Jumat, 21 September 2018

[Cerbung] Perangkap Dua Masa #10-3









Sebelumnya



* * *



“Mas, aku ke perpustakaan dulu, nggak apa-apa?” tanya Ingrid begitu membuka pintu mobil.

Bimbim buru-buru menegakkan sandaran jok dan bersiap kembali mengemudi.

“Ayo, saja, In,” jawabnya.

“Kalau agak lama? Mau cari buku, soalnya.”

“Santai saja, Nona... Kan, aku cuma sopir.” Bimbim meringis lucu.

Ingrid tertawa melihatnya. Ia kemudian mengambil posisi nyaman, dan Bimbim pun meluncurkan mobil mungil itu.

“Habis dari perpustakaan, ke mana?” Bimbim menoleh sekilas.

“Nggak ke mana-mana, sih,” Ingrid menggeleng. “Tapi tanggung, ya, mau langsung pulang?” Ingrid nyengir. “Jalan ke mana dulu gitu, kek, Mas.”

“Mau ikut ke Depok?” sambar Bimbim seketika.

“Wah, ngapain?” Ingrid menatap Bimbim.

“Mau urus perpanjangan kontrak lahan. Sebenarnya urusan abangmu, sih, itu. Cuma, berhubung dia lagi antar mama kalian, dia limpahkan ke aku. Kebetulan aku juga lagi nggak ada kerjaan.”

“Oh, ayo!” Suara Ingrid terdengar antusias.

Bimbim senang sekali mendengarnya. Lumayanlah ada kesempatan untuk berdua-dua dengan Ingrid.

Memasuki area parkir perpustakaan pusat, Bimbim mencari-cari slot kosong yang ada di bawah kerindangan pohon. Pun Ingrid. Hingga gadis itu menunjuk ke satu arah. Ada mobil yang baru keluar dari bawah teduhnya sebuah pohon trembesi. Ke sanalah Bimbim mengarahkan mobilnya.

“Mas mau tunggu di sini, atau di dalam?” tanya Ingrid sebelum membuka pintu mobil

“Di dalam ngapain? Aku sudah bukan mahasiswa sini.”

“Eh, sekarang ada coffee shop di pojokan lobi, lho!”

“Masa?” Bimbim menatap Ingrid dengan ekspresi tak percaya.

“Beneran!” Ingrid mengangkat alisnya. Berusaha meyakinkan. “Belum lama bukanya. Baru sekitar lima-enam bulan ini. Pastry­­-nya juara. Murmer lagi! Mana free wifi juga, kan.”

“Kamu tahuuu saja tempat yang makanannya enak,” Bimbim tertawa. “Ya, deh, aku tunggu di sana.”

Keduanya kemudian keluar dari mobil, masuk ke perpustakaan melalui lobi depan, dan berpisah di dekat pintu masuk. Ingrid meneruskan langkah ke lantai atas, Bimbim berbelok ke kiri, ke arah sudut lobi yang, memang benar, sekarang ada kedai kopinya.

Setelah memesan minuman dan beberapa potong pastry, dengan sabar Bimbim duduk menunggu Ingrid menyelesaikan urusannya. Tidak perlu terlalu bengong, karena kedai kopi itu juga menyediakan fasilitas sambungan internet gratis. Dan, Ingrid benar lagi ketika mengatakan bahwa kue-kue di kedai itu enak dan berharga terjangkau kantung mahasiswa. Bahkan Bimbim memesan juga satu kotak berisi selusin pastry campur untuk dibawa ‘jalan-jalan’ dengan Ingrid ke Depok nanti.

Sekitar satu jam duduk dengan manis di kedai kopi itu, seperti ada kekuatan yang menariknya, Bimbim menatap ke arah tangga. Langkah Ingrid terlihat ringan menuruni tangga. Tapi dia tidak sendirian. Ia berjalan berdampingan dengan Endra. Mata Bimbim mengerjap.

* * *

Ketika melihat Ingrid keluar dari gedung fakultasnya dan kembali ke mobil yang menunggunya, Ken tidak punya pilihan lain kecuali memutuskan untuk membuntuti mobil mungil itu. Sebisa-bisanya. Entah ke mana mobil itu akan meluncur.

Dari jarak aman, ia bisa melihat bahwa mobil itu kemudian mengarah ke perpustakaan pusat dan parkir di area dekat dengan gedung. Ia memilih untuk mengambil slot lain di seberang area parkir dekat gedung. Walaupun dipisahkan oleh jalan selebar sepuluh meter, ia masih bisa dengan jelas mengamati pergerakan mobil mungil itu.

Dan, ia sempat ternganga ketika mendapati bahwa Ingrid kali ini keluar berdua dengan pemuda yang mengantarnya. Keduanya masuk ke gedung perpustakaan. Lama sekali tidak keluar-keluar, hingga ia jengkel sendiri karena merasa dikerjai. Tapi, ia buru-buru meralat pikirannya.

Lha, yang suruh nguntit dia juga siapa?

Sepuluh menit tak ada tanda-tanda Ingrid dan ‘teman’-nya keluar, Ken pun meninggalkan mobilnya. Menghampiri deretan penjual makanan dan minuman yang berjajar rapi di salah satu sisi area parkir seberang perpustakaan pusat. Dibelinya satu gelas es doger, satu botol air mineral, dan sekantung cakue lengkap dengan saus sambal dalam kemasan sachet.

Di Inggris mana ada ginian? Ia meringis sekilas ketika duduk kembali di dalam mobilnya.

Salah satu alasannya – selain Ingrid – untuk giat belajar hingga lulus tepat waktu adalah kerinduannya akan suasana ‘santai’ tanah air. Lagipula ayah-ibunya sudah sejak awal mengultimatum bahwa tidak akan ada tambahan pasokan finansial kalau jadwal kelulusannya molor.

Lama setelah setengah lusin cakue dan segelas es doger meluncur masuk ke perutnya, barulah ia melihat bayangan Ingrid keluar dari gedung perpusatakaan. Masih dengan pemuda yang tadi, dan ada satu pemuda lagi bersama mereka. Tapi, ketiganya berpisah di area parkir setelah bercakap sejenak di teras luar perpustakaan. Ingrid dan pemuda tadi kembali ke mobil mungil Ingrid, sedangkan pemuda satunya meneruskan langkah.

Pemuda bertubuh tinggi besar berwajah tampan dan berpenampilan rapi itu menyeberang dan masuk ke area parkir yang sama dengan Ken. Bahkan kini ia melangkah mendekati Ken. Ken terus mengamatinya. Pemuda itu berhenti tepat di sebelah kiri mobil Ken. Membuka pintu mobil crossover seri terbaru sebuah pabrikan Jepang yang parkir tepat di sebelah mobil Ken, dan menghilang ke dalamnya.

“Ingrid banyak peminatnya, lho, Ken. Harus gerak cepat kamunya....”

Mendadak, suara Lulu terngiang kembali di telinganya. Melihat pemuda tinggi besar itu, mendadak perasaan Ken berseru-seru mengingatkan. Bahwa sepertinya pemuda itu adalah salah satu ‘peminat’ Ingrid. Ia tak bisa menjabarkannya, tapi bahasa tubuh pemuda itu sepertinya mengisyaratkan ‘minat’ itu.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, ia memutuskan untuk membuntuti mobil crossover itu. Lagipula, karena kesibukannya mengamati si pemuda tinggi besar, ia jadi kehilangan jejak mobil Ingrid. Ke mana pun ia mengarahkan pandangan, mobil mungil Ingrid sudah tidak kelihatan. Ketika mobil di sebelahnya mulai bergerak, Ken pun bersiap. Ia tak mau gagal kali ini.

* * *

Endra sudah hampir menyelesaikan catatannya ketika ekor matanya menangkap kehadiran seseorang yang ia kenal. Sekilas, hidungnya membaui aroma parfum yang cukup akrab di benaknya. Benar. Ingrid melintas dari arah belakangnya, menuju ke sebuah rak di seberang tempatnya duduk sejak pukul setengah delapan tadi. Dari situ, ia bisa melihat Ingrid berdiri di lorong antara rak, dan sibuk memilih-milih buku.

Setelah berpikir sejenak, Endra pun memutuskan untuk mendekatinya. Buku dan catatannya dibiarkan terbuka di tempat semula. Entah kenapa, ia masih lebih menyukai membaca buku secara langsung dan membuat catatan daripada mendapatkan apa yang ia mau melalui versi digital.

“In...,” bisiknya begitu ada di dekat Ingrid. Ia berlagak memilih-milih buku juga.

Gadis itu menoleh. Tersenyum begitu melihat siapa yang menyapanya.

“Hai!” ia balas berbisik.

“Masih merpus juga?” bisiknya lagi.

“Iya, buat nambah referensi.” Ingrid meringis sekilas. “Mas Endra juga?”

“Iyalah... Eh, kursi sebelahku masih kosong. Nanti ke situ, ya?”

“He eh,” Ingrid mengangguk, menutup acara bisik-bisik itu.

Endra kemudian kembali ke kursinya. Dengan cepat, ia menyelesaikan catatannya, dan duduk menunggu Ingrid sambil membaca sebuah buku lain. Beberapa menit kemudian, Ingrid sudah duduk manis di sebelahnya. Ia memutuskan untuk tidak mengganggu Ingrid. Tapi, sehelai kertas kemudian tersodor di depannya.

‘Nggak ngantor?’

Ditulisnya balasan pesan itu. ‘Nanti selesai dari sini baru ngantor.’

‘Enak, ya, punya kantor sendiri?’

Endra mengulum senyum membaca balasan dari Ingrid. Ia menoleh sekilas, mendapati Ingrid sudah menyiapkan pemindai portabelnya.

‘Enak nggak enaklah, In.’

Dilihatnya Ingrid tersenyum membaca balasan darinya. Gadis itu kemudian menuliskan balasan lagi, dalam deretan huruf yang mungil, rata, dan rapi. Disodorkannya kembali kertas itu pada Endra.

‘Oke, aku selesaikan ini dulu, ya. Mas Endra sudah selesai?’

Setelah berpikir sejenak, Endra pun menjawab. ‘Belum, masih mau baca-baca. Ya, sudah, kamu selesaikan dulu scanning-nya.’

Ingrid tak membalas lagi pesan itu. Tanpa suara, gadis itu melipat kertasnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dalam hening, ia kemudian menyelesaikan urusannya. Tak memindai semuanya secara membabi buta, tapi membaca dulu isi buku yang dipilihnya, dan memindai seperlunya.

Cukup lama Ingrid sibuk, tapi Endra menunggunya dengan sabar. Samar, ia menarik napas lega ketika Ingrid mulai meringkas perangkatnya. Gadis itu menoleh. Menatapnya.

“Aku sudah selesai,” bisiknya.

Endra mengangguk. Ia pun menutup buku, dan mengantongi catatan dan bolpennya di saku kemeja. Keduanya meletakkan buku-buku yang sudah selesai mereka baca di keranjang di ujung meja, kemudian beriringan keluar dalam hening.

“Kamu tadi langsung dari rumah?” tanya Endra begitu melintasi pintu keluar.

“Iya, tapi ketemu dosen dulu sebelum ke sini.”

“Tahu gitu aku jemput tadi,” ujar Endra dengan suara bernada menyesal.

“Ah, malah merepotkan, Mas. Belum lagi Mas harus antar aku pulang sebelum ngantor. Ribet, ah!”

Endra terkekeh. Tapi kekehan itu berangsur lenyap begitu Ingrid mengucapkan sebuah nama dengan nada polos dan manis.

“Tadinya, sih, aku sendirian,” ungkap Ingrid. “Tapi pas ada Mas Bimbim ke rumah. Jadilah aku diantarnya. Ini nanti aku mau ikut ke Depok, urusan bisnisnya. Daripada aku bengong di rumah,” Ingrid menutup ucapannya dengan tawa ringan.

“Oh....” Endra mendegut ludah. “Bimbim-nya di mana sekarang?”

“Ada.... Di coffee shop lobi."

“Oh....”

Dan, begitu menuruni tangga, Endra bisa melihat Bimbim tengah duduk. Sibuk menyesap isi cangkir sambil menatap ponselnya. Tapi tak lama. Tatapan Bimbim kemudian beralih. Jatuh ke arahnya dan Ingrid.

Begini rasanya kalah set, pikirnya sedih.

Tapi, ia menutupi perasaannya itu dengan menyapa Bimbim secara ramah. Pemuda itu pun membalas dengan keramahan yang sama. Bahkan menawarinya ngopi juga. Ia buru-buru menolak.

“Aku harus ngantor,” Endra tersenyum lebar. “Lain kali, ya?”

Bimbim pun berdiri dan meraih kantung kertas yang ada di atas meja. Dengan jelas, didengarnya ucapan Bimbim yang ditujukan pada Ingrid.

“In, aku belikan kue, nih! Lumayan buat ganjal gigi pas kita jalan ke Depok. Nanti bekal minumnya beli di minimarket dekat kantor saja, ya?”

Ingrid tertawa renyah mendengar ucapan Bimbim. Bertiga mereka kemudian meninggalkan lobi. Sempat membicarakan cuaca sebelum berpisah. Endra melangkah menuju mobilnya.

Melihat senyum dan mendengar suara Ingrid, hatinya serasa berbunga. Apalagi menjelang siang ini wajah Ingrid terlihat ceria. Sayangnya, bukan karena ia keceriaan itu mengudara di sekitar Ingrid, Tapi karena pemuda yang ada bersama Ingrid. Bimbim.

Nggak apa-apa, sih. Asal Ingrid bahagia.

Dihelanya napas panjang sebelum menyelinap masuk ke dalam mobilnya.

* * *

Dalam jarak aman, Ken masih bisa mengikuti mobil crossover itu. Meskipun sempat terjebak beberapa kemacetan kecil sampai cukup jauh berjarak beberapa mobil dari sasarannya, ia masih juga berhasil membuntuti. Hingga akhirnya....

Mobil itu dilihatnya menyalakan sign kanan. Sepertinya hendak memutar di salah satu ujung pembatas jalur. Ia pun mengikutinya. Ada dua mobil di antara mereka. Masih aman. Tapi ketika mobil itu menyalakan sign kiri tak jauh setelah memutar, ia hampir tak bisa bernapas.

Ia tak bisa mengikuti lagi. Karena mobil itu masuk ke area sebuah gedung yang cukup megah. Seorang petugas keamanan di depan portal terlihat memberi hormat saat mobil itu meluncur masuk. Ia kenal betul gedung itu, walaupun belum pernah masuk ke dalamnya. Ia baru dijadwalkan masuk ke gedung itu minggu depan, saat menerima pembekalan. Gedung itu kantor bersama Eternal Mediserve dan Eternal Trading.

Jangan-jangan....

Hampir saja moncong mobilnya mencium pantat mobil lain yang berhenti karena lampu merah. Setengah mati, Ken mengatur napasnya.

‘Oh, ya, kalau nggak salah, yang namanya Endra itu bos Eternal Mediserve dan Eternal Trading. Kamu keterima di Eternal Trading, ya? Selamat bersaing sama big boss-mu, deh! Hehehe...’

Mendadak saja, deretan huruf pesan dari Lulu itu seolah melayang-layang di depan matanya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Silakan singgah juga ke cerpen terbaru di blog ini yang berjudul Tiga Keping Hati. Terima kasih....