Kamis, 28 Juli 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #18-1







* * *


Delapan Belas


Aku tercenung setelah mendengar penuturan Mbak Arsita.

Tadi aku menemuinya setelah pukul empat sore. Seusai jam kantor. Aku memutuskan untuk melanjutkan langkah ke ruanganku dulu dan meringkas semua barang bawaanku sambil menunggu jam kantor benar-benar berakhir. Walaupun itu hanya sebagai alasan saja. Pada kenyataannya, aku perlu waktu untuk sekadar menenangkan diri.

Perasaanku mengatakan bahwa maksud kedatangan Mbak Arsita untuk menemuiku berkaitan dengan Irvan. Aku tahu ia kakak yang sayang sekali pada adik satu-satunya yang ia miliki itu. Kalau ia ikut mengomeliku juga, aku belum siap. Tapi jam kantor seakan enggan berkompromi. Sisa waktu beberapa belas menit bagaikan sedetik saja bagiku.

Aku tak punya pilihan lain. Harus menemuinya.


Langkahku ragu-ragu menuju ke ruang tamu di lobi Timur. Dalam posisi menyamping, ia tampak duduk sambil menundukkan kepala. Agaknya sibuk dengan ponsel yang ada dalam genggamannya di atas pangkuan. Dua kali aku mendegut ludah sebelum menyapanya.

“Mbak Arsita, selamat sore...”

Seketika ia mengalihkan tatapannya dan menoleh ke arahku. Senyumnya yang manis terkembang seiring dengan posisinya yang berubah. Ia kini berdiri, menyambut uluran tanganku.

“Sore, Ri.” Jabat tangannya terasa mantap menggenggam tanganku.

“Maaf, Mbak,” aku kemudian duduk di atas sebuah sofa kecil, cukup dekat dengan posisi duduknya semula, “aku tadi keluar. Ada meeting dengan klien.”

“Oh, nggak apa-apa, Ri,” Mbak Arsita menggoyangkan tangannya. “Nggak apa-apa. Salahku juga nggak menghubungimu lebih dahulu. Tadi aku malah nyasar ke kantor lamamu.”

“Oh, ya?”

“Iya,” Mbak Arsita meringis. “Setahuku kamu kerja di Eternal Beverages. Nggak tahunya kamu sudah pindah ke sini.”

“Baru tiga hari ini, kok, Mbak. Langsung sibuk. Jadi belum sempat kabar-kabar. Lagian Mas Irvan...,” lalu aku kehilangan kata.

“Ya, aku mengerti,” Mbak Arsita mengangguk dengan sorot mata prihatin. “Hm... Sekarang kamu sudah selesai kerja atau ada overtime, begitu?”

“Sudah selesai, Mbak.”

“Hm...,” mata Mbak Arsita tampak menimbang-nimbang sesuatu. “Ada tempat buat kita ngobrol enak?”

“Oh...,” aku mengerti. “Ada kafe di seberang situ. Tapi aku belum pernah ke sana. Jadi nggak tahu tempatnya nyaman atau tidak.”

“It’s OK!” Mbak Arsita kembali tersenyum. “Kita ke sana?”

Aku mengangguk.

Lima menit kemudian kami sudah duduk berhadapan di dalam kafe itu. Ternyata tempatnya cukup nyaman. Dengan pelayanan yang ramah dan suasana teduh yang berasal dari alunan musik jazz instrumental yang berkumandang dengan volume pas di telinga melalui pengeras suara di setiap sudut. Lalu aku duduk diam. Menunggu.

“Jadi begini, Ri...,” Mbak Arsita mengucap halus. “Aku tahu Irvan sedang marah padamu. Awalnya aku sama sekali nggak tahu masalahnya. Tapi Irvan cerita pada Mbak Erina. Soal investor restonya. Itu juga setelah didesak Mbak Erina karena Irvan bilang mau pinjam apartemen lagi.”

“Lalu Mas Irvan tahu dari mana?” aku mengerutkan kening. Sedalam-dalamnya.

“Irvan mendengar Papa dan Mama sedikit ribut soal uang,” jawab Mbak Arsita di ujung helaan napas panjangnya. “Jadi waktu itu Irvan baru pulang dari kontrol ke dokter. Diantar sama Mas Kelvin. Pas Papa sama Mama ngomong rada kenceng soal uang.” Mbak Arsita kembali menghela napas panjang.

