Sabtu, 01 September 2018

[Cerbung] Perangkap Dua Masa #3-2









Sebelumnya



* * *



Perasaannya sudah tidak enak ketika dua orang itu masuk ke kafe, dan mengambil tempat di sudut terjauh dari posisinya duduk. Joya yang tengah sibuk bicara mendadak sadar ketika tiba-tiba saja Endra menghening. Ditatapnya pemuda itu. Tengah menjatuhkan arah pandangnya ke titik tertentu. Joya pun mengikuti arah pandang itu. Menengok ke arah belakangnya. Ke sebuah meja di sudut, yang dipakai oleh sepasang pemuda-pemudi kira-kira seusianya dan Endra. Pemudanya terlihat cukup gagah dan tampan, sedangkan si pemudi, ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena posisi duduknya membelakangi mereka. Kembali ditatapnya Endra.

“Siapa, Mas?” usiknya.

Endra tersadar dan menjatuhkan kembali tatapannya pada Joya.

“Yang cewek adik si Erwin,” jawab Endra, dengan nada tak bersemangat.

Joya paham seketika. Ia tahu soal sahabat Endra yang hendak menjodohkan Endra dengan adik bungsunya.

“Yang cowok itu pacarnya?” usik Joya lagi.

Endra mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi itu Bimbim. Sohib si Ernest.”

Joya paham pula, bahwa Erwin punya saudara kembar bernama Ernest. Dan niat keduanya sama persis. Ingin menjodohkan adik bungsu mereka dengan sahabat masing-masing.

Waduh, Mas! Kayaknya kamu kalah set. Joya menatap Endra dengan prihatin.

Endra mengerjapkan mata. Mencoba mengembalikan ekspresinya seceria semua. Tapi sebagian kecil sudut hatinya sudah telanjur tercuil. Joya tersenyum. Dengan lembut ditepuknya punggung tangan kiri Endra yang ada di atas meja.

“Ayo! Semangat!” bisiknya agak keras. “Sebelum ada janur melengkung!”

Endra menyambut ucapan adik sepupunya itu dengan senyum. Selengkung tarikan garis bibir yang terlihat agak dipaksa untuk muncul.

“Jadi, kita bisa balik ke topik semula?” Joya menatap Endra dengan wajah disetel lebih serius.

Endra pun buru-buru mengangguk.

Sebelum Ingrid dan Bimbim masuk juga ke kafe itu, ia dan Joya sedang membicarakan rencana suksesi pucuk pimpinan tertinggi perusahaan keluarga mereka. Saat ini, kendali perusahaan masih dipegang oleh ayahnya, Norman Haryanto, generasi kedua pemilik perusahaan. Tapi sejak Norman kena dua kali serangan jantung dalam kurun waktu tiga tahun, mereka harus realistis. Tampaknya pergantian pimpinan memang harus segera disegerakan.

Awalnya dulu, kandidat terkuat adalah kakak sepupu Endra dan Joya yang tertua. Anjani Arjuno. Tapi karena pernah terlibat kasus skandal yang melibatkan perusahaan, nama Anjani terpaksa dicoret dari daftar.

Kandidat berikutnya adalah kakaknya sendiri. Kania Wirahadi. Saudara satu ibu lain ayah dengannya. Tapi Kania melepaskan kesempatan itu. Selain ia merasa segan terhadap sepupu-sepupunya yang lebih tua dan secara darah lebih kental haknya untuk menjadi ahli waris Eternal Corp., ia juga punya perusahaan sendiri untuk diurusi.

Dua tahun belakangan ini, Forseti Group – perusahaan yang Kania warisi dari keluarga almarhum ayah kandungnya – sedang sedikit goncang. Forseti Group yang pernah Kania lepas untuk diurus orang lain, sedang membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk dikendalikan lebih lanjut. Kabar terakhir, kondisi Forseti Group sudah kembali membaik. Hanya saja, Kania sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Eternal Corp.. Semua memakluminya, karena memang Kania-lah satu-satunya ahli waris yang tersisa dari keluarga Forseti untuk mengendalikan secara langsung laju perusahaan raksasa itu.

Tinggallah kandidat ketiga dan keempat yang malah saling lempar peluang untuk menjadi pucuk pimpinan Eternal Corp.. Prahasto Arjuno dan Ananda Laksmono. Endra tahu ayahnya cukup pusing menghadapi kedua keponakannya itu. Jujur, ia sudah sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya. Maka dari itu, ia kini sedang berusaha menggalang kekuatan untuk ‘memaksa’ Hasto atau Nanda menerima tanggung jawab itu secepatnya. Apalagi keduanya setara, dan sudah tidak diragukan lagi loyalitas dan kemampuannya. Dan, Endra memulainya dari Joya, sepupu terdekatnya. Terdekat baik dari segi usia maupun relasi yang terjalin sejak keduanya masih bayi.

