Sabtu, 26 Mei 2018

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #7-2








Sebelumnya



* * *


Tangis Wilujeng tumpah di atas sebuah makam kecil di belakang pondok pasangan Sentono dan Winah. Diam-diam Kresna mengusap air matanya sambil ikut bersimpuh di sebelah Wilujeng. Makam kecil itu tak bernama, tapi masih terawat dengan sangat baik. Sementara itu Pinasti berdiri agak di belakang bersama Suket Teki. Sedangkan Paitun menunggu di pondok Sentono dan Winah.
  
Suket Teki menyentuhkan telapak kaki kanannya ke badan Pinasti. Perawan Sunti cantik itu pun menoleh sekilas.

‘Mahkota bungamu bagus,’ puji Suket Teki.

Pinasti tersipu. Di puncak kepalanya memang bertengger sebentuk mahkota yang terbuat dari bunga-bunga liar warna-warni yang diambil dan dirangkai Kresna pada sepanjang perjalanan mereka berlima dari Bawono Kinayung menuju Bawono Sayekti. Sejujurnya, ia merasa tersanjung sekali dengan perlakuan Kresna itu. Kresna tak banyak bicara, tapi sikapnya sungguh menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi Pinasti.

Tapi, mendadak saja kesedihan menghinggapi hati Pinasti. Kalau Wilujeng dan Kresna kembali ke ‘atas’...

... lantas bagaimana denganku?

‘Aku akan menjagamu, Nduk...’

Pinasti kembali menoleh ketika mendengar suara lembut Suket Teki menggema dalam benaknya. Tapi perawan sunti itu tak berkata apa-apa. Terlalu sedih memikirkan perpisahan yang sepertinya akan terjadi tak lama lagi.

‘Kelak, Nini Paitun tak akan membiarkanmu larut dalam kesedihan,’ ujar Suket Teki lagi.

Pinasti mengangguk. Sungguh, ia tak meragukan ujaran Suket Teki, walaupun tak memahami bagaimana hal itu kelak bisa terjadi. Pinasti menoleh ke arah makam ketika merasa ada gerakan dari arah sana. Rupanya Wilujeng dan Kresna sudah menyelesaikan ziarahnya. Lengan kukuh Kresna melingkari bahu Wilujeng ketika keduanya berjalan menghampiri Pinasti dan Suket Teki.

Masih ada sisa-sisa kesedihan menggayuti wajah Wilujeng. Tapi perempuan itu berusaha ikhlas. Bagaimanapun si kecilnya sudah berada di Surga. Makamnya pun terawat dengan sangat baik. Sama seperti beberapa makam yang berjajar rapi di tempat itu.

Tangan Wilujeng terulur, menjangkau bahu Pinasti. Memeluknya sambil berjalan ke arah pondok Sentono dan Winah. Mereka bertiga kemudian masuk lewat pintu belakang yang terbuka lebar, sementara Suket Teki memilih untuk langsung ke beranda depan, duduk menunggu di sana.

“Sudah?” senyum Winah menyambut ketiganya ketika muncul di dapur luas serupa yang ada di pondok Paitun.

Wilujeng mengangguk, dan duduk di sebelah Paitun. Kresna dan Pinasti memilih untuk duduk di atas balai-balai di pojok ruangan. Sekilas, Winah menatap keduanya. Tersenyum.

“Indah sekali rasanya bila melihat belahan jiwa duduk berdampingan seperti itu,” bisiknya.

Paitun pun ikut tersenyum. Ditatapnya Winah.

“Aku belum memberi tahu mereka soal itu,” ia berbisik juga. “Biarlah waktu yang akan bicara.”

Winah mengangguk. Tatapannya kemudian beralih pada Wilujeng.

“Kelak, pada waktu-waktu tertentu kamu masih akan dapat mengingat tempat ini,” ucapnya. “Selebihnya, ingatanmu akan terhapus. Begitu pula Kresna. Juga Pinasti. Karena hidup kalian akan terus berlanjut.”

Wilujeng termangu sejenak sebelum menggumam, “Tapi Mak Paitun bilang saya tak bisa membawa Pinasti. Bagaimana dia nanti?”

“Jangan khawatirkan itu, Jeng,” Winah menepuk lembut bahu Wilujeng. “Gusti sudah menggariskan jalan hidup yang terbaik buat kalian. Jangan khawatirkan juga makam bayimu. Sampai kapan pun akan tetap kami rawat baik-baik.”

“Terima kasih banyak, Mak,” Wilujeng mengangguk takzim.

Sebetulnya masih banyak pertanyaan dalam benak Wilujeng. Tentang Kresna, Pinasti, dan ia sendiri. Tapi karena terlalu banyak, tanya itu tak bisa terungkap dari mulutnya. Paitun mengerti. Ditepuknya lembut bahu Wilujeng.

“Kita masih punya waktu, Nduk,” ucap Paitun. “Pelan-pelan kamu akan mengerti.”

Wilujeng kembali mengangguk.

* * *

Sama sekali tak sulit untuk mendapatkan alamat rumah Alex di Gondang. Seta bersama para sahabatnya sudah pernah berlibur ke sana. Menjelang siang ini, Yopie pun meluncurkan SUV-nya ke arah Gondang, melalui jalur Gunung Pedut. Ada Mahesa, Aksan, Sagan, dan Seta bersamanya. Rizal absen, karena sudah telanjur memesan tiket pesawat untuk pulang ke Sanggura di pulau seberang. Jadwal penerbangannya kemarin sore.

