Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2019

[Cerpen] Jendela








Sore ini, sudah kali keempat aku melihatnya. Selalu pada hari Selasa setelah pukul lima. Di seberang jalan raya. Duduk bersama teman-temannya di bawah tenda. Menikmati semangkuk bakso sembari saling bertukar tawa dan cerita. Posisinya pun selalu sama. Menghadap ke arah jendela lantai dua. Tempat aku mengintipnya.

Minggu, 24 Februari 2019

[Cerpen] Majalah Dinding







Senin pagi, seisi SMK Mitra Wiyata gempar. Pasalnya, ada sesuatu yang tak biasa menghiasi sudut kanan atas majalah dinding di seberang pintu lobi.

Ukuran majalah dinding dalam kotak kaca berkunci itu cukup besar. Panjangnya 2,5 meter, sedangkan lebarnya 1,5 meter. Terlihat sangat jelas dari arah pintu masuk.

Rabu, 30 Januari 2019

[Cerpen] Simbah Wuyung







Iwuk terhenyak.

Lagi-lagi...

Melihat ekspresi Iwuk, kejengkelan yang tergambar nyata di wajah Banyu pun surut seketika. Dihelanya napas panjang.

Minggu, 27 Januari 2019

[Cerpen] Koin










Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Enya berusaha mendengarkan baik-baik suara rendah Brennan. Ucapan suaminya hanya sepotong-sepotong. Potongan lainnya terperangkap dalam jaringan ponsel di tangan Brennan. Walaupun sama sekali tak berhasil menangkapnya secara utuh, tapi dengan jelas Enya berhasil mengunci beberapa kata. 'Uang', 'gadai', 'pinjam', 'bank', 'sertifikat', dan 'bunga'.

Rabu, 03 Oktober 2018

[Cerpen] Pelet







Sudah bulat tekad Tarno Paijo untuk secepatnya mendapatkan pendamping hidup. Selama ini ia sudah berusaha mati-matian untuk menggapai mimpinya berumah tangga. Mulai dari perawan tingting sampai ibu-ibu ranum bersuami ia coba dekati. Berhasil? Lha, kalau berhasil, masa sampai detik ini ia masih jomlo dengan keinginan meluap?

Minggu, 23 September 2018

[Cerpen] Tiga Keping Hati







(Keping Hati Marsya)

Ibu mau mengajak Bude Kin tinggal di sini? Yang benar saja! Apakah Ibu tak tahu kalau Bude Kin itu penyeret suasana neraka setiap kali datang ke sini? Ke rumah mungil ini? Ada saja yang tidak benar di matanya. Terutama aku. Ya, aku!
   

Minggu, 09 September 2018

[Cerpen] Rumah Jacaranda








Kuhela napas lega begitu mendengar kabar dari Mas Diar. Dia sudah dapat rumah baru untuk tempat tinggal kami.

"Cukup besar, Bu." Suaranya berlanjut kembali menyusup ke telingaku melalui ponsel. "Rumah pojok dua lantai. Ada di tepi jalan raya. Semi furnished. Halamannya lumayan luas. Kamar tidur ada empat di atas, satu di bawah buat ART. Ada kamar mandi di dalam kamar utama. Dua lagi di luar, satu di atas, satu di bawah. Garasi muat untuk dua mobil. Listrik, air, kondisi keseluruhan semua prima. Bukan rumah baru, sih. Tapi bangunannya sangat kokoh. Aku yakin Ibu pasti suka."
  

Minggu, 28 Januari 2018

[Cerpen] Cinta Kedua Aleda









"Ayah! Aku pulang!"

Suara renyah itu seketika membuatku menoleh. Baru saja memang ada derum mobil berhenti di depan rumah, tapi aku tak perhatian. Sibuk mencuci mobil di carport. Ternyata ia yang muncul dengan menumpang taksi. Aleda, putri tunggalku dan Arin.

Selasa, 02 Januari 2018

[Cerpen] Semangkuk Bubur Mutiara










Aku mendesah ketika bel pintu berbunyi nyaring. Baru saja aku duduk di depan laptop untuk memulai pekerjaanku berikutnya setelah urusan rumah selesai. Tapi aku harus tetap membuka pintu, apalagi setelah bel berbunyi untuk kedua kalinya. Maka, kuseret langkahku ke ruang depan. Seketika aku ternganga ketika melihat siapa yang datang bertamu.

Senin, 28 Agustus 2017

[Cerpen] Proposal







Gulungan mendung abu-abu tua yang menggantung di langit sedari pagi akhirnya mulai merinaikan rintiknya. Alisa menoleh sekilas ke luar jendela, sekaligus ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu. Menjelang pukul satu siang. Ia pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Hanya menyiapkan berbagai guntingan kertas origami warna-warni aneka bentuk untuk kegiatan “Menempel” esok hari.

Kamis, 03 November 2016

[Cerpen] Chiara-Ben








“Lagi-lagi bekalnya cuma dimakan sedikit, Pak.”

Aswin hanya bisa menghela napas panjang mendengar laporan itu. Ditatapnya Nandari dengan putus asa.

“Ada anak lain yang bekalnya kurang, jadi saya berikan padanya dengan seijin Chiara (baca : Ki-a-ra)," lanjut Nandari.

Senin, 31 Oktober 2016

[Cerpen] Backstreet








Mak’e dan Pak’e adalah pasangan paling tidak romantis yang pernah kutemui. Setiap hari selalu ada saja kejadian yang diributkan keduanya. Dari yang terkesan sepele macam kopi kurang manis, sampai masalah besar seperti kasbon terpaksa di warung tetangga. Kadang-kadang aku merasa geli. Kadang-kadang juga aku merasa gerah sendiri.

Kamis, 25 Agustus 2016

[Cerpen] Rumah Kayu Di Tengah Salju








Ingrid Kaufman menatap hamparan salju di luar jendela. Putih. Terkesan begitu lembut. Tapi dinginnya seolah membekukan waktu.

Salju makin sering datang...

Selasa, 23 Agustus 2016

[Cerpen] Segenggam Langit Biru








Sesungguhnya aku sudah tak mampu berpikir lagi tentang hal ini. Melihat Yanda terduduk lesu seolah pesakitan yang sedang menghadapi persidangan itu saja sudah membuat hatiku dirajam lara. Apalagi melihat bara di mata abang dan kakakku yang terus menghujaninya. Aku tercekat ketika perlahan Yanda menatapku, seolah minta tolong.

Sabtu, 23 Juli 2016

[Cerpen] Dukun Cinta Madame Spectra








... Kau tahu rasanya cinta pada pandangan pertama? Terasa seperti seluruh napas dan kehidupanmu tersedot oleh suatu kekuatan yang tak terdefinisi, sehingga kau meleleh tanpa terkendali dan tak tahu kapan bisa merasa normal lagi. ...

Kamis, 21 April 2016

[Cerpen] Anniversaire







SEBUAH CERPEN HASIL KOLABORASI PUTRI APRIANI DENGAN LIZZ



BEBE

Aku sudah bosan berada di sini. Ruangan ini makin sempit saja buatku. Aku sudah tak lagi bebas berenang di dalamnya. Sudah tak lagi bebas jungkir-balik. Posisiku benar-benar membosankan!

Kamis, 31 Desember 2015

[Cerpen] Bunga-Bunga Mangga







Here I am...

Terbingkai seluas kaca depan mobil, Biella menatap gambaran nyata yang ada di depannya saat ini. Sebuah rumah mungil dengan dinding bercat gradasi warna peach berpadu dengan warna putih pada setiap kusen pintu dan jendelanya. Memberi kesan sangat cerah.

Kamis, 08 Oktober 2015

[Cerpen] Mendhol Kecing







Kulkas satu pintu di sudut dapur itu bagaikan brankas harta karun bagi Zara. Setelah melalui hari yang melelahkan di kantor, sekaranglah saatnya membuka brankas harta karun itu, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, membaui aromanya, menggorengnya, dan kemudian melahapnya sampai habis ditemani nasi putih hangat dan sedikit sambal.

Selasa, 06 Oktober 2015

[Cerpen] FUCHSIA







Angin sejuk menyapa wajah Flora begitu jendela terbuka. Ingin ia menikmati kesegaran itu lebih lama, tapi diingatnya bahwa tugasnya sama sekali belum dimulai. Membereskan semua barang yang ia miliki di dalam kamar itu.

New day, new place, new hope...

Diulasnya senyum samar sebelum beranjak. Tapi gerakannya terhenti ketika ia hendak berbalik. Sehembus angin kembali menerpa. Menggoyangkan pucuk-pucuk perdu dan bebungaan di taman belakang. Membuat tatapannya terhenti pada satu titik.

Kamis, 01 Oktober 2015

[Cerpen] You Are Me, I Am You*







Addo menggeleng, dan Alin langsung menatap abang iparnya itu dengan putus asa. Addo kembali menekuni helai-helai kertas yang terbundel rapi dalam sebuah map.

“Hasil lab bagus, Lin,” ucap Addo. “Semuanya. Tanpa terkecuali.”

Alin menoleh ke arah Danet yang masih terbaring lemas di atas tempat periksa. Danet pun balas menatap Alin dengan sorot mata sayu.

“Terus Mas Danet kenapa dong, Mas?” airmata Alin hampir runtuh karenanya.