“Kesimpulannya,” Joya dengan serius menatap Endra, “aku nggak masalah kita mau dipimpin oleh Mas Hasto maupun Mas Nanda. Aku pikir kita semua juga begitu. Tinggal Mas Hasto dan Mas Nanda-nya, kan?”

Endra mengangguk. Balas menatap gadis yang berusia dua tahun lebih tua daripadanya itu.

“Coba aku nanti ngomong dulu sama Mas Han,” Joya menyebutkan nama abangnya. “Mas Endra ngomong juga sama yang lain. Kalau sudah, baru kita semua ketemuan untuk menggulirkan soal ini. Minus Mas Hasto dan Mas Nanda tentunya. Supaya pressure kita lebih kuat. Jadi Mas Hasto atau Mas Nanda nggak ngeles-ngeles lagi. Harus mikir juga soal kesehatan Pakde Norman.”

Endra kembali mengangguk. Terlihat puas karena seutuhnya Joya bisa memahami keinginannya.

“Dan, kalau bisa secepatnya,” ia kemudian menambahkan.

Joya mengacungkan jempol. Mendadak kening Endra berkerut. Seolah ia menemukan sesuatu dalam benaknya.

“Eh, gimana kalau aku bikin saja WAG[1] baru?” celetuknya kemudian. “Jadi aku cukup sekali saja ngomongnya.”

“Begitu juga bagus!” Joya menyambutnya dengan antusias. “Jadi kita nggak buang waktu lagi.”

Setelah itu Endra sibuk dengan ponsel dan WhatsApp-nya sambil melanjutkan obrolan dengan Joya. Ketika mereka mengakhiri pembicaraan yang cukup serius itu, meja di sudut terjauh sudah kosong.

Melihatnya, hati Endra mendadak saja terasa kosong juga. Entah ke mana Ingrid dan Bimbim melanjutkan acara malam mingguan mereka. Yang jelas, ia dan Joya sudah berencana menghabiskan sisa hari itu dengan menonton film midnight di bioskop dekat kafe. Film horor kesukaan Joya.

* * *

Hingga berkas-berkas sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela kamar, Endra tak juga bisa memejamkan mata. Tiap kali ia mencobanya, selalu terbayang apa yang dilihatnya di bioskop saat ia menonton bersama Joya.

Ingrid dan Bimbim duduk tepat di depannya dan Joya. Tampaknya kedua orang itu tak tahu bahwa ia ada begitu dekat dengan mereka. Ketika adegan-adegan mengerikan dan memilukan dalam film terus merambat mencapai puncak, ia menjadi saksi bahwa Ingrid berkali-kali menyembunyikan wajahnya di lengan kekar Bimbim.

Pun ketika lampu sudah menyala saat film usai. Tangan Bimbim menggandeng erat tangan Ingrid. Membimbingnya keluar dari deretan kursi. Bahkan merengkuh gadis itu ketika menyusuri lorong bioskop ke arah pintu keluar. Sedikit pun Ingrid tak menyadari kehadirannya.

Endra mengembuskan napas keras-keras. Berharap pening yang bercokol di kepalanya itu akan segera terusir. Sayangnya, rasa itu membandel. Dengan malas, diliriknya jam dinding di atas pintu kamar. Hampir pukul tujuh. Ia menguap lebar dan memutuskan untuk menyegarkan dirinya sejenak.

Keluar dari kamar mandi, ia kembali berbaring. Merenungkan kehidupannya belakangan ini. Tubuhnya sudah terasa sedikit lebih segar, walaupun rasa pening itu belum mau pergi.

In-grid Se-kar-muk-ti Pris-dan-to. Diejanya nama itu tanpa suara.

Ia mengenal Ingrid sejak gadis itu masih baru saja naik ke kelas empat SD. Saat itu ia juga baru saja beberapa minggu duduk di bangku SMP. Ia ke rumah Erwin untuk mengerjakan tugas kelompok bersama beberapa teman baru lainnya. Di situ pula ia lalu mengenal Erma dan Ernest, saudara-saudari kembar Erwin. Ketiga saudara kembar itu bersekolah di SMP yang berbeda.

Awalnya, ia tertarik untuk meng-gebet­ Erma. Tapi beberapa minggu kemudian ia menyadari bahwa remaja seusianya yang cantik dan tomboy itu jauh lebih asyik untuk dijadikan teman daripada pacar. Ingrid? Hanya seorang adik kecil yang lebih cocok untuk disayang-sayang.

Tapi, perlahan waktu mengubah segalanya. Tepat di depan matanya, Ingrid tumbuh, berkembang, dan mekar jadi gadis jelita yang membuatnya berpikir ulang untuk menganggapnya hanya sebagai adik. Hanya saja, melihat bagaimana ketatnya Erwin dan Ernest menjaga si adik bungsu, ia jadi sedikit berpikir ulang dan menunggu saat yang tepat. Apalagi dari Erwin ia pernah mendengar, bahwa Ingrid sudah jatuh cinta setengah mati kepada putra bungsu pemilik sanggar tempatnya selama ini berlatih menari. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Yang membuat ketiga abang dan kakaknya sempat meradang. Yang justru membuat harapannya kembali bersemi.

Rupanya, keberuntungan jatuh juga padanya. Erwin menganggapnya sebagai kandidat yang paling pas untuk disandingkan jadi kekasih Ingrid. Sahabatnya itu getol mendekatkannya pada Ingrid. Sayangnya, Ernest pun memiliki maksud yang sama. Ia punya saingan kini. Bimbim. Sahabat Ernest. Pemuda yang sama sekali ia tak boleh anggap remeh.

Jauh di lubuk hati, ia merasa iri pada Bimbim. Seorang pemuda yang mampu membebaskan diri untuk berani memulai usaha pribadi, walaupun bersifat patungan dengan Ernest. Sementara ia telanjur terjebak di zona nyaman berkecimpung dalam perusahaan milik keluarga.

Tak ada yang memaksanya untuk masuk ke sana, sebenarnya. Tapi melihat bagaimana perjuangan kakek dan ayahnya untuk membesarkan dan mempertahankan perusahaan itu, ia merasa terpanggil untuk ikut bergabung. Mengambil peran sebagai tongkat kecil yang berfungsi untuk menopang, bersama beberapa orang sepupunya. Tidak semua sepupunya ikut masuk, tapi memang sebagian besar berkehendak untuk ikut menyumbangkan waktu, pikiran, dan tenaga di sana. Menjadikan perusahaan yang didirikan oleh sang kakek menjadi lebih besar dan lebih solid lagi.

Untuk lepas dari sana?

Endra menggeleng samar. Mungkin benar bahwa ia enggan melepaskan diri dari zona nyaman. Apalagi ia memang senang berada di sana. Pun, ia mampu mengemban tanggung jawab besar yang dibebankan di pundaknya. Walaupun usianya masih tergolong ‘anak kemarin sore’. Dipercaya untuk menjadi pemimpin tertinggi sebuah anak perusahaan dengan hampir seribu lima ratus karyawan, setelah pemimpin sebelumnya mengundurkan diri karena bermaksud membesarkan marketplace yang sudah beberapa tahun lalu dirintisnya bersama sang istri.

Kembali ia melihat contoh orang yang bersedia lepas dari zona nyaman untuk mandiri. Rinnel, salah seorang sepupu yang kedudukannya ia gantikan. Sekaligus abang iparnya, karena Rinnel adalah suami kakaknya sendiri. Mengikuti jejak Rinnel?

Sekali lagi ia menggeleng samar. Terlalu riskan bagi perusahaan bila ia meninggalkannya. Apalagi semua sepupunya sudah mendapatkan ‘jatah’ sendiri-sendiri dalam formasi yang pas. Lebih dari itu, ia memang tak ingin menambah beban pikiran ayahnya.

“Kayaknya, kamu kekurangan waktu untuk sekadar menikmati hidup.”

Begitu ucap ibunya beberapa minggu lalu. Dan, Mama selalu benar. Dengan jujur ia mengakuinya dalam hati.

Beberapa waktu selepas SMA dan mulai kuliah, petualangannya di berbagai bagian dan jabatan di perusahaan pun dimulai. Seiring waktu, tanggung jawab yang harus diembannya pun makin besar. Belum lagi ia merasa bahwa teori yang dimilikinya belum cukup memadai, sehingga ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2. Waktunya makin tersita. Makin sulit menyelaraskan tanggung jawab dengan hal ‘bersenang-senang’.

Kelihatannya aku memang harus mengatur kembali kehidupanku.

Ia menguap sekali lagi. Kantuknya sudah lama hilang. Ia pun merasa sudah cukup melamun sejak pukul empat dini hari, sepulangnya ia dari mengantar Joya, setelah mereka menghabiskan malam Minggu bersama yang penuh misi itu. Maka, ia pun bangun dan beringsut dari ranjang.

Setelah membereskan ranjang, ia keluar. Menjumpai kedua orang tuanya masih duduk berdua di depan meja makan. Tampak menikmati sarapan sembari asyik bercakap dalam suasana hangat. Ia pun bergabung, dan melarutkan diri dalam kehangatan itu.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Catatan :

[1] WAG = WhatsApp Group.