Kamis, 06 Agustus 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #28





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #27



* * *


Hampir seperti kesetanan Steve mengemudikan mobilnya. Tujuannya cuma satu. Menemui Adita. Tapi rumah mungil yang alamatnya dia dapat dari Muntadi itu kosong. Steve mendadak teringat. Pasti Adita ada di rumah sakit, menemani Rafael. Demi mengingat bahwa semuanya itu cuma sandiwara belaka, amarah Steve memuncak lagi. Dan dia sendiri sebenarnya tidak tahu, dia marah untuk apa.

Dengan langkah panjang Steve kemudian menyeberangi lobby rumah sakit. Wajahnya dingin membeku. Pun ketika dia membuka pintu kamar rawat Rafael dengan kasar. Membuat Rafael dan Adita di dalamnya hampir terlonjak kaget.

Sebelum keduanya sempat membuka mulut, Steve sudah melemparkan map bersampul bening yang sedari tadi ditentengnya. Hampir mengenai wajah Adita, dan mendarat dengan telak di atas tangan Rafael yang ditusuk jarum infus. Membuat Rafael meringis dan mendesis seketika.

“Ya, Tuhan...,” ucap Adita dengan wajah dipenuhi keterkejutan yang sangat. “Ada apa ini?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Pelacur!” Steve menatap Adita dengan mata menyala. “Surat perjanjian apa itu?!”

Adita ternganga mendengar gelegar suara Steve. Apa dia bilang? Pelacur? Begitu dia menyadari ucapan Steve, telapak tangan kanannya langsung mendarat keras di pipi kiri Steve.

Plak!

Steve terlambat menyadari gerakan tangan Adita. Terpaksa dia harus menerima tamparan Adita. Terasa cukup panas dan pedih.

Mata Adita berkaca menatap Steve. Dengan suara bergetar dia berucap, “Kamu boleh menyakitiku, menghinaku, mengatai aku pelacur, melakukan apa saja terhadapku, tapi jangan pernah sekali lagi kamu menyakiti saudara kembarmu sendiri!”

Adita menoleh, menatap Rafael. Laki-laki itu hanya mampu menatapnya dengan sorot mata yang sarat penyesalan, kesedihan, dan rasa terkejut yang amat sangat.

“Aku pulang,” ucap Adita pelan dengan airmata meleleh. “Cepat sembuh ya...”

Dan tanpa menunggu apa-apa lagi Adita bergegas menyambar tasnya dan melangkah keluar. Meninggalkan kunci mobil di sebelah gelas minum Rafael.

“Dit...,” Rafael berusaha menahan kepergian Adita dengan suara lemahnya.

Tapi Adita sudah menjangkau pegangan pintu dan tak mau menoleh lagi. Rafael memejamkan matanya. Tanpa dia lihat pun dia sudah tahu apa isi map yang tadi dilemparkan Steve. Steve tetap membeku di tempatnya berdiri.

Sebutir airmata menggelincir dari sudut mata Rafael. Hatinya sungguh sakit melihat Steve berani berlaku sekasar itu terhadap Adita. Lebih sakit lagi karena dia tak mampu mencegahnya. Tak mampu berbuat apa-apa.

Dan butiran airmata itu juga yang menyadarkan Steve. Ya, Tuhan... Apa yang sudah kulakukan?  Sebuah pemikiran yang terlambat. Dia sudah terlanjur melakukannya.

“Raf...” bisiknya sambil mendekati tempat tidur Rafael.

“Keluarlah,” ucap Rafael, lirih tapi tegas.

“Raf, aku...”

“Kamu dengar aku?” Rafael mengucapkan tanya itu dengan suara bergetar menahan kemarahan. Sarat dengan nada terluka. “Keluarlah!”

Steve masih menatap Rafael dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Dan sebagian besar adalah perasaan menyesal. Yang sangat.

“Kamu boleh menghancurkan hidupku, Steve,” desis Rafael. “Kapan pun kamu mau. Dengan cara apa pun. Tapi jangan pernah sebut Adita pelacur. Sekarang keluarlah!”

Steve merasa dia tak punya pilihan lain kecuali menuruti kata-kata Rafael. Dia keluar dan hampir bertabrakan dengan mamanya yang baru datang. Tapi dia membisu, menunduk, dan terus berlalu.

* * *

“Katakan padaku, An,” ucap Steve. “Rafael ataukah aku?”

Anna tergugu di bawah tatapan mata Steve yang begitu menuntut. Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu pun tak mampu secepatnya dia jawab. Hatinya terbelah. Sejak dulu, sebenarnya. Menyisakan rasa yang masih dia kenali bentuknya walaupun dia berusaha mengusirnya pergi.

Rafael ataukah Steve?

Tentu saja ada sebuah nama yang langsung muncul di pikirannya ketika tanya itu menggema. Tapi kendali di otaknya masih bekerja cukup baik sehingga dia tak spontan menyebutkan nama itu. Sehingga dia tak menyakiti Steve secara langsung dan telak.

Dan sejujurnya Steve sudah bisa meraba jawaban Anna. Dia hanya ingin memastikan. Kemungkinan masih jawaban yang lain daripada apa yang sudah dia kira, sesuatu yang pasti akan membuatnya sangat bahagia. Tapi melihat reaksi Anna yang tidak spontan menyebutkan namanya, Steve tahu harapannya tinggal jadi sesuatu yang kosong.

