Kamis, 21 Juli 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #16-1





Sebelumnya



* * *


Enam Belas


Pelan kuhapus airmata yang tak berhenti meleleh sepanjang chatting panjangku dengan Papa tadi. Aku memang lebih sering chatting dengan Mama daripada dengan Papa. Tapi aku tahu segala hal tentang aku dan adik-adikku akan sampai juga ke telinga Papa. Kami saling merindukan. Itu pasti. Semua tersirat dari kalimat-kalimat yang dituliskan Papa. Kalimat yang sepenuhnya membuatku terseret ke dalam pusaran haru karena benar-benar kurasakan kasih sayang Papa yang begitu besar bagiku.

Tugas Papa di Spanyol baru akan berakhir pertengahan tahun depan. Terasa sekali lamanya. Kuhela napas panjang sambil mematikan laptop. Jam besar yang tergantung di dinding kamar jarum pendeknya menunjuk angka tiga dan jarum panjangnya hampir menyentuh angka sepuluh. Aku menguap, tapi rasanya susah untuk tidur lagi. Tadi aku sengaja menyetel alarm jam dua belas malam supaya tidak ketinggalan acara chatting dengan Papa.

Sambil berbaring kembali, aku menatap langit-langit kamar dalam keremangan. Ingatanku kembali pada kejadian sore hari sebelumnya, saat Mbak Arsita dan aku digiring masuk ke dalam kamar rawat Irvan oleh Bu Mawarni.


Tirai tersingkap begitu kami bertiga masuk ke dalam kamar. Mbak Arsita segera mendapat kecupan ringan di keningnya dari Pak Banyu. Dan senyum Pak Banyu mengembang ketika melihatku. Aku segera menghampiri untuk menyalaminya.

“Riri langsung dari kantor?” tanyanya, dengan nada penuh perhatian.

“Iya, Pak,” anggukku.

“Riri tadi kelihatannya lama, lho, di luar,” celetuk Mbak Arsita.

“Lho, kenapa tidak langsung masuk?” kening Pak Banyu berkerut.

“Katanya, nggak mau mengganggu,” senyum Mbak Arsita melebar. “Papa lagi menyuapi Irvan.”

“Oh...,” Pak Banyu terkekeh. “Cuma pisang ini, Ri.”

“Terus, tadi kenapa Riri berurai airmata begitu?” pertanyaan Mbak Arsita terdengar begitu telak.

Seketika semua mata menatapku. Aku jadi kikuk. Akhirnya aku hanya meringis tak jelas.

“Euh... Mendadak ingat... sama Papa. Jadi... kangen,” jawabku, terbata.

“Oh...,” Bu Mawarni segera merengkuhku. “Iya, papamu masih di Spanyol, ya?”

Aku mengangguk. Hening sesaat sebelum Irvan memecahkannya dengan suara lirihnya.

“Ri, gimana pesanku kemarin?”

“Oh, ya,” aku mengangguk.

Kukeluarkan catatan kecil dari dalam tasku. Lalu aku mulai membacakan semua laporan yang kudapat dari Teddy, asisten Irvan di Godhong Gedhang. Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa Pak Banyu, Bu Mawarni, dan Mbak Arsita pelan-pelan meninggalkan Irvan dan aku. Aku pun duduk di kursi di sebelah ranjang Irvan.

“Terima kasih, ya, Ri...,” tangan Irvan menepuk lembut punggung tanganku

“Sama-sama,” senyumku. “Semua beres, kok. Jangan khawatir. Oh, ya, shooting-nya bagaimana?”

“Libur dulu. Masih ada stok beberapa episode. Aman, kok.”

Irvan menatapku, masih dengan sorot mata agak sayu, tapi tetap terlihat dalam.

“Ri,” bisiknya, “benar kamu tadi menangis karena kangen papamu? Bukan hal lain?”

Aku segera mengangguk. “Iya, kok. Terharu mendengar bujukan papa Mas Irvan, pas mau menyuapi. Lalu begitu saja aku teringat Papa. Karena Papa juga selalu begitu. Tadi aku kirim SMS ke Papa. Dan Papa langsung meneleponku. Janjian mau chatting nanti malam.”

“Oh...,” tangan Irvan terulur, mengelus-elus kepalaku. “Papa sekarang bisa memahami aku, Ri. Kembali hangat seperti dulu.”

“Syukurlah,” senyumku melebar. “Aku senang banget mendengarnya.”

“Selamat sore...”

Aku menoleh. Seorang perawat berwajah cerah datang membawa senampan makanan. Jatah makan malam Irvan.

“Mas Irvan, ini makan malamnya. Tolong, dihabiskan, ya? Biar cepat pulih,” perawat itu dengan cekatan meletakkan nampan di atas meja di dekat ujung ranjang Irvan.

“Iya, Sus, terima kasih.”

“Sama-sama. Saya tinggal dulu, ya?”

Begitu perawat itu berbalik, aku segera menarik meja agar dekat dengan Irvan.

“Sebenarnya aku masih kenyang,” desah Irvan.

“Masih mual?”

“Sedikit.”

“Pusing?”

“Banget.”

“Mau rebahan dulu atau makan dulu?”

Irvan menatapku dengan bimbang. Aku balik menatapnya.

“Kalau aku paksakan makan, takutnya malah muntah, Ri.”

“Ya, sudah, makannya ditunda sebentar. Mas Irvan rebahan dulu. Tapi tetap harus makan, ya?”

Irvan mengangguk. Aku kemudian membantunya mengembalikan ranjang ke posisi datar. Ia kemudian berbaring miring. Menghadapku. Aku mengelus kepalanya.

“Papa baik padamu?” Irvan mengerjapkan mata.

“Iya,” anggukku.

“Papa sebetulnya baik, kok, Ri.”

“Iya, aku tahu. Kemarin sempat ngobrol agak banyak.”

Irvan tersenyum tipis, kemudian mengatupkan matanya. Kuulurkan tanganku untuk mengurut lembut pelipisnya.

“Enak,” gumamnya.

“Tapi jangan lantas tidur,” sergahku pelan. “Belum makan.”

“Iyaaa...,” Irvan tersenyum sambil tetap mengatupkan matanya.

“Irvan nggak makan?”

Mata Irvan langsung terbuka mendengar teguran halus itu. Aku menoleh. Pak Banyu sudah berdiri di dekat ujung ranjang Irvan.

“Riri makan dulu, Nak. Itu sudah ditunggu Ibu sama Mbak di luar. Tadi Mbak beli makanan.”

Aku mendengar nada halus pengusiran dalam suara Pak Banyu. Mau tak mau aku menurut. Aku kemudian berpamitan.

“Van, ayo, makan...”

Kudengar suara Pak Banyu di belakangku. Dalam nada membujuk yang kental.

“Papa suapin lagi. Setelah itu kamu mau tidur, terserah. Yang penting sekarang kamu makan dulu.”

Aku membuka pintu dan keluar.


Aku menguap. Sudah hampir pukul empat. Mataku makin lama terasa makin berat.

* * *

Aku terjaga ketika mendengar gedoran pada pintu kamarku. Seketika aku tergeragap. Buru-buru aku meloncat dari ranjang dan membuka pintu. Dan kudapati Uti tengah menatapku dengan khawatir.

“Sudah hampir jam enam, Pluk,” tegur Uti. “Biasanya kamu sudah rapi?”

“Telat bagun, Ti,” kukerjapkan mata berkali-kali untuk mengusir rasa pedas.

“Buruan mandi. Uti siapkan bekalmu. Nanti kamu diantar Wahid saja. Jadi bisa sarapan di mobil.”

Hari ini ada jadwal kunjungan ke pabrik di Tangerang. Mbak Jani menghendaki aku ikut bersamanya. Ia sudah menetapkan waktu keberangkatan. Pukul tujuh pagi dari kantor Eternal Beverages. Dan Mbak Jani bukan orang yang mudah memaafkan keterlambatan.

Aku menyelesaikan acara mandi dan berdandan secepatnya. Hanya butuh waktu kurang dari seperempat jam untuk menyelesaikannya. Dengan setengah berlari kutenteng bawaanku plus sepasang sepatu ke garasi. Pak Wahid sudah siap di belakang kemudi mobilku. Sebelum aku menutup pintu, Uti mengulurkan sebuah kotak.

“Habiskan, Ri,” ucap Uti. “Supaya kamu ada tenaga sampai siang.”

Setelah aku mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan, Pak Wahid segera meluncurkan mobilku meninggalkan garasi. Tak perlu waktu lama untuk segera terhadang kemacetan. Aku memakan sandwich dengan jantung berdebar kencang.

Angka pada jam digital di dashboard serasa berganti terlalu cepat. Harapanku langsung menguap begitu angka menunjukkan 07:00. Mobilku masih dua belokan lagi dari kantor.

Benar saja! Mbak Jani menatapku tajam begitu aku meloncat keluar dari mobil yang dihentikan Pak Wahid tepat di depan teras lobi kantor.

“Jam berapa ini?” tanyanya pendek sambil melangkah cepat ke arah mobil kantor yang sudah siap.

“Maaf, Mbak,” gumamku sambil terbirit-birit mengikuti langkah Mbak Jani.

Dan setengah perjalanan dari kantor ke Tangerang nyaris penuh dengan petuah-petuah Mbak Jani yang seluruhnya diucapkannya dalam bahasa Inggris. Supaya sopir tidak paham bahwa aku tengah ‘dicuci’ oleh Mbak Jani.

“Aku tahu sebetulnya kamu sudah paham itu, Ri,” nada suara Mbak Jani mulai menurun. “Tapi yang akan kamu hadapi besok-besok akan jauh lebih berat daripada sekarang. Kamu harus siap. Dan tugasku adalah menyiapkanmu untuk nanti ditempa lebih lanjut oleh Om Nor. Maafkan aku, ya, Ri...”

“Aku yang harusnya minta maaf, Mbak,” ucapku tulus. “Aku akan lebih tertib lagi.”

“Terus, kenapa kamu bisa telat bangun?”

“Mm...,” aku ragu sejenak. Tapi sepertinya Mbak Jani menunggu jawabanku. “Aku chatting dengan Papa. Dari tengah malam sampai hampir jam tiga. Tapi sebelum dan sesudah itu aku sempat tidur, kok.”

Mbak Jani terdiam. Hanya menatapku lama dengan sorot mata prihatin. Tapi sungguh, bukan maksudku untuk diberi belas kasihan seperti ini. Huft...

* * *

Selanjutnya


10 komentar: