Jumat, 11 September 2015

[Cerbung] CUBICLE #8


Kisah sebelumnya : CUBICLE #7





* * *


Delapan


Lagi asyik-asyiknya aku melamun mencari ide untuk iklan multivitamin, tahu-tahu Boss Lenny sudah duduk di depan meja Bara di sebelah cubicle-ku. Si pemilik mejanya sendiri sedang kabur entah ke mana. Boss yang satu ini tak pernah marah kalau mendapati kami cuma duduk bengong atau melamun di depan meja kerja. Lha, memang idenya justru ramai berseliweran di dunia bengong dan melamun itu!

“Sas, kemarin Pak Panji minta dibikinin iklan baru. Gue lempar ke desk lu yak?”
           
“Pak Panji...”
           
“Iya,” potong Boss Lenny, “yang dari Multijossgandos.” (merk minuman energi)
           
“Oh... Boleh deh!” jawabku.

Saat ini aku cuma mengerjakan dua job saja. Itu pun yang satu sudah kulempar ke desk produksi. Jadi tak terlalu sibuk.
           
“Tapi dia minta rada cepet. Kalau bisa awal bulan depan draft-nya udah lu ajuin ke dia.”

Awal bulan depan. Berarti dua minggu lagi.

“Entar abis makan siang deh, gue kirim poin-poinnya via email,” lanjut Boss Lenny.

Aku manggut-manggut. Ciri khas klien premium. Selalu minta cepet, perfect, dan berani bayar tinggi. Tak masalah... Yang super streng kayak Pak Robert saja bisa kuberi kepuasan (???) apalagi ‘cuma’ Pak Panji. Hahay! Sombong nian….
           
Tak urung ideku buntung juga. Huuuffft! Daripada kelihatan nggak bermutu karena kebanyakan bengong akhirnya kucolek Fajar yang juga kelihatan lagi sama bengongnya di cubicle sebelah kiriku.

“Sibuk, Jar?”

Dia menggeleng. Kulirik layar laptopnya. Hadeeeh... Facebook-an... Dia hanya nyengir sok imut ketika kepergok olehku apa kegiatannya saat ini.

“Nih, mau meeting sama anak-anak produksi,” ucapnya kemudian, berubah serius.

“Jam berapa?”

“Ya sekarang ini,” Fajar berdiri. “Eh, nanti maksi bareng ya? Ada yang pingin gue omongin ke elu.”

“Jiaaah... Serius amat?” aku tergelak.

Fajar mengedipkan mata sebelum melenggang pergi.

* * *

Di dalam lift dari basement, aku melewatkan lantai 2 tempat kantin Prima berada. Aku memang telat datang. Bukan telat turun dari kantor, tapi telat datang dari tamasya cari properti. Begitu juga Fajar yang tadi mengajakku maksi bersama. Meeting-nya agak molor dari jadwal. Sudah lewat bel makan siang ketika mereka selesai.

Dia yang turun dari kantor lebih dulu dari aku sudah tak lagi mendapat tempat di Prima, sehingga segera mengubah tujuannya. Alternatif satu-satunya cuma ke Lounge Ex di lantai 6. Di sanalah dia sudah menungguku, menurut Whatsapp message yang kuterima darinya beberapa menit yang lalu.
           
Ah, Lounge Ex! Tempat para atasan dan expatriat berkumpul untuk maksi. Tempatku meeting dengan klien yang mau datang sendiri menemuiku, selain di Cafe Cherie. Harganya ya begitu deh…  Apalagi tampaknya kali ini maksinya BDD alias bayar dewe-dewe. Tapi apa boleh buat? Waktu istirahat tetap berputar menuju habis.
           
Aku masuk ke Lounge Ex, dan langsung mendapati atmosfer yang jauh berbeda dengan Prima. Walaupun cukup penuh, betapa suasana di sini begitu nyaman dan tenang. Kantin Prima? Hiruk pikuk dan manusia di dalamnya seperti cendol dalam mangkok. Senggol-senggolan.
           
