Minggu, 14 Agustus 2016

[Bukan Fiksi] Liburan Miss Cempluk Dalam Peta dan Gambar





Saya belum pernah berkunjung ke Spanyol / Madrid. Sama sekali! Jadi setting liburan Miss Cempluk di Madrid murni saya dapatkan dari referensi luar alias bukan pengalaman pribadi. Dari mana dapatnya? Google map dan google search yang mengarahkan saya ke berbagai macam situs maya dan blog tentang Spanyol dan (khususnya) Madrid.

Merencanakan liburan Miss Cempluk seperti merancang liburan untuk diri sendiri. Mulai dari perjalanan berangkat, ngapain aja di sana, menginap di mana, dan apa saja yang bisa dieksplorasi.

Nggak mungkin engklek dari Jakarta ke Madrid. Pasti terbang pakai pesawat dunkz! Pakai kapal laut bisa, tapi nggak umum. Detail penerbangan itu saya cari melalui google search. Dan dari belasan situs dan artikel yang saya baca, barulah saya secara utuh mendapatkan gambaran jalur penerbangan Jakarta-Madrid beserta waktu keberangkatan dan lamanya perjalanan.

Penerbangan beres, ganti puyeng memikirkan si Papa dan Mama Cempluk ini tinggal di mana di Madrid. Saya cari di google search lagi, dengan kata kunci 'sewa apartemen di Madrid'. Banyak pilihan. Saya jatuhkan jari saya di Apartamentos Sandoval. Ada berbagai artikel yang mengulas apartemen ini, plus pencarian di google map. Dari situ saya tahu bahwa apartemen ini letaknya di Calle de Sandoval. Daerah pemukiman di distrik Chamberi yang dikelilingi berbagai fasilitas penunjang hidup yang cukup lengkap. Ada di peta dan gambar di bawah ini.

Apartemen Sandoval terletak di ruas jalan (Calle) de Sandoval

Apartemen Sandoval terletak di daerah kelas menengah, dikelilingi berbagai fasilitas seperti klinik, apotek, berbagai toko, dan macam-macam restoran


Gambar fisik Apartemen Sandoval, diambil dari google map street view

Dari google map pula saya dapatkan jarak dari Apartamentos Sandoval ini ke Bandara Madrid-Barajas dan KBRI. Besarannya cukup masuk akal untuk tempat tinggal. Jadi mantap saya tetapkan Apartamentos Sandoval sebagai tempat tinggal ortu Miss Cempluk.

Apartemen Sandoval terletak 14 km dari Bandara Madrid-Barajas ...

... dan 7,2 km dari KBRI

KBRI di Madrid terletak di ruas jalan dengan jalur satu arah Calle de Agastia

Gambar depan-samping gedung KBRI di Madrid, diambil dari google map street view

Selanjutnya saya cari beberapa restoran di sekitar Calle de Sandoval untuk mendukung setting. Tetap mengandalkan google map. Awalnya Restaurante Jota akan saya pakai untuk reservasi awal keluarga Wirahadi. Tapi batal karena review-nya kok bikin saya jadi kurang sreg (selain mengandalkan google map, saya juga mencari referensi soal restoran-restoran ini di google search dan diarahkan ke berbagai situs pendukung). Akhirnya saya ambil setting Restaurante Luxury dengan berbagai keterangan dan review menarik, beserta gambaran bagus yang saya dapatkan. Restaurante Jota kemudian saya pakai hanya sebagai pelengkap perpisahan keluarga Wirahadi dengan Gwen Thomas. Dan letak restoran yang satu ini benar-benar hanya di seberang Apartamentos Sandoval. Kepeleset saja nyampe.


Restoran Luxury hanya 100 meter jauhnya dari Apartemen Sandoval

Bagian depan Restoran Luxury

Foyer Restoran Luxury

Ruangan setelah foyer, sebelum lorong

Lorong pertama Restoran Luxury, di ujung dalam ada meja untuk berenam

Meja untuk berenam yang digunakan oleh Keluarga Wirahadi Haryanto

Lorong kedua Restoran Luxury, sudut pandang dari meja Keluarga Wirahadi

Buku menu Restoran Luxury, menyajikan sushi dan Chinese food

Restoran Jota (sebelah kiri, dengan dua papan nama berwarna kuning) ada tepat di seberang Apartemen Sandoval (sebelah kanan)

Restoran Jota saat sudah buka pada sore hari. Sudut pengambilan gambar berlawanan arah dengan gambar di atasnya. (Semua gambar fisik Restoran Luxury dan Jota diambil dari google map street view)

Setelah itu beres, mulailah merancang kira-kira ke mana saja tempat yang paling penting untuk dikunjungi lebih dulu dalam waktu seminggu pertama saat Rinnel masih ada. Berhubung Rinnel dalam ceritanya masih akan datang lagi kemudian, maka minggu pertama dibuat santai saja. Hanya nempel-nempel ortu, nongol sebentar di KBRI, berbelanja mingguan, mengunjungi Museo del Prado, Palacio Real, dan menonton tari flamenco.

Awalnya belanja mingguan pertama saya rancang dilakukan di pasar tradisional saja (mercado). Setting pasar tradisional ini hendak saya pakai untuk adegan belanja setelah mengantar sang Papa berangkat kerja di KBRI. Ada pasar tradisional, Mercado de San Miguel, sekitar 3,4 km dari apartemen. Tapi bukanya jam 10 pagi. Lha anter orang kerja kan nggak lama, nggak sampai jam 10 pagi. Jadi banting setir aja belanja di c*rref**r dekat apartemen, ada di Calle de Fuencarral yang buka 24 jam (menurut info di google map). Dan adegan ke pasar tradisional pun muncul di episode berikutnya.


Arah / letak Mercado de San Miguel dari Apartemen Sandoval

Penampakan Mercado de San Miguel yang gagal jadi cameo, diambil dari spainattraction.es

Akhirnya cuma belanja di pasar swalayan dekat apartemen

Ini lhooo pasar swalayannya..., diambil dari google map street view

Kemudian ada kunjungan ke Museo del Prado. Ini gambarnya :

Wajah / tampak depan Museo del Prado, diambil dari wikipedia.org

Salah satu ruangan Museo del Prado, diambil dari wikipedia.org

Kafetaria di dalam Museo del Prado, diambil dari wikipedia.org

Dan ini gambar Palacio Real : 

Tampak depan Palacio Real, diambil dari inzumi.com

Salah satu ruangan dalam Palacio Real, diambil dari wikimedia.org (bukan wikipedia.org)

Salah satu fresco di langit-langit ruangan, diambil dari wikipedia.org

Ruang penyimpanan ramuan farmasi, diambil dari wikipedia.org

Ruang penyimpanan koleksi baju zirah, diambil dari wikipedia.org

Sebetulnya, biasanya, ada pertunjukan flamenco 'jalanan' setiap akhir pekan di beberapa taman. Tapi Rinnel harus kembali ke Singapura pada akhir minggu. Jadi, menonton flamenco-nya sekalian saja dibuat yang 'beneran', yang mewah, yang 'resmi', sebelum Rinnel kembali ke Singapura. Dengan sekalian bersantap malam.

Ada 3 pilihan tempat teratas dalam rekomendasi untuk menonton flamenco sambil makan malam. Cafe de Chinitas, Corral de la Moreria, dan Casa Patas. Awalnya saya pilih Cafe de Chinitas. Tapi setelah membaca review dan menggali referensi lebih dalam, Cafe de Chinitas terpaksa saya skip. Lalu saya beralih ke Corral de la Moreria. Saya simpan dulu infonya sambil coba menggali info tentang Casa Patas. Dan hasilnya, keluarga Wirahadi saya giring saja ke Corral de la Moreria, yang infonya (di corraldelamoreria.com) jauh lebih lengkap bahkan sampai ke gambarnya, harga tiketnya, menu makanannya, waktu pertunjukannya, dan berapa orang pastinya yang ada dalam sekelompok pertunjukan tari flamenco itu (bahkan nama-nama personilnya pun ada). 

Restoran Corral de la Moreria terletak di Calle de la Moreria, ruas jalan dengan jalur satu arah

Plang penanda Restoran Corral de la Moreria, diambil dari google map street view 

Ruang dalam Restoran Corral de la Moreria, ada panggung untuk pertunjukan tari flamenco, diambil dari traveloutthere.com

Sensualitas yang tetap terkendali, diambil dari traveloutthere.com

Feminin vs maskulin, diambil dari google map street view 

Minggu berikutnya tersisa Miss Cempluk dan Dipa saja 'turis nyasar' dalam keluarga Wirahadi. Karena laki-laki biasanya nggak terlalu ribet dengan urusan oleh-oleh, maka perlu memasukkan adegan belanja oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Indonesia oleh Miss Cempluk. Flea market adalah tujuan utamanya. Maka nyemplunglah sekeluarga itu ke El Rastro, flea market terbesar di Madrid (bahkan kabarnya terbesar di Eropa) yang buka hanya pada hari libur saja. Dan satu-satunya hari libur tanggal merah yang tersisa dalam kalender liburan Miss Cempluk hanya hari Minggu itu.


El Rastro hanya 2,6 km saja jaraknya dari Apartemen Sandoval. Jalan kaki bikin ngos-ngosan dan basah kuyup keringatan karena suhu musim panas Madrid hampir menyamai suhu Jakarta sehari-harinya 

Suasana flea market El Rastro, diambil dari madridtourist.info

Penjual syal cantik aneka warna di El Rastro, diambil dari eropa.panduanwisata.id

Habis belanja-belanja, enaknya makan tapas, aneka cemilan khas Spanyol, diambil dari eyeonspain.com

Aneka tapas lainnya, diambil dari wikipedia.org

Lokasi hari berikutnya adalah pasar tradisional (mercado). Mercado de la Cebada yang buka jam 9 pagi sepertinya perlu dikunjungi. Supaya belanja mingguan nggak di pasar swalayan melulu. Berbagai gambar Mercado de la Cebada di bawah ini diambil dari wikimedia.org.







Dan bab liburan Miss Cempluk ini saya tutup dengan sedikit obrolan ayah-anak perempuannya di sebuah taman, Plaza de Olavide yang jauhnya hanya sekitar 500 m dari Apartamentos Sandoval. Kemudian dia terbang kembali ke Indonesia pada akhir minggu kedua.

Cukup jalan kaki 6 menit saja dari Apartemen Sandoval ke Plaza de Olavide 

Air mancur di tengah Plaza de Olavide, diambil dari artedemadrid.wordpress.com

Beberapa kursi taman di Plaza de Olavide, diambil dari absolutmadrid.com

Buat saya (yang cuma penulis fiksi abal-abal ini), sulit sekali merangkai begitu banyak informasi dan referensi hingga penjabaran-penjabaran singkatnya bisa masuk ke dalam satu bab dan cukup lengkap tanpa saling bertentangan. Alias butuh membaca puluhan artikel dan review plus memelototi google map hanya untuk menuliskan satu bab ini saja, yang terpaksa dipecah jadi 3 bagian. Hingga ketiga bagian itu jadi satu kesatuan utuh tentang liburan Miss Cempluk di Madrid beserta segala macam detailnya.

Butuh memeras otak dan menyediakan waktu lebih untuk mengolah dan menggambarkan berbagai detail sederhana dengan tutur bahasa saya sendiri dalam setting cerita seperti itu. Pun di hampir semua fiksi saya yang lain. Apalagi saya sama sekali nggak ada pengalaman secara fisik mengunjungi tempat-tempat itu.

Semua gambar dan info yang sama bisa diterjemahkan lain oleh setiap penulis. Dilukiskan dengan olah bahasanya sendiri. Itu yang membentuk karakter berbeda dari tiap penulis. Sesuatu yang memberi 'jiwa' dan 'rasa' sebuah fiksi. Kalau terbiasa comot 'matengan', ya akan susah sekali menemukan karakter. Akibatnya akan jadi suatu sajian yang hambar.

Beginilah jungkir balik saya dalam mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyarikan referensi untuk menggambarkan detail dalam suatu setting. Bukan pada cerbung ini saja, tapi juga pada fiksi-fiksi saya lainnya. Oleh karenanya saya tidak pernah rela bila ada yang begitu saja mengambil tanpa ijin dalam bentuk 'matengan' setting beserta semua detailnya dalam sebuah fiksi yang sudah setengah mati saya olah dan gambarkan.

Silakan pakai cara dan metode yang saya gunakan untuk mengumpulkan dan mengolah referensi, tapi jangan main serobot tanpa ijin bentuk 'matengan'-nya. Dikiranya menggambarkan detail setting itu nggak pake mikir, apa?

Selamat siang...

15 komentar:

  1. Siapa tahu penulisnya bisa destinasi beneran ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whoaaa... Kalo itu sih amin bangeeet... 😘😘😘

      Hapus
  2. salut benar buat Mbak Lis....yg fiksi-fiksi tak sekedar fiksi belaka berbagai cara ditempuh untuk tidak jauh dari nyata....dengan banyak membaca dan mempelajarinya...waah..nek aku gak sanggup ketoke mbak...karena waktu dan badan tak memungkin berlama-lama di depan lepi...salut dan keren banget buat mbak Lis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segala cara yang halal lho, Mbak... Hehehe...
      Makasih singgahnya ya 😘😘😘

      Hapus
  3. Andai kita bertiga bisa duduk-duduk sore di plaza de olavide ya jeng...

    #aaammmiiinnn

    BalasHapus
  4. Nulis gada beban kambek niat 'n rasa cinta cene hasile laen mba.
    Isie penuh.
    Rasae kaya.
    Gurih.
    Racike pas.
    Garai sing baca gaisa pindah.
    Kecanduan.
    Angkat topi gae pean mb Lis.
    Cepet nambahe wis meh 400 ribu sing mertamu kesini.
    Toooop !!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayas dadi gatel kepengen kolem komen Nya wkkkkkkk
      Ta amini ae jarene ojob Nya. Nimbangane ayas dicokoti terus wkkkkkk
      Setor jwempol ae es yoh

      Hapus
    2. Suwun yo, rek... Sampe sepicles akuuu... 😍😍😍

      Hapus
  5. Waah kerreeeen abis neeeh......Mba Lizz sekaliber Dan Brown...... Memadukan antara grafis dan deskripsi.......ditunggu wisata kata yg lainnya.....bener2 luarrrbiasa..... �� �� �� ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Ati-ati lho, Mbak. Dan Brown bisa tersinggung berat kalo kalibernya disamain dengan penulis fiksi abal-abal kayak aku 😁😁😁
      Makasih mampirnya ya...

      Hapus
  6. Ngelu lho mbk gawe setting tempat ngono kui... Aku juga menghindari setting fiktif klo menghadirkan negara atau kota..
    Keren mb lis bikine... Sip

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak atas singgahnya, Mas/Mbak/Pak/Bu/Om/Tante...
      Nggak bisa menerka ini siapa. Abis nggak ada namanya 😳😳😳

      Hapus