Kamis, 13 September 2018

[Cerbung] Perangkap Dua Masa #7-2









Sebelumnya



* * *



Menjelang pukul tiga siang, Ingrid pun diantar pulang oleh Endra. Saat tiba di rumah Ingrid, terlihat ada banyak kesibukan. Pintu garasi pun terbuka lebar. Isinya beberapa meja yang sudah dipasang taplak batik. Mobil-mobil di dalamnya tak ada. Entah diungsikan ke mana.

“Mau ada acara, In?” usik Endra.

“Iya, arisan ibu-ibu kompleks sini. Nanti pukul lima.”

“Mobil-mobil dikemanain?”

“Oh.... Biasanya, sih, dititipkan ke kantornya Bang Ernest. Masuk dulu, yuk!”

Endra mengangguk. Tadi ia berpamitan baik-baik pada orang tua Ingrid, sekarang pun harus secara baik-baik pula ‘mengembalikan’ Ingrid. Sebelum masuk terlalu jauh, ternyata ada Bian sedang duduk-duduk sambil membaca di teras.

“Lagi santai, Pa?” Ingrid mencium punggung tangan ayahnya.

“Cari angin, nih. Baru saja selesai beres-beres kursi,” jawab Bian sembari menerima jabat tangan Endra.

“Ini, Om,” ucap Endra sopan, “saya antar Ingrid pulang. Terima kasih sudah diberi kesempatan ajak Ingrid keluar.”

“Oh, iya, iya,” angguk Bian.

Endra kemudian segera berpamitan. Setelah pemuda itu berlalu, Ingrid pun menjatuhkan diri di sebelah ayahnya.

“Ke mana saja, tadi?” Bian melingkarkan lengannya di sekeliling bahu si putri bungsu.

“Cuma ke Metro doang. Terus makan di GG yang di Pondok Indah. Ternyata GG punya saudaranya Mas Endra, lho, Pa.”

“Oh, ya?”

“He eh,” angguk Ingrid. “Yang punya itu...,” Ingrid mencoba mengingat-ingat, “suami kakak sepupunya.”

Bian manggut-manggut. Ingrid masih ingin menyimpan sendiri bagian bertemu dengan seluruh keluarga Endra. Maka, ia tak menceritakannya kepada sang ayah.

“Nanti jadi pada mau ngungsi ke rumah kakakmu, nih. Kamu ikut, nggak?”

“Ikutlah,” jawab Ingrid, cepat.

Arisan ibu-ibu kompleks sini biasanya heboh. Bahkan untuk urusan makanan, Flora menyerahkannya secara khusus kepada katering milik Tetty, ibu Bimbim. Ia tak mau repot-repot. Sudah ada ahlinya.

“Mau berangkat kapan ke rumah Kakak, Pa?” Ingrid bangkit dari duduknya.

“Nantilah, pukul empat atau setengah lima.”

“Ya, deh, aku mandi dulu.”

Ingrid memilih untuk masuk lewat garasi, karena lebih dekat dengan akses tangga menuju lantai atas, tempat kamarnya berada. Tepat di pintu penghubung garasi dengan ruang tengah, ia berpapasan dengan Bimbim.

“Eh, In,” sapa Bimbim. “Baru pulang?”

“Hai, Mas Bim! Iya, nih! Lagi bantuin Tante?”

“Iya,” angguk Bimbim. Tersenyum lebar. “Jadi kuli tukang mondar-mandir.”

Ingrid tertawa mendengarnya. Tak urung, ada perasaan tak enak di hati, karena sepertinya Bimbim tahu bahwa Ingrid baru saja bersama Endra. Tapi wajah Bimbim biasa-biasa saja. Keduanya kemudian meneruskan langkah masing-masing. Saat kakinya sudah menapaki anak tangga terbawah, sebuah sapaan hangat membuat Ingrid menoleh.

“Eh, calon menantu.... Baru ketemu gini hari.”

Didapatinya Tetty tengah menatapnya dengan seulas senyum tersungging di bibir. Perempuan berusia awal lima puluhan ada di dekat sebuah meja yang penuh dengan peralatan makan yang belum tertata. Ingrid tertawa mendengar ucapan Tetty. Ia pun membatalkan langkah. Sebagai gantinya, ia menghampiri Tetty dan memberikan salamnya dengan sopan.

