Rabu, 27 Juli 2016

[Bukan Fiksi] Menjadi Penulis Fiksi Abal-abal Yang Berintegritas. Bisakah?





Penulis fiksi itu 'menjual mimpi'. Meramu fantasi berdasarkan imajinasi dan referensi. Bagi yang piawai, tentu bisa membius pembaca hingga terseret masuk ke dalam situasi 'bohong' yang diciptakan si penulis. Kalau yang levelnya cuma abal-abal kayak saya, ya cuma sekadar nulis aja. Efeknya nggak pernah nge-gas. Tapi kan kiprahnya di dunia fiksi. Sifatnya fiktif. Wajar kan kalo 'ngibulin' pembaca? *dilempar gandhèn*

Terbiasa berjumpalitan dalam dunia 'bohong' berupa fiksi bukan berarti seorang penulis fiksi harus jadi seorang pembohong. Apalagi membohongi diri sendiri. Ini yang bahaya! Karena membohongi diri sendiri itu efeknya dahsyat. Membuat keenakan, ketagihan, kecanduan. Ya kalo cuma menghancurkan diri sendiri itu terserah. Tapi kalo sampai mengganggu dan merusak ketenangan orang lain? Menimbulkan kerugian bagi orang lain? Apa ya nggak amsiooong? Lebih parah lagi kalau terbiasa jadi melebar membohongi orang lain. Amsiooong kuadrat!

Di FC (Fiksiana Community) saat ini tengah heboh membahas kasus plagiarisme. Bukan menimpa dan dilakukan oleh member FC, tapi karena FC berkutat di area fiksi maka soal ini tentunya jadi mendunia di jagat FC.

Jadi ceritanya, ada seorang gadis manis (mahasiswi fakultas sastra) yang beberapa karya fiksinya pernah dimuat di media cetak. Usut punya usut, ternyata ditemukan dua karya yang dimuat itu merupakan hasil plagiasi dari penulis lain. Ada buktinya. Dan sepertinya masih ada lagi hasil plagiasi lainnya dari orang yang sama.

Nyaris semua member FC yang aktif mencela perbuatan itu. Siapa sih, yang mau buah olah pikir dan karyanya diembat begitu saja? Sepenuhnya, cuma diganti judul dan nama penulisnya. Saya saja yang pernah ngalamin 'cuma' dicopas mentah-mentah dan lain waktu terembat salah satu setting fiksi saja suakitnya minta ampun.

Bagi saya, fiksi itu sudah kayak anak sendiri. Berlebihan? Terserah! Lha wong saya kok yang merasakan seolah memelihara janin berupa ide dan segala uborampe-nya, hingga dia tumbuh dan lahir jadi sebuah fiksi utuh. Tahu-tahu, tiba-tiba, ada yang nembung mau pinjam 'anak saya' itu. Saya bolehkan dengan berat hati, tapi 'anak saya' itu cuma ditelantarkan lama. Nggak sembodo sama ketika merengek minta 'pinjam'. Ya, 'anak saya' memang 'kembali' setelah nggak lagi saya pinjamkan. Tapi nggak lama kemudian orang yang sama 'motek' kepalanya, tempat hal pokok dari diri 'anak saya' itu sehingga bisa 'hidup'. Coba gimana rasanya saya sebagai ibunya?

Itu cuma kepalanya doang. Lha gimana rasanya orang  yang 'anaknya diculik'? Karyanya diplagiat mentah-mentah? Dapat keuntungan lagi dari itu! Apa ya nggak tambah ngenes rasanya?

Dunia fiksi memang dunia 'bohong'. Tapi gila rasanya kalo harus menghadirkan 'kebohongan' itu dari ketidakjujuran. Menjadi seorang penulis fiksi bukan berarti harus kehilangan integritas.

Integritas itu artinya "suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat." (Dikutip dari ot.id)
Ada konsistensi, kejujuran, etika, dan prinsip yang berpadu jadi satu dalam konsep integritas itu. Sesuatu yang berangkat dari kesungguhan untuk menghasilkan hal yang terbaik.

Lha wong penulis fiksi abal-abal aja kok nggaya banget ngomongin soal integritas? Entuk pirang perkoro? Lho, penting ini! Orang itu bisa dipercaya karena track record-nya. Kejujuran, kehendak untuk berjalan di rel yang lurus, prinsip, kelakuan, kalo nggak sinkron blas sama yang diomong, terus yang harus dipercaya bagian mananya?

Kalo menyatakan diri benci mencontek, benci plagiarisme, benci imitasi, benci mencuri, sampai nulis panjang lebar soal itu, ya jangan lakukan. Orang kan nggak harus nyemplung sumur dulu untuk tahu kedalaman sumur itu. Atau nggak harus dipukul dulu untuk mengetahui bahwa dipukul itu sakit. Apalagi kalau nekad memukul dulu. Nanti dibalas sentilan malah ngaru-oro seolah-olah jadi orang yang paling menderita sedunia. Boro-boro nyadarin kesalahan, malah melodrama nggak karuan bentuknya.

Penulis yang berintegritas, sekroco apa pun, seabal-abal apa pun, pasti malu kalau ketahuan melakukan itu. Tapi sepertinya kegiatan plagiarisme, pinjam tanpa ijin, ngembat, itu menimbulkan efek ketagihan, kecanduan. Apalagi kalo maunya tampil di depan tapi nggak modal, malas mikir, meremehkan orang lain, merasa senior dan lebih tinggi dari 'junior'-nya, enggan menghargai.

Jadi deh... Semua upaya buruk untuk menghasilkan suatu yang 'wah' malah jadi makanan sehari-hari. Kebohongan dianggap biasa. Susah memisahkan antara yang fiksi dan fakta. Lama-lama bisa jadi nggak waras beneran.

Wes, jadi ngambrah ke mana-mana tulisan ini. Pendeknya, jawaban dari judul di atas adalah : BISA, KALO MAU BERUSAHA, KALO MAU NIAT, KALO MAU KONSISTEN JADI ORANG BAIK, KALO EMANG MAU EKSIS BERKARYA DENGAN CARA JUJUR. Tiap orang itu nggak sempurna. Pasti ada salah dan dosanya. Tapi apa lantas harus memelihara kesalahan dan dosa yang sama dengan berlindung di balik kata 'manusiawi'?

Itu yang membuat diri saya sendiri harus bercermin. Sekarang juga!

* * * * *




5 komentar:

  1. lha itu peribahasa sumur itu lho...

    kalo aku seh kadang-kadang suka coba-coba nyemplung bak mandi.

    #gaknyambung.

    BalasHapus
  2. Saya milih fiksi saya nggak beken, tapi hasil pikiran saya sendiri, daripada mesti boongin banyak orang kalo saya itu kueren! Duh jangan sampe :3

    BalasHapus
  3. Emang ada ya penulis abal2? Hehehe...

    BalasHapus
  4. Sing jelas yoh mb Lis saiki bloge pean resik.
    Wis ganok sing sukak komen ndusel" balesi komene orang laen nyepeti mata wakwakwakwak


    #desiuuuung mblayu ngilang

    BalasHapus
  5. Waaaah, keren nih. Mbok kalo ada yang minat nengok blog ku, hehehe. tak tunggu ya kritik dan saran yang membangun...

    BalasHapus