Jumat, 09 September 2016

[Cerbung] Potpourri Di Sudut Hati #4-2










* * *


Mai mulai mengangkat beberapa kardus berisi baju layak pakai dan boneka milik Qiqi, sekaligus memasukkannya ke dalam bagasi mobil, pagi itu. Dilihatnya Qiqi sudah cantik mengenakan celana jeans selutut, dipadu dengan blus putih berbunga oranye dan berdaun hijau. Gadis kecil itu duduk di lantai. Dengan satu tangan, ia memakaikan kaus kaki pendek di kedua belah kakinya. Gerakannya terlihat sangat terlatih dan cekatan. Terakhir, ia memasukkan kakinya ke dalam sepasang sepatu kets putih bersih dengan tutupan berperekat velcro. Selesai. Ia kemudian membuntuti Mai.

“Kardus bonekaku sudah semua, Ma?” tanyanya.

Mai mengangguk. “Kamu sudah pamitan sama Kakek dan Nenek?”

Qiqi menepuk keningnya. “Ah, lupa!”

Mai tersenyum lebar melihat Qiqi berbalik untuk mencari Rama dan Hening. Kedua orang itu sedang duduk di teras depan rumah. Setelah urusan berpamitan itu selesai, Mai segera menggiring Qiqi masuk ke dalam mobil, dan beberapa detik kemudian ia meluncurkan mobil itu ke tempat Bu Amey.

‘Tempat Bu Amey’ adalah sebuah rumah singgah bagi para perempuan yang berusaha mempertahankan kehamilannya tanpa suami. Ke sanalah Mai dulu menuju, atas saran dari kakak Rama, sebelum kemudian Rama dan Hening menyusulnya.

Amelia atau Amey adalah istri seorang dokter ahli penyakit dalam yang menjadikan dua rumahnya sebagai tempat singgah bagi para perempuan ‘tertelantar’ itu. Mereka tak hanya duduk diam saja merenungi kesalahan dan nasib, tapi diajari juga berbagai keterampilan sesuai minat. Ada pelatihan menjahit, komputer, kecantikan, pembuatan asesoris, akuntansi, Bahasa Inggris, menulis, dan masih banyak lagi. Semua pengajarnya adalah teman-teman Amelia, sesama relawan yang peduli. Dan donasi untuk kelangsungan rumah-rumah singgah itu ditanggung bersama, dengan bantuan beberapa pihak lain yang bersedia menjadi donatur. ‘Lulusan’ yang sudah mahir diarahkan untuk bekerja di beberapa usaha yang bersedia menampung mereka, atau menjadi wirausaha mandiri dengan modal awal berasal dari donasi itu.

Salah satu rumah itu bahkan berkembang menjadi penampungan bayi dan anak tertelantar. Pengasuh-pengasuhnya adalah beberapa perempuan yang pernah menjadi penghuni rumah singgah itu. Persamaan nasib sebagai ‘orang terbuang’ membuat mereka peduli terhadap nasib anak-anak itu.

Tak banyak yang seberuntung Mai. Memiliki keluarga yang masih begitu mendukungnya.  Ia memang tak terlalu lama berada di rumah singgah Amey. Setelah Qiqi dilahirkannya, mereka berdua kembali lagi ke rumah. Tidak di Surabaya, melainkan Jakarta. Atas kebaikan hati seorang temannya, Rama bisa membangun karir lagi di Jakarta. Membeli rumah di daerah yang tenang. Bersama Hening, memberikan semua yang dibutuhkan Mai dan Qiqi.

Mai sendiri ketika sudah mulai mandiri membuka usaha, mengambil karyawati dari tempat Amey. Ia bertekad untuk membesarkan Qiqi dengan tangannya sendiri dan tak pernah lagi membiarkan benaknya memikirkan Nirwan. Sikap Nirwan sudah jelas. Menolak untuk bertanggung jawab. Menolak kehadiran Qiqi sejak dalam kandungan Mai.

Apalagi...

Sekilas Mai melirik Qiqi yang duduk manis di sebelahnya. Putri kecil kesayangannya yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah singgah Bu Amey. Lalu lintas lengang pada hari Sabtu tidak menghambat perjalanan itu. Bu Amey sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah, karena Mai sudah menelepon perempuan berhati emas itu sebelumnya.

“Qiqi!” Bu Amey berlutut dan mengembangkan tangannya begitu melihat Qiqi turun dari mobil.

Segera saja Qiqi berlari menghampirinya. Kemudian tenggelam dalam pelukan hangat dan ciuman yang bertubi-tubi mampir ke kedua pipinya. Qiqi terkekeh kegelian karena perlakuan hangat Bu Amey itu.