Dengan yakin aku bergerak ke sudut kiri. Fajar sudah di sana. Duduk manis sendirian menghadap ke arah dinding kaca.

“Jar…,” panggilku pelan.

“Hai!” bibir Fajar melebar sempurna.

Wuih! Baru detik ini kusadari bahwa sesungguhnya tingkat kegantengan Fajar adalah 13 dalam skala 1-10. Apalagi kalau nanti dia bersedia mentraktirku, bisa-bisa nilainya melonjak jadi 16, hehehe...

Ups! Stay focus!

Aku pun duduk di kursi sebelah Fajar. Rugi rasanya duduk membelakangi dinding kaca dengan pemandangan siang yang indah di luarnya.
           
“Lu udah pesen?” tanyaku sambil membuka buku menu yang disodorkan Mas Waiter.
           
“Udah…”
           
Kutoleh Mas Waiter. “Mas, tofu mentari satu, nasi putih satu, emping melinjo satu, ice mint tea satu. Makasih ya?”
           
“Porsi single atau double, Mbak?”
           
Single aja.”
           
“Oke, ditunggu ya, Mbak?”
           
Aku mengangguk. “Makasih.”

“Lu sopan amat pesennya?” Fajar masih tersenyum.

“Lho, makan secukupnya, ngemil membabi buta,” aku nyengir, membuat Fajar tertawa.

“Lu dari mana tadi?” tanya Fajar kemudian.
           
“Dari Pasar Gembrong, nyari properti buat iklan vitamin anak-anak.”
           
“Lho! Bukannya iklan itu masuk ke desk-nya Yussi?”
           
“Iya… Tapi dia lagi ada job lain. Lha gue lagi nganggur, ya udah gue aja yang keluar.”

“Oh...”

By the way, lu mau ngomongin apa sih?”

“Nah, itu...”

Mas Waiter datang membawakan pesanan Fajar dan minumanku.

“Udah, lu makan dulu gih!” kataku.
           
“Sekalian aja bareng elu entar.”

“Ya udah buruan ngomong.”

“Gue boleh nanya gak?”

“Apaan?” kusedot pelan-pelan minumanku.

“Hubungan lu sama Bara tuh kayak apa sih, sebenernya?”

Aku terbatuk seketika. Fajar menatapku, merasa bersalah. Pada saat aku berusaha meredakan batukku, Mas Waiter datang membawakan makananku. Ada jeda sebelum Fajar kembali menatapku, menunggu jawaban.

“Memangnya apa yang lu liat?” aku mencoba mengulur waktu dengan balik bertanya.

“Hm...,” Fajar mengusap wajah dengan sebelah tangan. “Kalo gue liat sih, lebih dari sekadar temen. Tapi kayaknya pacaran juga enggak. Jujur, gue jadi ragu-ragu deketin Mita. Soalnya gue liat sekarang Bara sama Mita lagi deket.”

Aku tertegun sesaat.

“Kok lu jadi kayak patah arang gitu sih, Jar?” gumamku kemudian.

“Ya... Kan gue juga segen mau kompetisi sama sohib sendiri, Sas.”

Mendadak aku jadi speechless. Sesungguhnya bukan karena problem yang dihadapi Fajar, tapi...

Bara? Dan Mita? Lagi dekat?

Kenapa aku mendadak merasa sedikit sakit? Sakit yang hampir sama dengan ketika Binno meninggalkanku dulu?

“Gimana dong, Sas?”

Suara pelan Fajar menyadarkanku. Kusempatkan meneguk ice mint tea-ku sebelum menanggapi masalah Fajar lebih lanjut.

“Ya kupikir sih, mendingan lu ngomong langsung aja sama Bara. Kemungkinannya kan masih fifty-fifty. Kalo emang kalian sama-sama ada rasa sama Mita, ya udah, berkompetisilah secara sehat. Kan tergantung juga Mita mau pilih yang mana. Cuma pesenku, apapun yang jadi pilihan Mita, baiknya persahabatan kalian jangan sampai bubar. Persahabatan kita jangan sampai kacau.”

