Senin, 27 Juli 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #25





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #24



* * *


Dan semuanya terjadi begitu saja bagi Anna. Menenggelamkannya makin dalam. Menjadi kekasih Steve. Menerima segala bentuk hujan perhatian dan cinta dari laki-laki itu. Segala sesuatu yang membuai dan melambungkan angan indahnya begitu tinggi. Makin menjauhkannya dari semua angan tentang Rafael. Dan...

Menjadi terlalu jauh. Tanpa Anna pernah sadar sepenuhnya. Tanpa Anna bisa menyalahkan Steve. Karena dia sendiri yang terseret dan terbuai. Walau semuanya karena rayuan Steve.

Dan Steve tak akan pernah melupakan hal itu. Ketika suatu pagi Anna meneleponnya. Dengan suara bergetar. Membuat semua perbendaharaan kehidupan dalam otaknya mendadak terasa menguap. Meninggalkan ruang kosong dan gelap yang begitu luas.

“Mas Steve, aku hamil...”

Steve terduduk lunglai. Bukan karena ingin menghindari tanggung jawab. Dia mencintai Anna. Kariernya sudah mapan. Bisa memberi Anna segala yang dibutuhkan. Dan anak dalam perut Anna adalah benar-benar anaknya.

Dia hanya tak tahu harus bagaimana memberitahukan kehamilan Anna pada mamanya. Hingga dia memutuskan untuk pergi ke Bogor, menemui Rafael. Tanpa pernah siap menerima kemarahan saudara kembarnya itu.

“Kamu sudah gila!” bentak Rafael sambil menggebrak meja kantornya.

Steve tertegun. Tapi pikirannya terlalu kalut untuk dapat mencerna arti kemarahan Rafael.

“Nggak bisakah sedikit saja kamu menjaga kelakuanmu?! Sembarang gadis kamu tiduri! Dan sekarang Anna! Besok siapa lagi?!” suara Rafael yang biasanya sangat sabar terdengar menggelegar.

Steve mengangkat wajah sedetik, untuk kemudian tertunduk lagi. Tak sanggup menerima semburan kemarahan yang menyala dalam mata Rafael.

“Anna itu gadis baik-baik, Steve!” Rafael belum menurunkan nada suaranya. “Nggak seperti semua gadis yang pernah kamu pacari! Kenapa hal seperti ini saja kamu nggak paham?!”

Lalu hening. Rafael menjatuhkan badan ke atas kursi. Ditatapnya Steve dengan letih.

“Kamu tidak memperkosanya kan?” tanya Rafael, getas.

“Aku merayunya,” jawab Steve lirih, jujur. “Dan dia masih polos. Aku...”

“Bicaralah sama Mama,” potong Rafael dengan nada lebih rendah. “Makin cepat makin bagus. Dan kurasa kamu harus menikahi Anna, Steve. Dia tanggung jawabmu.”

“Bisa menemaniku bicara pada Mama?” ucap Steve nyaris tak terdengar.

Rafael menggeleng. “Itu masalah kalian, Anna dan kamu. Kalian hadapilah sendiri. Beranilah menghadapi Mama. Kalian udah dewasa.”

Steve tahu. Sikap Rafael tak lagi bisa ditawar.

* * *

Anna terdiam lama. Ponselnya masih menempel di telinga.

“An...” suara Steve terdengar halus dari ujung sana. “Are you still there?

“Ya,” gumam Anna.

“Aku akan menghadap Mama, An. Setelah itu kita akan menghadap Bang Jemmy,” ucap Steve. “Secepatnya.”

Anna menggigil. Sesungguhnya dia tak sanggup mengatakan apa-apa pada Jemmy. Kalau Jemmy tahu dia hamil sebelum berstatus istri seseorang, bisa-bisa Jemmy menggantungnya di Monas.

Beruntung, kalau kata itu masih bisa dipakai, dia tidak mengalami morning sickness. Hingga Jemmy tidak curiga. Hanya saja haidnya terlambat. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Memaksanya menyadari ada sesuatu yang salah tengah terjadi dengan tubuhnya.

Hanya satu kali. Dan tak dinyana hasilnya akan berbuntut sedemikian panjang. Pada akhirnya hanya ada penyesalan. Yang datangnya selalu terlambat.

Begitu Steve mengakhiri pembicaraan itu, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali melangkah ke seberang pet shop begitu melihat mobil Adita sudah terparkir di depan warung. Entah apa yang mendorong hatinya untuk menemui perempuan itu. Kekasih Rafael.

Mengingat nama Rafael, Anna hampir saja tak sanggup menahan jatuhnya airmata. Dan demi melihat wajah Anna yang kusut masai dengan mata berkaca-kaca, Adita segera menarik Anna masuk ke dalam kantornya.

“Mbak Anna, ada apa?” tanya Adita lembut.

Segala pertahanan Anna pun runtuhlah sudah. Entah berapa lama dia menangis dalam pelukan Adita. Dan gadis itu diam tak mengatakan apa-apa kecuali menampung semua airmata yang dicurahkan Anna. Dia menunggu dengan sabar.

“Aku... hamil...”

Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Anna dengan terbata. Adita mengelus punggung Anna.

“Dengan Mas Steve?” halus suara Adita.

Anna hanya mampu mengangguk.

“Mas Steve mau bertanggung jawab?”

Anna kembali mengangguk.

“Lalu apa masalahnya?”

“Aku... takut bicara... pada Bang Jemmy...,” ucap Anna di tengah sesenggukannya, “... pada mama Mas Steve...”

“Gimana itu bisa terjadi?”

Dan Anna pun menceritakannya. Melepaskan segala beban yang segera dipikulnya begitu kesalahan itu terjadi. Begitu kesalahan itu dia dan Steve lakukan. Tentang dia yang terlalu terbuai dalam pesona Steve. Tentang betapa rayuan Steve sudah membuatnya kehilangan kesadaran dan kontrol diri.

Adita menghela napas panjang. Ditatapnya Anna yang masih sibuk menyusut airmatanya. Batinnya dipenuhi dengan segunung rasa bersalah. Tak akan terjadi hal seperti ini bila Anna menjadi kekasih Rafael. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Rafael sudah menjauh dari kehidupan Anna. Bersamanya. Adita tersenyum getir.

“Aku nggak bisa membayangkan kemarahan Bu Lea dan Bang Jemmy,” keluh Anna.

“Mbak, kita tahu Mbak sudah berbuat kesalahan,” ucap Adita halus. “Tapi kalau Mas Steve dan Mbak mau bertanggung jawab dengan mengakui dan memperbaiki kesalahan itu, kukira Tante Lea dan Mas Jemmy akan mengerti. Marah itu pasti. Hamil sebelum nikah itu bagaimanapun bukan kesalahan sepele. Tapi Mas Steve dan Mbak saling mencintai. Gunakan cinta itu untuk memperbaiki kesalahan yang udah terlanjur terjadi. Dan konsekuensinya tetap harus dihadapi.”

Anna menatap Adita. Lama.

Saling mencintai? Benarkah?

Diam-diam dia merasa makin kecil berada di hadapan Adita. Gadis ini luar biasa, batin Anna, dia lebih pantas mendapatkan cinta Mas Rafael. Menyadari hal itu, entah kenapa Anna ingin menangis lagi.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : Rinai Renjana Ungu #26



4 komentar:

  1. Apik.......nggak rugi nunggu suwi

    BalasHapus
  2. jreng jreng kayak gini nih yg aku tunggu dari kemaren-kemaren...

    JUEMPOOOOLLL... as always.

    BalasHapus
  3. jreng jreng kayak gini ni yg kutunggu dari kemaren-kemaren...

    JUEMPOLLL... as always.

    BalasHapus