Senin, 23 Maret 2020

[Cerbung] Let Me Love You This Way* #4-2











* * *


Lalu, Rika tak pernah bisa berhenti memikirkan Andries. Kasihan? Bukan! Bukan perasaan seperti itu. Pada awalnya ia merasa demikian. Namun, setelah berkali-kali menengok lagi ke dalam lubuk hatinya, ia mendapati bahwa pesona Andries-lah yang telah menjeratnya. Sama sekali bukan perasaan iba.


Tiga hari kemudian, pada Sabtu siang, ia memberanikan diri menyapa Andries melalui pesan singkat. Tak dinyana, Andries membalas pesan itu dengan langsung meneleponnya.

“Hai!” Rika menjawab telepon dengan suara lirih, dengan jantung berdebar kencang. “Apa kabar?”

“Hai!” balas Andries. “Kamu sudah tahu kondisiku sekarang,” lanjut Andries. Tanpa basa-basi.

“Mm.... Ya. Kenapa memangnya?”

Hening. Sekilas Rika mendengar dengung obrolan di seberang sana, di dekat Andries.

“Nanti begitu keluar dari sini, aku bereskan pembayaran kontrak food truck-mu.” Alih-alih menanggapi pertanyaan Rika, Andries justru membicarakan hal lain.

Rika menghela napas panjang.

“Boleh... aku... ke situ?” tanyanya kemudian.

Hening lagi.

“Ke mana?”

“Menengokmu.”

“Nggak perlu merepotkan diri.”

Rika mendegut ludah mendengar ada nada ingkar dalam suara Andries.

“Nggak repot, kok. Aku lagi di sebelah kamarmu. Tadi gantiin Bude sebentar jaga Opa. Sekarang Bude sudah selesai urusannya.”

Hening lagi.

Kepalang tanggung! Rika segera memutuskan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia menyudahi pembicaraan itu. Ia menoleh ke arah budenya.

“Bude, saya tengok teman dulu, ya? Nanti saya balik lagi. Cuma di sebelah ini.”

“Oh, temanmu yang leukemia itu?” ujar Stella.

Rika mengangguk.

“Salam, ya.”

Rika kembali mengangguk. Beberapa detik kemudian ia sudah mengetuk pelan pintu kamar rawat Andries. Seorang laki-laki tinggi besar berusia enam puluhan membuka pintu itu dari dalam. Dengan ramah laki-laki itu menyuruhnya masuk setelah mereka bertukar salam.

Ternyata hampir seluruh keluarga Andries sedang berkumpul di kamar itu. Ayah-ibunya, abangnya, adiknya, calon adik iparnya. Semua menyambutnya dengan ramah.

“Ya, deh, aku pulang dulu,” pamit abang Andries. Nicholas namanya. “Besok aku ke sini lagi. Kamu cepet pulih, Dries. Iori dah kangen sama kamu.”

Andries mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, ibu Andries menanyakan kabar Paul. Bahkan kemudian ayah Andries mengusulkan untuk gantian menengok Paul sekalian berkenalan. Segera kamar rawat itu lengang. Hanya menyisakan Rika dan Andries. Sejenak keduanya bertatapan, sebelum Rika melangkah ke arah kursi di samping tempat tidur Andries.

“Hai,” sapa Rika lagi, lirih.

“Hai juga.” Andries mengulas senyum tipis. “Mama bilang beberapa hari lalu kamu ke sini, habis dari nungguin opamu.”

“Iya,” angguk Rika. “Pas kebeneran papasan sama Tante pas mau pulang.”

Lalu hening. Dalam posisi setengah bersandar, Andries mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Beginilah kehidupanku,” gumamnya kemudian. Suara lirihnya seolah berasal dari tempat yang jauh. “Antara kantor, rumah, dan rumah sakit.”

Rika mengerjapkan matanya yang terasa sedikit lembap ketika menangkap ada nada pahit dalam suara Andries.

“Sudah... berapa lama?” Ragu-ragu, Rika melontarkan pertanyaan itu.

Andries kembali menatap Rika. “Masuk tahun ketujuh. Sudah dapat bonus hampir lima tahun.” Andries mencoba untuk tersenyum. “Adikku sudah mendapatkan penjaganya. Tugasku sudah selesai.”

Tak bisa ditahan, air mata Rika mengembang begitu saja.

Seperti itukah Papa dulu? Setelah mendapatkan penjagaku dan Neri, lalu Papa berpulang...

Rika mengerjapkan matanya. Sehelai tisu terulur ke depannya tiba-tiba. Tanpa melihat siapa yang mengulurkan tisu itu, Rika menerima dan menyeka matanya. Sekali lagi mengerjapkan mata, kemudian menatap Andries.

“Jadi ingat mendiang Papa.” Rika mencoba untuk tersenyum.