Entah seperti apa rupaku ketika mengucapkan rentetan kalimat itu. Aku tak berani bercermin. Untung Fajar dan aku duduk sejajar. Jadi dia mungkin kurang bisa menangkap ironi dalam wajahku.

Persahabatan jangan sampai bubar? Persahabatan jangan sampai kacau?

Benarkah tak akan terjadi kalau Mita jadi memilih salah satu di antara Bara dan Fajar? Benarkah tak akan terjadi padaku dan persahabatan ini kalau Mita sampai memilih Bara?

Diam-diam aku menelan ludah. Terasa dingin di kerongkongan karena pengaruh mint dalam minumanku.

“Ya udah, sementara masalah itu gue pending aja sampe gue nemuin waktu yang pas buat ngomong sama Bara,” ucap Fajar kemudian, memutuskan.

Aku mengangguk diam-diam.

“Oh iya, Sas. Tadi gue liat lu bengong aja di depan laptop. Stuck?

“Hm... ya, itu...,” aku berusaha melupakan obrolan kami barusan. “Gue rada stuck di job Gerdy yang dilemparin ke gue. Tapi Gerdy udah bilang sih, dia udah punya konsep. Jadi gue tinggal tunggu aja konsep dari dia. Entar gue terusin.”

“Oh...”

“Masih puyeng sama itu, ketiban lagi job baru,” desahku.

“Gue denger tadi Cik Lenny ngomong sama lu,” Fajar menangkupkan sendok-garpu di atas piringnya yang sudah kosong. “Kok kayaknya asyik aja kalo setting-nya ada regu satpam yang lagi latihan, terus mereka minumnya Multijossgandos itu.”

“Wow! Brilyan juga ide lu! Boleh gue pinjem?” mendadak semangatku pulih seribu persen.

“Hehehe...,” Fajar tergelak ringan. “Udah... pake aja. Gue kan juga sering nyomot ide lu, Sas.”

Kalau saja bukan di tempat umum begini, sudah kuhadiahi Fajar sebuah pelukan. Idenya benar-benar bisa membantuku menggarap job terbaruku. Dan pelukan kedua hampir saja diterima Fajar karena dia benar-benar memaksaku untuk merelakan dirinya membayari makanan dan minuman yang sudah tandas meluncur masuk ke dalam perutku.

Sambil kembali ke kantor, Fajar dan aku meneruskan diskusi tentang ide Fajar tadi. Begitu masuk ke dalam kantor, Boss Lenny sudah duduk manis di cubicle-ku.

“Siang, Cik,” sapaku dan Fajar, serempak.

“Siang, Sas, Jar,” wajah Boss Lenny tampak secerah mentari pagi. Dia kemudian menatapku. “Ada job baru nih!”

Hadeeeh... Ketambahan kerjaan lagiii...

Kulihat cubicle Bara masih kosong. Di sanalah aku duduk.

“Wah! Laris manis banget kita!” aku berusaha untuk menampilkan ekspresi penuh semangat.

Boss Lenny tertawa.

“Boss developer di lantai 17 itu bener temen lu, Sas?” tanya Boss Lenny kemudian, mulai serius.

Aku terbengong sejenak.

“Multi Papan?”

Boss Lenny mengangguk.

“Iya, dia temen saya dari kecil. Kenapa, Cik?”

“Nah, dia mau kita bikin iklan buat dia. Tadi sih, dia bilang temen lu. Gue pikir lebih enak kalo konsepnya lu diskusiin sama dia dalam situasi informal. Terserah sih, siapa aja yang kerjain. Yang penting konsepnya, tolong lu buat dulu.”

Aku manggut-manggut. “Iya deh, entar saya urus dia, Cik. Deadline-nya kapan?”

“Dia sih minta akhir bulan depan udah siap. Minta versi cetak sama elektronik.”

“Hm... Bisalah, Cik. Entar biar kita keroyok bareng-bareng.”

Boss Lenny mengacungkan jempolnya.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : CUBICLE #9

5 komentar: