Jumat, 26 Agustus 2016

[Cerbung] Potpourri Di Sudut Hati (Edisi Tester)







Noni hampir terjengkang ketika membaca keluhan dari salah satu pelanggan melalui direct message Instagram. Jantungnya langsung berdebar tak keruan.

Pasti Mbak Mai bakalan marah besar!

Seketika hatinya terasa menciut. Sekali lagi, dibacanya pesan itu.

‘Gimana sih NitNit Jewerly??? Saya pesan kalung dan liontin kok dikirimnya cincin??? Biasanya nggak pernah kayak gini loh!!! Pokoknya saya nggak mau tau ya! Saya maunya kalung dan liontin yang itu! Saya tunggu sampai akhir bulan ini. Kalo nggak beres, saya laporin ke polisi. Kasus penipuan. Yang saya transfer kan lebih gede nilainya!’

Mati aku!

Noni meringis. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menghubungi satu per satu pelanggan yang perhiasan pesanannya dikirim pada hari yang sama. Dan itu mencapai 48 nama, minus satu pelanggan yang mengajukan keluhan.

Kalau tidak dimulai dari sekarang, habislah aku!

Noni buru-buru mencari file data pengiriman, kemudian menggapai ponselnya.

* * *

Qiqi duduk dengan manis di samping Mai. Rasa-rasanya, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan raport semesternya. Sejak duduk di bangku kelas 2 ini, tak ada pelajaran yang sulit menghadangnya.

“Kira-kira, nilai raportmu bagus, nggak?”

Qiqi seketika menoleh mendengar bisikan itu. Diulasnya senyum manis.

“Kayaknya bagus,” ia berbisik pula.

Mai tersenyum lebar mendengarnya.

“Qiandra Revika...”

Mai segera berdiri begitu mendengar nama Qiqi dipanggil wali kelas. Digandengnya tangan kanan Qiqi sambil melangkah ke depan kelas. Ketika keduanya duduk di seberang meja, guru senior itu tersenyum lebar.

“Hm... Kira-kira raport Qiqi bagus nggak, ya...,” Bu Ridha mengedipkan sebelah mata.

Qiqi tersenyum malu-malu.

Tak perlu waktu lama untuk mengetahui bahwa nilai terendah pada raport Qiqi adalah angka 8 untuk Penjaskes dan Seni Budaya Dan Prakarya. Selebihnya? Mai boleh bernapas lega dan Qiqi tersenyum ceria karena taburan nilai 9 dan 10 bulat. Tak ada sistem ranking pada sekolah Qiqi. Tapi dengan senang hati Bu Ridha membocorkan bahwa nilai Qiqi tertinggi di kelasnya.

Setelah semuanya usai, Mai kembali menggandeng Qiqi sambil berjalan keluar dari dalam kelas. Beberapa orang tua murid lain yang kebetulan berpapasan dengan mereka menyapa dengan ramah dan kelihatan ikut bergembira dengan perolehan nilai Qiqi.

“Wah, Qiqi benar-benar hebat!”

“Hm... Jempolan betul deh, Qiqi!”

“Apa resepnya sih, Jeng, punya anak cerdas seperti Qiqi?”

“Qi, minta hadiah yang keren sama Mama-lah...”

Dan masih banyak lagi. Pendeknya, membuat senyum Qiqi makin lebar dan wajah Mai makin cerah.

“Qi,” ucap Mai lembut ketika mereka sudah berada di dalam mobil, “nilai Qiqi bagus. Tetap jadi anak manis ya, Qi? Nggak boleh sombong. Qiqi tetap harus bantu teman-teman.”

“Iya, Ma,” jawab Qiqi dengan manisnya.

Mai menepuk kepala Qiqi dengan lembut sebelum melajukan mobilnya.

* * *

Noni mengembuskan napasnya keras-keras ketika mengakhiri pembicaraannya dengan pelanggan ke-47. Semua sudah menerima barang sesuai pesanan, kecuali pelanggan di urutan ke-34...

“Aduh, Mbak... Saya nggak nge-check. Begitu saya buka bungkus luarnya, langsung saya berikan ke adik saya.”

“Maaf, Pak. Apakah bisa saya minta tolong pada Bapak untuk bertanya pada adik Bapak? Sekali lagi, maaf, Pak. Kesalahan kami sudah merepotkan Bapak.”

“Coba nanti saya tanya adik saya ya, Mbak.”

Noni kemudian berkali-kali mengucapkan terima kasih sebelum menghubungi nama-nama yang tersisa. Sekadar memastikan. Ternyata kuncinya benar ada pada satu-satunya laki-laki yang memesan perhiasan dari NitNit Jewelry itu.

Semoga kalung dan liontin itu bisa kembali...

Noni hanya sanggup mengucapkan doa itu dalam hati.

Dan semoga bapak itu secepatnya memberi kabar...

Noni meneruskan pekerjaannya yang sempat terbengkalai. Hari ini ada 26 pesanan yang harus ia siapkan untuk dikirim ke pelanggan. Tentunya ia tak mau kecolongan lagi. Harus lebih teliti lagi. Sambil membayangkan apa yang akan dihadapinya nanti bila sang boss mengetahui kejadian itu.

* * *

(Bersambung)


Catatan :

1. Cerbung Potpourri Di Sudut Hati ini merupakan penggarapan dari ide mentah milik Mas Adam Heins (saya biasa memanggilnya Mas Suhe). Saat ini Mas Suhe sedang belum punya waktu untuk menuliskannya dalam bentuk cerita utuh, dan menyerahkan penggarapannya (sepenuhnya) pada saya, dan boleh ditayangkan di mana saja (terserah saya).

2. Edisi yang tayang hari ini merupakan edisi tester. Bila tanggapan dari Pembaca bentuknya positif, maka saya akan meneruskan menggarap cerita ini dalam bentuk cerbung yang tayang setiap Senin dan Kamis, atau bisa juga Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat.

3. Terima kasih banyak pada Mas Suhe atas kepercayaan yang Mas berikan pada saya untuk menggarap ide cerita ini.

22 komentar:

  1. Mbak lizz.. ditunggu sambungan nya ..
    Pertama komen.. hore..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Mas! Episode pertama siap tayang Senin pagi sekitar jam 8. Makasih singgahnya... 😊

      Hapus
  2. Wes lah, Lanjoot mbak Lizz...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wokeh, Mbak Ita 👌 Makasih support-nya ya... 😘

      Hapus
  3. Cerita2 Mba Lis selalu membuat senaparaaan, eh penasaran maksudnyaa.. hihihi.. semangaaaat menulis Mba, keep inspiring us.. hehehehe..

    BalasHapus
  4. Mb Liiiiis aq gamau tau pokoe kudu lanjut.
    Kliatane ini cerbung isa bikin kecanduan 'n kejang" lagi ini.
    Vote positif.
    Lanjut maju jalaaaannnn !!!!

    BalasHapus
  5. lanjut...lanjut mba lizz banyak yg nungguin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Iya, Mbak, jadi kebanjiran 'lanjut' juga di komen fb dan japri (inbox fb dan WA). Makasiiih... 😘

      Hapus
  6. Mbak, kutunggu lanjutanne...... Kereennnn oooiiii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muakasiiih... Sudah antri tayang Senin pagi sekitar jam 8 WIB 😉

      Hapus
  7. Bu Lizz, lanjut yakk ....senin sd jum'at ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak... Rabu libuuurrr cerbungnya, Mbak Nia 😁😁😁

      Hapus