Wednesday, July 25, 2018

[Cerbung] Kuncup Mawar dan Selembar Kenangan #2-2









Sebelumnya



* * *




Rafael terjaga ketika aroma wangi dan segar khas bayi menyapa hidungnya. Ketika ia meraba sampingnya, sudah tak ada lagi Renata di sana. Kelopak matanya masih terasa sangat berat, tapi ia memaksa diri membukanya. Dua sosok yang tertangkap matanya itu terlihat sedikit baur. Tapi tak perlu kacamata untuk mengenalinya. Apalagi ada suara cekikikan yang begitu menggelitik telinga. Dikembangkannya seulas senyum. Sesosok tubuh kecil beraroma khas itu pun hinggap di dadanya. Rafael memeluknya dengan hangat dan menciumi pipi bulat perjaka mungil berusia sebelas bulan itu. Steve, bayi lucu itu terkekeh geli.

Ketika Rafael berusaha bangun, satu demi satu tirai jendela kamar tersingkap. Matanya mengerjap untuk mengembalikan fokus. Dilihatnya Sarah sudah membuka semua tirai sekaligus daun jendela. Rafael meraih remote pendingin ruangan yang tergeletak di nakas, dan menekan tombol merah. Pelan-pelan, hawa dingin yang disemburkan pendingin ruangan berganti dengan udara segar yang terasa sedikit lebih hangat, berasal dari luar.

“Pagi, Pa...,” ucap Sarah manis sembari meloncat ke atas ranjang. Segera didapatkannya sebuah kecupan hangat di kening dan puncak kepala.

“Pagi juga, sayang,” balas Rafael.

Sekilas Rafael melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat beberapa menit. Ia menguap.

Indahnya akhir pekan....

Sekali lagi ia menguap. Segala keletihan yang ditumpuknya sepanjang minggu ini seolah luruh tak berbekas. Ia kemudian mencandai Sarah dan Steve. Tawa berderai mereka pecah berkali-kali. Di tengah keasyikan itu, Renata muncul dari balik pintu kamar. Menatap ketiganya dengan mata berbinar.

“Ha.... Sarah...,” perempuan itu menggeleng dengan roman wajah menyimpan geli. “Disuruh bangunin Papa, malah ikutan ngumpet di sini.”

Sarah terkekeh mendengar ‘protes’ Renata. Ia kemudian menarik tangan Rafael.

“Ayo, Papa, buruan mandi,” ujarnya.

“Memangnya kamu sudah?” Rafael menaikkan alisnya.

Sarah menggeleng dengan wajah geli. Rafael pun memutar kedua bola matanya dengan ekspresi dramatis.

“Pantesan.... Dari tadi kayak bau asem-asem apa, gitu,” ledeknya kemudian.

“Ih...,” Sarah mencubit ringan lengan ayahnya.

Mereka tergelak, sementara Steve berusaha menarik perhatian dengan celoteh lucunya. Renata mengambil alih Steve dari pelukan Rafael, kemudian menggebah Sarah dan Rafael agar segera turun dari ranjang.

“Ayo, buruan mandi!” serunya berlagak galak. “Itu, kasihan Oma sudah menunggu kita untuk sarapan.”

Tanpa banyak kata lagi, Rafael pun segera membereskan ranjang dibantu Sarah. Setelah selesai, keduanya segera berlari masuk ke kamar mandi masing-masing. Sambil tersenyum dan menciumi pipi wangi Steve, Renata keluar dari kamar dan melangkah ke ruang makan.

“Lagi pada mandi?” sambut Lea dengan wajah riang.

Renata mengangguk, tersenyum lebar. “Kalau nggak digebah, masih saja untel-untelan di ranjang.”

Lea terkekeh mendengar ucapan menantunya. Dengan hati-hati, Renata mendudukkan Steve di kursinya. Bayi tampan itu segera meraih mangkuk berisi potongan wortel matang dan mengambil salah satu potongannya. Dengan asyik, dinikmatinya potongan wortel itu. Lea mencolek pipi gembul Steve dengan gemas.

“Ini gara-gara Papa dan Kakak lelet, ya? Steve jadi keburu lapar,” gumamnya, disambut tawa Renata.

Tak lama kemudian Rafael dan Sarah muncul. Suasana di sekitar meja makan itu kian hangat. Mereka menikmati sarapan sambil bertukar cerita. Di ujung....

“Mama nanti jadi keluar, ya,” ujar Lea. “Pertemuan sosial.”

“Jadi pukul sepuluh, Ma?” Rafael menatap ibunya.

Lea mengangguk. “Kalian kalau mau keluar, keluar saja. Biar Mama diantar Mun.”

“Sekalian saja, Ma,” tukas Renata, halus. “Pak Mun biar beresin taman. Sudah waktunya potong rumput. Mama kami antar sekalian kami keluar, pulangnya kami jemput.”

