Senin, 31 Agustus 2015

[Cerbung] CUBICLE #3





Episode sebelumnya : CUBICLE #2



* * *


Tiga


Meskipun bekerja di bawah satu atap gedung yang sama, Driya dan aku jarang bertemu. Aku sering keluar kantor untuk bertemu dengan klien atau turun langsung berburu properti untuk produksi iklan. Driya sendiri adalah ujung tombak kantor cabang developer yang dipegangnya. Posisi itu mengharuskannya bertatap muka dengan klien, atau terjun langsung ke lokasi proyek.

Kalau dia lagi ada di kantor, pukul 10 pagi selalu ada Whatsapp message masuk darinya. Mengajakku maksi bersama saat jam istirahat. Kalau sudah begini, aku terpaksa berpisah dengan geng sarapku.

Geng sarap juga sering tidak lengkap karena ada yang masih berkeliaran di jalanan ataupun sedang bercengkrama dengan klien saat jam istirahat. Tapi siang ini geng sarap bisa berkumpul lengkap. Dalam kondisi santai begini seringkali malah ide-ide kami rebutan berloncatan keluar.

“Pusing gue sama job yang masuk ke desk gue kemarin,” keluh Bara.
           
“Tumben?” Yussi membelalakkan matanya. “Biasanya kan lu gudangnya ide, Bar?”
           
“Nggak tahu deh, otak gue rasanya udah penuh banget, sampai susah mikir,” Bara menggelengkan kepala.
           
“Iklannya apaan?” tanyaku. “Yang lemparan dari gue bukan?”

Bara menggeleng. “Bukan. Tapi sosial lagi, soal lingkungan hidup, go green. Ya sebangsanyalah…,” jawab Bara. “Lu ada ide, Sas?”

Wah, stuck! Otakku lagi blank saat ini. Butuh banget Chicken Cordon Bleu pesananku yang lama nggak datang-datang. Aku pun menggeleng.

“Lu cuti aja napa, Bar?” celetuk Nina. “Liburan bentar. Ke Puncak kek, atau ke mana gitu… Lu sih kerja kayak mesin, kagak ada stopnya…”

“Lu pasti kebanjiran ide abis beli oyeh-oyeh buat kita,” sambung Gerdy sok imut.

“Wooo…,” kami langsung koor.

Bara tertawa lebar. Ganteng banget... Ups!

Saat itu ponsel yang tergantung di leherku bernyanyi. Driya.

“Halo…”

“Lu lagi di mana, Yik?”

“Ini lagi di Prima sama geng. Napa, Men?”

“Ya udah, gue ke situ.”

Klik! Sambungan terputus.

Nina menatapku dengan pandangan ‘mendamba’. “Kalo aja gue belum punya Mas Tony sama Rira, gue mo banget dikenalin lebih dalem sama Betmen lu itu, Sas….,” desahnya norak.

“Woooiii!” Yussi menggoyangkan tangan di depan mata Nina. “Inget ASI, Maaaak… Inget ASI….”
           
“Jodohin sama Yussi aja napa?” celetuk Fajar, cengengesan.

“Wah, modusnya Yussi sih perjaka ting ting, bukan duren,” aku ngakak.

5 pasang mata menatapku kaget. Aku langsung terdiam. Ups! Aku kelepasan omong.

“Hah? Dia duren?” tanya Yussi tak percaya.

“Ya udah, lu embat sendiri aja, Sas!” ledek Gerdy.

“Jangan! Sasi sama Bara aja, cucok!” usul Nina telak.

Bara cuma mesem-mesem tak jelas. Untung Yussi tak terpengaruh.

Divorce  atau….?”

RIP,” ucapku cepat sambil berdiri, memotong pertanyaan Yussi.

Yang kami gossipkan jaraknya cuma tinggal sekira 15 meter dari meja kami. Dan dia terus mendekat.

“Hai, guys!” sapanya akrab. “Gue gabung boleh?”

“Silakan… Silakan…”

Ketika Driya hendak menarik kursi dari meja sebelah yang kosong, Gerdy berdiri sambil menepuk bahu Driya.