“Bukannya papamu masih ada?” Andries mengerutkan kening. Menatap Rika dengan serius.

“Papa kandungku sudah meninggal, waktu aku umur tujuh tahun. Tiga tahun kemudian Mama menikah lagi, dengan papaku yang sekarang, Papa Owen. Sebenarnya... Mama juga bukan mama kandungku. Ah, ruwet ceritanya.” Rika tersenyum lagi.

“Kalau kamu mau cerita, aku mau banget mendengarkan.” Andries membalas senyum itu. Terlihat begitu teduh.

Rika bimbang sejenak. Tapi pelan-pelan diceritakannya juga kisah hidupnya. Mulai dari yang ia tahu dan ingat. Andries terlihat mendengarkannya dengan sangat tekun. Dan, entah bagaimana awalnya, ketika Rika mengakhiri kisahnya, tangan kanan Andries sudah menggenggam tangan kanan Rika. Terasa sedikit lembap, tapi hangat. Keduanya bertatapan sejenak.

“Ketika menjumpaimu untuk kedua kalinya di kantormu,” ujar Andries, “entah kenapa aku merasa bahwa Tuhan punya maksud tertentu. Hanya saja aku nggak berani berharap lebih. Aku tahu betul kondisiku. Di mana nanti usia pendekku akan bermuara. Tapi aku juga sulit mengingkari perasaanku sendiri. Aku... belum pernah merasa seperti ini. Pesonamu sudah memikatku sejak kita pertama kali bertemu di Bistro La Lune. Aku....”

Rika tak mau lagi kehilangan kesempatan itu.

“Kalau begitu, jadikan aku kekasihmu,” sergahnya cepat. “Kenapa harus capek-capek mengingkari perasaan?”

Andries tertegun. Ada cahaya indah berlompatan keluar dari mata bening Rika. Ia buru-buru melengos. Terdorong impuls yang meledak-ledak begitu saja di dalam dirinya, Rika segera berdiri dan memeluk Andries. Sejenak tubuh laki-laki itu terasa kaku, tapi mulai rileks beberapa detik kemudian. Bahkan, pelukan Rika bersambut.

“Kalau benar waktumu memang tidak lagi terlalu panjang,” bisik Rika, “setidaknya biarkan aku menemanimu.”

“Aku tidak bisa memberikan apa-apa untukmu,” gumam Andries.

“Aku tak minta apa-apa,” sergah Rika. “Aku cuma ingin kita menikmati saja apa yang masih bisa kita nikmati.”

Dengan halus, Andries melepaskan pelukannya. Ditatapnya Rika.

“Termasuk memanggilmu Kika?” senyum Andries.

Rika terbengong sejenak. Andries melepaskan tawanya.

“Sejak tahu nama lengkapmu, entah kenapa aku gatal sekali ingin memanggilmu Kika,” jelas Andries.

“Itu nama mantanmu?” Rika menyipitkan mata.

Andries kembali tergelak. Menggeleng.

“Bukaaan,” jawab Andries di sela tawanya. “Mantanku dulu namanya Sonia. Sialnya, sama kayak nama Mama.”

Rika tersenyum lebar.

“Dia meninggalkanku ketika tahu aku sakit,” lanjut Andries, dengan nada dan ekspresi biasa-biasa saja. “Waktu tahu aku survive dan dipercaya Papa pegang pabrik di Cikarang dan Karawang, dia mau balik. ‘Cewek matre’. Begitu Keke bilang.” Andries menutupnya kembali dengan tawa ringan.

Rika pun menyimpulkan senyumnya.



Rika tersentak ketika ponselnya berbunyi. Seketika ia tercerabut dari lamunan dan kenangannya tentang Andries. Ketika ia meraih gawainya, benda itu justru terdiam. Melihat telepon dari siapa yang baru saja terlewatkan, ia buru-buru menelepon balik.

“Halo? Maaf, Ma, tadi lagi jauh dari ponsel.” Begitu ucapnya ketika ibunya menjawab panggilannya.

“Iya, nggak apa-apa. Kamu masih di kantor Han’s? Nggak lupa, kan, kalau kita ada janji ketemuan?”

“Iya, Ma. Nggak lupa, kok. Sepuluh menit lagi aku ke sana, deh.”

“Kamu langsung ke Bistro La Lune saja, ya. Kita sekalian makan siang. Gimana?”

“Oh, ya. Boleh... boleh....”

Mereka pun mengakhiri pembicaraan itu. Tanpa membuang waktu, Rika segera merapikan berkas yang tadi sempat ditekuninya sebelum terseret lamunan akan Andries. Setelah menyimpan berkas itu ke dalam brankas, ia pun meraih tas dan melangkah keluar dari ruangannya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com, dengan modifikasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar