Selasa, 11 September 2018

[Cerbung] Perangkap Dua Masa #7-1









Sebelumnya



* * *



Tujuh


Menjelang pukul sebelas siang hari Minggu, Ingrid sudah siap ketika Endra menjemputnya. Entah Endra akan mengajaknya ke mana, Ingrid hendak menurut saja. Hitung-hitung menebus kesalahan karena penundaan itu. Tapi ketika Endra membukakan pintu mobil untuknya, Ingrid terperanjat karena ada sapaan dari arah jok belakang.

“Hai, Ingrid!”

Ingrid terbengong sejenak sebelum membalas sapaan itu. Meskipun dandanannya jauh berbeda dengan semalam, tapi Ingrid masih mengenali gadis yang duduk manis di jok belakang itu. Gadis modis yang semalam menonton midnight bersama Endra dan duduk tepat di sebelahnya.

“Kita antar Joya pulang dulu, ya?” celetuk Endra sambil menghidupkan mobilnya.

Tanpa menunggu jawaban Ingrid, mobil itu pun melaju meninggalkan carport  rumahnya.

“Kalau saja aku nggak ada janji sama Bunda, aku ingin juga ikut kalian, Mas,” celetuk Joya dengan suara ceria.

“Haish! Ganggu aja,” gerutu Endra, yang disambut tawa meriah dari arah belakang. “Gini, nih, yang bikin pasaranku jatuh. Kamu kuntit melulu, Dik.”

“Hahaha.... sengaja aku puas-puasin, Mas, sebelum nikah sama Ibeng.”

“Gitu, tuh, In, kalau punya sepupu durhaka,” Endra tertawa ringan. “Mentang-mentang calon suaminya lagi tugas belajar di Surabaya, dia puas-puasin ngerjain aku.”

Oh.... Ternyata sepupunya, to?

“Kamu nggak punya sepupu reseh, kan, In?” lanjut Endra.

“Sialan, aku dibilang reseh!”

Endra tergelak mendengar protes dari arah belakang itu. Ingrid ikut tertawa. Kali ini lebih lepas.

“Enggak, sepupuku masih kecil-kecil,” jawab Ingrid kemudian.

Obrolan mereka bertiga berakhir ketika Endra menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berhalaman luas bergaya country. Suara Ingrid menghentikan gerakan Joya membuka pintu kanan belakang mobil.

“Lho, Mbak Joya putri Bu Praba?”

“He eh,” Joya mengangguk. “Mahasiswinya Bunda, ya?”

“Iya, tapi cuma pernah satu semester diajar sama Bu Praba. Dulu pernah ke sini anterin teman. Dia di bawah perwalian Bu Praba. Salam buat Ibu, ya, Mbak.”

“Oke, nanti aku sampaikan. Mas ganteng, makasih midnight-nya semalem, ya!”

“Eits! Jatah nonton berikutnya kamu yang bayar, Dik!”

Joya menutup pintu mobil dengan menyisakan tawa panjangnya. Gadis itu kemudian melambaikan tangan ketika Endra melajukan kembali mobilnya.

“Bundanya adik bungsu Papa,” jelas Endra tanpa diminta. “Papa nomor empat, Tante Ninin nomor lima. Joya itu bungsunya Tante Ninin. Lebih tua dia dua tahun daripada aku. Tapi karena urutan ortunya papaku lebih tua, makanya dia panggil aku ‘mas’.”

“Oh...,” Ingrid manggut-manggut.

“Dari semua cucu Eyang, aku yang paling muda. Di atasku persis, ya, Joya itu. Makanya kami akrab banget. Dari kecil sering barengan. Masuk ke perusahaan juga pada periode yang nyaris sama.”

Ingrid kembali manggut-manggut. Seutuhnya ia bisa memahami bagaimana pola hubungan Endra dengan Joya.

* * *

Setelah puas memutari sebuah mal di Pondok Indah dan berunding dengan Ingrid, akhirnya Endra menjatuhkan pilihan pada kado berupa tas kulit. Mereka kemudian masuk ke sebuah butik khusus aneka produk berbahan kulit bermerek terkenal asal luar negeri. Sebetulnya Ingrid sangsi dengan pilihan Endra. Dalam pikirannya, ibu Endra pastilah seorang sosialita yang memiliki koleksi tas merek-merek ternama yang membelinya pun harus antre panjang saking eksklusifnya. Bahkan bisa sekaligus untuk investasi. Tapi Endra menggeleng ketika Ingrid tanpa sengaja mencetuskan pikirannya.

“Mamaku, sih, seleranya lebih ke fungsi daripada merek,” Endra tersenyum lebar. “Nggak pernah kepikiran koleksi tas, apalagi yang harganya sampai puluhan atau ratusan juta. Mamaku nggak aneh-aneh, kok, orangnya.”

Maka, Ingrid pun lebih bebas memilihkan tas seperti apa yang kira-kira cocok dengan selera ibu Endra dan sesuai dengan budget yang dimiliki pemuda itu. Akhirnya mereka menemukan juga sebuah tas tangan cantik dan fungsional berwarna cokelat kemerahan. Desainnya sederhana, tapi terlihat sangat elegan dan mengesankan sesuatu yang mahal. Sangat sesuai dengan harganya yang mencapai hampir delapan juta rupiah.

“Lapar, In?” tanya Endra tiba-tiba, ketika mereka sudah keluar dari butik itu.

Ingrid hanya nyengir sekilas. Endra tertawa melihatnya. Tapi ia tidak mengajak Ingrid mampir ke salah satu pondok makan dalam mal itu, melainkan langsung ke tempat parkir. Setelah berada dalam mobil, barulah Endra menyampaikan niatnya.

“Kita makan di rumah makan saudaraku saja, ya? Dekat sini, kok.”

Ingrid pun menurut saja tanpa banyak kata. Syukur-syukur Mas Endra ingat untuk memberiku makan. Ingrid meringis jahil dalam hati.

Benar kata Endra. Tujuan mereka siang ini memang tak begitu jauh dari mal. Hanya sekitar sepuluh menit mengendarai mobil, mereka pun sampai. Endra menghentikan mobilnya di salah satu slot parkir rumah makan Godhong Gedhang.

Oh.... Jadi ini milik saudaranya juga?

Ingrid melongok sekilas dari balik kaca jendela sebelum keluar dari dalam mobil. Ia bersama keluarganya sudah cukup lama jadi pelanggan rumah makan Godhong Gedhang. Tapi yang di sini belum pernah. Jaringan rumah makan itu tersebar di beberapa tempat di seluruh penjuru Jabodetabek. Salah satunya ada di dekat kompleks rumah tinggalnya. Di sanalah biasanya Ingrid dan keluarganya berkunjung saat ingin makan di luar.

“Resto ini punya saudara Mas, ternyata?” celetuk Ingrid.

“Iya,” angguk Endra sambil menggandeng tangan Ingrid. Menyeberangi area parkir. “Yang punya suami kakak sepupuku. Ini restonya yang pertama sebelum buka di tempat-tempat lain. Kamu tahu Banyu Wibowo, nggak, In?”

“Tahu,” Ingrid mengangguk. Siapa yang tak tahu Banyu Wibowo, raja media tanah air?

“Nah, suami kakak sepupuku ini, Mas Irvan namanya, dia anak bungsu Banyu Wibowo,” Endra menjelaskan dengan nada biasa, sama sekali tanpa bias nada pamer.

Ingrid ternganga. Ditatapnya Endra yang melangkah di sebelahnya.

“Itu Chef Irvan yang pegang acara kuliner di TV Candika, kan?”

“Yup!” Endra mengangguk. Tersenyum lebar. “Saingan berat Press TV milik ayahnya.”

“Wow!”

“Panjang ceritanya itu, In,” Endra melepaskan tawa ringannya. (Baca saja cerbung "Miss Cempluk" di FiksiLizz, In, hahaha... Endra meringis dalam hati.)

Endra membuka pintu kaca rumah makan itu. Membiarkan Ingrid masuk lebih dulu. Gadis itu seketika merasa akrab dengan suasana Godhong Gedhang. Jelas saja, karena semua rumah makan Godhong Gedhang konsep dan penataan interiornya hampir sama. Keduanya kemudian duduk di sudut belakang ruangan. Menempati perangkat meja untuk berdua.

