Friday, July 27, 2018

[Cerbung] Kuncup Mawar dan Selembar Kenangan #3-2










Sebelumnya



* * *


Wajah-wajah itu masih juga terbayang dalam benaknya. Wajah-wajah yang dua hari lalu dilihatnya terpampang pada layar laptop Renata.

Hmm.... Jadi dia istri Mas Rafael?

Adita menggeleng samar.

Seharusnya itu aku, kalau saja....

Ia mendesah pelan seraya menyandarkan punggungnya.

Selama beberapa waktu lamanya menggunakan jasa Renata untuk merancang interior kafe terbarunya, Adita sama sekali belum pernah menjumpai layar laptop Renata berada dalam kondisi memampangkan screen saver seperti dua hari lalu. Ia terguncang? Ya. Karena sama sekali tak mengira bahwa Renata yang mungil, lincah, dan sangat ramah itu adalah tambatan hati terakhir Rafael.

Jadi dia benar-benar sudah bisa lepas dari Anna?

Ia kembali menggeleng samar. Barangkali benar bahwa Rafael sudah benar-benar melepaskan diri dari Anna. Sudah lama. Bahkan sudah sejak Anna terpaksa menjatuhkan pilihan pada Steve. Sayangnya, ia tidak benar-benar bisa mempercayai hal itu.

Apalagi setelah Mas Steve meninggal....

Satu-satunya sandaran Anna saat Steve meninggal adalah Rafael. Satu-satunya laki-laki yang harus menopang dua perempuan yang sangat berduka. Seutuhnya ia memahami itu. Berusaha membantu Rafael apa pun yang ia bisa lakukan. Berusaha maklum ketika sedikit demi sedikit waktu Rafael untuknya tersita banyak hal lain. Perusahaan yang sekarang harus diurus Rafael sendiri. Kerapuhan Anna. Tenggelamnya Lea dalam kesedihan.

Lalu, secepatnya ia sadar, bahwa tempatnya bukanlah di sisi Rafael. Ada seorang perempuan yang – ia yakin masih sangat – mencintai Rafael. Pun ia tahu di sisi mana hati Rafael sebelumnya pernah berlabuh. Ia cuma pengisi kekosongan itu. Setidaknya, seperti itulah ia memandang dirinya sendiri. Pandangan yang bisa saja salah, tapi bisa juga benar.

Nyatanya, Rafael hanya diam ketika ia mengundurkan diri. Mungkin menyadari juga bahwa ucapannya benar adanya, bahwa Anna dan calon bayinya sangat membutuhkan Rafael.

Dan, kapal kecil yang sedang mereka coba jalankan itu, kapal yang jalannya sudah tidak tegak sejak semula, pun karamlah sebelum berlabuh di gerbang pernikahan yang pernah ia impikan. Bagaimana rasa hatinya menghadapi hal itu, hanya ia dan Tuhan yang paham. Tapi hidupnya yang pernah sangat tidak ramah mengajarkan sebuah ketegaran.

Ia pernah kehilangan kedua orang tuanya sekaligus dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Saat itu usianya belum lagi genap tujuh belas tahun. Tapi ia tidak sendirian. Ada Velma. Gadis kecil yang baru beberapa minggu sebelumnya diangkat anak oleh kedua orang tuanya. Lalu ia menggandeng tangan Velma untuk tetap tegak menatap masa depan. Saling bersandar pada setiap kesusahan yang mereka jumpai.

Ia ingat, menangis lama sekali dalam pelukan Velma ketika menyadari bahwa ia harus pergi dari kehidupan Rafael. Ketika harus membunuh rasa cintanya yang kian rimbun pada Rafael.

Beberapa bulan kemudian, ia mendengar berita bahwa Anna pun pada akhirnya menyusul Steve. Mendadak saja ia merasa jahat sekali ketika harapannya timbul kembali tanpa bisa ia kendalikan. Ia menghadiri pemakaman Anna. Menyembunyikan diri rapat-rapat di antara para pelayat. Memutuskan bahwa ia tak akan menampakkan diri di hadapan Lea maupun Rafael. Ia hanya menyalami Jemmy dan Pradnya.

Sayangnya, sekejap pun Rafael tak pernah mencarinya sesudah itu. Menghubunginya pun tidak. Membuat ia sempat kembali menangis lama dalam pelukan Velma.

Lalu, ia seolah kesetanan dalam mengembangkan kedainya. Mencurahkan nyaris semua waktu yang dimilikinya untuk berpikir bagaimana kedai yang ia dirikan bisa berkembang. Ia mulai berjudi. Mempertaruhkan hampir semua uang yang dimilikinya untuk membuka cabang baru. Mengulanginya lagi di lain tempat ketika kedainya makin ramai dan makin ramai.

Hingga saat ini, ia belum pernah kalah dalam perjudiannya. Karena ia juga bekerja keras mempertahankan brand, kualitas pelayanan, kualitas makanan yang dijualnya, dan juga inovasi penyajian dan jenis makanan. Memperhitungkan dengan cermat pula segala untung-rugi berdasarkan skala usaha. Percaya pada intuisinya akan segala aspek strategis usaha yang hendak kembali dibukanya. Ia tak pernah menggandeng investor baru. Semua murni dari hasil kedai-kedai yang sudah berdiri.

Setiap keberhasilan cabang baru dan tetap bagusnya hasil yang diperoleh kedai-kedai lama memberikan kepuasan tersendiri baginya. Apalagi ketika melihat bahwa Velma dengan kesungguhan hati mampu mempertahankan kepercayaan yang sudah ia berikan.

Apa lagi yang harus ia buktikan?

Semilir angin yang menyapa membuat matanya mengerjap. Dari teras tempat ia duduk, dilihatnya pucuk-pucuk deretan tanaman hidroponik di kebun belakang disapa pula oleh embusan angin. Dihelanya napas panjang.

Ia melihat berkeliling. Pada kebun kecil di hadapannya. Pada seisi selasar yang dijadikan teras itu. Pada setiap inci rumah tempatnya bernaung, yang ada di balik dinding kaca yang membatasi selasar dengan ruang dalam. Semua adalah miliknya. Bersama Nugra dan Gwen. Cahaya kehidupan dan permata hatinya.

Bukankah ini semua sudah lebih dari cukup?

Ia kembali mengerjapkan mata.

Tapi kenapa kenangan itu berhasil mengusikku begitu saja?

Untuk kesekian kalinya ia menggeleng samar.

“Bu....”

Suara halus itu menyentakkannya dari lamunan. Ia menoleh. Mendapati Rusni tengah menatapnya ragu-ragu. Rupanya perempuan berusia dua puluhan itu merasa bahwa ia telah mengganggu sang nyonya. Tapi ia memang harus melakukannya.

“Sudah hampir jam setengah sepuluh,” lanjut Rusni. “Saya khawatir Ibu telat jemput Mbak Gwen.”

“Oh?” Adita menegakkan punggungnya. Ditariknya napas panjang sebelum beranjak. “Ya, sudah, aku jemput Gwen dulu. Jangan lupa pesan makanan untukmu sendiri, Rus. Terserah kamu mau beli lewat Great-food atau yang lain. Uangnya masih ada?”

“Masih, Bu,” angguk Rusni. “Masih banyak.”

Adita kemudian meninggalkan Rusni. Hanya dalam hitungan menit, city car­-nya sudah meluncur meninggalkan garasi.

Tadi, seusai mengantarkan Gwen ke sekolah, ia memang langsung pulang. Nugra sudah berangkat ke toko. Pun suaminya itu sibuk dengan rencana dan persiapan pembukaan toko terbarunya. Biasanya ia menyempatkan diri berkeliling ke kedai-kedai yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak semua dalam satu hari, tapi dipilihnya secara acak. Hanya sekadar melongok dan memastikan bahwa semua persiapan di kedai berjalan baik-baik saja, karena masing-masing kedai sudah punya penanggung jawab sendiri. Tapi rasanya ia enggan melakukannya hari ini. Hanya ingin menikmati hening sambil menatap hijaunya kebun belakang. Sambil melamunkan sesuatu. Secuil masa lalunya bersama Rafael.

* * *

Toko bahan pangan organik Nugra sudah ramai ketika Adita memarkir mobilnya di seberang pintu. Beberapa detik kemudian, ia sudah menggandeng tangan Gwen, menyeberangi area parkir. Sejenak, ia menatap berkeliling ketika tidak mendapati sosok Nugra di seluruh pelosok area toko.

“Bapak lagi ada tamu, Bu,” ujar kasir yang bertugas menjelang siang ini.

“Oh...,” Adita mengangguk sambil tersenyum.

Ia kemudian duduk di dekat meja kasir. Sesekali mengobrol dengan kasir bernama Santi itu saat tak ada antrean. Gwen sendiri sudah ‘terbang’ ke sana-sini melayani pembeli.

Mendekati pukul dua belas, belum ada tanda-tanda Nugra selesai dengan urusannya. Adita menatap Santi.

“Dari jam berapa, sih, tamunya?” tanyanya.

“Nggak lama sebelum Ibu datang. Kayaknya itu, lho, Bu, mbak-mbak yang mau dekor toko barunya Bapak.”

“Oh...,” Adita membundarkan bibirnya tanpa suara.

Saat itu juga ia memutuskan untuk menyingkir saja ke kedainya di sebelah. Tapi sebelum sempat beranjak, pintu penghubung ruang toko dan ruang kantor Nugra terbuka. Ia terpaksa membalas senyum Nugra semanis mungkin, dan menjabat tangan Renata yang sudah terulur.

“Lho, sudah lama?” Nugra mengecup puncak kepalanya tanpa ia sempat menghindar.

Belum sempat Adita menjawab, Gwen sudah menubruk ayahnya. Nugra pun merengkuh dan mengangkat putri kesayangannya itu. Memberi dua kecupan hangat di masing-masing pipi.

“Eh, kasih salam dulu sama Tante Renata,” Nugra menurunkan Gwen.

Gadis kecil itu kemudian mengulurkan tangan dengan sikap manis.

“Halo, Tante, aku Gwen,” ucap Gwen disertai seulas senyum manis.

“Hai! Halo, Gwen,” Renata membungkuk sedikit. “Kenalkan, aku Tante Renata, yang bantu papa Gwen menata toko terbaru papa Gwen.”

“Oh...,” Gwen mengangguk-angguk. “Yang di Tangerang itu?”

“Tepat sekali!” Renata mengacungkan jempol. “Kamu sudah sekolah?”

“Iya, Tante,” jawab Gwen dengan tegas. “Aku sudah TK.”

“Oh... Anak pintar!” Renata mengelus kepala Gwen.

Ia kemudian menegakkan punggung kembali. Menatap Nugra dan Adita bergantian.

“Putrinya pintar banget!” pujinya. “Cantik seperti mamanya.”

Senyum Adita melebar mendengar itu. Seutuhnya ia menyadari, bahwa perempuan mungil yang kini berdiri di depannya itu tak ada hubungannya dengan masa lalunya bersama Rafael. Perempuan itu masa kini dan masa depan Rafael. Seperti juga Nugra adalah masa kini dan masa depannya.

“Ma, gimana kalau Mbak Renata kita undang makan siang di kafemu?” Nugra menatap Adita.

“Oh, hayuuuk...,” Adita menyambutnya dengan antusias.

“Wah.... Gimana, ya?” Renata mencoba mengelak.

“Ayolah...,” Adita mengibaskan ringan tangan kirinya ke depan wajah. “Hitung-hitung menebus yang tempo hari Mbak nggak bisa hadir itu.”

“Masalahnya,” Renata meringis sekejap, “suami saya mau jemput ke sini. Mungkin nggak lama lagi datang.”

Sebelum Adita berhasil mencerna seutuhnya apa yang diucapkan Renata, Nugra sudah menyahut dengan suara antusias, “Ya, sudah! Ini sudah jam makan siang, sekalian saja suami Mbak diajak makan di sini.”

Seketika, Adita hampir lupa bernapas.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)