“Qiqi lamaaa sekali nggak ke sini. Oma sampai kangen!” Bu Amey mencium sekali lagi pipi Qiqi.

“Opa mana, Oma?” senyum Qiqi.

“Ada di dalam, di sebelah. Lagi kasih makan koi. Sana, masuk! Opa pasti senang melihatmu datang.”

Qiqi segera berlari kecil masuk ke dalam kediaman pribadi Bu Amey melalui pintu tembusan. Bu Amey ganti memeluk Mai di antara kesibukan Mai menurunkan kardus-kardus dari dalam bagasi mobil.

“Banyak sekali, Mai,” cetus Bu Amey.

“Qiqi cepat sekali besar, Bu,” jawab Mai. Tersenyum lebar. “Tahu-tahu bajunya nggak muat.”

“Hm... Anak-anak jaman sekarang memang tercukupi sekali gizinya,” Bu Amey menyambungnya dengan tawa ringan.

“Qiqi juga merelakan bonekanya yang kecil-kecil untuk ditaruh di sini, Bu. Katanya buat teman-teman di sini.”

“Ah, anak itu...,” Bu Amey menggelengkan kepala dengan wajah diliputi keharuan.

Perempuan berusia enam puluhan itu kemudian memanggil salah seorang pengurus rumah singgah untuk mengurusi kardus-kardus sumbangan dari Mai. Setelahnya, digandengnya tangan Mai untuk masuk ke rumah.

* * *

“Saya bertemu dengan bekas tetangga saya di Surabaya dulu, Bu,” ujar Mai dengan nada rendah ketika mereka duduk di teras belakang rumah Amey.

Qiqi sibuk mengikuti kegiatan Dokter Satya memberi makan puluhan koi di dalam kolam. Laki-laki sepuh itu dengan sabarnya menanggapi seluruh celoteh Qiqi.

“Tanggapannya?” Bu Amey mengangkat alis.

“Saya tahu dia kaget ketika melihat Qiqi. Tapi setelahnya semua berjalan normal. Hanya saja...,” Mai tertunduk.

“Kenapa, Mai?” suara Bu Amey terdengar begitu lembut.

“Saya khawatir bertemu abangnya. Apalagi apartemennya berada di belakang rumah kami. Saya...,” Mai menggelengkan kepala, “Saya... rasanya nggak ada muka lagi untuk bertemu dengannya. Dia dulu... sahabat baik saya.”

“Hm...,” Bu Amey manggut-manggut. “Sebenarnya sudah nggak ada lagi yang perlu disembunyikan, Mai. Hidup berjalan terus. Ke depan. Bukan ke belakang. Kalaupun harus menoleh ke belakang, lakukan itu sesekali saja. Hanya untuk mengukur langkah.”

Mai menghela napas panjang. Ditatapnya Bu Amey dengan mata setengah menerawang.

“Saya jadi berpikir tentang ‘seandainya’ semalaman tadi, Bu,” gumamnya. “Seandainya dia yang saat itu menjadi pacar saya, sepertinya saya nggak akan mengalami hal ini.”

“Tapi nyatanya?” sahut Bu Amey, tersenyum teduh. “Mai, sekian banyak kata ‘seandainya’ tidak akan pernah bisa mengubah sejarah. Pada satu titik, Qiqi mungkin aib bagimu. Tapi di titik yang lain, dia itu berkat yang luar biasa. Tinggal kamu mau berpijak pada titik yang mana.”

“Ya,” Mai mengangguk pelan. “Saya mengerti.”

Senyum Bu Amey melebar. Mai menghela napas panjang.

“Mama,” sela Qiqi tiba-tiba. “Kita bikin kolam kayak ini, dong, Ma. Tuh, ikan koinya cakep banget!”

“Bikin, Mai,” senyum  Dokter Satya. “Nanti ambil ikan dari sini saja.”

Mai tertawa ringan. Ia hanya mengangguk. Belum menjanjikan apa-apa. Tapi tampaknya Qiqi sudah cukup puas dengan gerakan kepala Mai. Gadis itu kembali asyik dengan sang opa dan koinya.

“Oh, iya, tempo hari Grandy menanyakan kabarmu,” celetuk Bu Amey. “Dia titip salam untukmu dan Qiqi.”

Mai mengerjapkan matanya.

Bang Grandy...

Salah satu orang yang berhasil memberinya rasa nyaman adalah Grandy, putra tunggal Dokter Satya dan Bu Amey. Perhatian Grandy padanya dan Qiqi cukup total. Berhasil membuat Mai merasa rikuh. Grandy pula yang turut membangkitkan semangat Mai saat tinggal di rumah singgah.

Ia tahu harapan apa yang disimpan Grandy di balik itu. Tapi ia tak berani balik berharap. Grandy dirasanya terlalu tinggi untuknya. Grandy berhak untuk memperoleh yang jauh lebih baik darinya. Dan perasaan itu membuatnya membatasi diri menghadapi Grandy.

“Qiqi beberapa kali bertanya tentang Bang Grandy,” ucap Mai lirih.

“Grandy juga kangen pada kalian,” senyum Bu Amey. “Karena itu dia belajar dengan keras di sana. Membatasi diri untuk menghubungimu dan Qiqi. Agar dia bisa lebih fokus dan bisa kembali ke sini tepat waktu. Sebelum pertengahan tahun depan dia berharap sudah bisa pulang.”

Mai mendegut ludah. Kepergian Grandy ke Jepang untuk memperdalam ilmu bedah syaraf membuat Grandy makin terlihat melambung di mata Mai. Lebih tinggi lagi.

Dan rasa-rasanya makin tak terjangkau...
                                            
* * *

Ares menengadah sejenak sambil berjalan. Mendung menggayuti langit menjelang sore. Terlihat agak gelap. Tapi sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Ia terus melangkah menuju ke alamat yang diberikan Winda, yang sudah dihafalnya baik-baik. Karena dekat, ia memutuskan untuk berjalan kaki saja ke sana.

Daerah pemukiman kelas menengah itu terlihat cukup tenang. Dinaungi deretan pepohonan besar yang memberikan keteduhan. Jalanan yang membelahnya pun bukan jalanan yang ramai. Sebuah tempat yang tepat untuk sebuah ‘persembunyian’. Seketika Ares meringis menyadari pikirannya yang melantur itu.

Dadanya berdebar makin kencang ketika posisinya makin mendekati nomor rumah yang ditujunya. Tepat ketika ia hendak menjangkau pintu pagar, sebuah mobil melambatkan lajunya dari arah belakang. Kemudian berhenti. Ia menoleh dan mendapati kaca jendela samping kanan mobil itu mulai turun.

“Selamat sore, ada yang bisa dibantu?”

Terdengar suara lembut dari dalam mobil, diiringi keluarnya kepala yang melongok dari jendela. Seketika lidah Ares terasa kelu. Setelah sekian tahun, ia masih sangat mengenali suara itu.

Lalu waktu serasa membeku. Dalam gerak lambat dan ragu-ragu, pengemudi mobil itu membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Menatapnya tanpa kedip dengan mata bulat besarnya yang sempurna.

“Ra...,” hanya itu yang mampu didesahkan Ares.

“Diaz? Diaz!”

Entah siapa yang memulai, keduanya segera saja saling memeluk. Sebuah pelukan hangat yang dipenuhi kerinduan, keharuan, dan kegembiraan sekaligus.

* * *



Ilustrasi : www.decoaro.com



23 komentar:

  1. Haduuuuu tamba garai penasaran ae hloh mb Lis rek !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan ancene dirimu wes niat kemping seh? 😝

      Hapus
  2. Stay Tune lah pokok'e mba Lizz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Mariii, Mbak Mila... πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

      Hapus
  3. Huuuaaaa, berpelukan...... Tambah oke, tambah keren. Piye iki, senen kok suwe yooooo

    BalasHapus
  4. Berpelukaaannn..... :-)
    Setia menanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wokeeeh! Makasih mampirnya, Mbak Alin... 😊

      Hapus
  5. Jan seru tenan ki! Enek Grandy barang. Apik banget dik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur nuwuuun, Mbak Tiwi... 😘

      Hapus
  6. πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»keren tapi hari senin serasa jauh banget Momy πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditinggal bobok sering-sering, Sylla. Hihihi... 😁😁😁

      Hapus
  7. Sambungannya besok aja sih jangan nunggu senin. Kelamaan. Hahaa#ngarep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Makasih singgahnya ya, Mbak Novita... 😊

      Hapus
  8. Balasan
    1. Monggo, Mas... πŸ‘πŸ‘πŸ‘

      Hapus
  9. https://dimazdewantara.blogspot.co.id/

    BalasHapus
  10. Nggak komen ah...

    #mewekdipojokan

    BalasHapus
    Balasan
    1. *sodorin 🍭 sama 🍼*

      😁😁😁

      Hapus