Rabu, 23 Mei 2018

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #6-3











* * *


Wilujeng menatap air danau dengan pandangan kosong. Apa yang tadi didengarnya dari Paitun benar-benar mengguncangkan dunianya.

Tiga belas tahun, Gusti... Tiga belas tahun...

Dan, tugasnya akan segera selesai. Ia akan segera berpisah dengan Pinasti. Sebuah rasa yang tak pernah terbayangkan.

Rasanya baru kemarin ia mulai merawat dan menyusui Pinasti. Bayi mungil cantik yang dikenalnya sebagai bayi yang terlahir saat ia dalam kondisi tak sadar setelah menggelinding jatuh ke dalam jurang. Bayi mungil cantik yang menjadi pusat dunianya selama tiga belas tahun ini. Bayi mungil cantik tempat ia menumpahkan kasih sayang. Bayi mungil cantik yang kini sudah tumbuh menjadi seorang perawan sunti.

Perawan suntiku yang tak bisa kubawa pulang...

Air mata Wilujeng meleleh membanjiri kedua pipinya. Ia tetap diam ketika ada dengking yang menggema di dekatnya. Tanpa menoleh ia sudah tahu. Suket Teki ada di belakangnya. Ajak betina berwarna putih yang merupakan induk Bondet itu mendekatinya tanpa suara. Kemudian duduk di sebelahnya.

‘Emak menyuruhku menemanimu, Mbak,’ ucap Suket Teki tanpa suara.

Wilujeng menoleh sekilas.

‘Pinasti akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya,’ ucap Suket Teki lagi.

Wilujeng tetap diam. Benaknya gelap. Tak mampu berpikir apa-apa lagi. Rasanya masih tak terima dengan apa yang selama ini sudah terjadi padanya.



“Mak, aku mohon, perbolehkan aku membawa Pinasti bersamaku...”

Tapi gelengan Paitun begitu teguh dan tegas. Membuat hati Wilujeng yang patah jadi makin hancur.

Lalu ia berlari keluar dari pondok. Menyingkir ke danau. Merenungi kehidupan keduanya. Rasanya...



Suara lembut Suket Teki perlahan menyentuh hatinya.

‘Besok, kuantar ke makam anakmu, Mbak. Kita berangkat pagi-pagi.’

Wilujeng kembali tergugu.

Jadi bayiku sendiri sudah tiada... Buah cintaku dengan Mas Mahesa...

Yang diasuhnya selama ini, yang dinamainya Pinasti, adalah bayi lain yang dibuang ke Jurang Srandak beberapa malam sebelum ia terjatuh. Bayi mungil cantik yang masih hidup dan ditemukan oleh Sumpil. Ajak itu kemudian memanggil bibinya, Suket Teki. Ajak putih betina itulah yang kemudian memberi tahu Sentono dan Winah, sehingga jiwa bayi mungil itu bisa diselamatkan.

Lalu, datang pula Wilujeng. Perempuan terluka parah yang kehilangan bayinya. Sebuah situasi yang sangat sempurna ketika sesosok bayi mungil dan seorang ibu saling membutuhkan.

‘Pulanglah sekarang, Jeng!’

Tiba-tiba saja suara Paitun menyeruak masuk ke benak Wilujeng.

‘Aku belum selesai bicara! Nanti keburu anak-anak pulang!’

Mau tak mau, Wilujeng pun bangkit. Dengan langkah gontai ia kembali ke pondok. Suket Teki mengiringi di belakang. Keduanya melangkah dalam hening.

* * *

Pinasti berusaha menenangkan hati dan perasaannya. Debar jantungnya perlahan normal kembali. Tatapannya pun berangsur menyiratkan keteduhan lagi. Tanpa kata, ia menerima minuman yang disodorkan oleh Kresna. Semangkuk teh dalam wadah tempurung kelapa yang baru saja dituangkan Kresna dari dalam teko.

“Terima kasih,” gumamnya.

Kresna mengangguk. Menyesap teh dari mangkuk tempurung kelapa di tangannya sendiri. Sejenak kemudian ia menoleh, menatap Pinasti.

“Kamu... tidak apa-apa?” tanyanya, lirih.

Pinasti menggeleng. “Tak apa-apa.” Ia kemudian menoleh juga, balas menatap Kresna. “Mas sendiri?”

“Nggak apa-apa,” Kresna juga menggeleng. “Cuma kaget saja.”

“Maafkan aku, Mas,” Pinasti tertunduk. “Aku sendiri tak tahu kenapa bisa begitu.”

“Sudah... Nggak apa-apa,” hibur Kresna.

Tanpa sadar tangannya terulur, mengelus kepala Pinasti. Sempat ada sengatan kecil. Tapi ia sudah siap. Dan, selanjutnya tidak terjadi apa-apa. Kresna termangu.

Dia adikmu! Dan usianya baru tiga belas tahun!

Kresna mendegut ludah saat hatinya kembali berseru-seru mengingatkan. Sementara itu, Pinasti sendiri berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran yang sempat menghampirinya.

Apakah ini yang dinamakan cinta? Seperti novel-novel dan cerita-cerita yang pernah kubaca? Tapi dia masku sendiri!

Kresna kemudian menyibukkan diri dengan mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan di dalam keranjang rotan yang tadi dibawanya. Ia menemukan beberapa bungkus makanan serupa lemper di dalam keranjang itu. Dikeluarkannya ‘lemper’ itu.

“Makan dulu, Pin,” ucapnya.

Pinasti mengangguk dan mengambilnya satu buah. Kresna pun mulai menggigit dan mengunyah ‘lemper’ itu, yang ternyata adalah arem-arem[1]. Enak. Dan ia menambah satu lagi.

Sambil mengunyah, tatapan Kresna jatuh di kejauhan. Pada kesibukan di jalur atas tebing di seberang sana. Kehidupan normalnya selama ini. Tanpa sadar ia mendesah.

“Mas Kresna... tak betah di sini, ya?”

Suara lirih bernada ragu-ragu itu memecah keheningan. Kresna menoleh. Menatap Pinasti sejenak sebelum tatapannya kembali berlabuh di kejauhan. Sungguh, sulit sekali dirasanya menjawab pertanyaan Pinasti. Ia kemudian berdehem sebelum menjawab.

“Ehm! Mm... Aku... punya kehidupan sendiri di ‘atas’,” Kresna mengerjapkan mata. “Ada Ayah, ada Seta. Seta itu masmu juga, kembaranku. Aku sekolah. Kuliah namanya, di perguruan tinggi. Saat ini sedang libur. Makanya mendaki Gunung Nawonggo bersama teman-teman dekatku. Tapi, di sini... aku betah juga. Ada Ibu, ada kamu. Kehidupan yang berbeda. Aku... Tapi kurasa tempatku bukan di sini, Pin,” Kresna menghela napas panjang.

Pinasti tercenung sejenak. Ia belum bisa membayangkan bagaimana sebetulnya kehidupan di ‘atas’. Banyak buku yang sudah dibacanya sebetulnya banyak sekali memberikan gambaran. Begitu juga cerita-cerita Wilujeng. Tapi tetap saja terasa di awang-awang baginya.

Paitun pernah mengatakan padanya, bahwa suatu saat ia akan ke ‘atas’ juga. Bisakah ia menyesuaikan diri?

“Pin, sinar yang menerangi Bawono Kinayung, dari mana asalnya?” tiba-tiba saja Kresna menggumamkan pertanyaan itu.

“Oh... Mas Kresna mau tahu?” ada binar yang memancar indah dari mata bening Pinasti.

Kresna mengangguk. Pinasti kemudian sibuk merapikan buku-bukunya, dan memasukkannya ke dalam tas. Melihat itu, Kresna pun turut merapikan bekal mereka. Setelah selesai, Pinasti pun berdiri.

Tanpa sadar, tangan kanan perawan sunti itu meraih tangan kiri Kresna. Lagi-lagi ada sengatan kecil. Keduanya seketika bertatapan. Tapi tak lama, sebelum keduanya sama-sama mengalihkan pandangan mata ke arah lain dengan wajah bersemu merah.

Mereka kembali ke sampan. Walaupun sudah siap dengan keajaiban yang mungkin akan dihadapinya lagi, tak urung Kresna ternganga ketika mendapati bahwa kini aliran air sungai kecil itu berbalik. Tidak mengarah ke luar, tapi ke dalam lorong. Sampan yang mereka tumpangi pun kembali bergerak seturut aliran air.

Sampai di ujung lorong, Pinasti mengulurkan tangan kirinya. Menepuk lembut permukaan air sebanyak tiga kali. Sampan pun berbelok masuk ke lorong tunggal. Mereka terus meluncur hingga melewati dermaga tempat asal sampan itu. Hingga mereka sampai di ujung lain lorong. Dan, sampan itu berhenti di tengah-tengah sebuah ruang luas dengan langit-langit menyerupai cerobong terbuka, kira-kira dua puluh meter diameternya.

Sampan itu mengapung diam. Kresna mendongak. Menatap langit biru dengan sinar matahari memancar terang. Lebih terang karena dinding cerobong itu memantulkan cahaya matahari.

“Banyak pantulan matahari berasal dari sini,” Pinasti menerangkan. “Salah satunya sampai di Bawono Kinayung. Tidak sekemilau ini, tapi cukup untuk menerangi Bawono Kinayung.”

Kresna benar-benar kehilangan kata. Berkali-kali ia menghela napas panjang untuk menghalau rasa sesak di dada. Ia kemudian mengerjapkan mata.

“Aku tahu sekarang,” gumamnya. Ia mengalihkan tatapannya. “Pin, kita pulang?”

“Baiklah,” Pinasti mengangguk.

Dalam hening, sampan itu berbalik arah, dan kembali meluncur ke dalam lorong. Ke arah dermaga.

Sejujurnya, Pinasti lega karena Kresna meminta untuk pulang ke Bawono Kinayung. Ada begitu banyak pertanyaan yang ia ingin ajukan kepada Wilujeng.

Tentang rasanya.

Tentang hatinya.

Tentang seorang Kresna.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Catatan : 
[1] Arem-arem = makanan serupa lemper, yaitu nasi yang diisi sayuran atau sambal goreng, dibentuk menyerupai silinder, dibungkus daun pisang, dan dikukus lagi.

11 komentar:

  1. Hm... Pinasti anak siapa, ya? Kasihan Ibunya Mas Kresna.

    BalasHapus
  2. Hadir ☝️
    Teken presensi sik. Selak keduluan mba Nita haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwkwkwkwk aq keduluan trus sekarang hare.
      Gaisa onlen pagi.
      Ribet ma arek".
      Sehat trus pa Chris ya ......

      Mb Lis aq wes gaisa komen mene wes.
      Kenemenen apike cerbung iq !
      Top !!!!!

      Hapus
    2. Lha malah dadi balapan rek... 🤣🤣🤣

      Hapus
  3. Terjawab sdh misteri pinasti, setidaknya sebagian. Lanjut mbak e. Kuaciku masih banyak he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau kuacinya aku, Mbaaak... *muka melas*

      Hapus
  4. Ga e se nyah ? Tekok jeneng wakeh apik² kok iso isoe awakmu milih jeneng suket teki ???? Masiyo jenenge asu rek wkkkkkkkkkkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arepe tak'jenengno Kênyut engkok kudu mbayar royalti, yo wegah 😝😝😝

      Hapus