Thursday, August 9, 2018

[Cerbung] Kuncup Mawar dan Selembar Kenangan #6-4









Sebelumnya



* * *



Begitu sosok Rafael tak tampak lagi di lobi kantor kecil itu, Indina segera mengangkat gagang telepon, menghubungi ruang kerja Renata.

“Mbak Ren, Pak Rafael sudah ambil kunci mobil,” bisik Indina. “Aku bilang seperti pesan Mbak.”

“Oh, oke, Ndi. Makasih banyak, ya.”

Di dalam ruang kerjanya, Renata menghela napas lega. Ia memang jadi mengadakan pertemuan dengan klien. Tadi, tepat pukul tiga, dan berakhir setengah jam kemudian. Di sini. Sama sekali tidak di SCBD. Sekilas, Renata menatap jam dinding di seberang meja. Pukul empat kurang enam menit. Ia pun bersiap untuk meninggalkan kantor dengan merapikan meja lebih dulu.

Tepat pukul empat, Renata keluar dari ruang kerjanya. Dengan langkah cepat, ia kemudian keluar dari lobi dan berbelok ke kiri, menuju ke lift yang posisinya di belakang gedung Menara Daha. Bukan lift yang biasanya ia gunakan.

Begitu sampai lantai dasar, ia segera menyeberangi lobi belakang dan melintasi pintu keluar. Dihelanya napas panjang sambil berbelok ke kanan. Masih dengan langkah cepat, ia menyusuri trotoar yang dinaungi deretan pohon rindang. Tujuannya tak jauh. Sebuah kafe kecil yang ada di deretan belakang gedung Menara Daha.

Dengan mantap, ia masuk ke kafe kecil itu dan langsung menuju ke sebuah kursi dan meja tunggal di sudut. Setelah memesan makanan kecil dan minuman, ia pun mengeluarkan laptopnya. Segera setelah pesanannya datang, ia sibuk dengan dunianya sendiri. Berlagak serius menatap laptop, tapi pikirannya berlarian ke segala arah.

Jadi, di belakangku, mereka masih juga menjalin hubungan?

Samar, dihelanya napas panjang.

Apa yang kurang, sebenarnya?

Ia termangu.

Ketika memutuskan untuk menerima lamaran Rafael, mereka memang belum lama saling mengenal. Baru hitungan bulan. Tapi entah mengapa, rasa mantap itu ada dalam hatinya. Harus tinggal bersama dengan seorang ibu mertua, ia sama sekali tak keberatan.

Lea memperlakukannya seperti anak sendiri. Pun sikapnya selalu jelas. Sedikit pun tak pernah berusaha mencampuri urusan rumah tangga anak dan menantunya. Ikut mengasuh Sarah dan Steve, tapi sama sekali tak memaksakan pola pengasuhannya sendiri. Terhadap Sarah, mungkin sedikit banyak dilakukannya, karena sejak Sarah bayi Lea-lah yang mengasuhnya. Tapi terhadap Steve kecil, Lea selalu bertanya lebih dulu pada Renata dan Rafael tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Renata paham betul, bahwa pada setiap rumah tangga, pasti ada saja riak-riak kecil yang membuat ‘pelayaran’ bergoyang. Suatu saat, pasti ia dan Rafael akan menghadapinya. Tapi Renata sama sekali tak pernah membayangkan bahwa riak yang ia hadapi sekarang adalah masa lalu Rafael yang ‘terselip’ untuk diceritakan.

Ia selalu mensyukuri segala kelebihan yang dimiliki Rafael sebagai suami, ayah, anak, dan manusia. Pun ia menerima seutuhnya semua kekurangan laki-laki itu. Ia sendiri menyadari bahwa dirinya tak luput dari kekurangan. Yang selama ini ia selalu berusaha untuk lakukan adalah merawat, memupuk, dan menemukan setiap kebahagiaan yang ada dalam pernikahan mereka.

Setiap masalah selalu dibicarakan baik-baik. Sehingga belum pernah ada riak yang lebih besar mampu menggoyangkan bahtera yang mereka kendalikan bersama.

Tapi sekarang?

Renata menyesap pahitnya espreso tanpa gula dalam cangkir kecil yang dipegangnya. Sepahit itulah rasa yang mengendap dalam hatinya kini.

Ia sudah berusaha memaafkan ‘kealpaan’ Rafael. Berusaha memahami alasan Rafael melipat dan menyimpan sendiri sepenggal kisah dengan Adita. Menyelipkannya jauh-jauh dari dirinya, walaupun pada ujungnya tepergok juga.

Jauh sebelumnya, ia juga sudah berusaha untuk selalu jadi ibu yang baik bagi Sarah dan Steve, istri yang baik bagi Rafael, dan menantu yang baik pula bagi Lea. Nomor empat, barulah ia memikirkan diri sendiri dan perkembangan kariernya. Selama ini semuanya bisa berjalan dengan baik, tanpa salah satunya jadi timpang. Itu karena ia menjalaninya dengan sepenuh hati dalam rasa bahagia. Hampir tak pernah memikirkan reward atas apa yang sudah dilakukannya.

Dan, ketika mendapati bahwa Rafael ternyata masih juga mempermainkan kata dan rasa maaf dari dirinya, terasa sangat menyakitkan baginya. Hingga rasa-rasanya ia tak ingin pulang dan melihat wajah Rafael lagi, seandainya ia tak ingat bahwa masih memiliki sepasang malaikat kecil di rumah.

Ia tersentak ketika mendengar bunyi lirih ponsel di dalam tasnya. Ia pun menemukan benda itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Dengan wajah dingin dan gerakan jemari yang mantap, ia me-reject panggilan dari Rafael itu.

Sebodo amat! pikirnya geram.

Ia menyesap lagi rasa pahit dalam espresonya. Meleburnya dengan rasa manis segar pai buah yang digigit dan dikunyahnya. Sejenak terasa ada jeda dalam segala simpul benang kusut yang memenuhi benaknya. Membuatnya mampu mengingat bahwa pai buah itu adalah kesukaan Sarah. Ia kemudian mengangkat tangan, memanggil seorang pramusaji yang segera mendekat dengan langkah sigap.

“Ya, Bu?” senyum pramusaji itu.

“Mbak, minta tolong pai buahnya lima, lapis Surabaya lima, egg roll lima, sama cupcake-nya campur satu lusin. Take away, ya. Oh, ya, cupcake-nya yang setengah lusin, tolong dikemas sendiri. Sekalian bill-nya. Terima kasih.”

“Tunai, CC, atau debit, Bu?”

“Tunai saja.”

Sekitar sepuluh menit kemudian, pramusaji itu datang lagi dengan membawa dua kantung kertas besar, satu kantung kertas kecil, dan sebuah map kecil berisi tagihan pembayaran. Ia meletakkan dengan hati-hati dua tas kertas itu di atas meja, kemudian mengulurkan map dengan sopan kepada Renata.

“Semuanya tiga ratus enam puluh tujuh ribu, Bu,” ucap sang pramusaji.

Renata segera membuka dompet dan menarik empat lembar uang seratus ribuan yang masih sangat licin. Diletakkannya uang itu dalam map, kemudian disodorkannya kembali map itu.

“Kembaliannya ambil saja, Mbak,” ucapnya dengan wajah datar.

Pramusaji itu mengucapkan terima kasih dengan wajah riang, lalu berbalik. Renata kembali menyesap espresonya yang masih tersisa separuh, dan menikmati peanut ‘n cheese roll cake, sambil sesekali tetap melamun.

Di tengah-tengah lamunannya, ponselnya berbunyi lagi. Dengan malas, ia meraih tas dan mengeluarkan ponselnya. Pesan dari Satya.

‘Mbak, maaf, aku kelepasan omong. Baru saja ketemu sama Mas Rafa di coffee shop pojokan lobi. Aku singgung soal Mbak lihat Mas Rafa dan mantannya di Lounge Ex.’

‘Kelihatannya dia tahu atau tidak, kita juga ada di sana?’

‘Kelihatannya nggak tahu. Sekali lagi, maaf, ya, Mbak. Aku nggak maksud bikin ruwet. Cuma ingin Mas Rafa sadar biar nggak terjerumus terlalu dalam. Mbak, kan, tahu, Mbak sudah kayak kakakku sendiri. Aku nggak mau lihat kakakku disakiti.’

‘Oke, Sat. Makasih banyak, ya.’

Dihelanya napas panjang sambil menyimpan ponsel kembali.

Hmm.... Jadi dia benar-benar nggak tahu aku ada juga di Lounge Ex pada saat yang sama? Asyik betul!

Renata mencibir dalam hati.

Dalam suasana hati yang panas itu, masih dicobanya untuk berpikir sedikit jernih. Barangkali memang betul Rafael ‘hanya’ belum sempat memberitahu sebelumnya soal pertemuan itu. Maka, ia mencoba untuk sedikit menelusurinya. Dicarinya sebuah nama dari kontak WhatsApp-nya. Setelah menemukan nama itu, ia pun mengetikkan pesannya. Lugas. Tanpa salam dan basa-basi seperti biasanya.

‘Maaf, Pak Nugra, apakah Bapak tahu istri Bapak makan siang bersama dengan suami saya siang tadi? Apakah beliau berpamitan pada Bapak atau semacam minta izin?’

Balasannya ia terima tak lama kemudian.

’Sama sekali tidak, Mbak Renata. Kapan dan di mana?’

‘Siang tadi sekitar pukul dua. Di restoran Lounge Ex Menara Daha. Saya ingin konfirmasi dari Bapak, apakah memang hanya saya yang tidak tahu sebelumnya akan hal ini.’

