Wednesday, August 8, 2018

[Cerbung] Kuncup Mawar dan Selembar Kenangan #6-3










Sebelumnya



* * *


“Mbak Ren meeting dengan klien di luar, Pak,” ucap Indina – resepsionis Savannah and Co. merangkap sekretaris Donny – sambil menyerahkan kunci mobil pada Rafael. “Katanya, mau langsung pulang.”

“Oh...,” Rafael mengangguk. “Meeting di mana memangnya, Mbak?”

“SCBD.”

“Lho, dia ke sana naik apa?”

“Taksi, mungkin?” Indina mengerutkan kening. “Maaf, saya kurang tahu, Pak.”

“Oh...,” Rafael kembali mengangguk.

Rafael pun berpamitan setelah mengucapkan terima kasih. Sekeluarnya dari lobi kantor Renata, ia berbelok ke kanan, ke arah lift. Bila biasanya ia langsung ke basement, kali ini tidak. Ia keluar di lantai dasar, lobi gedung Menara Daha. Tujuannya adalah sebuah coffee shop kecil di sudut lobi. Ia merasa perlu menenangkan diri sebelum benar-benar pulang. Apa yang beberapa puluh menit lalu dialaminya, ia benar-benar tidak pernah membayangkan.



Ponselnya berbunyi saat ia hendak beranjak untuk menikmati makan siang. Ia hampir saja melewatkannya, tapi kemudian memutuskan untuk menengok sejenak benda di saku kemejanya itu.

‘Mas Rafael, ini Adita. Apa kabar?’

Seketika ia ternganga setelah membaca deretan kalimat di layar ponselnya. Sebuah pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp.

Adita?

Seketika dadanya bergemuruh. Pelan-pelan ia duduk kembali di kursinya.

Adita? Adita!

Matanya mengerjap. Masih tak percaya. Dihelanya napas panjang beberapa kali sebelum membalas pesan itu.

‘Hai! Adita, aku baik-baik saja. Kamu apa kabar?’

‘Baik juga, Mas. Senang bisa kontakan lagi dengan Mas Rafael. Nomor Mas ternyata belum berubah.’

Rafael tercenung sejenak. Apakah aku juga merasa senang? Tak perlu menunggu sekian detik, ia pun mengangguk samar. Ya, aku juga senang. Suara notifikasi dan getar ponsel di tangannya membuat ia tersadar. Pesan lagi dari Adita.

‘Mama apa kabar?’

‘Baik. Ngomong-ngomong, kulihat usahamu maju pesat. Senang melihatnya.’

‘Itu semua berkat Mas Rafa juga.’

‘Nope! Itu semua karena usahamu sendiri.’

‘Baiklah.... Dan, aku belum mengucapkan terima kasih.’

Rafael mengembuskan napasnya keras-keras. Dibalasnya telak, ’Karena kamu keburu berpamitan.’

Beberapa menit tak ada balasan, hingga masuk pesan lagi.

‘Bisakah kita bertemu? Mungkin untuk terakhir kalinya mengobrol sebagai dua orang teman lama. Aku mohon....’

Rafael kembali tercenung. Sejujurnya, memang banyak hal yang belum sempat ia ungkapkan kepada Adita. Termasuk, ia juga belum memperolah alasan sesungguhnya Adita kenapa mengundurkan diri dari hubungan mereka yang baru seumur jagung. Ketika benar-benar ada rasa lain dalam hatinya untuk Adita. Sambil menghela napas panjang, ia membalas pesan itu.

‘Baiklah. Aku bebas siang ini. Mau bertemu di mana?’

‘Di kantor Mas saja. Masih di Senen, kan?’

‘Sudah pindah, Dit. Sudah beberapa tahun ini aku ngantor di Menara Daha.’

Rafael tak tahu bahwa Adita sempat tercenung lama di seberang sana. Baru beberapa menit kemudian ia mendapat balasan lagi.

‘Baiklah, aku ke Menara Daha. Seandainya bertemu Mbak Renata, kita tidak sedang menyembunyikan pertemuan kita, kan?’

‘Oke, jam berapa sampai sini?’

‘Aku masih di Pondok Gede. Mungkin sekitar jam dua aku sampai sana. Nggak kesiangan?’

‘Nggak apa-apa. Aku tunggu. Hati-hati di jalan, ya?’

‘Oke, Mas. Sampai nanti.’

Sekitar pukul setengah dua, pesan dari Adita masuk lagi.

‘Mas, aku sudah sampai di parkiran lantai satu. Kantor Mas di lantai berapa?’

‘Oh, di lantai lima belas. Tapi kita ketemuan di Lounge Ex saja, ya. Sambil makan siang. Di lantai enam.’

Adita sudah ada di restoran itu ketika Rafael muncul. Perempuan itu duduk sendirian di meja untuk berdua di sudut dekat dinding kaca. Genggaman tangan Adita terasa sedikit dingin dan bergetar ketika mereka bersalaman. Rafael kemudian duduk di seberangnya.

Selama beberapa detik keduanya hanya bisa saling menatap. Tanpa bisa dikendalikan, ada titik-titik kerinduan yang berloncatan keluar dari dalam bening mata. Tanpa bisa dicegah. Tanpa bisa dikendalikan. Menari-nari di sekitar mereka. Sebelum akhirnya Rafael tersadar dan bisa mengendalikan dirinya. Samar, dihelanya napas panjang.

Keadaan itu kemudian tersamarkan ketika seorang pramusaji datang menghampiri untuk mencatat pesanan mereka. Kecanggungan itu muncul lagi ketika pramusaji beranjak.

“Oke, kita sekarang sudah ada di sini,” Rafael berusaha mencairkan suasana dengan suara lembut dan senyumnya. “Senang bertemu lagi denganmu. Apalagi melihat kamu baik-baik saja seperti sekarang ini.”

Adita mengangguk. Menghindari tatapan Rafael.

“Aku...,” ia sempat kehilangan kata. “Aku... juga senang melihat Mas dalam keadaan baik seperti ini. Sudah berapa tahun menikah dengan Mbak Renata?”

“Sekarang baru masuk tahun ketiga.”

Baby kalian lucu sekali,” gumam Adita.

Tatapan Rafael menajam seketika. Adita rupanya merasakan hal itu. Ia pun tertawa. Sedikit sumbang.

“Aku nggak pernah ngepoin Mas,” jelasnya dengan suara rendah. “Aku melihat foto keluarga kalian di screen saver laptop Mbak Renata beberapa minggu lalu, waktu aku menemani Mas Nugra menemui Mbak Renata. Jujur, aku tak pernah berani membayangkan bisa bertemu Mas lagi,” Adita tertunduk.

Rafael mengangguk samar.

“Kamu sendiri, sudah berapa tahun menikah?” tanyanya kemudian.

“Mm.... Enam tahun. Jalan tujuh tahun.”

“Bertemu di mana?” Rafael tersenyum samar.

“Dia salah satu pelanggan kedaiku. Yang di Pasar Minggu.”

Rafael tercenung sejenak. Kedai Adita di Pasar Minggu.... Kedai kenangannya bersama Adita. Kedai yang belum pernah diinjaknya lagi saat badai menerpa Steve dan Anna, kecuali saat mencari Adita beberapa tahun kemudian.

Sejenak, obrolan mereka terjeda ketika pramusaji datang mengantarkan makanan dan minuman. Setelah urusan itu beres, Adita kembali memberanikan diri menatap Rafael.

“Aku... turut berbela sungkawa atas meninggalnya Mbak Anna,” gumam Adita.

“Kamu tahu Anna meninggal?” Rafael mengerutkan kening.

“Tentu saja aku tahu,” sergah Adita, halus. “Bahkan aku datang ke pemakaman Mbak Anna. Aku sempat mengobrol sejenak dengan Mas Jemmy dan Mbak Pradnya. Waktu itu... kulihat Mas... terlalu sibuk,” Adita tertunduk lagi. Menatap makanan yang tersaji cantik di depannya.

“Lalu kenapa kamu tak pernah kembali?”

Sejenak Adita memejamkan mata ketika mendengar ada nada menuntut dalam suara Rafael. Ia kembali mengangkat wajahnya.

“Karena Mas tidak membutuhkanku.”

Rafael menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ditatapnya Adita dengan sejuta penyesalan tergambar di wajahnya. Seandainya saja....

“Aku bukannya tak membutuhkanmu...,” erangnya. “Aku harus mengatasi semuanya sendirian setelah kepergian Steve dan Anna. Perusahaan, kesedihan dan kehancuran perasaan Mama, dan bayi kecil Steve dan Anna....”

“Maafkan aku,” air mata mengembang di pelupuk mata Adita. “Maafkan aku, Mas. Tapi aku sudah tak lagi berani mendekat. Aku takut... mengganggumu.”

“Aku baru bisa menata diriku sendiri setelah semuanya berjalan dengan lancar lagi,” kesedihan, kekecewaan, dan kepahitan masih tergambar nyata dalam wajah Rafael. “Aku sudah bisa sendirian mengendalikan perusahaan. Mama juga sudah bisa bangkit. Dan, ada bayi kecil yang sudah beranjak besar ketika itu. Sarah namanya. Tapi sayang, kamu sudah berstatus sebagai istri orang ketika aku mencarimu. Dan, itu belum lama sejak statusmu berubah. Aku...,” Rafael menghela napas dalam-dalam. Menggeleng pelan. Tak meneruskan lagi ucapannya.

Adita mengusap air mata yang meluncur sebutir di pipi kanannya.

“Tapi jangan pernah salahkan diri sendiri, Dit,” bisik Rafael kemudian. Menegakkan kembali punggungnya. “Setelah aku bertemu Renata, barulah aku memahami bahwa kami adalah potongan puzzle yang pas. Aku harap, demikian juga antara kamu dengan suamimu.”

Adita mengangguk.

Lalu, mereka bercerita tentang keluarga masing-masing. Rafael dapat menangkap secara utuh binar dalam mata Adita ketika menceritakan Gwen. Nyaris sama seperti binar dalam mata Renata saat sedang bercakap dengan Sarah dan bermain dengan Steve kecil.

Tiba-tiba saja, ia sangat merindukan Renata, yang terakhir kali ditemuinya tadi pagi, saat mereka hendak berpisah tujuan di dalam lift.



Rafael membawa nampan kecil dari counter ke sebuah meja di depan meja kasir. Di atas nampan itu ada secangkir espreso, sebuah cawan berisi es krim vanila, dan piring kecil berisi sepotong red velvet dan saucijzenbroodje. Ia kemudian duduk dan mulai menikmati pilihannya itu.

Tengah asyik makan sambil berselancar melalui ponselnya, sebuah colekan ringan mampir di bahunya. Ia menoleh. Mendapati Satya tengah tersenyum lebar ke arahnya. Ada nampan kecil milik coffee shop di tangan Satya.

“Eh, Sat!” sapanya ramah. “Mau ngopi juga? Sendirian”

“Hehehe... Iya, Mas.”

“Duduk sini saja.”

“Sendirian, Mas? Mbak Ren?” Satya pun meletakkan nampannya di atas meja, dan duduk di seberang Satya.

“Iya. Renata lagi ke SCBD, meeting sama klien.”

Satya terbengong sejenak.

“Bukannya meeting-nya di atas?” gumamnya kemudian.

“Hah?” Rafael mengerutkan keningnya.

“Oh, apa pindah ke SCBD, ya?” Satya menggumam lagi.

“Lha, gimana yang benar?” Rafael menatap Satya dengan serius.

“Enggak, sih...,” Satya mencoba menjelaskan. “Tadi, kan, Mbak Ren ke proyek di Tangsel. Kebetulan aku ada proyek juga di dekat lokasi Mbak Ren. Balik ke sini, aku nebeng Mbak Ren. Mbak Ren bilang mau buruan sampai sini, takut telat meeting sama klien, pukul tiga. Nggak sempat mampir makan dulu di luar. Baru makan di sini setelah sampai. Masih ada waktu sebelum pukul tiga. Tadi kami makan di Lounge Ex. Tapi Mbak Ren nggak bilang, sih, kalau meeting-nya di SCBD.”

Mendengar Satya menyebut ‘Lounge Ex’, seperti ada balok es raksasa menempel di sepanjang punggung Rafael. Apalagi ketika Satya meneruskan ucapannya dengan wajah dan nada polos.

“Atau... jangan-jangan Mbak Ren ngambek gara-gara lihat Mas Rafael makan siang sama...,” Satya nyengir sekilas. Tak meneruskan ucapannya.

Rafael tertegun.

Astaga.... Jadi?

Ia mengerjapkan mata dengan resah. Saat itu juga, dicobanya untuk menelepon Renata. Tapi panggilannya segera di-reject dari seberang sana. Susah payah ia menelan ludah.

Ah! Habis sudah!

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)