacam merek dagang. Adita bisa bernapas lega.

Ia sudah bisa lebih santai sekarang, karena cabang itu sudah memiliki seorang manajer. Toni orangnya, karyawan lama yang berasal dari kedai pertama, yang dulu bergabung sebagai pramusaji. Kesetiaannya tak diragukan lagi. Pun semangatnya untuk terus bergerak maju. Tugas Adita kini hanya tinggal memantau dari jauh kedai-kedai miliknya, sembari menemani Nugra mengembangkan usahanya.

Setelah kedai Adita, kini giliran Nugra bersiap-siap membuka cabang kedua toko bahan pangan organiknya. Meskipun sudah melayani juga pembelian dengan sistem daring, tapi toko fisik tetap menjanjikan. Masih banyak orang yang merasa lebih puas berbelanja dengan memilih sendiri barang yang mereka inginkan. Apalagi bila barang itu berupa sayur dan buah segar.

Bakal toko ketiga yang terletak di Tangerang Selatan itu jauh lebih besar daripada kedua toko yang sudah dimiliki Nugra. Bagian belakang yang sangat luas akan difungsikan sebagai gudang, tempat sortir, dan pengemasan. Untuk menata bakal toko terbarunya, Nugra sengaja menggunakan jasa desainer interior. Mengikuti jejak Adita yang mencoba mengubah konsep kedainya dengan sentuhan lebih modern di cabang terbaru. Hasil rancangan desainer interior di kedai terbaru Adita sangat memuaskan. Membuat Nugra ngiler juga untuk menggunakan jasa desainer dari perusahaan konsultan yang sama.

Maka pada hari ini, setelah mengantarkan Gwen ke sekolah, Nugra ditemani Adita meluncurkan mobilnya ke Menara Daha. Ia sudah membuat janji dengan orang dari Savannah and Co. untuk mendiskusikan keinginannya.

Mereka sampai di Menara Daha menjelang pukul setengah sembilan. Sesuai dengan arahan petugas keamanan, Nugra melajukan mobilnya ke arah basement, sebelum naik ke area parkir khusus tamu di lantai satu. Belum terlalu banyak mobil yang ada di area parkir itu. Sejenak kemudian, Nugra dan Adita sudah berada di lift yang akan membawa mereka ke lantai 11, tempat kantor Savannah and Co. berada.

Hanya ada mereka berdua di dalam lift itu. Membuat Nugra usil dan mencuri satu ciuman pada pipi kiri Adita. Perempuan itu sempat terjingkat kaget sebelum mendaratkan satu cubitan ringan di perut Nugra. Kemudian keduanya saling beradu tawa geli.

* * *

Sesuai ‘perintah Boss Donny’, Renata menyiapkan diri untuk menerima calon klien baru pagi ini. Pekerjaan yang ditinggalkan Lily sudah tuntas dikerjakannya beberapa hari lalu. Hanya tinggal menunggu selesainya pengerjaan fisik yang ditangani Satya, rekan satu timnya.

Data mentah calon klien sudah ada di tangannya. Seorang pemilik toko bahan pangan organik yang hendak membuka toko cabang. Merasa kurang puas dengan penataannya sendiri, sehingga memutuskan untuk menggunakan jasa seorang desainer interior. Apalagi toko cabang ini direncanakan lebih besar dan lebih representatif bahkan daripada toko pusatnya sendiri.

Renata sendiri sebenarnya adalah salah satu pelanggan toko itu. Hanya saja selama ini ia lebih banyak membeli lewat jalur daring. Terkadang ibu mertuanya berbelanja sendiri sayur dan buah segar ke toko itu bila kebetulan lewat saat pulang dari beraktivitas. Lea memang masih sangat aktif berkegiatan sosial bersama rekan-rekan sosialitanya.