“Aku tetap akan menikahimu,” ucap Steve lagi, patah. “Harus. Mungkin benar dalam hatimu tak sedikit pun ada namaku, tapi anak dalam kandunganmu adalah anakku, anak kita. Terutama karena aku mencintaimu, An. Sangat...”

Hingga Steve pamit pulang, Anna tetap duduk tercenung dan membisu. Dan pada akhirnya hatinya menerbitkan penyesalan yang sangat. Sesungguhnya dia bisa merasakan cinta Steve yang begitu besar. Lalu kenapa sekedar menyebutkan nama Steve sespontan mungkin saja dia tidak bisa?

Padahal seutuhnya dia tahu bahwa bayang-bayang Rafael bisa dipastikan kian menjauh dari kehidupannya. Apalagi dengan kondisinya yang sekarang. Anna menghela napas panjang. Apapun yang akan terjadi, terjadilah, dipaksanya hati untuk berpasrah.

* * *

Sekali lagi Steve harus menerima tamparan di pipi kirinya. Dari Lea. Mamanya. Dia hanya mampu tertunduk dan berdiam diri. Juga ketika mamanya itu terduduk dan menangis tersedu.

“Harus bagaimana Mama memperlakukanmu, Steve?” ucap Lea di tengah derai airmatanya. “Seandainya memang benar Adita itu pelacur, kamu nggak berhak memperlakukannya seperti itu! Ya, Tuhan... Dan dia itu bukan pelacur, Steve! Bukan pelacur!!”

Sungguh Lea merasa ada sesuatu yang lebur dari seluruh ucapan Rafael di kamar rumah sakit tadi. Tentang kenyataan hubungannya dengan Adita. Tentang hatinya. Tentang rasanya terhadap Anna. Tentang inginnya dia mengalah terhadap keinginan Steve. Dan semua itu dibalas Steve dengan hinaan yang luar biasa terhadap Adita. Perempuan baik-baik yang sudah bersedia membantunya walau dengan bayaran.

“Kamu pikir apa yang dirasakan Rafael setelah kejadian Mega? Bertahun-tahun dia didera rasa bersalah tanpa tahu gimana harus memperbaikinya. Dan sekarang kejadiannya sama. Lalu apa ruginya kamu dapat Anna? Rafael salah. Ya, Mama tahu. Tapi setidaknya dia nggak merugikanmu. Yang ada justru kamu yang membuat peluangnya untuk mendekati Adita kembali jadi nol!”

Lea menggelengkan kepala. Masih terbayang di matanya airmata yang meleleh di kedua sudut mata Rafael. Juga getar suara Rafael yang sarat luapan emosi. Membuatnya seketika merasa turut hancur dan diliputi kemarahan yang luar biasa pada Steve.

“Mama menyerah, Steve,” ucap Lea, patah. “Lakukanlah apa saja yang kamu mau.”

“Ma...”

Lea berlalu. Tak lagi berusaha mempedulikan suara lirih Steve. Dia hanya ingin segera menyepi ke kamarnya sendiri. Ingin menikmati keheningan malam dan seluruh luka di sendi hidupnya.

Dengan seluruh lelehan airmatanya. Dengan seluruh sedu-sedannya.

* * *

Tanpa suara, Adita menatap buku tabungan di tangannya. Sudah cukup untuk mengembalikan uang Rafael.

Tapi itu berarti...

Adita mendesah. Itu berarti hanya akan tersisa tak lebih dari tiga juta rupiah. Tak cukup untuk biaya operasinya. Mungkin masih bisa mengharapkan hasil dari warungnya, tapi harus berapa bulan lagi? Sementara rasa nyeri itu semakin sering menghampirinya belakangan ini.

Diam-diam dia menyesali keputusannya membuka warung dengan sebagian uang yang diperolehnya dari Rafael. Hasilnya cukup menjanjikan. Bahkan sudah balik modal hanya dalam jangka waktu sekian bulan. Hanya saja siapa juga yang menduga bahwa akhirnya akan jadi seperti ini? Rafael bisa dipastikan tak akan mau uang ‘sewa’ itu dia kembalikan begitu saja. Tapi sungguh, dia tak mau terbeban dengan semua yang sudah terlanjur terjadi.

Diterima atau tidak, uang sejumlah tiga puluh juta rupiah itu harus dia kembalikan pada Rafael. Entah bagaimana caranya.

Suara ketukan di pintu membuat Adita buru-buru menyimpan buku tabungannya.

“Ya, masuk,” ucapnya.

Salah seorang karyawatinya membuka pintu sedikit dan melongokkan kepala. “Ada tamu, Mbak.”

Adita berdiri. Dan seketika dia merasakan nyeri pada perutnya. Sangat. Membuatnya terbungkuk, merintih, dan mencengkeram tepi meja kuat-kuat. Sebelum tubuhnya limbung sempat didengarnya sebuah suara meneriakkan namanya.

“Adita!”

Suara laki-laki. Cukup dikenalnya walau tak akrab. Lalu semuanya gelap.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : Rinai Renjana Ungu #29

3 komentar: