Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novelet. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2015

[Novelet] Garis Hitam Darah Biru









Satu


Kata-kata Eyang Murti adalah titah. Titah ratu yang sama sekali tak boleh dibantah. Seolah jadi aib dan dosa besar bagi siapa pun yang mengingkarinya. Feodalisme yang sama sekali tak masuk akal, tapi masih juga terjadi. Sungguh menyedihkan…

Seruni pusing sekali memikirkannya. Hubungannya dengan Hazel sudah mencapai taraf sangat serius. Dalam setiap acara di keluarga besar Hazel, Seruni selalu diperkenalkan sebagai ‘calonnya Hazel’.

Tapi sekarang? Dibacanya sekali lagi SMS singkat dari ayahnya. Dia sudah hapal luar kepala.

Rabu, 25 Februari 2015

[Novelet] Mimpi Dari Sepertiga Pagi





hipwee.com


Satu



Brrrr... Pagi yang sungguh dingin!

Ornella menarik satu stel training suit dari dalam lemari. Ketika turun ke kota kemarin, dia sempat membeli tiga stel training suit baru yang paling tebal bahannya. Belum dicuci sudah dipakai? Ornella nyengir. Tak akan ada yang tahu.

Setelah berpamitan pada Mbok Wuri yang sudah sibuk di dapur, Ornella memulai acara jogging-nya. Baru jam setengah lima pagi, tapi desa itu sudah menggeliat bangun dan memulai kehidupannya.

Sabtu, 21 Februari 2015

[Novelet] Sepotong Cinta Putih






Satu


Sophie membereskan ranselnya dengan setengah hati. Ketika ia menegakkan badan, dilihatnya bayangan bundanya melalui cermin. Perempuan itu berdiri di depan pintu kamar dengan wajah yang tak bisa diungkapkan ekspresinya. Sophie balik menatap. Murung.

“Kenapa Addo sama aku harus ke sana, sih, Bun?” desahnya.

Diva berjalan mendekat sambil menghela napas panjang. “Nenekmu kangen, Phie,” ucapnya halus.

Sophie mendengus sambil membanting dirinya di atas kasur.

“Kangen?” Sophie mencibir. “Yang ada dia pasti meracuniku dengan segala hal kebaikan Mama dan keburukan Bunda.”

Rabu, 18 Februari 2015

[Novelet] Gaun Pengantin Berlian





id.aliexpress.com




Satu


Pesta pernikahan besar-besaran itu sudah dirasa sebagai tragedi tersendiri bagi Berlian. Pupus sudah angan untuk mengawali episode baru kehidupannya bersama Rilo dalam sebuah acara pernikahan yang sederhana, hening, dan kudus. Sebuah acara pernikahan yang hangat karena hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat.

“Tidak apa-apa, Bri,” ucap Rilo sabar. “Demi Mama. Setelah jadi istriku, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau.”

Tapi apa yang terjadi di balik ucapan ‘tidak apa-apa’ Rilo itu seutuhnya Berlian tahu. Walau hanya menanggung 80% dari seluruh pengeluaran tapi  tabungan mereka telah tergali hampir sampai ke dasar. Sesuatu yang tidak akan terjadi bila mereka hanya menggelar acara sederhana saja. Rumah mungil mereka terpaksa terhenti renovasinya. Bulan madu ke Bali dan Lombok hanya tinggal jadi kenangan.

Semua itu terjadi hanya karena keinginan Mama.


Kamis, 27 Juni 2013

[Novelet] Lembar-Lembar Rindu



BAB 1
GERARDA
 

Pulang…

Kata itu sungguh absurd bagiku. Apa artinya pulang? Bagiku pulang adalah kembali ke rumah mungil peninggalan Papa. Membaui lagi aroma manis kenangan yang tertinggal di sana. Merasakan lagi hawa hangat yang masih tersisa.

Tapi semuanya tak lagi ada bekasnya. Sejak 8 tahun yang lalu. Hingga detik ini. Setidaknya ada rentang waktu 5 tahun sejak aku terbelit sejuta kerinduan untuk sekedar melihat wujudnya dari luar. Hanya sebatas bersit kerinduan, yang berpikir untuk menerjemahkannya pun aku tak berani.

Minggu, 28 April 2013

[Novelet] L i f t






Untuk kesekian kalinya Renata hanya berdua saja dengan laki-laki itu di dalam lift. Sudah hampir sebulan. Mau tak mau Renata nyaris hafal lekuk liku wajah laki-laki itu. Bersih, tampan, tampak profesional dengan kacamata yang bertengger di puncak hidung mancungnya.

Siapa dia? Renata tidak tahu. Bahkan seujung nama pun tidak. Di lantai berapa laki-laki itu bekerja? Renata pun terpaksa geleng kepala. Dia selalu keluar dari lift di lantai 11, sebelum laki-laki itu keluar. Tanpa sadar Renata mendesah. Dan dia melihat pantulan bayangan di pintu lift, laki-laki itu menoleh sekilas ke arahnya. Renata langsung pura-pura melihat arlojinya. Selalu angka yang hampir sama, sekitar pukul 7 pagi.