Tengah meneliti lagi data mentah yang tersimpan dalam salah satu dokumen di laptopnya, pesawat telepon di meja Renata berbunyi. Ia segera mengangkatnya, dan mendapat kabar bahwa ‘Pak Nugra’ – tamu yang seharusnya datang pukul sembilan sesuai janji – ternyata sudah datang. Ia pun segera berpesan agar tamu itu menunggunya sejenak.

Setelah menutup telepon, Renata segera beranjak dari ruang kerjanya dan keluar ke lobi pribadi kantor Savannah and Co.. Di sana, ia menemukan seorang laki-laki bertubuh besar tengah duduk menunggu, berdampingan rapat seseorang yang sudah dikenalnya.

“Selamat pagi,” sapanya ramah seraya menghampiri keduanya. “Pak Nugra? Wah, ketemu lagi dengan Mbak Adita.”

Renata menyalami keduanya dengan hangat. Setelah itu barulah ia mendapat penjelasan bahwa Nugra ternyata adalah suami Adita. Saat itu pula Adita menyatakan rasa puas sekaligus tidak puasnya. Puas atas hasil rancangan Renata, tidak puas karena Renata tidak datang pada pembukaan kafe yang dirancangnya.

“Mohon maaf sekali, Mbak Dita,” Renata mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, dengan ekspresi menyesal. “Repot sama anak-anak. Sepanjang minggu itu saya dan papanya sibuk sekali, jadi hari Sabtunya kami pakai buat menebus waktu bersama yang hilang itu. Hari Minggunya kami pergi ke Karawang, itu juga mampir ke mana-mana. Lain kali saya pasti mampir ke kafe Mbak Dita.”

“Benar, lho! Saya tunggu,” ucap Adita. “Kalau mau datang, Mbak telepon saya dulu, nanti saya temani. Soalnya, kan, kafenya sudah saya lepas ke manajer. Saya tinggal memantau.”

“Oh, begitu?” Renata mengangkat alis dengan ekspresi antusias. “Ya, saya pasti kasih tahu Mbak.”

Adita mengangguk-angguk dengan wajah senang. Topik pembicaraan kemudian beralih pada keperluan Nugra. Selama Adita berurusan dengan Savannah and Co., Nugra memang sama sekali tak pernah terlibat. Itu karena Adita memang sudah terbiasa mandiri mengurus usahanya.

Renata segera menggiring pasangan itu masuk ke ruang kerjanya. Sebuah ruangan berukuran 4x5 meter, dengan penataan apik dan minimalis-fungsional, dalam nuansa segar warna putih, oranye wortel, dan hijau daun. Terasa sekali menghamburkan energi lebih bagi siapa saja yang berada dalam ruangan itu.

Nugra dan Adita duduk menunggu di sofa anyaman rotan bercat putih dengan cushion berwarna selang-seling oranye dan hijau. Renata sendiri sejenak mengambil laptop di meja kerjanya sembari memesan minuman dari pantry. Kemudian, mereka pun mulai berdiskusi.

Nugra menunjukkan foto-foto bakal toko barunya, juga foto-foto bagian dalam toko yang sudah ia miliki. Renata sedikit demi sedikit bisa menangkap keinginan Nugra. Ia tekun mendengarkan pemaparan Nugra sambil mencatat di notes kecilnya. Pada intinya, Nugra ingin tokonya ditata mirip pasar swalayan, tapi tetap memiliki sentuhan personal antara pramuniaga dengan para pelanggan, seperti yang selama ini sudah mejadi ciri khas tokonya.

“Saya suka sekali warna ruang Mbak Renata ini,” Nugra menatap berkeliling. “Mungkin nanti toko saya bisa dibuat seperti ini?”

“Sangat bisa, Pak,” Renata mengangguk. “Karena warna ruangan ini tepat merepresentasikan logo usaha yang Bapak miliki. Wortel segar beserta daunnya dalam keranjang anyaman berwarna putih. Eh, sebentar...,” Renata mengerutkan keningnya sembari menatap berkeliling. “Kok, bisa sama, ya?”

Tawa Nugra dan Adita berderai karenanya. Renata ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.

Ia kemudian mulai membuka laptop dan menunjukkan beberapa contoh interior ruang niaga yang pernah ia garap. Nugra ‘memilih’ mana saja yang dianggapnya menarik. Renata mencatatnya dengan teliti. Mereka saling mempertemukan keinginan dan ide.

Tengah asyik berdiskusi, telepon di meja kerja Renata berbunyi. Perempuan mungil itu meminta maaf dan minta izin sejenak untuk menerima panggilan telepon.

“Kamu benar, dia cerdas dan profesional banget,” bisik Nugra.

Adita tersenyum sembari menyesap teh hangat dalam cangkir putih bercorak batik yang disuguhkan pihak Savannah and Co..

“Pokoknya, nggak bakalan kecewa, deh,” Adita balas berbisik sembari meletakkan kembali cangkir beserta tatakannya.

Sambil menunggu Renata selesai dengan urusannya, keduanya kemudian saling berbincang dengan suara rendah, membicarakan toko Nugra. Pada suatu detik, tatapan Adita secara tidak sengaja jatuh pada laptop Renata yang tampilan layarnya berubah. Kini, layar itu menampakkan screen saver berupa foto keluarga. Seketika Adita terpaku.

Foto keluarga itu tak aneh, sebenarnya. Seorang laki-laki tampan berkacamata modis berusia pertengahan tiga puluhan yang menggendong bayi gembul menggemaskan, seorang gadis kecil berwajah cantik dalam rengkuhan Renata, dan seorang perempuan sepuh dengan gurat kecantikan yang terlihat masih sangat nyata diapit mereka semua. Semuanya menebar senyum ceria. Gambaran kebahagiaan yang wajar dipasang seseorang pada benda pribadi seperti juga laptop itu. Tapi wajah siapa yang terpampang di sana, itu yang membuat Adita nyaris lupa bernapas. Ia mengenali betul dua di antara lima wajah itu.

Rafael Adibarata, dan Lea Sanita Barata.

Dan, gadis kecil itu....

Tak pelak, Adita menemukan pula garis wajah Anna Tejabarata yang masih bisa diingatnya dengan baik dalam wajah gadis kecil yang direngkuh Renata.

Sarah.... Dia sudah besar. Berapa umurnya, ya?

Ia mulai menghitung-hitung sambil tetap melayani bisikan Nugra.

Sepuluh tahun? Cepat sekali waktu berlalu!

Kembalinya Renata ke dalam diskusi dengan Nugra mencerabut dengan paksa kenangan yang diam-diam meliar dalam benak Adita. Adita pun berusaha mengusir pergi kenangan itu. Tapi sialnya, kenangan itu makin menancapkan kuku-kuku tajamnya ke benak Adita. Membuatnya terseret pada satu halaman kelabu dalam buku kehidupannya. Halaman yang terbuka saat ia harus mengakhiri hubungan indahnya dengan seorang Rafael Adibarata.

Suara Nugra terdengar begitu jauh dari telinganya, padahal laki-laki itu ada tepat di sebelahnya.

“Putra-putrinya, Mbak Renata?”

“Ya,” Renata mengangguk dengan mata berbinar sembari menutup laptopnya. “Yang besar perempuan, yang kecil laki-laki. Sarah dan Steve.”

Selanjutnya, Adita tak mendengar lagi apa yang diperbincangkan Nugra dan Renata. Ia hanya tahu Nugra mengajaknya berpamitan, dan ia harus memasang ekspresi biasa.

Tapi, rasa sesak dalam dada itu tak juga mau pergi walaupun Nugra sudah meluncurkan mobil mereka kembali ke arah sekolah Gwen. Adita mendesah tanpa suara. Setengah putus asa.

Aku benar-benar lupa bahwa Jakarta sudah sedemikian sempitnya, bahkan untuk sekadar beringsut....

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)