Kamis, 08 September 2016

[Cerbung] Potpourri Di Sudut Hati #4-1









* * *


Empat


Seandainya belum terlalu malam untuk bertamu, ingin rasanya Ares berlari menuju ke area pemukiman yang bertolak belakang dengan letak gedung apartemennya. Detik itu juga.

Ya, Tuhan...

Ares berguling dan menenggelamkan kepalanya pada bantal.

Delapan tahun sudah ia didera perasaan tidak berdaya. Ingin ia merengkuh Rara tapi ia tak punya kuasa apa pun. Usianya masih terlalu muda saat itu. Belum bisa apa-apa. Belum punya pegangan apa-apa.
                    
Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap wajah pucat Rara yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, setelah kejadian Rara nekad minum racun serangga. Menemaninya. Menggenggam tangannya yang terasa dingin dan basah. Menunggu Rara membuka mata. Tapi...


“Rara sudah bangun, Diaz,” ucap ibu Rara lirih, saat ia datang ke rumah sakit sepulang kuliah. “Sudah sadar. Tapi, tolong, biarkan dia sendiri. Biarkan kami sendiri. Jangan menemuinya dulu untuk sementara waktu. Supaya dia tidak makin terbebani.”

Ada permohonan yang sangat tergambar nyata dalam kelam mata perempuan itu. Dan ia hanya bisa mengangguk. Menyetujui walaupun hatinya berontak. Tanpa pernah menduga bahwa ‘sementara waktu’ itu bisa saja berlangsung selamanya. Karena kemudian Rara menghilang. Dengan alasan ikut neneknya. Tapi sesungguhnya ia tak yakin apa memang benar Rara ikut neneknya. Terbukti kedua orang tua Rara ikut menghilang beberapa saat kemudian. Entah ke mana.


Ares berguling lagi. Menelentangkan tubuhnya.

Ternyata selama ini sedemikian dekatnya...

Ares mengerjapkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.

Ra, aku tahu kamu perempuan kuat, hingga kamu mau dan mampu mempertahankannya...

Kerinduan itu jelas masih ada. Sarat memenuhi salah satu sudut hatinya. Tak mudah untuk menyingkirkan kenangan tentang Rara. Walaupun hingga detik ini ia tak pernah berhasil menjumpai jejak Rara di jejaring sosial mana pun. Sehingga segalanya tentang Rara tetap gelap baginya.

Hingga beberapa ratus detik lalu. Ketika Winda menceritakan apa yang dialaminya.

* * *

Hening sempat terpana sejenak sebelum memeluk Winda dengan begitu eratnya. Winda dapat merasakan ada getar dalam napas Hening. Keharuan makin memenuhi hatinya.

“Winda...,” desah Hening. “Kamu sudah dewasa sekarang,” Hening melepaskan pelukannya, merangkum kedua pipi Winda dalam telapak tangannya. “Anak ini... Tambah cantik!”

Winda tak tahu harus mengatakan apa. Semua ini terlalu mengejutkan baginya. Keberadaan Rama sekeluarga baginya seperti tiga batang jarum kecil di tengah segunung jerami. Tak menyangka suatu ketika bisa bertemu lagi dengan keluarga itu.

Kemudian ganti Rama memeluknya. Juga tak banyak kata yang terucap. Lalu gadis kecil itu. Yang mengintip malu-malu dari belakang tubuh kakeknya. Membuat sang kakek segera meraihnya dan memperkenalkan mereka.

“Qiqi, ayo, kasih salam ke Tante Winda,” ucap Rama.

Gadis kecil itu merekahkan senyumnya yang sangat manis. Seketika Winda mengagumi bulu mata super lentik milik Qiqi. Menaungi sepasang mata bulat besar yang serupa dengan mata Rara. Dan dengan hangat tangan kanan mereka saling bersambut.

Setengah mati Winda mencoba menguapkan kekagetannya melihat bahwa gadis kecil yang luar biasa cantik itu hanya memiliki tangan kanan. Tidak tangan kiri. Lengan kiri kaus bergambar lucu yang dikenakannya terpotong dan terjahit rapi. Menutup rapat keberadaan lengan kiri kaus itu.

“Aduuuh...,” gumam Winda. “Qiqi cantik sekali! Sudah kelas berapa?”

“Kelas dua SD, Tante,” jawabnya manis.

Selanjutnya mereka saling mengungkap cerita. Membawa pula Winda ke meja makan untuk menikmati makan malam bersama. Tapi Winda menyadari bahwa Rara lebih banyak diam walaupun sesekali menanggapi dengan sikap sangat baik dan ramah.

Mereka tampak terkejut ketika Winda memberitahu bahwa sudah tiga tahun ini abangnya tinggal di apartemen di belakang lingkungan perumahan itu. Bahkan sudah enam tahun di Jakarta karena Diaz menyelesaikan jenjang masternya di UI. Ia juga menceritakan bahwa ia terpaksa membiarkan abangnya tinggal sendirian dan ia sendiri kost di dekat kampus tempatnya mengajar.