“Dari mana?” tanya Tetty.

“Keluar sama teman, Tante,” jawab Ingrid dengan manis.

“Eh, itu Tante bawakan bakso talas Bogor kesukaanmu,” senyum Tetty melebar.

“Wow! Mana, Tante?” ada nafsu dalam suara Ingrid.

“Nggak tahu, tadi mamamu yang simpan.”

Langsung terbayang aroma dan kelezatan bakso talas Bogor buatan Tetty. Ingrid pun mengucapkan terima kasih dan buru-buru mencari ibunya. Flora ditemukannya tengah berada di dapur.

“Pasti cari bakso talas,” sambut Flora, tertawa lebar.

Ingrid pun terkekeh menanggapinya.

“Tuh, Mama taruh di situ,” Flora menunjuk ke meja di dekat kulkas. “Jangan dihabiskan sendiri, kakakmu juga suka. Jangan lupa kamu nanti bawakan buat dia.”

“Iya, Mama...,” Ingrid menanggapinya dengan suara patuh dan berirama.

Mata Ingrid membola begitu membuka tutup sebuah kotak cukup besar di atas meja. Isinya penuh dengan bakso talas dan dua kemasan plasik berisi saus sambal buatan Tetty sendiri. Air liurnya langsung terbit. Dicomotnya satu bakso itu, kemudian dijejalkannya di dalam mulut.

Sambil mengunyah, ia sibuk mencari sebuah kotak plastik di lemari. Diselamatkannya sekitar dua puluh butir bakso talas dan sebuah kemasan saus sambal ke dalam kotak itu. Sambil melanjutkan niat untuk mandi di atas, ia pun membawa kotak itu.

“Tante, makasih baksonya,” ucapnya riang ketika bertemu lagi dengan Tetty. “Selalu endes gurindes, deh!”

Perempuan yang murah senyum itu tertawa mendengar ucapan Ingrid.

* * *

Sementara para lelaki sibuk bercakap di ruang tengah, Ingrid dan Erma yang menggendong Inez menyingkir ke teras belakang. Tak lupa Ingrid membawa piring penuh berisi bakso talas dari Tetty. Dalam sekejap, keduanya pun sibuk ngerumpi. Apalagi kalau bukan soal Ingrid, Bimbim, dan Endra?

Pada kesempatan itu, Ingrid bercerita tentang ‘lamaran’ Bimbim dan Endra yang jatuh pada saat yang nyaris bersamaan. Juga pertemuan-tak-sengajanya siang tadi dengan keluarga Endra.

“Baik banget, tahu, Kak, ortu Mas Endra,” ujar Ingrid. “Suasananya juga hangat banget. Aku yang semula rada canggung lama-lama asyik juga ikut obrolan. Mereka juga biasa-biasa saja sikapnya, nggak sok-sokan kayak OKB atau sosialita yang lebay gitu....”

Erma menyimak baik-baik penuturan Ingrid, sambil menyusui Inez.

“Jadi kamu merasa nyaman, ya?” Erma memastikan.

Ingrid mengangguk setelah berpikir sejenak.

“Kalau sama keluarganya Bimbim?” kejar Erma.

“Itu, sih, jangan ditanyalah, Kak.... Sudah kenal dari kapan juga. Tante Tetty, tuh, suka lucu panggil aku. Calon menantu, katanya. Hahaha....”

Erma pun turut tergelak bersama Ingrid.

“Mm.... Jadi, akhirnya, pilihanmu jatuhnya ke siapa?”

Pertanyaan bernada serius dari Erma itu membuat Ingrid seketika terdiam. Mentah lagi.... Dengan sorot mata sedikit berlumur rasa putus asa, Ingrid menatap kakaknya.

“Aku belum tahu,” gelengnya.

Erma tersenyum lebar sambil mencomot sebutir bakso talas. Digigitnya makanan gurih itu setelah dicocolnya ke saus sambal.

“Mereka nggak kasih kamu deadline?”

Ingrid menggeleng.

“Mm...,” Erma manggut-manggut. “Kasihan mereka kalau kamu terlalu lama menggantung, nggak segera ambil keputusan.”

“Habisnya, aku merasa nyaman sama dua-duanya, Kak.”

“Iya,” Erma menimpali dengan nada menukas, “tapi, kan, kamu juga nggak bisa seenaknya ndobel gitu.”

“Seandainya dua-duanya nggak aku terima, aku, dong, yang rugi,” gumam Ingrid. “Bisa kehilangan semuanya. Pilih salah satu, sama juga, bakal kehilangan lainnya.”

“Ish!” cibir Erma. “Pacaran, sih, jangan mikir untung-rugilah! Mikir perasaan dulu. Mana yang bikin kamu merasa paling nyaman. Kan, gitu?”

Ingrid menghela napas panjang. Tiba-tiba ditatapnya Erma dengan mata bersinar-sinar.

“Kalau Kakak jadi aku, pilih yang mana?”

Seketika Erma terbengong. Balas menatap si adik bungsu.

* * *

Sambil menopang pelipisnya dengan tangan kiri, Ingrid sibuk mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya. Pada akhirnya, ada juga solusi yang diberikan Erma. Bahwa sebaiknya Ingrid membuat plus-minus kebersamaannya dengan Endra dan Bimbim.

Lalu, pilih yang buat kamu merasa paling nyaman....

Dalam hati, Ingrid mengulangi lagi ucapan Erma.

Kalau aku, sih, lebih berat ke arah pilih Endra, begitu ucap Erma lagi, tadi. Sekalian lihat jauh ke masa depan. Lebih terjamin kalau sama Endra.

Ingrid mengerucutkan bibirnya. Untuk alasan ini, ia setuju dengan kakaknya. ‘Matre’ atau tidak, jaminan finansial untuk masa depan itu juga cukup penting. Endra sudah jelas jauh lebih mapan daripada Bimbim.

Tapi, kan, Mas Bimbim juga nggak susah-susah amat! Diam-diam salah satu sisi hatinya membantah. Dia juga pekerja keras. Nggak pelit juga.

Ingrid menyandarkan punggungnya. Diangkatnya kedua kaki. Ia kini duduk mencangkung di atas kursi. Diembuskannya napas keras-keras.

Tapi kenapa ada rasa bersalah ketika ‘kepergok’ Mas Endra ketika aku nonton dengan Mas Bimbim?

Ingrid tercenung. Perasaan itu muncul lagi ketika kebersamaannya bersama Endra hampir tiba di ujung, siang tadi.



“Oh, ya, In,” ujar Endra ketika mereka dalam perjalanan pulang setelah menikmati makan siang, “ultah Mama, kan, Sabtu depan ini. Rencananya, kami mau merayakan kecil-kecilan, gitu. Sore hari, terus lanjut makan malam. Tempatnya belum ditentukan, sih. Tapi yang jelas, acaranya di rumah dulu sorenya itu. Aku jemput kamu buat ikut merayakan, ya?”

Hampir saja Ingrid mengangguk, tapi langsung teringat bahwa ia sudah lebih dulu membuat janji dengan Bimbim. Tanpa sadar, ia menghela napas. Terasa sedikit berat.

“Aduh.... Gimana, ya, Mas? Aku sudah telanjur ada acara.”

“Oh.... Nggak bisa ditunda?”

“Kayaknya enggak. Acaranya pukul empat, sampai malam.”

“Oh.... Ya, nggak apa-apa, sih, kalau kamu memang nggak bisa.”

Walaupun Endra menangapi penolakannya dengan nada biasa, tak urung Ingrid menemukan ada rasa kecewa dalam suara Endra.

“Maaf, ya, Mas,” ucapnya, penuh rasa bersalah.

“Nggak apa-apa, In. Santai saja,” senyum Endra. “Ya, yang mana yang duluan dibuatlah janjinya.”

Ingrid meringis sekilas.



Dalam suasana hening seperti inilah penyesalannya timbul kembali. Seandainya pada waktu itu ia lebih dulu membuka pesan sesuai urutan terawal masuknya pesan, tentu kejadiannya akan lain. Dan, ia tak perlu mengecewakan Endra seperti itu.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)