Baru saja selesai memilih-milih menu, sapaan ramah menghampiri mereka. Endra dan Ingrid sama-sama mendongak. Mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berkemeja batik sogan lengan pendek sudah berdiri di sebelah meja mereka. Ingrid cukup mengenali sosok itu, karena ia penikmat setia acara kuliner di Candika TV.

“Hei! Mas Irvan!” Endra erat-erat menyambut jabat tangan laki-laki itu.

“Tumben, nggak sama Joya?” laki-laki itu mengedipkan sebelah mata.

Endra tertawa panjang sebelum menjawab, “Masa sama Joya terus? Matiin pasaran bener!”

“Jadi, ini siapa, nih?” Irvan mengalihkan tatapan pada Ingrid.

“Ini Ingrid, Mas. Adik Erwin, sohibku,” Endra pun memperkenalkan keduanya. “In, ini, nih, yang namanya Mas Irvan. Big boss Godhong Gedhang.”

Laki-laki itu menjabat tangan Ingrid dengan hangat.

“Jangan mau dikadalin dia, In,” ucap Irvan kemudian, akrab.

Apa, sih? Tapi Ingrid tertawa juga.

“Nggak dinas, Mas?” Endra menatap Irvan yang tidak sedang mengenakan atribut kebanggaannya sebagai seorang chef.

“Enggaklah,” Irvan menggeleng. “Ini gara-gara anak-anak pada ingin makan di sini.”

“Lho, mana?” Endra celingukan.

“Ada di belakang.”

“Oh....”

Irvan kemudian pamit dan membiarkan Endra menikmati makan siang bersama Ingrid. Tapi belum lama mulai menikmati makanan dan minuman yang terhidang, sebuah sapaan kembali membuat keduanya mendongak.

“Ecieee.... Sudah berani bawa cewek makan siang bareng, nih, Endra?”

Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan yang menggendong seorang balita perempuan menatap mereka dengan sorot mata menggoda. Ingrid sempat salah tingkah karenanya. Apalagi tanpa tahu siapa perempuan cantik yang terlihat hampir sama seperti dirinya, punya darah Eropa mengalir dalam tubuh, itu.

“Aduh.... Ngapain juga ke sini, sih, Kak?” Endra tampak kesal.

“Lho, dari kapan hari juga sudah punya rencana mau maksi bareng di sini sama Mama-Papa,” elak perempuan itu. “Terus, nggak dikenalin, nih, sama Kakak?”

Endra menggeleng samar. Wajahnya terlihat enggan. Tapi ditatapnya juga Ingrid.

“In, kenalin, ini kakakku satu-satunya,” ucap Endra.

Dengan ekspresi sangat ramah, perempuan itu mengulurkan tangannya pada Ingrid. Sementara balitanya mengulurkan kedua tangan pada Endra. Minta digendong sang paman kesayangan. Endra pun menyambut uluran tangan sang keponakan dengan hangat, dan menggendongnya dengan sikap penuh rasa sayang.

“Kania,” suaranya terdengar sangat hangat.

“Ingrid,” sahut Ingrid, nyaris tanpa suara.

“Kamu adik Erwin, ya?” tebak Kania. “Mirip banget!”

“Iya, dia adik Erwin,” timpal Endra, dengan nada mengusir kakaknya.

“Ih! Galak banget kalau kepergok jalan sama cewek,” gerutu Kania dengan nada menggoda. “Yuk, ah, Lun! Jangan ganggu Om Endra.”

Tapi balita cantik menggemaskan bernama Luna itu tak mau beranjak dari pangkuan Endra. Itulah awal ‘bencana’ – setidaknya demikian bagi Ingrid – karena bukan hanya Kania dan ayah Luna saja yang kemudian pindah ke meja berukuran keluarga tepat di sebelah mejanya dan Endra, tapi sekaligus dengan ibu dan ayah Endra. Mau tak mau, Ingrid pun diperkenalkan kepada seluruh keluarga Endra.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)