Senin, 19 September 2016

[Cerbung] Potpourri Di Sudut Hati #7-1










* * *


Tujuh


“Qi,” Mai menatap Qiqi dalam-dalam. “Nanti kalau sudah jam pulang, Qiqi ikut Bu Ridha ke ruang guru, ya? Qiqi tunggu jemputan di sana.”

Qiqi balik menatap. Dengan sorot mata bertanya. Mai mencoba untuk tersenyum.

“Sekarang sedang musim penculikan anak,” Mai berusaha menjelaskan. “Mama nggak mau kehilangan Qiqi. Paham?”

Qiqi mengangguk.

“Mama sudah telepon ke Bu Ridha semalam. Jadi yang boleh jemput Qiqi cuma Mama, Nenek, atau Kakek. Jelas?”

Qiqi kembali mengangguk. Mai memberinya sebuah pelukan.

“Jadi anak manis, ya?” bisik Mai.

Qiqi mencium pipi Mai sebelum berbalik dan melangkah ringan melintasi lapangan menuju ke lobi sekolah. Di depan lobi itu berdiri Bu Ridha. Mai mengangguk ketika tatapan mereka bertemu. Begitu juga Bu Ridha. Qiqi sudah sampai di depan Bu Ridha, meraih dan mencium tangan sang guru, kemudian menghilang ke dalam.

Hari ini adalah hari pertama Qiqi masuk sekolah kembali setelah libur semester usai. Hari yang tak lagi biasa. Hari yang tak lagi menimbulkan perasaan tenang. Semua itu karena hadirnya Nirwan yang tiba-tiba dalam kehidupan mereka.

Mai tahu, adalah hal yang sangat mudah bagi Nirwan untuk tahu semua hal tentang Qiqi, termasuk semua kegiatan dan di mana letak sekolahnya. Dan Mai tak mau Nirwan begitu saja masuk dengan seenaknya ke dalam hidup Qiqi. Mungkin tidak akan secepat itu Nirwan tahu, tapi Mai tak mau kecolongan. Harus ada antisipasi sejak awal. Salah satunya adalah mengawasi Qiqi dengan lebih ketat.

Kemarin sore telah terjadi pembicaraan yang cukup panjang dengan Bu Ridha. Mai terpaksa menjelaskan posisinya, dan meminta dukungan dari Bu Ridha. Suatu saat Qiqi memang harus tahu siapa ayahnya. Tapi tentunya waktu itu bukan sekarang. Dan ternyata Bu Ridha sangat memahami keinginan Mai. Membuat Mai merasa cukup lega untuk sementara waktu.

Mai berbalik setelah Qiqi menghilang. Ia masuk ke dalam mobil dan mulai meluncurkannya ke tempat berikutnya. Klinik drg. Intan.

* * *

Jadi di sini sekolahnya...

Nirwan mengerjapkan mata. Ia duduk diam di balik kaca hitam pekat mobilnya. Niatnya sudah bulat. Mengetahui sebanyak-banyaknya info tentang anak Mai. Anaknya. Dari seberang jalan, dengan jelas Nirwan dapat melihat Mai memeluk Qiqi sebelum gadis mungil itu masuk ke dalam lingkup sekolah dengan langkah-langkah kecilnya.

Ada yang terasa hangat di hati Nirwan. Qiqi-nya kelihatan normal. Dari pertemuan yang sangat sekilas di ruang tunggu klinik tiga hari lalu, ia bisa menangkap kilatan cahaya kecerdasan ada dalam sorot mata Qiqi.

Untuk itulah ia mengambil cuti seminggu lamanya. Dengan alasan memulihkan diri setelah mengalami kecelakaan. Jatuh dari motor ojek. Ia sungguh ingin tahu segala hal yang ia rasa harus tahu tentang Qiqi. Bogem mentah Ares, tamparan keras Mai, dan semprotan kemarahan Intan kemarin belum cukup untuk menyurutkan niatnya itu. Hanya saja ia harus berpikir seribu kali kalau harus berada sangat dekat dengan Mai atau Qiqi lagi. Membuntuti Mai dan Qiqi seperti sekarang ini adalah hal yang dirasanya paling aman untuk dilakukan.

Ares...

Wajah Nirwan mengeras. Bekas pukulan Ares masih terasa berdenyut nyeri di rahang dan pelipisnya. Memarnya juga masih terlihat sangat matang. Dan hatinya? Terasa lebih sakit lagi.

Huh!

Untung saja ia tak sampai mengalami dislokasi rahang ataupun retak tulang di bagian pelipis.

Kalau sampai Pak Willem tahu, bisa makin hancur aku!

Tapi boss sekaligus calon mertuanya itu tak bertanya lebih detail lagi ketika ia menelepon kemarin sore. Membuatnya merasa aman untuk sementara waktu.

Jadi dia masih nggelibet saja di sekitar Rara?

Nirwan mencibir. Sejak dulu, ia juga tidak buta untuk mengetahui bahwa Ares menyukai Mai. Dan ketika ia berhasil membuat Mai hamil, ia segera saja merasa menang sekian puluh langkah di depan Ares. Konyol, memang.

Dan rasa-rasanya, ia harus menyiapkan diri untuk membuat perhitungan dengan Ares. Pada suatu saat yang tepat nanti.

* * *

Perempuan berusia awal 50-an itu menyambut Mai dengan ramah. Ia seutuhnya tahu apa yang hendak dibicarakan Mai.

“Maafkan aku, Mai,” ucap Intan dengan penyesalan yang dalam. “Seandainya aku tahu kalau Nirwan itu ayah Qiqi, tentunya aku tak akan gegabah menyuruhnya menggantikan aku praktik kemarin itu.”

Mai menggeleng. “Tidak apa-apa, Bu Intan. Saya tahu semua itu kejadian yang sama sekali tidak bisa kita perkirakan. Ya, saya tahu Nirwan dulu di FKG, tapi saya sama sekali tidak pernah berpikiran bahwa dia keponakan Ibu.”

Intan mendesah. Ditatapnya Mai dengan lidah kelu.

“Soal wajahnya yang jadi babak belur itu, saya minta maaf.”

“Ah,” Intan mengibaskan tangannya di depan wajah. “Tak perlu minta maaf, Mai. Sama sekali tidak perlu. Dia sebetulnya pantas dapat lebih dari itu. Aku marah sekali padanya. Aku malu, Mai. Maafkan aku.”

“Bu Intan ada di luar masalah ini,” senyum Mai. “Saya tahu Bu Intan orang yang baik. Sangat baik.”

Intan balas tersenyum. Sekaligus menarik napas lega.

“Saya cuma minta jaminan kejadian seperti kemarin itu tidak terulang lagi, Bu,” ujar Mai. “Kami sudah cocok dengan penanganan di sini. Jujur, saya tidak ingin memindahkan pemeriksaan rutin gigi Qiqi ke tempat lain.”

“Aku tidak akan meminta Nirwan menggantikan aku lagi, Mai,” Intan menggeleng. “Kalau kepepet, lebih baik aku minta bantuan kawanku yang lain. Aku sudah memperingatkan Nirwan untuk menjauhimu dan Qiqi. Paling tidak untuk sekarang ini.”

Mai mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian ia pun berpamitan.

* * *

Mai menatap ke luar jendela ruang kantornya. Dihelanya napas panjang.

Sudah beberapa belas hari ia bertemu lagi dengan Ares. Setelah delapan tahun yang terkadang cukup panjang untuk sebuah kerinduan. Sehingga ketika kerinduan itu mulai terasa mengganggu, ia berusaha keras untuk menguapkannya. Sepertinya banyak hal yang masih membutuhkan waktu untuk pulih kembali seperti sedia kala.

Terpaksa harus memiliki Qiqi membuat Mai ditempa secara mendadak untuk menjadi jauh lebih dewasa. Ia menyesali caranya, tapi tidak untuk hasil yang ia dapatkan. Qiqi adalah pusat kehidupannya kini. Walaupun ia tak bisa mengingkari bahwa terkadang masih menjumpai sudut-sudut kosong di seluruh penjuru hatinya.

Terlihat ada yang berubah juga pada diri Ares. Menjadi jauh lebih matang. Dan juga pendiam. Seolah ada banyak hal yang ia pikirkan, tapi tak bisa ia ungkapkan. Entah kenapa.

Banyak hal yang Mai masih belum tahu tentang kehidupan Ares sekarang. Belum ada kesempatan lagi untuk mengobrol banyak. Seolah ada sekat tebal yang membatasi mereka. Lagipula Mai tahu Ares cukup sibuk dengan pekerjaannya. Dan Mai sendiri punya cukup banyak hal untuk dipikirkan dan dikerjakan.

Seperti saat ini. Setelah pintu ruangannya diketuk dari luar, dan Silvi menyembulkan kepalanya.

“Maaf, Mbak Mai, kiriman dari Mister Kim sudah datang.”

Mai segera beranjak keluar. Meja Noni kosong. Di sanalah kotak paket itu diletakkan. Mai segera membukanya dengan bantuan Silvi.

“Noni ke ekspedisi?” tanya Mai.

“Iya, Mbak,” jawab Silvi sambil membuang bungkus luar paket itu. “Tadi perginya sama Nunung. Ban motor Nunung kempes. Makanya dia nebeng Noni.”

“Oh...”

Dengan dibantu Silvi pula, Mai memeriksa satu demi satu kondisi puluhan asesori yang dikirimkan Kim. Sekaligus mencocokkannya dengan manifest yang ia pegang.

Sejauh ini, pelayanan Kim tak pernah mengecewakan. Semua barang yang dikirimkannya selalu sesuai dengan yang dipesan Mai. Begitu pula kondisinya ketika sampai di tangan Mai. Mulus. Sempurna. Karena Kim pun tak pernah main-main dalam melakukan pengepakan.

Setelah Noni kembali dari kantor ekspedisi, Mai dan Silvi memindahkan sekotak asesoris baru itu ke dalam ruang kantor Mai. Siap untuk membuat kode, sekaligus melakukan pemotretan.

“Yang ini bagusnya dikasih latar warna merah saja, Vi,” gumam Mai.

Silvi dengan cekatan mengganti kain latar untuk sebuah kalung bermata kristal putih. Setelah mematut-matut sejenak, Mai menjepretkan kameranya. Ia melihat hasilnya, kemudian mengacungkan jempol. Silvi mengganti kalung itu dengan kalung lainnya yang cocok dengan warna latar merah, dan proses pun kembali berulang. Begitu seterusnya.

Belum setengah dari seluruh asesori itu tertangani, ponsel di atas meja Mai berbunyi nyaring. Silvi buru-buru mengambil benda itu untuk diserahkan pada Mai yang sudah telanjur berkonsentrasi untuk melakukan sebuah jepretan lagi.

“Dari sekolah Qiqi, Mbak,” Silvi menatap sekilas layar ponsel Mai di tangannya.

“Hah?” Mai buru-buru mengangsurkan kameranya pada Silvi sekaligus menerima ponselnya.

“Halo, selamat---,” sekilas Mai melirik jam dinding. Masih pukul sepuluh lebih sedikit. “---pagi.”

“Selamat pagi. Dengan Bu Mai, mamanya Qiqi?”

“Iya, betul, Bu. Saya Mai. Qiqi kenapa, Bu?” suara Mai seketika diliputi perasaan khawatir. Ia mengenali suara itu. Bu Bas, kepala SD Qiqi.

“Qiqi tidak kenapa-kenapa, Bu Mai. Hanya saja sekuriti sekolah mencurigai seorang laki-laki yang bertanya jam berapa anak-anak kelas dua pulang. Dia juga sempat menanyakan Qiqi.”

Jantung Mai seolah meloncat keluar dari dalam tubuhnya.

“Seperti apa orangnya?” suara Mai bergetar hebat.

“Tinggi, tampan, berkaca mata, kulitnya terang dan bersih, penampilannya rapi. Kelihatannya terpelajar juga, Bu Mai.”

Mai terduduk.

Nirwan! Baru juga kemarin aku memberinya pelajaran!

“Sekarang dia ada di mana?”

“Sekuriti sedang menahannya di pos jaga. Tidak semata-mata menahan, supaya dia tidak merasa dicurigai, kemudian lari. Makanya kami menelepon Ibu. Kami bisa membantu melapor ke polisi kalau Ibu menghendaki.”

“Saya segera ke situ!”

Mai segera mengakhiri pembicaraan itu, kemudian menyambar tas dan kunci mobil.

“Biarkan begini dulu kantorku, Vi!” serunya sambil berlari keluar.

Silvi menatap kepergian Mai dengan wajah cemas.

“Ada apa?”

Silvi menoleh, mendapati Noni menatapnya heran.

“Nggak tahu,” Silvi menjawab dengan wajah terlihat agak linglung. “Itu tadi Mbak Mai dapat telepon dari sekolah. Entah kenapa Qiqi.”

Keduanya kemudian terhenyak di kursi masing-masing dengan pikiran mereka sendiri.

* * *

Setiap kali mobilnya harus terhenti karena dihadang kemacetan kecil atau lampu merah, Mai menyumpah-nyumpah dalam hati.

Bisa-bisa kubunuh juga kamu, Wan!

Bajingan, kamu, Wan!

Setan gundul, kamu, Wan!

Pengecut tengik!

Gendruwo belang!

Tuyul culas!

Kutu busuk!

Gombal apek!

Dan masih banyak lagi umpatan yang bahkan biasanya terpikir pun tidak pernah.

Mai menggelengkan kepalanya. Entah harus diapakannya Nirwan itu. Ucapan Bu Bas soal menghubungi polisi terngiang kembali di telinganya. Sepertinya ia akan melakukan itu kalau Nirwan sampai melampaui batas.

Sekarang, jangan main-main denganku, Wan!

Kaki Mai menginjak pedal gas dalam-dalam setelah melampaui belokan terakhir masuk ke jalan tempat sekolah Qiqi berada.

* * *





Ilustrasi : www.driftwood-gardens.com



15 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih mampirnya, Pak Subur... 😊😊😊

      Hapus
  2. Nirwan mintak dibantai beneran itu !
    Melok geregeten to the max aq mb Lis !
    Untunge Mai wis antisipasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langkahnya Mai bisa dicontek lho, Nit... 😉😉😉

      Hapus
  3. OOhhh...aku ada kontaknya Freyja atau Ivan, mbak. Kali aja butuh buat Nirwan...wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya Freyja udah jadi arang, hehehe... 😆😆😆

      Hapus
  4. Koleksi umpatan Mai banyak juga ya. Hehehe.... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Nulisnya sambil ketawa itu aku, Mbak 😋😋😋

      Hapus
  5. Antara melu jengkel karo kudu ngguyu. Mbayangke Mai misuh2 😆

    BalasHapus
  6. aku pernah ngalamin kayak mai itu...

    duluuuuu... waktu hak asuh juno masih belum diputuskan, dan status dia masih "anak dalam sengketa".

    BalasHapus
  7. Saya sudah jauh ketinggalan -_-

    BalasHapus