Selasa, 18 September 2018

[Cerbung] Perangkap Dua Masa #9-2








Sebelumnya



* * *


‘Mas Bim, sudah sampai rumah lagi?’

Untuk kesekian kalinya Ingrid menatap layar ponsel, laman aplikasi WhatsApp-nya, dan sederet kalimat itu. Sudah hampir tengah malam, tapi pesan yang dikirimkannya sejak pukul sepuluh tadi belum juga dijawab. Pelan, Ingrid merebahkan tubuhnya di ranjang.

Mas Bimbim nggak malu ngojek?

Ingrid mengerjapkan mata.

Iya, halal, sih. Tapi....

Yang bergulung dalam benaknya kini bukanlah soal malu atau tidak, melainkan soal keberanian Bimbim keluar dari zona nyaman.

Anak pasangan petinggi bank swasta terbesar dan pemilik katering ternama mau ambil pekerjaan ngojek?

Sisi lain Bimbim yang baru diketahuinya itu membuatnya sedikit terguncang. Bimbim ternyata bukan pemuda yang ‘biasa-biasa saja’. Bahkan ia yakin, sekepepet apa pun abang-abangnya, rasanya ngojek adalah pilihan paling buncit untuk diambil. Sama sekali bukan pekerjaan hina, tapi rasanya jauh sekali dari angan abang-abangnya.

Apalagi Mas Endra!

Ingrid menggeleng samar. Entah kenapa mendadak saja Endra menyelinap masuk ke dalam kelindan benaknya.

Dan, Mas Ken?

Oh, ia hampir saja melupakan sosok itu, yang justru bersamanya sepanjang sore tadi. Bertemu lagi dengan Ken? Itu adalah mimpi yang jadi nyata. Apalagi melewatkan senja bersama. Bahkan tak jauh dari salah satu hobinya, makan. Yang dirasakannya saat bersama Ken adalah perasaan mengawang-awang yang berganti dengan perasaan senang. Tapi beberapa detik kemudian ia terhenyak.

Selama ia mengenal Ken, belum pernah ia berada sedekat itu dengan Ken. Setidaknya sampai menyentuh ke hal yang sedikit pribadi seperti tadi. Tentang kuliah, pekerjaan, hobi, dan lain-lain. Apalagi Ken seolah meluangkan waktu secara khusus untuk bertemu dengannya.

Tapi apakah benar hanya denganku saja? Dengan gadis atau bahkan gadis-gadis lain?

Ingrid tak lagi berani meneruskan pikirannya. Ia menguap sembari kembali menatap layar gelap ponselnya. Belum ada balasan juga dari Bimbim.

Lalu, kalau dia membalas, mau ngobrol soal apa? Soal dia ngojek?

Ingrid menggeleng samar. Siapa ia sampai harus tahu sedetail itu? Bukankah ia sudah secara sengaja ‘menendang’ Bimbim dari jalur khusus menuju hatinya? Sampai di sini ia menguap. Kantuknya sudah tak tertahan lagi. Dalam sekejap, alam mimpi pun meraihnya dalam pelukan. Dan, ia tak lagi mendengar notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya beberapa menit kemudian.

* * *

Dengan termangu-mangu, Bimbim menatap layar ponselnya. Pesan dari Ingrid tak bisa diabaikannya. Tapi di sisi lain, ia tak tahu harus menanggapi bagaimana bila Ingrid membahas tentang kegiatan ‘lainnya’ itu. Perasaannya mengatakan bahwa pesan Ingrid kali ini berkaitan dengan peristiwa menjelang malam tadi, saat ia menjemput penumpang yang ternyata tamu Ingrid.

Sebetulnya, sejak berganti kendaraan dari mobil ke sebuah motor/skuter matik bongsor, ia sudah resmi menyandang pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring. Menjadi salah satu anggota pasukan dari Great-jek. Lumayan untuk ganti uang bensin. Tidak selalu aktif, karena ia tak mau merebut piring pengemudi lainnya yang lebih memerlukan rejeki daripadanya. Hanya aktif pada saat-saat ia sedang tak punya kegiatan untuk dilakukan. Contohnya, seperti sore tadi.

Oh, jadi itu yang namanya Ken?

Bimbim mengerucutkan bibir. Ia tahu soal Ingrid dengan Ken, tapi belum pernah sekali pun tahu bagaimana sosok Ken. Ingrid sama sekali tak menyapa ketika ia menjemput Ken. Begitu juga ia. Tapi mata bulat dan ekspresi Ingrid, ia tak akan bisa melupakannya.

‘Mas Bim, sudah sampai rumah lagi?’

Untuk kesekian kalinya, dibacanya pesan dari Ingrid. Masih tak bisa menduga akan ke mana arah bergulirnya pembicaraan dengan Ingrid. Tapi makin dipikir, makin tak tega ia mengabaikan pesan itu.

Tapi sudah lewat tengah malam begini...

Bimbim terus menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan untuk membalas pesan itu.

‘Ya, In? Maaf baru sempat balas. Ya, aku sudah di rumah. Gimana? Ada kabar apa?’

Hampir setengah jam menunggu, tapi tak juga datang pesan balasan. Diam-diam Bimbim menghela napas lega

Kayaknya Ingrid sudah tidur.

Maka, ia pun membaringkan diri di ranjang dan mulai memejamkan mata.

* * *

Ingrid Prisdanto....

Ken menatap langit-langit kamarnya. Ia lupa sudah berapa lama ia sering memikirkan gadis itu. Gadis yang dikenalnya sejak masih kecil, hingga menjelma jadi remaja cantik dan luwes menari, dan saat ini sudah jadi perempuan muda yang tetap bersikap apa adanya.

Saat masih aktif di sanggar orang tuanya dulu, diam-diam Ken sering mengamati Ingrid. Melihat betapa seriusnya gadis itu berlatih. Melihat bagaimana perkembangan kemampuan Ingrid. Sesekali menguping rumpian ibunya dan Lulu, sepupunya, tentang Ingrid.

Tapi ia merasa mimpinya jauh lebih penting daripada mengurusi kelanjutan hubungannya dengan Ingrid. Mimpi dan rencananya sudah matang. Ia benar-benar ingin meraih karier gemilang, diawali dengan memperoleh pendidikan formal yang baik. Arah bidikannya tepat sasaran, dan ia kini sudah meraih gelar itu, sekaligus kesempatan untuk meniti karier di Singapura. Semua itu tidak diperolehnya dengan mudah, karena diawali dengan memilih antara sekolah dan Ingrid.

Ia terpaksa sejenak melupakan Ingrid justru karena ia tak mau menghancurkan hubungannya dengan gadis itu. Sementara waktu, ia hanya saling mengenal sekadarnya saja dengan Ingid. Sambil berharap Ingrid tetap ‘sendiri’ saat ia kembali dengan keberhasilan awalnya. Saat ia dan Ingrid sudah lebih dewasa.

Ia benar-benar tak tahu bagaimana perjalanannya akan berlangsung. Apalagi saat melanjutkan pendidikan di luar negeri. Bila ia meninggalkan Ingrid dalam kondisi setengah terikat, apakah akan lebih baik? Maka, ia memutuskan untuk menahan diri, sambil berharap Tuhan berbaik hati padanya soal Ingrid.

Secara sambil lalu, ia sering bertanya pada Lulu tentang kabar Ingrid. Itu pun disertai pesan agar Ingrid tak pernah tahu. Biar Ingrid tetap menjalani dunianya sendiri tanpa terganggu apa pun. Sejauh ini, Ingrid yang diketahuinya masih ‘sendiri’. Menimbulkan perasaan lega luar biasa dalam hati.

Waktunya di Jakarta sebelum mulai tinggal untuk sementara waktu di Singapura cuma sebulan. Sore tadi, awalannya sudah cukup baik. Ingrid seperti biasa, tidak terlalu banyak bicara. Tapi ia menangkap cahaya riang cukup sering melompat keluar dari tatapan Ingrid. Obrolannya dengan Ingrid pun, walaupun awalnya sedikit tersendat, tapi akhirnya berkembang jadi lebih hangat dan akrab.

Dengan mengabaikan jetlag, ia pun menempatkan diri pada posisi nyaman di atas ranjangnya. Ia sudah punya rencana untuk besok. Ia sudah tak mau lagi membuang kesempatan untuk melanjutkan rasanya terhadap Ingrid. Maka, ia pun mengatupkan kelopak matanya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

2 komentar: