Sabtu, 22 Agustus 2015

[Cerpen Stripping] Bawakan Sepotong Mimpi #6





Fiksi kolaborasi dengan Ryan Mintaraga


Episode sebelumnya : Bawakan Sepotong Mimpi #5

* * *

Eric segera mengulurkan tangannya pada Didit ketika pintu kiri depan mobil terbuka dari luar. Didit pun segera menyambut uluran tangan itu dan menggendong Eric dengan sayang. Loli mengangkat bahu karenanya.

“Beberapa hari dimanja di sini kayaknya bisa terbawa sampai Surabaya deh, si Eric,” gumam Loli.

“Lho, manja sama Papa dan Mbah kan nggak apa-apa ya, Le?” Didit mencium pipi bulat Eric.

Papa?

Loli hampir tersedak. Dan ketika tatapannya jatuh pada sinar menggoda dalam mata Tara, seketika pipinya bersemu merah.

“Papa, euy!” Tara nyengir tanpa dosa.

Didit yang berjalan masuk ke rumah terbahak karenanya. Dan di dalam rumah, Eric segera berpindah ke dalam gendongan Mbokdhe Sarini.

“Ayo, sarapan dulu!” senyum Satrio yang sedang duduk manis di depan meja makan.

Tara menggeleng. “Makasih. Sudah tadi di rumah, Pak. Saya mau langsung berangkat saja. Bapak ada pesan buat Pak Adi?”

Satrio menggeleng. “Sudah aku email dia untuk urusan pekerjaan. Dua hari ini aku mau istirahat dulu, Ta. Tolong nanti kalau ada yang harus kutandatangani atau apa, kamu bawakan sekalian kalau pulang.”

“Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Tara segera meninggalkan rumah yang terasa nyaman itu untuk berangkat ke kantor. Ditinggalkannya Loli dan Eric untuk berkenalan lebih dekat lagi dengan keluarga Didit.

* * *

Dulu, dulu sekali, Didit pernah menceritakan pada Loli tentang satu-satunya abang yang Didit miliki itu. Seorang abang yang sangat disegani Didit. Seorang abang yang bisa jadi pengganti ayah yang baik buat Didit. Seorang abang yang bisa jadi pelindung keluarga.

Kini Loli mengerti kenapa Didit ingin sekali menjadi seperti Satrio. Karena Satrio memang pantas untuk dijadikan panutan. Dan mengetahui bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara Satrio dan Tara, Loli merasa senang sekali. Buatnya Tara sudah bukan lagi orang lain. Tentunya ia ingin Tara mendapatkan yang terbaik, sama seperti yang diharapkan Tara atas dirinya.

“Saya tidak berjanji akan selalu bisa membahagiakan Didit, Mas,” ucapnya, menatap Satrio dalam. “Tapi saya akan selalu berusaha untuk membahagiakannya. Dengan mengingat semua luka dan rasa sakit yang pernah Didit rasakan, semoga saya bisa menyembuhkan semua itu.”

Satrio mengangguk. “Aku percaya, Li. Lagipula jalan sudah terbuka lebar buat kalian. Melangkahlah bersama melalui jalan itu. Demi kebahagiaan kalian sendiri. Demi kebahagiaan Eric. Demi kebahagiaan adik Eric kelak.”

“Oh ya,” Loli menatap Satrio dengan sorot mata bagai gadis kecil yang nakal. “Semalam saya sudah bicara dengan Didit. Didit masih harus menyelesaikan tugasnya di Kanada sebelum kembali lagi ke sini. Kami sepakat untuk menunda pernikahan sampai Mas Sat dan Tara menikah duluan.”

“Lho...,” Satrio tertegak. “Apa-apaan ini? Kalau kalian mau duluan, silakan. Tara dan aku belum apa-apa.”

Loli tersenyum lebar. “Saya kenal Tara, Mas. Saaangat kenal. Dia hanya menginginkan orang yang tepat untuknya. Dan semua itu ada dalam diri Mas Sat. Jadi...,” Loli mengangkat bahunya.

Satrio tertawa mendengarnya. “Aku juga punya perasaan yang sama tentang dia. Bahwa dia orang yang tepat. Ya, nantilah kita lihat dulu. Kalau memang kita harus nikah barengan, kenapa enggak?”

Barengan?

Mendadak mata Loli berbinar.

* * *

Mbokdhe Sarini menatap kedua jejaka itu dengan mata bersinar bahagia. Pada akhirnya ia sampai juga di ujung sebuah penantian yang telah dipeliharanya sekian lama. Kedua anak kesayangannya telah menemukan dua orang untuk jadi pelabuhan hati masing-masing. Pada saat yang bersamaan pula!

“Yang Ibu inginkan setelah ini cuma satu,” ucap Mbokdhe Sarini, lembut. “Melihat kalian bahagia dengan pilihan kalian masing-masing. Jangan pernah mempermainkan perasaan Loli dan Tara. Ibu minta kalian berdua – Didit sama kamu, Satrio – untuk yakin dengan pilihan kalian.  Dan sekali pilihan sudah diambil, kalian ndak boleh mundur.”

“Ya, Bu,” Didit dan Satrio menyahut serempak.

“Dan kamu, Didit, jangan peduli apa kata orang soal pilihanmu yang janda dengan satu anak itu. Yang penting kamu yakin sama dirimu sendiri. Ndak akan mempermalukan Ibu dan masmu. Terutama ndak mempermalukan dirimu sendiri.”

“Ya, Bu,” Didit mengangguk takzim.

“Kalau begitu Ibu bisa siap-siap istirahat, ndak ngurusi warung lagi. Ndak dalam waktu dekat ini, tapi kan sudah jelas kalian menginginkan itu.”

“Terus, karyawan-karyawannya gimana, Bu?” Satrio mengerutkan kening.

“Lho, siapa bilang warung tutup?” Mbokdhe Sarini tertawa. “Ibu cuma bilang ndak ngurusi warung lagi. Bukan berarti warungnya tutup.”

“Lha, terus?” Didit mengangkat alisnya.

“Memangnya Loli ndak cerita apa-apa?”

Didit menatap Mbokdhe Sarini dengan bingung.

* * *

Tara menyeret langkahnya dengan wajah mengantuk. Dalam hati ia mengutuki kemalasannya membangun pagar untuk membentengi rumah mungilnya dari gangguan ‘yang tidak-tidak’ seperti sekarang ini. Rentetan suara bel dan ketukan di pintu yang sudah menyerupai gedoran ringan pada pukul sepuluh malam lebih.

“Siapa?” Tara menguap sambil menjangkau pegangan pintu.

“Aku, Ta. Didit.”

Mata Tara langsung terbuka lebar. Buru-buru dibukanya pintu.

“Ada apa?” ditatapnya Didit dengan khawatir. “Pak Sat sakit lagi?”

Sejenak Didit terbengong menatap Tara. Dengan polos ia kemudian menggeleng.

“Enggak. Aku cuma mau ketemu Loli.”

“Astagaaa...,” desah Tara. “Kayak besok nggak ada hari aja.”

Didit terkekeh. Tara meninggalkan Didit untuk memanggil Loli. Sejenak kemudian Tara sudah menggantikan Loli untuk mengeloni Eric.

“Jadi kamu mau meneruskan usaha pecel lele Ibu?” tanya Didit langsung begitu Loli muncul.

“Astagaaa...,” Loli berjalan mendekat sambil menguap. “Kayak besok kiamat aja, malem-malem dateng cuma buat nanyain itu...”

Didit nyengir. Loli duduk di dekatnya.

“Siapa emangnya yang bilang?”

“Ibu.”

“Ya kalo Ibu yang bilang berarti bener kan? Nggak mungkinlah Ibu bohong.”

“Iyaaa...,” Didit garuk-garuk kepala. “Cuma pengen memastikan saja. Dari orang kantoran jadi penjual pecel lele, apa kamu nggak malu?”

Mata Loli langsung membulat. “Malu? Malu, kamu bilang?! Dit, penjual pecel lele itu bukan kriminal, kenapa harus malu sih? Kecuali lelenya nyolong di kolam tetangga.”

Didit tertawa.

“Lagipula,” Loli meneruskan, “aku bisa tetep menghasilkan walaupun ada di rumah, Dit. Mengasuh Eric secara langsung. Dan nanti kuharap akan ada juga adik Eric. Supaya aku nggak lebih lama lagi menyerahkan pengasuhan anak-anakku ke ART. Dan lagi, sayang kalo warung Ibu harus tutup gitu aja. Kasihan karyawan-karyawannya. Bahkan kalo mungkin, aku udah mikir, suatu saat karyawan-karyawan itu bisa mandiri dengan membuka warung mereka sendiri di bawah bendera Pecel Lele Mbokdhe Sarini."

Didit terdiam mendengar penuturan panjang-lebar Loli. Takjub dengan pemikiran Loli.

“Ibu udah tau rencana jangka panjangmu?” hanya itu yang bisa diucapkan Didit.

“Tau,” Loli mengangguk. “Ibu seneng banget dengernya.”

“Okelah,” Didit berdiri. “Aku pulang dulu. Kelamaan di sini bisa ditimpuk batu bata sama tetangga.”

Loli tertawa lebar mendengarnya

* * *

Mbokdhe Sarini bergantian memeluk Loli dan Eric dengan mata mengaca. Sebelum benar-benar berpisah, diciuminya pipi Eric.

“Cepet ke sini lagi ya, Le,” bisiknya tersendat.

Mata Loli pun tak kalah basah. Ia akan kembali ke Surabaya untuk mengurus semua yang harus diselesaikannya di sana. Pekerjaan, penjualan rumah, penjualan mobil, seluruh kehidupannya di Surabaya. Setelah semuanya selesai ia akan kembali lagi ke sini, ke Jakarta. Hendak belajar mengelola warung pecel lele dengan serius selama Didit menyelesaikan tugasnya di Kanada. Harapannya adalah semuanya sudah siap ketika tiba waktunya nanti ia kembali merajut mimpi bersama Didit.

“Kalau kamu nanti nggak bisa ambil cuti untuk melepaskan keberangkatanku ke Kanada, aku yang akan ke Surabaya untuk pamitan padamu dan Eric,” gumam Didit.

Loli mengangguk. Sejenak kemudian, sambil menggandeng Eric, ia melambaikan tangan pada Mbokdhe Sarini, Didit, Tara, dan Satrio sebelum melangkah memasuki ruang tunggu keberangkatan bandara.

Dihelanya napas panjang. Ia sudah hampir menemukan kembali potongan mimpinya.

Sebuah keluarga.

* * *


Epilog


“Ada satu yang bikin aku penasaran,” ujar Loli tiba-tiba.

“Apa tuh?” tanya Didit sambil menggelitik perut gendut Loli. Membuat Loli sejenak terkikik geli.

“Inget nggak waktu Papa pertama kali datang ke kantorku?”

“Hah?” Didit berlagak terjingkat kaget. “Itu sudah dua taunan yang lalu, Ma. Terus?”

“Papa waktu itu ngakunya dari PT SMMC,” tukas Loli. “Apa sih, artinya?”

Mendadak Didit tertawa keras.  Loli tentu saja heran dibuatnya.

“Mama mau tau artinya SMMC?” tanya Didit di sela tawanya. “Oke, SMMC itu S-nya Sarini...”

“Hm... oke...,” Loli menunggu sementara Didit mendadak berdiri menyamping.

“Dan MMC itu singkatan dari Maju Mundur Cantik... cantik...,” ujar Didit sembari berjalan maju-mundur meniru gaya seorang artis.

“Astaga!” Loli menepuk keningnya. Sejenak kemudian ia mengelus perutnya. “Amit-amit jabang bayi... Nanti jangan ketularan koplaknya papamu ya, Nak? Nurun antengnya Pakdhe Satrio sama Budhe Tara aja...”

Didit kembali tertawa lepas.

* * * * *

S.E.L.E.S.A.I


Catatan : mulai hari Senin, 24 Agustus 2015, akan ada cerbung Senin-Kamisan baru (tapi lama, sudah pernah tayang, diedit ulang jadi lebih panjang) berjudul CUBICLE


5 komentar:

  1. yeayyy..... happy end. btw mau sih dikirimin pecel mbokde

    BalasHapus
  2. Nice Post... Ditunggu Cerita tentang Satrio & Tara mbak :)

    BalasHapus
  3. bikin tersenyum....ending yang sungguh menyemangati,... Selamat Sabtu mbakyu cantik...

    BalasHapus
  4. Wah, akhirnya membahagiakan. Salut untuk keluarganya Mbokde Sarini.

    BalasHapus