“Ah, bikin repot kalian nanti,” elak Lea.

“Enggaklah,” timpal Rafael. “Pertemuannya di rumah Om Dirjo, kan? Kita searahlah, Ma.”

“Mm..., baiklah,” akhirnya Lea mengangguk. “Biasanya pukul dua sudah selesai pertemuan.”

“Siap!” Rafael mengacungkan jempolnya. “Pukul sembilan kita berangkat, ya?”

“Ng...,” suara Sarah yang menyeruak kehangatan ruang makan itu terdengar kecil dan ragu-ragu. “Tapi kita besok jadi ke makam Mama dan Papa, kan?”

Semua tatapan jatuh ke arahnya. Renata yang duduk tepat di sebelahnya mengulurkan tangan. Membelai puncak kepalanya dengan lembut.

“Iya, sayang,” jawab Renata. “Besok kita ke makam. Pagi-pagi, ya? Biar nggak terlalu panas.”

Sarah mengangguk dengan wajah lega.

Sudah sekitar empat bulan ini gadis kecil berusia sepuluh tahun itu mengetahui sejarah hidupnya. Bahwa Lea adalah benar neneknya. Bahwa Anna adalah benar ibu kandungnya. Tapi Rafael bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya bernama Steve, seperti nama adik kecilnya. ‘Papa Rafael’, ayah yang selama ini dikenalnya, adalah saudara kembar ayah kandungnya. Kedua laki-laki itu berwajah bagai pinang dibelah dua. Sehingga ia selalu percaya bahwa foto penikahan dalam album besar yang selama ini sering dilihatnya adalah foto pernikahan almarhum ‘Mama Anna’ dengan ‘Papa Rafael’.

Ayah dan ibu kandungnya sudah meninggal. Ayahnya berpulang saat ia masih dalam kandungan, dan ibunya menyusul tak lama setelah melahirkannya. Sedihnya tak terkira ketika mengetahui hal itu. Tapi Renata, ibu barunya yang lembut hati itu, tak henti-hentinya menghibur. Mengatakan bahwa ‘Mama Renata’ dan ‘Papa Rafael’ tak akan pernah berhenti menyayanginya. Dan, sesungguhnya, ia percaya secara utuh akan hal itu, karena memang seperti itulah hal yang dirasakannya diberikan oleh ‘Papa, Mama, dan Oma’ kepadanya. Kasih sayang yang begitu besar melimpahi hidupnya setiap hari.

“Nanti sekalian saja pesan bunga buat besok,” celetuk Rafael.

Renata mengangguk. “Ya, nanti sambil pulang kita pesan di toko bunga Mbak Agatha.”

Mereka melanjutkan percakapan sedikit lagi sebelum membubarkan diri. Perlu waktu untuk bersiap sebelum pergi. Lea ke pertemuan klub sosialnya, sedangkan Rafael sekeluarga hendak berbelanja keperluan pribadi mereka.

* * *

“Oh, ya, aku lupa bilang,” celetuk Sarah begitu Rafael sudah melajukan lagi mobilnya setelah mengantarkan Lea. “Sabtu depan, aku diundang Fayla ke pesta ulang tahunnya. Papa atau Mama bisa antar, nggak? Kalau nggak bisa, boleh diantar Pak Mun, ya?”

“Rumah Fayla yang dekat rumah Om Jemmy itu?” sekilas Rafael menatap melalui spion tengah.

“He eh,” Sarah mengangguk.

“Oke, biar diantar Mama atau Pak Mun, ya?” putus Rafael. “Karena kayaknya Papa harus ke Bogor Sabtu depan.”

“Baiklah,” Sarah menanggapi dengan nada patuh.

“Berarti sekalian saja kita nanti cari kado, ya, Sa,” celetuk Renata. “Kamu butuh gaun baru?”

“Nggak usah beli gaun, Ma,” tolak Sarah dengan nada manis. “Yang beberapa minggu lalu dapat dari Tante Pradnya, oleh-oleh dari Perancis, belum pernah aku pakai. Nanti aku pakai yang itu saja.”

“Oh.... Oke,” Renata mengacungkan jempolnya dari jok kiri depan.

Rumah Mas Jemmy....

Rafael mengerjapkan mata. Kalau tidak kepepet sekali, ia betul-betul enggan menginjakkan kaki ke rumah itu. Rumah yang sekarang ditempati Jemmy dan Pradnya. Rumah yang jadi satu dengan sebuah pet shop yang dulu dikelola Anna. Rumah yang jadi satu pula dengan sebuah klinik hewan berskala kecil yang dikelola Jemmy, abang Anna. Tempat yang menyimpan kenangan tersendiri dalam sebuah episode kehidupannya. Juga tempat yang ada di seberang pet shop itu.

Adita....

Mau tak mau nama itu menyelinap masuk ke benaknya.

Bagaimana kabarnya sekarang?

Rafael menggeleng samar.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)