Kamis, 12 Maret 2020

[Cerbung] Let Me Love You This Way* #2-2











* * *


Hari itu adalah ulang tahun ke-49 Owen. Sengaja dirayakan lebih daripada biasanya, karena usia itulah yang menurut Owen usia ‘seksi’. Seket kurang siji, alias lima puluh kurang satu. Mereka merayakannya lengkap berlima. Rika, Neri, Mia, Owen, dan Kencana. Entah kebetulan atau tidak, hari itu Neri yang sudah berada di seminari tinggi punya kesempatan untuk sejenak pulang ke rumah.

Berhari-hari sebelumnya, Rika cukup pusing menentukan hendak di mana mereka akan merayakan ulang tahun sang kepala keluarga. Di food truck-nya seperti tahun-tahun sebelumnya? Rika buru-buru menggeleng. Kurang istimewa, pikirnya.

Ia sudah punya daftar sekian belas rumah makan dengan rekomendasi minimal bintang empat. Maka, ketika rasa bingung makin menggulungnya, sementara hari ulang tahun Owen makin dekat, ia pun memutuskan untuk memejamkan mata, dan menjatuhkan jari telunjuknya pada satu titik di daftar yang ada di depannya.

Bistro La Lune. Sebuah bistro dengan rekomendasi empat setengah bintang yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Keputusan Rika pun bulat sudah. Ketika ia memberitahu ibunya, perempuan ayu itu pun langsung setuju.

Suasana tenang, nyaman, dan hangat menyambut mereka sore itu di Bistro La Lune. Membuat wajah mereka berlima makin bercahaya.. Sebuah tempat yang ditata untuk berlima sudah tersedia di sudut dekat panggung kecil untuk live music.

Seorang pria tinggi besar berusia awal enam puluhan duduk di panggung itu. Menghadap ke sebuah grand piano, mendentingkannya dengan lembut, sembari menyanyi dengan suara merdunya. “I Believe I Can Fly”.

“Suaranya mirip banget sama James Ingram,” celetuk Mia, ketika urusan pesan-memesan makanan dan minuman mereka sudah selesai.

Gadis remaja itu sudah lama terkontaminasi oleh selera musik ibu dan kakaknya. Kenal beberapa penyanyi gaek, sekaligus menyukai juga lagu-lagu mereka.

“Wah, iya,” sahut Neri, menyadarinya. Tentu saja mereka bertiga, anak-anak Kencana dan Owen, tahu persis kisah cinta orang tua mereka itu.

“Mau di-request-in lagu apa, nih?” tanya Rika sembari meraih secarik kertas kecil dan bolpen yang tersedia pada setiap meja. Sengaja disediakan untuk para pelanggan bistro yang ingin memesan lagu live.

“Aku tahu!” Neri nyengir jenaka. “’Always You’! Lagunya Papa-Mama banget.”

“Ah, ya! Betul!” dukung Rika.

Kencana dan Owen pun tergelak dengan wajah sedikit tersipu. Setelah selesai menuliskan request, Rika pun berdiri dan melangkah ke arah panggung. Dengan sabar, ditunggunya hingga seorang laki-laki berkemeja batik di depannya menyelesaikan urusan request lagu. Beberapa belas detik kemudian, urusannya pun selesai juga.

”Berikutnya adalah permintaan dari meja nomor sembilan,” ujar penyanyi sekaligus pemain piano itu. “Dari Mas Ardi. Ucapannya, ‘selamat ulang tahun untuk istriku tercinta, Wulandari. Semoga selalu dianugerahi kasih, kesehatan, kesabaran, kebahagiaan, dan kesuksesan dalam tiap detik kehidupan di masa mendatang’. Lagunya... ‘For Always’ dari Lara Fabian dan Josh Groban. Wah, harus duet ini. Untuk itu saya panggil putri saya Ruby. Ruby... halo... Ayo, ke sini, temani Papa nyanyi.”

“Asyik, ya, suasana di sini,” celetuk Mia. “Romantis....”

“Hadeeeh... Yang remaja gen Z  dah kenal romantis....” Neri mencolek ujung hidung adiknya.

Mereka berlima tertawa. Ketika makanan dan minuman yang mereka pesan sudah tersaji secara lengkap, tanpa dikomando mereka bergandengan tangan. Mengucap rasa syukur, ucapan terima kasih, dan harapan melalui doa yang dipanjatkan Neri. Kemudian, sambil menikmati alunan lagu merdu dari panggung live music, mereka pun mulai makan sembari bertukar aneka cerita.



 “Berikut ini adalah permintaan dari meja nomor lima. ...”

Ada jeda di sekeliling meja keluarga Owen ketika suara berat dan empuk penyanyi itu menggema, setelah gema tepuk tangan mereda.

“... Ucapannya, ‘happy thirty fifth anniversary for Mama and Papa. From Nick, Ariana, and Iori, Andries, Keke and Maxi. ‘Let Me Love You This Way’, dari James Ingram.”

“Euh... James Ingram juga,” gumam Mia. “Cucok meong emang suaranya.”

Mereka berlima tergelak ringan. Saat itulah tatapan Rika tanpa sengaja jatuh pada seorang laki-laki yang menempati kursi di meja yang tak terlalu jauh dari arah depannya. Meja yang saat ini permintaan lagunya sedang diudarakan oleh sang penyanyi, diiringi denting piano yang indah. Sedetik, mereka bertukar pandang, sebelum sama-sama mengalihkan perhatian ke arah lain.

Kayaknya dia yang tadi antre di depanku, pikir Rika.

Sekilas ia menyapukan pandangan lagi ke arah laki-laki berkemeja batik sogan lengan pendek itu. Walaupun cukup singkat, tapi sudah meninggalkan kesan tertentu dalam hatinya. Entah kenapa.

Ia bukanlah tipe gadis yang mudah menjatuhkan hati pada setiap laki-laki yang bisa dikatakan berpenampilan menarik. Di bawah sadar, ia seolah sudah punya keinginan untuk menemukan laki-laki yang ‘mirip Papa’. Perpaduan antara almarhum ayahnya, yang walaupun lumayan samar dalam ingatan, dengan Owen adalah citra yang sungguh pas dalam angannya. Tapi hingga kini usianya sudah menginjak angka dua puluh enam tahun, ia belum juga menemukannya.

“Terlalu sempurna.” Begitu ‘cela’ Neri. Dan, ia hanya tertawa. Yah, bolehlah standarnya diturunkan sedikit, pikirnya jahil.

Kenapa dia mengusikku banget, sih? Kembali ia menatap ke seberangnya. Tepat saat laki-laki itu menatapnya pula. Buru-buru Rika mengalihkan pandangannya. Tepat pada saat lagu request dari keluarga laki-laki itu berakhir, diiringi riuh tepuk tangan.

“Berikutnya, yang terakhir dari saya untuk hari ini – karena napas saya sudah hampir habis, dan pemusik kami sudah hadir – adalah... ha! James Ingram lagi.”

Terdengar dengung tawa tertahan dari para pengunjung bistro.

“Kali ini dari meja nomor dua. Ucapannya, ‘selamat ulang tahun keempat puluh sembilan untuk Papa Owen tercinta. Semoga dalam usia seksi ini, Papa selalu berada dalam berkat dan perlindunganNya. Dari Mama, Neri, Mia, dan Rika. Lagunya... ‘Always You’. Sebentar....” Penyanyi itu menoleh ke arah meja Owen sekeluarga. Tersenyum lebar. “Kok, bisa usia empat sembilan itu seksi?”

Seket kurang siji, Pak!” jawab Owen dalam derai tawa. “Lima puluh kurang satu.”

Dan, penyanyi itu pun tergelaklah. Demikian pula sebagian besar pengunjung bistro.

“Oh, ya, ya, saya paham,” ujarnya kemudian. “Oke, ‘Always You’ untuk Bapak sekeluarga. Kebetulan ini adalah lagu favorit istri dan saya. Bun....“ Laki-laki itu menatap ke meja yang berada di sisi panggung.

Seorang perempuan berusia awal enam puluhan berwajah teduh duduk di depan meja itu. Sendirian. Mengembangkan senyum manisnya.

“... Lagu ini untukmu juga.”

Terdengar riuh tepuk tangan. Kemudian hening. Dalam ruang itu hanya menggema kedalaman rasa yang dilantunkan oleh sang penyanyi, diiringi piano yang didentingkannya.

Rika tersenyum samar ketika melihat tangan kedua orang tuanya saling menggenggam. Betapa beruntungnya ia boleh menjadi saksi atas cinta-cinta indah yang bertaburan dalam hidupnya.

“Kak...,” bisik Mia tiba-tiba.

“Hm?” Rika menoleh ke kanan, menatap adiknya.

“Itu mas-mas yang pakai batik gelap itu, berkali-kali lihatin Kakak, lho!’

“Lihatin kamu, ‘kali....” Tak urung, ada yang berloncatan dalam hati Rika.

“Ish!” Mia terlihat sebal. Bibirnya mengerucut. “Aku, kan, masih imut. Masa ditaksir om-om?”

Rika terkikik geli.

“Tadi bilangnya mas-mas.... Kok, berubah jadi om-om, sih?” godanya lebih lanjut.

“Hiiih!” Mia melengos.

“Ada apa?” tanya Owen, melihat kedua putrinya, yang satu tertawa, yang satunya lagi terlihat manyun.

Tapi, baik Mia maupun Rika memilih untuk tak menjawab. Hanya nyengir jenaka dan meringis tak jelas.

Rika sama sekali tak menyangka, bahwa ia akan segera bertemu lagi dengan laki-laki menarik itu. Tak butuh waktu lama. Hanya keesokan harinya saja.

* * *


Catatan:
Kisah penyanyi-pianis bistro dan istrinya dalam episode ini dapat dibaca dalam versi pdf berbayar. Bisa hubungi saya bila berminat. Terima kasih. 🙏🏼

Ilustrasi : www.pixabay.com, dengan modifikasi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar