Selasa, 18 Agustus 2015

[Cerpen Stripping] Bawakan Sepotong Mimpi #2





Fiksi kolaborasi dengan Ryan Mintaraga


Episode sebelumnya : Bawakan Sepotong Mimpi #1

* * *

Didit menatap langit biru cerah berselimut kabut tipis di luar jendela pesawat. Butuh waktu berhari-hari baginya untuk memahami arti sebuah keinginan. Keinginan yang berlatar belakang kerinduan yang sangat pada sebuah nama. Pada satu sosok yang tak pernah bisa ia lupakan.

Loli.

Kerinduan yang telah mengalahkan segala rasa sakit hati yang pernah disimpannya sendirian selama bertahun-tahun. Sakit hati karena telah dihina dan dilecehkan.

Terngiang kembali di telinganya suara lirih Tara beberapa hari yang lalu.

“Loli... Dia nikah tiga tahun lalu. Punya anak satu umur dua tahun. Perceraiannya baru diputuskan bulan lalu. Suaminya selingkuh.”

Didit mengerjapkan matanya.

Seberapa besar rasa sakit yang harus kamu tanggung, Li? Seandainya aku tidak sepengecut itu...

Seandainya aku berani menegakkan kepalaku di hadapan ibumu.

Seandainya aku tidak lari darimu...

Seandainya...

Lalu selintas pembicaraannya dengan abangnya beberapa tahun lalu seolah berputar kembali di dalam kepalanya.

* * *

"Kenapa harus Kanada?" tanya Satrio suatu sore, "Dari semua negara asing yang menawarkan beasiswa, kenapa harus Kanada yang kamu pilih?"

Didit hanya menunduk.  Ia selalu mati kutu jika harus berhadapan dengan kakaknya, sosok yang ia kagumi selain ibu dan almarhum ayahnya.

Ya, kenapa harus Kanada?

Kenapa aku harus lari?

Kenapa aku takut menghadapi kenyataan?

Pertanyaan seperti itu terus menggantung di benaknya selama ia mengambil beasiswanya hingga ia lulus.

"Pulanglah," kata kakaknya suatu hari melalui skype.

"Aku belum bisa pulang sekarang," balasnya.

Rasa sakit ini masih terasa. Waktu tiga tahun ternyata belum cukup untuk menghapus luka.

Baiklah," Satrio mengucap singkat, "Ibu titip salam buatmu."

* * *

"Sampai kapan kamu mau terus seperti ini?" tegur Satrio suatu hari melalui telepon.  Ini sudah tahun kelima sejak ia meninggalkan Indonesia.

"Maksud Mas Sat?" Didit tak mengerti.

"Kamu masih melarikan diri?" tanya Satrio.

Didit tak langsung menjawab pertanyaan kakaknya itu.

Memang benar, batinnya berkata. Ada sakit yang ingin kuhapus. Ada cinta yang ingin kulupa. Ada rindu yang ingin kusangkal.

Bahkan meski sudah lama berlalu, masih terngiang di telinganya kata-kata yang sangat menyakitkan hatinya.

...masa depan apa yang bisa kamu berikan pada LoliKamu cuma anak seorang penjual pecel lele..."

"...pecel lele!"

Didit tersenyum getir.

Seorang penjual pecel lele yang bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai kuliah dan bekerja di luar negeri. Apa salah jika aku tak sedikitpun merasa malu dengan Ibu yang menjual pecel lele?

Didit menghela nafas.

...masa depan apa yang bisa kamu berikan pada Loli?"

Masa depan? Sebenarnya, apa itu 'masa depan'? Loli, katakan padaku, masa depan seperti apa yang ibumu mau?

"Dit?"

Teguran Satrio barusan menyadarkan Didit dari lamunannya.

"Ya, Mas?" sahutnya.

"Rasanya sudah nggak ada lagi yang perlu kamu buktikan."

"Maksud Mas?"

"Kita memang anak penjual pecel lele.  Apa salahnya dengan itu?"

Didit kembali terdiam.

Satrio melanjutkan ucapannya, "Ibu sudah melakukan banyak hal pada kita hingga kita bisa jadi sekarang ini.  Siapa sangka seorang penjual pecel lele punya anak-anak yang bisa melanjutkan sekolah di luar negeri dan berkarir dingan masa depan cerah?  Ya kan?"

"Mas benar...," jawab Didit.

"Karena itu sudah nggak ada lagi yang perlu kamu buktikan pada orang lain.  Pulanglah sesekali.  Mas yakin banyak hal yang sudah terjadi.  Apa kamu nggak kangen sama Ibu?  Nggak pengen sungkem dan meluk Ibu?"

Mendengar kata 'Ibu', hati Didit pun luluh.

* * *

Perempuan sepuh itu jugalah yang membisikkan kalimat-kalimat bijaknya. Memberi kesegaran pada hati Didit yang gelisah.

“Kalau hatimu memang masih tertinggal di sana, apa salahnya menengoknya sebentar?”

Didit menatap wajah teduh Mbokdhe Sarini.

“Kalau memang sudah ndak ada lagi mimpi yang harus diraih, cari harapan baru. Tinggalkan yang harus kamu tinggalkan. Tapi kalau mimpi itu masih ada, masih bisa diraih, ya raihlah.”

“Walaupun mimpi itu seorang janda beranak satu, Bu?” mata Didit mengerjap.

Mbokdhe Sarini mengembangkan senyumnya. “Ndak ada perempuan di dunia ini yang mengharapkan menyandang status itu. Tapi kadang-kadang nasib bicara lain. Ibu justru ndak apa-apa kalau kamu nanti punya istri janda, daripada kamu gendheng sama istri orang lain. Blaen, Le...” (= Bahaya, Nak...)

Tatapan Didit beralih pada Satrio yang tengah terbaring dan tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit itu. Terkapar setelah dioperasi karena dihajar radang usus buntu akut yang sudah hampir pecah. Mbokdhe Sarini mengikuti arah tatapan Didit.

“Kalau urusanmu sudah ada titik terang,” gumam Mbokdhe Sarini, “Ibu tinggal ndongakne masmu.” (= mendoakan)

Didit tersenyum karenanya. “Mas Sat sedikit lagi, Bu...”

Mbokdhe Sarini membulatkan matanya. “Piye? Sopo?

“Langganan pecel lelenya Ibu yang paling setia,” senyum Didit melebar.

“Wooo...,” Mbokdhe Sarini memahaminya seketika.

* * *

Dan di sinilah ia sekarang. Di dalam perut sebuah pesawat yang akan mengantarkannya kembali ke kota Loli. Dengan ribuan debar yang memenuhi hatinya.

Loli... Apa kabarmu sekarang? Apa kamu masih ingat aku?

Didit membuka iPad-nya, di sana masih tersimpan foto-foto kenangannya bersama Loli.  Melihat foto-foto itu membawanya kembali ke masa lalu.

* * *

"Dit," panggil Loli usai mereka menikmati sepiring pecel lele. "Pecel lele buatan ibumu jauh lebih enak."

Mau tak mau Didit tersenyum bangga,

"Wuh, jelas dong! Bu Sarini gitu loh!"

"Seandainya...," ucap Loli ragu sembari membersihkan tangannya dari sisa sambal, "...seandainya... aku... kita...," wajahnya memerah.

"Seandainya apa, sayang?" goda Didit.

"Mmm...," wajah Loli semakin merah, "Itu..."

"Itu, itu, itu apa?" Didit tak mengerti.

"Udah ah, nggak jadi.  Aku lupa!" tukas Loli dengan cepat.

* * *

Sampai sekarang aku masih nggak tau apa yang mau kamu ucapkan saat itu, Didit mendesah panjang dalam hati.

Beberapa saat kemudian melalui pengeras suara yang dipasang di seluruh kabin terdengar pemberitahuan bahwa sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandara Juanda, Surabaya.

Didit menghela napas panjang.  Hatinya bergemuruh oleh rasa yang bahkan ia sendiri tidak tahu.

Here I am... Apapun yang terjadi, terjadilah!

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : Bawakan Sepotong Mimpi #3



4 komentar:

  1. luar bias mbak, apalagi lagunya mak nyus di telnga, good post mbak

    BalasHapus
  2. ...apapun yang terjadi, terjadilah. Lanjuuut :)

    BalasHapus
  3. mmmmmhhhmmm kadang memang lebih mudah lari mbak daripada menghadapi,... sebuah kejujuran hati.

    BalasHapus
  4. Lanjutkan wis. Semoga besok dolphin bisa diajak kompak. Ada beberapa kata yang dempetan Mbak, mas....tapi nggak mengurangi level kerennya...

    BalasHapus