Dari obrolan itu Winda tahu bahwa selamanya keluarga Rama adalah keluarga yang hangat dan saling mendukung. Terutama mendukung si kecil Qiqi yang terlahir istimewa.

Dan ucapan lirih Hening saat mengantarnya ke depan pintu pagar sungguh membuatnya terharu.

“Ada dua pilihan, Win. Menolak atau menerima. Dan kami memilih untuk menerima dan mengubahnya menjadi kebaikan. Menebus kesalahan. Sama sekali tidak mudah. Karenanya kami butuh lingkungan baru. Apalagi kemudian kami tahu bahwa Qiqi...”

Winda mengangguk. Seutuhnya ia mengerti alasan itu.

* * *

An-ta-res Fer-di-az.

Dalam keheningan malam di dalam kamarnya, Mai mengeja nama itu. Ingatannya mengumpul pada satu titik. Antares yang orang-orang terdekat memanggilnya Diaz. Sahabatnya sedari kecil yang tinggal di sebelah rumah lamanya di Surabaya.

Ada banyak kalimat yang diawali dengan kata ‘seandainya’ memenuhi benaknya. Seandainya Diaz tidak sependiam itu. Seandainya Diaz tidak menganggapnya hanya sekadar sahabat. Seandainya Nirwan adalah Diaz.

Seandainya Nirwan adalah Diaz, aku yakin tidak akan mengalami hal itu...

Mai mengusap matanya yang membasah.

Diaz pasti akan menjaganya baik-baik, seperti Diaz selalu melakukannya sejak pertama kali mereka berteman dan bermain bersama. Diaz pasti tidak akan merayunya habis-habisan seperti yang dilakukan Nirwan. Diaz pasti tidak akan mengajaknya terjerumus seperti itu.

Diaz pasti...

Mai menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Sudah telanjur, Rara! Sudah terjadi! Mau kamu taruh di mana mukamu kalau bertemu dengan Diaz?!

Terlalu tinggi rasanya meletakkan harapan pada seorang Diaz. Apalagi kini kondisinya seperti itu. Walaupun ada rasa itu. Rindu yang begitu saja menyeruak  masuk dan bermukim dalam hati. Rindu yang pernah muncul berkali-kali dan ditindasnya dengan sejuta rasa lelah.

Entah bagaimana menghapusnya lagi.

* * *

Ares terjaga ketika hidungnya membaui aroma wangi tumisan bumbu nasi goreng. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Mengumpulkan nyawa yang masih tercerai berai setengahnya di alam mimpi. Mimpi tentang seorang Rara.

Ia mengerang pelan ketika pening terasa menyergap kepala. Baru ketika malam sudah menggelincir menuju pagi tadi ia bisa terlelap. Diliriknya jam besar di dinding kamar. Sudah hampir pukul tujuh. Pantas saja ada berkas-berkas terang menerobos dari sela tirai jendela.

Winda mengisi sebuah cangkir dengan air panas begitu Ares muncul di pantry. Tampaknya ia sudah memasukkan satu sachet kopi instan ke dalam cangkir itu. Segera saja aroma sedap kopi menyelinap di tengah harumnya bau nasi goreng yang sudah selesai dimasak.

“Mau telur dadar atau ceplok, Mas?” Winda menoleh sekilas.

“Apa sajalah.”

Winda menyodorkan cangkir kopi yang sudah selesai diaduknya pada Ares. Laki-laki itu menggumamkan terima kasih. Winda kembali menghadap ke kompor. Membuat dua buah telur mata sapi sebagai pelengkap nasi goreng yang sudah dimasaknya.

“Perasaan kemarin Mas nggak punya nasi putih,” gumam Ares sebelum menyesap kopinya.

“Iya,” sahut Winda di tengah suara desis minyak panas bertemu dengan isi sebutir telur ayam. “Aku yang masak semalam, terus kutinggal tidur.”

“Hm...”

Ares membuka laci di dekatnya. Ia mendesah ketika mendapati tak sebutir pun obat sakit kepala tersisa di dalamnya.

“Win, bisa minta tolong?” ditatapnya Winda.

“Apa?” Winda balik bertanya, tanpa menoleh.

“Nanti setelah sarapan, tolong, kamu ke apotek di bawah. Beli obat sakit kepala. Bisa?”

Winda berbalik. “Mas sakit?”

Ares menggeleng. “Cuma pening. Kecapekan. Kurang istirahat. Kurang tidur.”

“Oh... Oke.”

Dalam hitungan menit, sudah terhidang dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi.

“Mas nggak punya apa-apa di kulkas,” ujar Winda sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. “Nanti agak siangan aku belanjakan.”

“Nggak usah repot-repot,” Ares mengibaskan tangannya.

“Lagaknya...,” gerutu Winda. “Sudah, nggak usah ngeles. Mas istirahat saja. Tidur. Aku urusin sampai besok.”

“Tumben baik,” Ares nyengir.

Winda mencibir.

Aroma sedap dan rasa lezat nasi goreng itu pelan-pelan membangkitkan nafsu makan Ares. Ketika porsi di piringnya menipis, ia menengok ke arah penggorengan di atas kompor. Masih ada sisa nasi goreng.

“Kurang?” Winda tertawa. “Orang pening, kok, makannya banyak?”

“Laper, Win,” gumam Ares. “Telurnya masih ada?”

Winda menggeleng. “Ya, itu tadi, tinggal dua butir. Makanya jangan protes kalau aku mau belanjakan.”

Ares terkekeh. Rasa peningnya sudah berkurang. Tapi masih terasa sekali.

“Sudah, habis ini Mas mandi, rebahan, aku belikan obat di apotek.”

Ares mengacungkan jempolnya.

* * *

Sepeninggal Winda berbelanja, Ares berbaring di sofa. Obat sakit kepala sudah diminumnya. Sebenarnya pagi ini ia ingin segera menemui Rara. Tapi tampaknya Tuhan belum mengijinkan. Dan ia berusaha untuk bersabar.

Masih ada nanti sore...

Ia mencoba untuk menghibur diri.

‘Kak Rara masih sendiri’, begitu menurut Winda. Membuat hatinya diliputi kelegaan yang luar biasa. Entah kenapa. Dan dering ponsel yang tergeletak di atas meja memutus lamunan itu begitu saja.

Mama...

“Halo, Ma, met pagi,” sapanya halus.

“Kamu sakit?” todong sang ibu, tanpa basa-basi.

“Enggak... Cuma pening sedikit. Banyak kerjaan akhir-akhir ini. Agak kecapekan juga.”

Duh, mulut Winda ini pasti...

“Diaz, semalam Winda sudah cerita sama Mama. Soal Rara. Kamu pasti susah tidur memikirkannya, ya?”

Mom is always right!

“Ya... Gitu, deh,” Diaz meringis.

“Mama nggak mau menyarankan apa-apa. Kamu sudah dewasa. Apa pun yang kamu lakukan, sepanjang itu baik, Papa dan Mama pasti mendukung.”

“Iya, Ma.”

“Oh, ya, akhir minggu depan, Papa dan Mama sepertinya akan ke situ. Kami juga ingin bertemu mereka. Diaz. Sekadar melepas rindu. Namanya juga tetangga. Kita dengan mereka dulu, kan, sudah seperti saudara.”

“Oke. Mungkin nanti sore aku ke sana, Ma. Coba nanti aku ngobrol dulu sama Winda. Anaknya lagi keluar.”

“Oh, Winda di situ?”

“Iya, semalam menginap. Mau sampai besok, katanya. Sekarang lagi belanja.”

“Hm... Oke... Oke...”

“Papa ada, Ma?”

“Baru saja keluar, main tennis. Ya, sudah, Mama juga mau belanja dulu ini. Kamu baik-baik di sana, ya? Jangan telat makan, harus cukup istirahat.”

“Iya, Ma. Salam buat Papa, ya?”

“Ya, nanti Mama sampaikan. Salam Mama untuk Rara sekeluarga, ya, Diaz.”

“Baik, Ma.”

Love you!

Love you, too, Ma.”

Ares menghela napas panjang begitu pembicaraan itu berakhir. Sepertinya menemui Rara adalah ide yang bagus. Untuk menyambung lagi tali persahabatan dan persaudaraan yang sempat terputus.

Ia menguap dan mulai memejamkan mata.

* * *


Selanjutnya


Ilustrasi : www.tobyandroo.com

13 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih singgahnya, Pak Subur... 😊

      Hapus
  2. Aaaawwwww aq nunggu" adegan ketemue.
    Gasido episod iki tibae.
    Kemping maning .......

    BalasHapus
  3. Hyaaaaa.... aku ketinggalan berapa part ini ya. Save ah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak isi presensi = didenda! 😝😝😝

      Hapus
  4. Baru terbit ya jeng...
    Ini aku ngebut baca dari episode 1.
    Maaf baru bisa baca sekarang.
    Lagi ruwet ini.
    Urusan kerjaan dan "kerjaan"...

    As always... 20 jempol... minjem jempol orang serumah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Muakasiiih, Jeeeng 😘😘😘

      Hapus
  5. Selalu nunggu episode selanjute ☺️☺️☺️☺️

    BalasHapus
  6. Ditinggal meeting pak boss. Ngerapel 2 parts. Ajeb tenan dik Lis 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, bukane sek cuti, Mbak? Matur nuwun rawuhipun nggih... 😊

      Hapus