Jumat, 21 Agustus 2015

[Cerpen Stripping] Bawakan Sepotong Mimpi #5







Fiksi kolaborasi dengan Ryan Mintaraga



Episode sebelumnya : Bawakan Sepotong Mimpi #4

* * *

“Nanti habis antar Mas Sat, kamu jangan pulang dulu,” ucap Didit.

“Kamu bawain aku oleh-oleh dari Surabaya?” terdengar suara antusias itu dari seberang sana.

Didit tertawa. “Iya, aku bawa oleh-oleh buat kamu.”

“Asyiiik! Kamu memang temen yang jempolan, Dit! Eh, terus gimana kamu sama Loli?”

“Ssh... Jangan mentang-mentang bosmu itu masku lantas kamu jadi seenaknya ngerumpi di jam kerja. Sudah, ceritanya nanti aja.”

“Iya, deh...,” Tara setengah bersungut.

“Sampai ketemu ya, Ta.”

“Sip!”

Didit pun menutup teleponnya. Ditatapnya Loli dengan mata berbinar.

“Dia pasti seneng banget ketemu kamu.”

“Kejutan besar!” Loli tertawa. “Apalagi kalo kubilang aku bakal nginep di rumahnya.”

Didit mengangguk-angguk. Dari arah belakang, Mbokdhe Sarini muncul sambil menggendong Eric.

“Lhooo... Kok Eric jadi gendongan sama Mbah?” Loli langsung mengambil alih Eric dari tangan Mbokdhe Sarini.

“Ndak apa-apa, Ndhuk...,” senyum Mbokdhe Sarini. “Eric anaknya manis banget kok. Tanda dididik dengan baik sama ibunya.”

Seketika Loli tersipu.

“Eric udah maem?” Didit mencubit lembut pipi Eric.

“Dah,” jawab Eric.

“Maem apa tadi?”

“Lele...”

“Habis satu, sama nasi,” Mbokdhe Sarini melanjutkan sambil tertawa. “Lelenya Mbah enak kok ya, Le?”

“He eh,” Eric mengangguk mantap.

Didit tertawa sambil mengelus rambut Eric. Hati Loli berdesir karenanya.

* * *

Didit mengangkat kepalanya dari bantal ketika didengarnya bunyi klakson di depan rumah. Pelan-pelan ia meninggalkan ranjang, berusaha agar Eric yang tengah terlelap tidak bangun karenanya. Di depan pintu kamar, ia hampir bertabrakan dengan Mbokdhe Sarini yang melangkah terburu dari arah belakang.

“Itu Mbak Tara apa ya?” ucap Mbokdhe Sarini sambil terus melangkah.

“Kayaknya...,” Didit mengikuti dari belakang.

“Kok jam segini sudah pulang?”

Didit tak bisa menjawab. Hanya melirik jam dinding sekejap. Belum genap pukul tiga siang. Ia mengerutkan kening.

Tanya itu terjawab ketika mereka membuka pintu. Tara menatap Didit dengan khawatir.

“Dit, bisa minta tolong bantuin Pak Sat?”

“Lho, Mas Sat kenapa?” Didit segera berlari ke mobil Tara.

“Tadi ngeluh bekas jahitan operasinya nyeri banget. Sampai susah jalan. Kan emang harusnya masih istirahat,” Tara mengekor di belakang.

“Lho... Mas’e kok jadi ngerepotin Mbak Tara, to?” tegur Mbokdhe Sarini.

“Nggak apa-apa, Mbokdhe,” Tara menenangkan Mbokdhe Sarini. “Lagian saya nggak harus balik ke kantor. Sudah jam segini.”

Setelah semua urusan Satrio selesai, dan laki-laki itu sudah berbaring dengan nyaman di dalam kamarnya, sebuah tepukan lembut mampir di bahu Tara. Membuat gadis itu menoleh. Seketika ia memekik tertahan.

“Aaah... Kamu???”

Loli segera menyeretnya ke arah belakang rumah supaya keributan mereka tidak mengganggu istirahat Satrio.

* * *

Tara mencolekkan kerupuk yang dipegangnya ke dalam sebuah pot berisi petis bumbu pedas. Satu dari sekian banyak pot petis bumbu pedas yang dibawakan Didit dan Loli untuknya. Dinikmatinya kerupuk itu dengan asyik. Loli menatap sahabatnya itu sambil tersenyum.

“Terus, kamu dengan Mas Satrio itu gimana?” usik Loli kemudian.

Seketika Tara menghentikan gerakannya mencolekkan kerupuk ke dalam petis bumbu. Ditatapnya Loli baik-baik.

"Denger ya, say, kamu kubolehin nginep di sini bukan buat ngobrolin aku dan Pak Sat, tapi buat membahas kamu dan Didit."

Loli terkikik karenanya. "Panggilnya masih PAK..."

