Jumat, 01 Juli 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #12-2







* * *


Tentu saja aku tahu siapa itu Mawarni Wibowo. Seorang perempuan hebat yang tegak berdiri mendampingi Banyu Wibowo meraih suksesnya, hingga keduanya memiliki tiga orang buah hati. Si sulung Erina Wibowo, si tengah Arsita Wibowo, dan si bungsu Irvan Wibowo. Dan ia sekarang meluangkan waktu untuk menemuiku? Sepertinya berkaitan dengan anak bungsunya. Tapi apa?

Aku melangkah keluar dari kamar dengan ragu-ragu. Masih kupakai baju yang sama dengan yang kupakai bekerja sepanjang hari tadi. Hanya sempat meletakkan tas dan laptopku di kamar, kemudian mengganti alas kakiku dengan sepasang sandal flat.

“Selamat sore, Bu...,” ucapku. Nyaris berbisik.

Ia mengalihkan tatapannya dari taman depan di luar jendela padaku. Bibirnya mengulas senyum. Sambil berdiri, ia menyambut uluran tanganku. Jabat tangannya terasa hangat.

“Selamat sore, Riri. Apa kabar?”

“Baik, Bu,” senyumku. “Silakan duduk.”

“Terima kasih,” angguknya.

Sejenak kemudian kesunyian tercipta di antara kami. Jujur, aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa.

“Sebelumnya, Ibu minta maaf karena mungkin kedatangan Ibu mengagetkan Riri,” ucapnya kemudian, halus, membuatku diam-diam menarik napas lega.

“Tidak apa-apa, Bu,” aku tersenyum lagi. “Ibu lama menunggu saya pulang kerja?”

“Oh, tidak!” jawabnya cepat, menggelengkan kepala. “Jangan khawatirkan itu.”

Aku mengangguk.

“Hm... Begini, Riri, Ibu ingin bicara masalah Irvan. Ibu minta Riri jujur pada Ibu. Kondisi Irvan saat ini bagaimana?”

Seketika aku tercengang. Ibu Mawarni Wibowo menatapku. Menunggu jawaban. Tapi seolah ia mengerti rasa terkejut yang begitu saja muncul dalam hatiku.

Dihelanya napas panjang. “Ri, sejak ribut dengan papanya, Irvan tak pernah pulang.”

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Irvan? Mas Irvan-ku? Dan aku sama sekali tak tahu hal itu? Astaga!

Aku tersentak ketika Ibu Mawarni berdehem. Ia masih menunggu jawabanku. Aku pun memberanikan diri menatapnya.

“Mas Irvan bercerita soal pinjaman yang hendak ditarik Pak Banyu,” jawabku kemudian. Lirih. “Itu bisa menghancurkan Godhong Gedhang, Bu. Menghancurkan Mas Irvan.”

“Papanya memang keras kepala,” Ibu Mawarni menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa. “Sebetulnya Irvan juga. Hanya saja Irvan jauh lebih sabar daripada papanya.”

Aku tercenung.

“Lalu Riri bermaksud ingin membantu Irvan?”

“Maksud Ibu?”

“Mengusahakan uang untuk Irvan?” senyum Ibu Mawarni.

“Dari mana Ibu tahu?” tanyaku. Nadanya terdengar begitu bodoh di telingaku sendiri.

“Riri curhat pada mama Riri, lalu mama Riri cerita pada papa Riri, lalu papa Riri menghubungi Ibu.”

Aku benar-benar ternganga sekarang. Papa?

“Iya, Ri,” angguknya, seolah tahu isi kepalaku. “Papa Riri teman baik Ibu. Kami berempat bersahabat sejak SMA. Yang dua lagi namanya Anto dan Viska. Dan sesungguhnya, Ibu senang sekali karena Riri ternyata putri sulung Wira.”

“Oh...,” hanya itu yang bisa kuucapkan.

Lalu Ibu Mawarni meminta untuk bisa bicara juga dengan Kakung dan Uti. Lalu Ibu Mawarni menyatakan maksudnya dengan begitu gamblang. Kakung dan Uti saling menatap. Sedangkan aku termangu. Lama.

* * *

Apa yang harus kukatakan pada Irvan? Persis sesuai rencana? Ataukah ditambah sedikit bumbu lain supaya lebih meyakinkan?

Aku paham betul bahwa Irvan pastilah punya harga diri. Tak pernah mudah untuk menerima bantuan dari ‘orang lain’. Dalam kondisi terjepit sekali pun. Tapi aku sudah bersedia untuk memikul tanggung jawab itu. Apa pun resikonya. Hanya saja aku masih gamang. Tapi kami sudah terlanjur berjanji untuk bertemu.

Dan saat itu tiba juga. Detik ini. Saat ia menatapku. Dalam.

“Jadi..., hal serius apa yang kamu mau bicarakan, Ri?” senyumnya.

Aku mendegut ludah. Susah payah.

“Euh... Hm... Ya... Begini...,” aku memberanikan diri untuk menatapnya. “Mas sudah menemukan investor baru untuk Godhong Gedhang ini?”

Ia menggeleng. Terlihat begitu berat.

“Aku sudah.”

Sehalus dan selirih apa pun ucapanku, hal itu tetap saja membuat Irvan terperanjat hebat.

“Maksudmu?”

“Maksudku...,” aku mendegut ludah lagi. “Ada yang bersedia mengganti uang Pak Banyu yang sudah terlanjur tertanam di sini,” sekilas tatapanku menyapu seisi ruangan Godhong Gedhang. “Statusnya tetap pinjaman. Jadi Mas tetap harus mengembalikannya sesuai dengan perjanjian awal Mas dengan Pak Banyu. Mungkin bisa dibuat perjanjian baru yang memberi Mas napas lebih panjang. Yang jelas, Godhong Gedhang dan mimpi Mas tetap bisa terwujud dan terus berjalan.”

“Kamu punya uang sebanyak itu, Ri?” Irvan menyipitkan matanya.

Aku menggeleng. “Aku? Uang dari mana?”

“Lantas?”

Kuhela dan kuhembuskan napas panjang. “Kakung, Mas. Kakung bersedia menjadi investornya.”

Irvan menatapku lama. Kemudian menggeleng.

Cahaya harapanku surut seketika. Tidak ada plan B. Tapi mungkin juga aku harus memikirkan cara lain. Uang itu sudah terlanjur masuk ke rekening Kakung. Sebesar tiga milyar rupiah. Transfer dari rekening pribadi Ibu Mawarni Wibowo.

* * *

Rasanya berdosa juga melibatkan Kakung dan Uti yang sudah sepuh ke dalam masalah ini. Tapi aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Kakung dan Uti menyetujui rencana Ibu Mawarni Wibowo untuk membantu Irvan secara ‘gelap’ tanpa syarat apa pun.

Mungkin cara itu tidak terlalu benar. Tapi bagaimanapun kerja keras Irvan haruslah dihargai. Dan seorang ibu yang lembut hati seperti Ibu Mawarni tentu memahami hal itu. Apalagi mimpi Irvan bukanlah mimpi yang ‘bukan apa-apa’.

Juga bukan hal yang mudah bagi Irvan untuk menyelesaikan jenjang pendidikannya di Le Cordon Bleu. Sejak awal, ayahnya – yang hanya memandang sebelah mata mimpi dan keinginan Irvan – hanya memberi bekal ala kadarnya pada si putra bungsu untuk melanjutkan pendidikannya di Australia. Tidak ada uang lebih. Membuat Irvan setengah mati berjuang untuk bertahan dan meraih keberhasilan, dan memberi bukti pada akhirnya.

Tapi sang Ayah tak pernah terkesan. Terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Irvan sudah mulai meniti keberhasilannya di luar bidang yang sudah didirikan sang Ayah. Ketika ada kesempatan menekan, hal itu yang dilakukan padanya. Suatu hal yang tak pernah dipikirkan dan dilakukan oleh Kakung.


“Orang seperti Banyu itu harus diberi pelajaran,” geram Kakung, hanya beberapa menit setelah Ibu Mawarni meninggalkan rumah kami beberapa hari yang lalu. “Kalau kamu tak berhasil menghadapi Irvan, Kakung yang akan melakukannya.”


Dan di sinilah kami sekarang. Kakung dan aku. Menunggu Irvan menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya, untuk kemudian menemui kami.

Kulihat Kakung menyesap dengan nikmat secangkir wedang jahe hangat. Sikap tenangnya menulariku. Pelan-pelan keteganganku meluruh, sehingga bisa memulai obrolan ringan dengan Kakung di salah satu sudut Godhong Gedhang.