Mereka berenam sudah membicarakan hal ini siang kemarin. Dugaan mereka pun makin kuat. Mengerucut pada nama satu tersangka. Alex. Karena posisinyalah yang terdekat dengan Kresna saat peristiwa itu terjadi. Walaupun masih juga tak habis pikir kenapa Alex bisa melakukan hal itu.

Mahesa menatap dengan kosong ke arah jurang-jurang sepanjang jalur Gunung Pedut. Sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi, baru kali ini ia melalui kembali jalur Gunung Pedut. Pun Seta. Wajahnya terlihat murung. Bagaimanapun kecelakaan yang pernah terjadi dan menimpa mereka sekeluarga di Gunung Pedut adalah kesalahannya.

Pada suatu titik waktu, Mahesa menyadari keheningan Seta. Ia menoleh ke sebelah kirinya. Pelan, tangannya terulur, menggenggam tangan kanan Seta. Pemuda itu sedikit tersentak. Dan, tatapan mereka bertemu.

“Yang penting adalah mengikhlaskan semua yang pernah terjadi,” gumam Mahesa.

Seta mengerjapkan mata. Tak pelak, ia bisa menangkap sedikit nada pahit dalam suara ayahnya. Ia mengalihkan tatapan.

Ikhlas? Dengan tetap memelihara kenangan akan Ibu seumur hidup Ayah?

“Maafkan Ayah, Set...”

Bisikan Mahesa itu membuat Seta kembali menoleh. “Untuk?”

“Semuanya,” Mahesa mengerjapkan mata. “Terutama sikap Ayah selama ini. Ayah tahu, Ayah banyak mengecewakanmu.”

Tangan kanan Seta segera merengkuh bahu ayahnya. Matanya mengaca. Sepenuhnya ia memahami, bahwa kesalahannya di masa lalu saat masih kecil terlalu besar hingga harus ditebus dengan kehilangan ibunya. Bukan hanya ayahnya yang menderita, tapi Kresna juga. Mungkin mereka memang sudah dipulihkan, tapi belum seutuhnya. Hanya saja ia berusaha menerima semua ‘hukuman’ itu. Bahwa sikap Mahesa terhadapnya tidaklah sesabar ketika laki-laki itu menghadapi Kresna. Ada luka dalam hati yang tercipta karena perlakuan itu walaupun ia masih bisa menerimanya dengan lapang dada.

Tapi kini semua luka itu terhapus sudah. Dengan permintaan maaf yang begitu tulus dan terasa menggetarkan hati dari kedalaman suara Mahesa. Seta mengangguk.

“Aku juga, Yah,” bisiknya, sedikit tersendat. “Semua kehilangan ini, akulah penyebabnya.”

Mahesa menggeleng. “Mungkin sudah kehendak Tuhan demikian, Set. Dan kehidupan kita tetap harus terus berjalan. Lagipula Kresna tak apa-apa di luar sana. Walaupun masih entah ada di mana.”

Seta mendegut ludah. Rahangnya mengeras. Apa pun akan dilakukannya untuk membuat Alex mengakui perbuatan kejinya.

Apa pun!

Supaya Kresna bisa kembali.

* * *

Secepatnya menjauh dari Palaguna dan kembali ke Gondang adalah satu-satunya hal yang bisa dipikirkan Alex sekembalinya dari Gunung Nawonggo. Tentu saja ia tidak tenang. Yang sudah dilakukannya di Gunung Nawonggo adalah hal yang luar biasa. Menyangkut nyawa sahabatnya sendiri. Apalagi semalam ia menerima pesan dari Yunita, teman satu kostnya, bahwa Seta, Yopie, dan Aksan datang mencarinya.

Tentu saja mudah bagi mereka untuk menjatuhkan dugaan. Tapi dari mana mereka punya kecurigaan itu? Ia sudah tak mampu lagi memikirkannya. Cepat atau lambat, ia akan dicari juga sampai ke Gondang. Rasa-rasanya, ia tak akan mampu mengelak lagi dari tuduhan itu.

Menyerah?

Alex menggeleng. Selama ia punya kesempatan untuk mengulur waktu, maka ia akan melakukannya. Lari lagi. Entah ke mana. Seperti saat ini. Ia mulai melajukan mobilnya, keluar dari Gondang.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

8 komentar:

  1. Mampir ndisek gek kene sakgurunge angon arek² wkkkkkkk
    Kape ketemu kambek suket teki meneh wkkkkkkkk bakno ketemu temen wkkkkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngapunten mas. Aku mesti kudu ngguyu yen moco komentare mas Frank. Lucu tur meriah ha ha ha ha

      U/ dik author -> wis jan jempol tenan ceritane 👍

      Hapus
    2. Papae Quin meneh27 Mei 2018 20.47

      Wkkkkkkkkk woles ae mbak Tiwi. Cekno sungune seng duwe blog metu wkkkkkkkkk

      Hapus
    3. Kadose sungune pun medal niku mas. Mogok malesi komene reders ha ha ha ha

      Guyon lo dik Lis. Ngapunten 🙏

      Hapus
    4. Mangkane ta ojok digudoi ae areke. Mutung ndak gelem nerusno cerbung lak blaen awake dewe..

      Hapus
    5. *sungu metu*

      *mutung*

      *ndheprok ndik pojokan*

      *mamah blewah*

      Hapus
  2. Wiihh tempatnya fiktif juga, ya?

    BalasHapus