“Pakai kursi gue aja, Bro. Gue mo cabut duluan kok. Mo nge-date sama klien,” kata Gerdy.

“Hujan-hujan gini?” Bara mengangkat alisnya.

“Duit nggak kenal hujan, Bro!” Gerdy tertawa. “Yuk, ah!”

Driya pun duduk di ex kursi Gerdy. Tak lama kemudian kami pun sudah terlibat dalam obrolan dan canda yang asyik. Di luar sana hujan turun dengan deras. Sejak pukul 9 tadi sedikitpun belum berkurang curahnya.
           
“Wah, gue bisa nyampe Cikarang nggak ini ya?” guman Driya sambil menatap ke luar dinding kaca Prima.

“Rumahnya di Cikarang ya, Mas?” tanya Yussi.

“Pondok Gede, rumah dinas. Di Cikarang cuma proyek. By the way, jangan panggil gue mas dunk, gue kan masih seumuran Sasi, hehehe…”

Saat itu ada gadis berambut ikal berpenampilan modis berjalan mendekat. Terasa ada yang menyepak pelan kakiku. Sepertinya Nina.

“Permisi... Maaf, Pak Driya, ada telepon dari Cikarang, menanyakan apakah Bapak jadi ke sana?” suara gadis itu terdengar mendayu.

“Oh iya, jadi, habis maksi aku ke sana. Kamu nggak usah ikut, ngantor aja. Aku langsung pulang ya, nggak balik lagi ke sini.”

“Baik, Pak. Permisi…”

Ketika gadis itu masuk ke lift, Fajar langsung berkomentar nakal,    “Gila lu, Bro! Sekretaris lu bohay benerrr…”

Driya ngakak. “Bukan sekretaris itu… Dia arsitek andalan gue. Ya kadang-kadang jadi aspri gue juga sih! Mau gue kenalin? Entar deh, kapan-kapan kalo pas kita bisa kumpul, gue kenalin ke dia.”

* * *

Sudah pukul 5 sore di antara jajaran cubicle. Terus terang aku malas pulang kalau harus menembus sisa hujan seharian begini. Beberapa ruas jalan yang harus kulalui pasti banjir. Dengan Brio kecil mungilku, bisa-bisa aku malah mengapung di tengah banjir.

Kantor sudah sepi sejak pukul 4 tadi. Di ruang finishing masih ada beberapa anak yang lembur. Kupencet tombol SLP (Sambungan Langsung Pantry).

“Halo…,” terdengar sahutan dari Gito.
           
“To, tolong bikinin gue teh anget yak? Ge-pe-el. Makasi ya, To…”
           
“Teh ijo ya, Mbak?”
           
“Sip!”
           
Aku menyeberang ke arah dinding kaca. Ringan, aku bersandar pada railing. Kutatap mendung di luar sana. Langit masih rata tersaput warna kelabu. Hujan belum berhenti. Masih menyisakan rintik dan titik-titik tempiasnya. Pikiranku kosong, tidak fokus pada apapun juga.
           
“Mbak, ini teh angetnya…”
           
Suara Gito menyentakkan kesadaranku kembali ke alam nyata. Entah sudah berapa lama aku melamun. Kuterima mug sambil berterima kasih.
           
“Mbak Sasi lembur? Mo dibeliin makanan?”
           
“Nggak usah, To, gue nggak lama. Palingan sebelum jam 7 gue udah pulang.”
           
Sepeninggal Gito, aku berbalik kembali ke arah dinding kaca. Sambil menikmati teh hangat di tanganku aku kembali menatap hujan. Di kejauhan tampak sesekali kilat menyambar membelah langit. Terlihat begitu spektakuler dari tempatku berdiri.
           
Saat itu juga ide-ide berkelebat masuk ke dalam benakku. Clap! Clap! Clap! Ah, ‘begini’-lah seharusnya iklanku jadi!

* * *

Pendar bintang masih memenuhi sebagian kuadran langit ketika kuluncurkan Brio-ku meninggalkan basement apartemen. Jam digital di dashboard menunjukkan angka 05:28. Hari Senin begini biasanya jalanan relatif lebih macet. Aku tak mau terlambat sampai ke kantor karena alasan konyol, kena macet. Apalagi hari ini aku harus menyelesaikan konsep awal penggarapan iklan dengan bagian produksi.

Langit mulai terang dan matahari muncul malu-malu dari balik seleret awan jingga di horison timur. Pukul 06.45 aku sudah parkirkan Brio-ku dengan manis di tempat biasa. Basement  Menara Daha masih lengang. Pintu lift juga masih terbuka lebar.

Dengan santai aku melangkah masuk ke dalamnya. Ketika pintu lift sudah tertutup separuh, sesosok tubuh menyelinap masuk. Hei! Ini kan aspri Driya?

Kulemparkan seulas senyum sambil sedikit mengangguk. Eh, kadal! Aku dicuekinnya. Padahal aku yakin dia sempat menatap sekilas ke arahku ketika bertemu di kantin Prima Jumat kemarin. Sampai aku keluar di lantai 9, aspri Driya tetap membisu.

Di lorong kantor aku berpapasan dengan Gito yang sedang mendorong vacuum cleaner. Sebelum aku menegurnya, dia sudah menyapaku ramah.

“Pagi, Mbak Sasi… Mau minum apa? Sudah sarapan belum?”

Mendengar kata ’sarapan’ yang diucapkan Gito, mendadak perutku keroncongan. Aku berhenti melangkah. Gito juga.

“To, bisa minta tolong beliin nasi pecel Madiun di lantai 3 nggak?” tanyaku sambil membuka tas, mencari dompet.

“Bu Tomo?” tanya Gito sambil menerima selembar uang dua puluh ribuan yang kusodorkan.

Aku mengangguk. “Kembaliannya buat lu aja. Terus entar lu buatin gue Milo anget ya?”

“Siap!”

Aku terus melangkah ke mejaku. Deretan meja bersekat cubicle masih kosong seluruhnya. Jelas, jam kantor saja mulainya baru pukul 08.00 nanti! Aku saja yang kelewat rajin.

Tapi mejaku tidak kosong seperti saat kutinggalkan Jumat menjelang malam kemarin. Ada sehelai amplop coklat berukuran folio tergeletak di sana. Karena amplop itu ada di areaku, maka kubuka saja.

Sebuah foto tercetak pada kertas ukuran A4. Close up wajah seorang gadis yang setengah menengadah menatap ke luar bentangan kaca bening yang dihiasi titik-titik tempias air hujan di luarnya. Sedetik kemudian aku tersadar.

Itu wajahku!

Hah? Siapa yang sudah berani ‘mencuri’ wajahku? Ketika akan kumasukkan kertas itu kembali ke dalam amplop, baru aku melihat ada selembar kertas lain yang tertinggal.


Dimensi berputar cepat di sekelilingmu
Tapi wajahmu membekukan waktu…
Bolehkah profile indah ini kujadikan konsep iklanku?
(Pandu Barata)


Aku tertegun sejenak. Ada kepakan sayap kupu-kupu muncul di hatiku. Entah kenapa sedikit tulisan super rapi berima itu terasa indah ketika kueja lagi.

Bara yang menuliskannya.

Tengah aku tertegun-tegun, Gito muncul membawa nampan berisi pesananku. Sepiring nasi pecel yang lezat dan semug besar Milo hangat tersaji di depanku. Setelah mengucapkan terima kasih aku pun segera menyerang sepiring nasi pecel itu.

Hmmm... Yummy sekali… Tanpa sadar aku melupakan begitu saja kepakan sayap kupu-kupu di hatiku.

* * *


Bersambung ke episode berikutnya : CUBICLE #4

3 komentar:

  1. Jadi ikutan kangen bersandar di jendela. Sapa tau aja ada yang motret juga buat iklan hihi......
    Lanjut mbakyu.....!!

    BalasHapus