Aku masih menatapnya.

“Mama bermaksud mau pinjam uang Papa buat modal belanja berlian lagi,” suara Mbak Arsita melirih. “Selama ini, kan, Mama dagang berlian buat isi waktu luang. Perputarannya bagus, untungnya lumayan. Papa heran gimana modal Mama bisa habis sampai harus pinjam dari Papa. Di situ Mama baru terus terang kalau uangnya dipakai untuk mengganti modal Irvan melalui kakekmu. Irvan dengar semua itu.”

                                                                                                            
Seorang pramusaji hadir menyeruak membawakan minuman pesanan kami. Memaksaku lepas dari kondisi tercenung. Hm... Aku mengerti sekarang... Setelah ia menjauh, Mbak Arsita kembali menatapku.

“Dia marah. Sampai sekarang belum pulang ke rumah,” mata Mbak Arsita mengaca. “Di apartemen juga nggak ada. Dari Teddy aku tahu, Irvan menginap di resto. Tidur di kantornya.”

Aku terhenyak.

“Seutuhnya aku bisa memahami kemarahan Irvan,” lanjut Mbak Arsita. “Bagaimanapun dibohongi itu rasanya sakit. Tapi di sisi lain aku juga paham, bahwa kalian merencanakan itu dalam situasi terjepit. Lagipula aku kenal Irvan. Dia lebih bisa menerima pertolongan orang lain daripada keluarganya sendiri. Apalagi saat itu situasinya benar-benar lagi genting.”

Kuusap wajah dengan kedua belah telapak tanganku.

“Semalam aku marahi Irvan,” Mbak Arsita mengangkat bahu. “Aku semprot habis-habisan. Aku cuci-peras. Aku tekankan, seharusnya dia bersyukur mendapat pacar seperti kamu, Ri. Bukan malah ngambek seperti itu. Kalau kamu jadi marah karena Irvan begitu childish, aku paham sepenuhnya. Maafkan Irvan, ya, Ri? Maafkan Mama karena sudah melibatkanmu seperti ini.”

Kuhela napas panjang.

“Mbak, sebetulnya semua ini karena aku juga,” ucapku kemudian, patah.

“Ya, aku sudah tahu,” sergah Mbak Arsita, halus. “Mama sudah menceritakan semuanya. Kami justru berterima kasih padamu, Ri. Kamu begitu memahami Irvan.”

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Kami masih berusaha menyadarkan Irvan. Membuka pikiran Irvan. Agar ia tak lagi marah padamu. Tolong, sabar, ya, Ri...”

Aku mengangguk tanpa kata.

Hanya kesibukan bekerja sajalah yang bisa membuatku sedikit mengalihkan perhatian dari rasa sesakku bermasalah dengan Irvan. Aku benar-benar ingin mengurai benang kusut itu, tapi belum kesampaian juga karena alasan klasik. Sibuk. Belum ada waktu. Jadi, yang bisa kulakukan sekarang hanya bisa menunggu.

“Hm... Jadi sekarang posisimu memang harus pindah-pindah begini, Ri?” Mbak Arsita mulai mengalihkan topik pembicaraan.

“Ya...,” senyumku. “Apa kata boss sajalah, Mbak.”

“Bukannya boss-nya familimu sendiri?” alis Mbak Arsita bertaut sedikit.

“Iya, omku. Adik Papa. Tapi tetap saja kami semua harus mulai dari bawah. Supaya lebih memahami segala aspek dalam perusahaan dengan lebih baik.”

“Papa bercerita tentang teguran Eyang Har,” senyum Mbak Arsita. “Belakangan ini Papa banyak sekali berubah. Menjadi jauh lebih baik. Lebih mau mendengarkan. Membuat Mbak Erina dan aku sendiri lebih nyaman berada di tempat kami sekarang bekerja. Begitu juga Irvan.”

Kuhela napas lega. Juragan Banyu Wibowo sudah bukan lagi perkara pelik bagiku. Tinggal anak bungsunya. Entah akan berjalan seperti apa.