“Selamat sore,” suara itu memotong obrolan asyikku dengan Kakung. “Maaf, Kakung dan Riri jadi lama menunggu.”

Irvan menjabat tangan Kakung dengan raut wajah hormat. Setelah berbasa-basi sejenak, Kakung pun sampai pada maksud kedatangan kami. Dengan sangat halus Kakung menyampaikan keinginan pada Irvan. Pada ujung kalimat-kalimat Kakung, kulihat Irvan tercenung lama.

“Jadi, bagaimana, Van?” Kakung berucap sabar.

“Saya...,” Irvan menatapku dan Kakung bergantian. “Saya... sungguh-sungguh tak mau merepotkan. Apalagi merepotkan Kakung seperti ini.”

“Van...,” Kakung menepuk lembut punggung tangan Irvan. “Kakung pernah seusiamu. Pernah punya mimpi. Pernah punya keinginan. Melihatmu, Kakung seperti bercermin. Lagipula ini bukan pemberian, Van. Ini pinjaman. Kamu punya kewajiban untuk memenuhinya. Untuk melunasinya. Karena itu kamu harus bekerja keras. Dan Kakung yakin kamu bisa.”

Irvan masih tercenung. Tapi beberapa detik kemudian ia menatap Kakung. Masih ada sorot ragu-ragu. Bercampur harapan.

“Bagaimana... seandainya saya... gagal?” suara Irvan nyaris tak terdengar.

“Semua asetmu akan jadi milik Kakung,” suara Kakung terdengar lugas. “Terserah Kakung bagaimana nanti. Mau mempertahankan, menjual, atau justru menutup tempat ini dengan tidak menghapus kewajibanmu membayar hutang pada Kakung.

“Saya...”

“Jangan pernah ingin menjadi pecundang, Irvan,” Kakung menatap Irvan lekat-lekat. “Jangan pernah kecewakan orang yang menaruh harapan padamu. Lebih khusus lagi, jangan pernah kamu kecewakan dirimu sendiri.”

Irvan membuka mulut, tapi tak sedikit pun suaranya keluar.

“Kamu sudah setengah jalan,” lanjut Kakung, tanpa ampun. “Pilihannya tinggal dua. Kamu berhenti, menyerah, dan jadi pecundang. Atau kamu terima tawaran Kakung, berjuang, dan urusan kita selesai dengan baik.”

Irvan menatapku. Seolah mencari kekuatan. Aku mengangguk samar. Irvan mengerjapkan mata. Membiarkan detik berlalu menggulung benaknya. Rasanya seratus tahun berlalu, barulah Irvan memberi jawaban. Lirih, tapi tegas.

“Baik, Kung. Saya akan terima tawaran Kakung, berjuang, dan menyelesaikan kewajiban saya.”

“Itu baru namanya Irvan Wibowo,” Kakung mengacungkan jempolnya dengan wajah cerah.

* * *


18 komentar:

  1. Selamat libur, kita menjelang lebaran, Mbak Lis.
    Mohon maaf lahir dan batin.
    Salamku.
    Tx.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama ya, Mbak... Mohon maaf lahir batin... 😊

      Hapus
  2. Haduuuuuuu melok libur on mbae.
    Gaopo wis.
    Menunggu dg setia ......
    Capcup !

    BalasHapus
  3. good post mbak, selamat berlibur dan ...................

    BalasHapus
  4. Have a nice weekend bu Lis. Menunggu kelanjutan kisah Riri dan Irvan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah tayang lanjutannya ya, Mas Pical... 😊

      Hapus
  5. Kata-kata kakung itu dalam banget lho bu lizz...membakar semangat....pas banget menjelang liburan... :-) Selamat berlibur...

    BalasHapus
  6. Makin penasaran. Jangan-jangan kesalahan Chef Irvan karena ulahnya Pak Banyu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whoaaa... Kesalahan Irvan yang mana nih? 😁

      Hapus
    2. Yang menyetujui perjanjian kontrak program acara masak di Candika TV. Saya kira ini bagian dari permainan Papanya yang meminta orang dalam untuk mengikat kontrak dengan anaknya. (cuma prediksi)

      Hapus
  7. selamat hari raya idhul fitri mbak, mohon maaf lahir bathin.big hug

    BalasHapus
  8. mantan pacarku itu memang jempolan...

    asli !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyooo... Percoyooo... Sayange : mantan, haduuuh... 😱

      Hapus