‘Betul, Mbak, saya tidak tahu. Siapa yang memberitahu Mbak Renata?’

‘Mata saya sendiri, Pak.’

Dengan bara yang makin menyelimuti hatinya, Renata menyimpan kembali ponselnya tanpa menunggu balasan dari Nugra. Dilihat dari sisi mana pun, ia dan Nugra berada pada posisi yang sama. Sama-sama orang yang ‘ditelikung’ pasangan masing-masing.

Cukup sudah! Mau ngeles dengan cara apa lagi?

Renata kembali mencibir dalam hati.

Menjelang pukul enam, makanan dan minumannya habis. Sedikit pun ia belum menemukan kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga Rafael tega membalasnya dengan cara seperti itu. Dan, entah sejak kapan hujan mulai turun di luar kafe. Menambah aura kelabu dalam hatinya. Tapi ia harus tetap pulang. Dihelanya napas panjang.

Renata mengambil ponsel dari dalam tas dan membuka aplikasi Great-taxi. Beberapa menit kemudian, ia melihat sebuah city car  berhenti di depan kafe. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari nomor kontak pengemudi Great-taxi yang dipesannya.

‘Ibu, saya sudah di depan kafe. Saya tunggu. Terima kasih.’

Renata pun segera berdiri dan meraih tasnya. Disandangnya tas itu di bahu. Tak lupa ditentengnya dua tas kertas berisi kue yang sudah dibelinya. Tak butuh waktu lama sebelum ia duduk nyaman di jok belakang city car yang bersih dan wangi. Dengan ramah, dibalasnya sapaan perempuan pengemudi taksi itu.

Sepanjang perjalanan, Renata masih juga melamun. Sedikit tersentak ketika pengemudi taksi itu dengan halus memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Sekilas, ia melirik jam digital di dasboard. Sudah sekian menit lewat dari pukul tujuh.

Setelah menyelesaikan pembayaran melalui dompet virtual, Renata beringsut keluar dari dalam mobil. Sekilas ada sosok yang berkelebat di teras. Sebelum ia menjangkau pintu pagar, pintu itu sudah terbuka dari dalam.

Dalam hening, ia melewati begitu saja sosok yang membukakan ia pintu pagar. Mengabaikan sapaan halus yang menerpa lembut telinganya. Dadanya masih terasa sesak. Pemandangan di sudut Lounge Ex siang tadi tak juga pupus dari benaknya.

Di belakang punggungnya, Rafael pelan-pelan menutup pintu pagar sambil memejamkan mata. Menyesali kecerobohannya menerima permintaan Adita untuk bertemu siang tadi.

* * *

Sarah bersorak gembira ketika Renata menyodorkan tas kertas dengan aroma sedap yang menguar dari dalamnya.

“Yang ini kasih ke Bibik dan Iyuk, ya?” Renata menyodorkan tas kertas yang ukurannya lebih kecil.

Sarah mengangguk dan berlari ke belakang. Steve yang duduk di sofa bersama Lea segera merayap turun dan menghampiri Renata dengan langkah goyahnya. Renata segera membungkuk, meraih, dan mengangkat Steve. Diciuminya pipi bulat bayi itu.

“Mama belum mandi, Sayang,” bisiknya. “Mama mandi dulu, ya?”

“Ayo, Steve sama Kakak, sini!” Sarah yang sudah muncul lagi segera mengulurkan tangannya.

Dengan patuh, Steve menyambut uluran tangan kakaknya. Secepatnya Renata masuk ke kamar. Rafael tak ingin membuang kesempatan itu, dan langsung membuntutinya.

“Ren, soal tadi siang...,” ucapnya lirih begitu mereka berada dalam kamar.

“Aku nggak mau dengar,” Renata menatap Rafael dengan sorot mata tajam. “Bullshit dengan segala macam permintaan maaf dan email­-mu!”

Setelah itu Renata masuk ke kamar mandi. Menutup pintu dengan hempasan agak kuat di depan hidung Rafael. Sekadar meluapkan rasa marahnya.

Asyik mengobrol sampai tidak tahu keadaan sekeliling?

Renata mencebikkan bibir sambil mengguyurkan beberapa gayung air di atas kepalanya. Shower tak akan memberi efek sedahsyat guyuran air melalui gayung. Karena itu ia mau menggunakannya. Dalam setiap gayung air yang terbuang setelah melalui tubuhnya, ia berharap hatinya mendingin. Tapi tetap saja belum berhasil.

Menangis?

Tidak!

Ia menggeleng kuat-kuat. Bertekad untuk tidak menangisi Rafael dan Adita. Tapi, tetap saja ada air mata yang luruh dari matanya. Yang segera tersapu oleh air bah yang berasal dari gayung.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)