* * *

Mbak Arsita dan aku berpisah di tempat parkir Eternal Rubberplast, tempat kami menitipkan mobil. Jam digital di dashboard menunjukkan angka 05:43 PM. Langit di luar jendela mobilku masih cukup terang. Entah kerasukan apa, begitu saja aku mengarahkan mobilku menuju ke Godhong Gedhang.

Ya, aku memang harus bersabar. Tapi tak ada salahnya melihat sejenak keadaannya, kan? Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia perlu sesuatu? Apakah ia merindukanku?

Oh, no! Itu aku! Merindukannya.

Dari dalam mobil, aku melihat Godhong Gedhang cukup penuh. Setidaknya, dua buah meja beserta kursi pelengkapnya di bawah kanopi terisi. Aku melangkah lebar menyeberangi tempat parkir. Senyum Maya menyambut begitu aku membuka pintu.

“Mbak Riri!” sapanya dengan wajah cerah. “Lama nggak ke sini?”

“Iya, May,” aku membalas senyumannya. “Aku sibuk. Pindah kantor lagi. Gimana di sini?”

“Baik-baik saja, Mbak,” angguknya.

“Mas Irvan sudah mulai shooting lagi?”

Maya menggeleng. “Belum. Katanya, sih, minggu depan. Tapi di sini sudah aktif walaupun belum penuh.”

“Oh...,” aku manggut-manggut. “Sekarang, Mas Irvan di mana?”

“Wah, kurang tahu, Mbak.”

“Nggak di sini?”

Maya menggeleng. “Tadi siang pamitan pergi. Sama bilang, mungkin malam nggak balik ke sini.”

“Oh...”

Diam-diam ada kelegaan dalam hatiku. Kalau Irvan tidak kembali ke sini, berarti ia pulang atau ke apartemen Mbak Erina. Baguslah! Mungkin kadar ngambeknya sudah berkurang.

“Ya, sudah, May,” senyumku. “Aku langsung pulang saja, deh!”

“Lho, nggak makan atau minum dulu, Mbak?”

Aku menggeleng, mengucapkan terima kasih, sambil meneruskan niatku untuk undur diri. Soreku jadi terasa lebih cerah saat ini. Terasa ada beban yang mulai terangkat. Beban yang selama ini seolah menggayuti bahu dan hatiku.

Pak Wahid menyambutku seperti biasa begitu mobilku sampai di depan pintu pagar. Ia selalu berkeras untuk menjalankan tugasnya memasukkan mobil ke garasi. Dengan senang hati aku keluar dan menyerahkan semua urusan padanya.

Aku melangkah ringan masuk ke dalam rumah melalui garasi. Biasanya kalau pulang sore seperti ini, Kakung dan Uti kujumpai tengah duduk menikmati cemilan di teras depan. Tapi kali ini teras kosong. Kuteruskan saja langkahku.

Makin dekat ke arah dapur, hidungku mencium aroma gurih yang sangat kukenal. Hm... Saus kacang gado-gado. Seleraku langsung terbit karenanya.

Ti...,” aku melongok melalui pintu dapur. “Bikin gado-gado, ya?”

“Sudah pulang, Ri?”

Aku hampir saja jatuh terjengkang. Kaget setengah mati. Sosok tinggi besar itu mendadak muncul begitu saja di hadapanku. Mengenakan celemek merah kesayangan Uti. Dan Uti mengintip dari balik tubuh nyaris raksasa itu. Tersenyum simpul.

“Gado-gadonya hampir siaaap...,” ucap Uti dengan suara berirama. “Asli buatan Irvan.”

Aku masih terpana. Kudapati ada cahaya kerinduan bermain di matanya.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja aku sudah tenggelam dalam pelukannya.

* * *




12 komentar:

  1. Diracik dengan bumbu khas seperti milik Chef Irvan juga mungkin, ya, fiksi ini? Sedap BANGET, gak hambar!

    BalasHapus
  2. Suka ending episod kali ini. Kayak ada manis-manisnya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whoaaa... Kayak air mineral pegunungan alami dunkz? 😝 Makasih dah mampir, Mas Pical...

      Hapus
  3. Sesuke rabi, yiiihhaaa.....!

    BalasHapus
  4. Uuwwwww to twiiiit ......
    Cinta soro kambek endinge part ini mb Lis !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaaah... Komenmu nyangsang ndek spam, Niiit!
      Suwun yooo 😘😘😘

      Hapus