Jumat, 18 Mei 2018

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #4-2








Sebelumnya



* * *


Tempat teduh itu Bawono Kinayung namanya. Berada di perut Gunung Nawonggo. Terhubung dengan dunia-dunia lain di beberapa perut gunung tak berapi melalui lorong-lorong rumit maupun sungai bawah tanah. Setiap dunia memiliki namanya sendiri. Penghuni awalnya adalah manusia-manusia abadi yang diciptakan Gusti untuk melindungi manusia di ‘atas’, yang karena suatu sebab terjatuh ke dalam jurang-jurang di gunung-gunung itu.

Tapi Gusti punya hukumnya sendiri. Bila tak ada tanda-tanda harus ditolong, maka penghuni dunia ‘bawah’ tak boleh menyentuh orang jatuh itu. Sepenuhnya adalah kuasa Gusti. Akan mengembalikan pada keluarganya dalam keadaan hidup ataukah jasad mati, ataukah menjadikannya ‘upah’ bagi para ajak penjaga gerbang.

Begitu pula bagi orang-orang yang memang harus diselamatkan. Ada yang memang harus kembali ke ‘atas’ pada waktu yang tepat, ada juga yang sudah digariskan untuk tetap berada di ‘bawah’, membantu para pendahulu. Jumlahnya tidak banyak. Dan, mereka tetaplah manusia yang tak abadi.

Hanya ada empat pondok di Bawono Kinayung. Pondok Paitun yang selama beberapa belas tahun ini hidup bersama Wilujeng dan Pinasti, pondok Tirto yang selama ini jadi pemelihara ajak-ajak penjaga Bawono Kinayung, pondok pasangan Randu dan Kriswo, dan pondok Nyai Sentini. Nyai Sentini, Paitun, dan Tirto manusia abadi, sedangkan pasangan Randu dan Kriswo adalah manusia dari ‘atas’. Dua orang yang terakhir ini bertemu di bawono lain, Bawono Murni, dan tak mau kembali ke ‘atas’ secara permanen. Keduanya kemudian menikah, dan oleh Paitun sengaja diminta untuk melanjutkan hidup di Bawono Kinayung.

‘Jadi, tempat seperti ini bukan hanya di sini?’ tanya Kresna melalui pikirannya, dengan bulu kuduk berdiri.

‘Ya,’ angguk Paitun. ‘Ada Bawono Kecik di perut Gunung Julang, Bawono Satiti di perut Gunung Geni, Bawono Murni di perut Gunung Gombrang, dan yang terdekat dari sini sekaligus paling besar tempatnya adalah Bawono Sayekti di perut Pegunungan Pedut.’

Seketika Kresna tersentak.

Pegunungan Pedut?

Tentu saja ia tak akan pernah melupakan tempat itu. Tempat ia harus mulai kehilangan kasih sayang seorang ibu. Tempat ia harus kehilangan harapan untuk segera memiliki seorang adik.

Lalu, tatapannya bertemu dengan tatapan Wilujeng. Terkunci dalam hening dan beku, sebelum perempuan ayu itu menggeser duduknya, mendekatinya, dan memeluknya erat. Ada aura lara yang sama mengambang di udara sekitar mereka.

‘Salah satu sebab ibumu masih tertahan di sini, karena dia masih punya tugas,’ usik Paitun. ‘Untuk membesarkan Pinasti, dan untuk membawamu kembali ke ‘atas’.’

Kresna dan Wilujeng saling melepaskan pelukan. Kresna kembali menatap Paitun.

‘Bagaimana Ibu dan aku bisa sampai di sini, Nini?’

Kemudian Paitun bercerita tentang bagaimana Kresna bisa sampai di tempat itu. Bermula dari isyarat bunyi debum, hingga ia sampai dengan selamat, terbaring di dalam bilik kosong di bagian depan pondok Paitun. Kresna tercenung mendengarnya.

‘Jadi, sekarang ganti aku yang bertanya padamu,’ gema suara Paitun terdengar tegas. ‘Siapa yang sudah membuatmu celaka?’

Perempuan tua itu berusaha keras menembus ‘pertahanan’ Kresna. Tapi lagi-lagi ia gagal. Ia hanya bisa berhadapan dengan kabut tebal yang menyelimuti pikiran Kresna. Kabut tebal serupa dinding masif yang membuat ujung pikirannya kembali mental.

Kresna mendegut ludah sebelum menjawab, ‘Saya pikir itu tidak penting lagi, Nini. Yang penting saya selamat, masih hidup. Dan yang lebih penting daripada semua itu, saya bisa bertemu lagi dengan ibu dan adik saya.’

‘Kres, apakah...,’ Wilujeng tak mampu meneruskan ucapannya.

Kresna mengalihkan tatapan ke arah Wilujeng.

‘Bu, sudahlah...,’ ujar Kresna, tegas. ‘Keadaan ini tak lagi bisa diubah.’

Seketika Wilujeng mengerti. Pun Paitun.

‘Suatu saat dia akan menerima balasan dari Gusti,’ gumam Paitun. ‘Suatu saat... Karena dia juga harus menjemput takdirnya sendiri.’

Kresna bergidik mendengarnya. Tapi rasa ingin tahunya belum tuntas. Ditatapnya Paitun dan Wilujeng bergantian.

‘Dan Ibu... bagaimana bisa sampai di sini?’

Paitun mengerjapkan mata sebelum balik bertanya dengan gema suara lirih, ‘Kamu masih ingat kejadian terakhir sebelum kehilangan ibumu?’

Kresna mengangguk dengan rupa lara. Ia ingin melupakan peristiwa itu. Menghapusnya dari lembar kehidupannya. Tapi tak pernah bisa.

‘Ibumu jatuh di Jurang Srandak. Dekat dengan gerbang Bawono Sayekti. Ibu Bondet menemukannya. Tahu Bondet, kan?’

Kresna mengangguk. Ia ingat nama dan bentuk ajak putih itu.

‘Dia kemudian memberitahu Sentono dan Winah, tetua Bawono Sayekti. Keduanya menyelamatkan ibumu yang terluka cukup parah tapi masih hidup. Adikmu pun lahir di sana tak lama kemudian. Saat itu aku sedang ada di Bawono Sayekti. Ketika aku harus kembali ke sini, kubawa serta ibumu dan Pinasti. Gusti sendiri yang menyuruhku.’

Kresna tercenung. Tatapannya kemudian bertemu dengan tatapan Wilujeng yang mengembangkan telaga bening.

‘Tapi Ibu tak pernah kembali...,’ gumamnya, dengan aura kepedihan yang begitu pekat.

‘Belum waktunya, Nak,’ tukas Paitun dengan nada menegur. ‘Karena tiap hal punya waktu dan rangkaian kejadiannya sendiri-sendiri.’

Kresna menghela napas panjang. Tak puas. Seutuhnya Paitun memahami hal itu. Dengan halus, ditepuknya bahu kiri Kresna.

‘Kalian bertiga akan kembali ke ‘atas’,’ ucapnya lagi. ‘Pada waktu yang tepat. Karena Gusti sudah menggariskannya begitu.’

Dan, Kresna tak tahu harus mengatakan apa lagi.

‘Sementara kamu masih ada di sini, kamu boleh menjelajahi tempat ini,’ bisik Paitun. ‘Berkenalan dengan orang-orang yang ada di sini. Pinasti akan menemanimu. Janggo juga akan ikut menjagamu.”

Pemuda itu hanya bisa mengangguk.



Matanya mulai terasa berat. Kresna menguap. Hari-harinya masih akan panjang di sini. Dan, masih banyak lagi hal yang ingin diketahuinya. Terutama tentang dunia teduh bernama Bawono Kinayung ini.

Dari mana asal sinar yang menerangi itu?

Kresna menggigit bibir bawahnya.

Bagaimana pagi, siang, sore, dan malam bisa terbentuk juga di tempat ini?

Pemuda itu menggulingkan badannya di atas tilam. Mulai memejamkan mata.

Kenapa...? Apakah...?

Dan, begitu saja ia terjatuh ke alam mimpi.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Catatan :
Besok akan langsung masuk ke bab 5. Tak perlu menunggu hari Senin. Bonus untuk para tamu setia blog FiksiLizz.




15 komentar:

  1. Makin hari makin penasaran...alurnya bikin ikut ngerasain suasana Bawono Kinayung...TOP BGT Mba Lizz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiyaaa... Sampe speechless akuuu... 🙊🙊🙊
      Maluuu... 🙈🙈🙈
      Makasiiih atas kesetiaan Mbak mampir di sini 🙏🙏🙏💕💕💕

      Hapus
  2. Btw, saat berbicara dengan batin, bibirnya bergerak gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gini aja deh gampangnya Neng ya... Kalo kamu lagi bicara melalui pikiranmu, ngomong sama diri sendiri lewat pikiran, membatin, itu kira-kira bibirmu gerak-gerak kayak orang ngomong biasa apa enggak?

      Hapus
  3. Itu kok bisa kepikiran sampe kemana2 ya, belum nama belum ceritanya,
    #pinjem bentar boleh??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinjem apanya, Mbak? 😄

      Hapus
    2. Lhaa...yaaa.. Aku gak muji buk, ntar repot benerin sanggul

      Hapus
  4. Sumpah ciamik crito iki! Mau ate turu mari meeting mampir kene sik hehe..
    O yo maturnuwun dongane.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heee??? MEETING??? 😱😱😱

      Hapus
    2. Speechless rek.......... Tapikir awas wes kedanen kerjo tibakno onok seng luih nemen.

      Hapus
    3. Kamsude opo seh, Nyut? 😮😮😮

      Hapus
    4. Papae Quin meneh19 Mei 2018 08.25

      Wkkkkkkkk salah nulis iku nyah. Maksute awak. Aku. Ngunu lo.

      Hapus