Tara memutar matanya dengan jengah. Dilanjutkannya kegiatannya mengemil kerupuk plus petis bumbu.

"Mbokdhe gimana reaksinya?"

"Dia menerimaku dengan baik," Loli mengelus kepala Eric yang berbaring di sofa sambil menikmati susu di dalam botol dotnya. "Eric langsung lengket padanya. Kupikir ini awalan yang baik, Ta."

"Hm...," Tara manggut-manggut. "Mbokdhe sudah ingin anak-anaknya menikah.”

"Iya, Ibu juga bilang begitu padaku. Tapi dia bingung karena Didit dan Mas Satrio menghendaki Ibu tutup warung selamanya mereka sudah menikah. Lha pegawai-pegawainya gimana?"

"Terus, kalo kamu nanti beneran nikah sama Didit, kamu tetep di Surabaya?"

"Ya enggaklah, Ta... Kan Didit juga udah mau dipindah ke sini. Otomatis aku ikut Diditlah. Tapi soal nikah, kami belum ngomongin itu."

"Tapi kemauan kalian udah ke arah situ kan?"

Loli mengangguk.

"Mantepin dulu hati kalian. Sekarang bukan lagi soal kalian berdua, tapi bertiga. Ingat Eric."

"Iya..."

"Tapi aku lihat dia sayang kok, sama Eric. Tulus, nggak dibuat-buat."

Loli kembali membenarkan ucapan Tara. Beberapa detik sebelumnya sudah ada yang berdenting di kepalanya.

Pindah dari Surabaya ke sini? Pegawai-pegawai warung pecel lele Ibu?

Loli mengerjapkan matanya.

* * *

Agak ragu-ragu, Didit masuk ke kamar Satrio setelah mengetuk pintunya. Dilihatnya Satrio tengah berbaring sambil menonton televisi.

"Mas, aku ganggu ya?" gumam Didit.

Satrio menggeleng, tersenyum. "Mau ngomong soal Loli?"

Didit mengangguk sambil mendekat ke arah ranjang Satrio. Ia kemudian duduk bersila di pinggirnya, menghadap ke arah Satrio. Pelan Satrio bangun. Didit menatap khawatir wajah Satrio yang terlihat masih menahan sakit.

"Masih sakit banget ya, Mas?"

"Cenut-cenut," gumam Didit. "Nggak apa-apa kok."

Didit dengan cepat bergerak membantu Satrio mengganjal punggung dengan bantal. Sejenak kemudian Satrio sudah terlihat bersandar dengan lebih nyaman pada kepala ranjang

"Kamu sudah mantep, Dit?"

"Sudah," Didit langsung memahami arah bicara Satrio.

"Bukan cuma sekadar mengejar romantisme masa lalu?"

Didit menggeleng. "Aku jatuh cinta lagi pada Loli. Pada Eric. Aku sudah siap menjalani hidup bersama Loli dan Eric. Semua rasa ini nggak instan, Mas. Dan aku sudah memikirkannya baik-baik."

"Ya sudah, kalau kamu mantap, jalani saja semuanya dengan baik. Pertahankan apa yang sudah lama kalian mulai. Ibu nggak ada masalah kan?"

Didit mengulas senyum. "Ibu juga yang membuatku mantap, Mas. Ibu menerima Loli dan Eric dengan baik. Caranya berinteraksi dengan Eric mengagumkan. Seperti nenek dan cucu sendiri."

"Karena sudah lama Ibu ingin cucu," senyum Satrio.

"Mas sama Tara sendiri gimana?"

Satrio terbatuk. Didit mengirimkan tatapan menggoda.

"Sinyalnya kuat lho, Mas,"  Didit terkekeh.

"Iyaaa...," Satrio tak bisa menyembunyikan wajah tersipunya. "Kemarin sore aku sempat dinner sama dia. Kami ngobrol banyak. Nyambung. Aku merasa nyaman di dekatnya. Semua rasanya pas. Nggak berlebihan."

"Tara emang gitu orangnya. Lugas, nggak banyak pernik, nggak aneh-aneh. Cocoklah sama Mas."

"Gitu ya?"

Didit mengangguk. Ditepuknya punggung tangan Satrio.

"Ya udah, Mas istirahat dulu. Tadi Ibu udah pesen, aku disuruh anter lele bakar buat Tara sama Loli. Mas mau nitip pesen apa?"

"Buat Loli, aku minta maaf belum sempat ngobrol. Tapi besok bisa. Aku nggak masuk kerja besok. Buat Tara, nanti aku hubungin sendiri."

"Uhuk!" Didit terbatuk dibuat-buat.

"Ati-ati kuwalat," ucap Satrio kalem. "Batuk beneran tau rasa kamu nanti."

"Hehehe...," Didit terkekeh panjang sambil keluar dari kamar Satrio.

* * *

Bersambung ke episode terakhir : Bawakan Sepotong Mimpi #6




3 komentar: