Senin, 01 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #13





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #12



* * *


“Hai!”

Anna mengangkat wajahnya. Dia lagi, gumamnya jengah. Tapi sosok yang muncul di depannya itu segera mengumbar senyum yang... Sebenarnya menarik juga, Anna menggumam lagi dalam hati.

“Apa kabar?”

“Baik,” jawab Anna, pendek.

“Perasaan dingin ya, di sini?” Steve nyengir sambil menggosokkan kedua telapak tangan di lengan atasnya.

Anna mengerutkan kening. Menatap Steve dengan aneh. Di luar memang hujan merintik, tapi sisa hawa panas sebelum hujan masih cukup terasa.

“Nyeberang yuk!”

Anna masih menatap Steve. Yang ditatap masih mengumbar sinar mata jenaka dan senyum yang tetap terlihat riang. Pelan, Anna menghela napas panjang.

“Mau ngapain?”

“Beberapa porsi schotel, atau ketan susu, atau ketan duren, atau apalah,” Steve mengedipkan sebelah matanya.

Pet shop sedang sepi. Anna kehilangan alasan untuk menolak ajakan Steve. Walaupun terkesan ogah-ogahan, diterimanya juga ajakan itu. Maka mereka berdua pun menyeberang ke warung milik Adita. Si pemilik warung yang kebetulan ada di sana segera menyambut Anna dan Steve dengan wajah cerah.

“Meja buat berdua masih tersedia!” senyumnya, menggoda.

We’ll take it!” Steve mengedipkan sebelah mata sambil tertawa.

Adita sendiri yang melayani keduanya. Terakhir, sebelum meninggalkan keduanya setelah pesanan beres, dia meletakkan dua piring mungil berisi puding.

“Wah,” Anna menatap Adita,” dapat bonus nih!”

“Tester...,” Adita tergelak. “Kalau tanggapannya positif, bakalan launching minggu depan. Ya sudah, aku tinggal dulu ya? Nggak mau ganggu orang kencan, hehehe...”

Anna hendak protes tapi Adita sudah melenggang meninggalkan sudut itu. Steve segera meraih salah satu puding dan mencicipinya.

“Wah!” ucapnya sambil mengulum sesendok puding. “Enak banget! Cobain deh!”

Anna menatap dengan putus asa sendok puding yang sudah tersodor di depan mulutnya. Mau tak mau, karena tak mau ribut, dibukanya juga mulut. Menerima suapan Steve.

“Aku nggak bohong kan?” mata Steve terlihat berbinar.

Anna terpaksa mengakui kebenaran itu. Puding tape ketan hitam yang masuk ke dalam mulutnya betul-betul enak. Manis, asam, gurih, lembut. Semuanya berpadu dalam takaran yang sungguh pas bermain dalam mulutnya.

Steve meraih puding satunya. Berwarna putih dengan lapisan bening di tengahnya. Ia kembali menyuapkan sesendok puding itu pada Anna.

“Mm...,” Anna kembali mengulum kelezatan yang sama. Menemukan irisan-irisan manis segar dalam puding itu.

“Leci ya?”

Anna mengangguk.

“Gila!” Steve menggelengkan kepalanya. “Adita punya tangan ajaib!”

Anna tersenyum mendengarnya. “Asal jangan jatuh cinta padanya. Bisa perang dunia sama Mas Rafa.”

“Nggak akan,” Steve menyambar cepat. Menggeleng mantap. “Aku kan sudah jatuh cinta padamu.”

Seketika Anna kehilangan kata. Sejujurnya dia bisa merasakannya. Perasaan Steve padanya. Tapi ucapan terus terang Steve tak urung membuatnya kaget. Terlalu jujur. Terlalu apa adanya.

Maka dia diam-diam saja menikmati schotel penuh smoked beef dan melted cheese yang terhidang di depannya. Steve pun menikmati ketan susu-kejunya dalam hening.

Sebuah perasaan yang tak pernah ada dalam hatinya mendadak muncul. Ada ketenangan yang dinikmatinya ketika berada dekat dengan Anna. Tak perlu banyak mendengarkan suara seperti biasa ketika para gadisnya mengumbar kata berharap perhatian darinya.

Dan Anna...

Entah kenapa diam-diam Steve menikmati betul perburuannya kali ini. Seseorang yang tak didapatnya dengan mudah. Biasanya dia tinggal sedikit saja menjentikkan jari, maka seorang gadis akan menempel padanya hingga dia menendangnya jauh-jauh. Tapi kali ini?

Pelan Steve menggelengkan kepalanya. Perlu banyak strategi agar Anna mencair. Agar Anna meleleh. Agar Anna sedikit saja menoleh padanya. Tapi untuk gadis seperti Anna, dia merasa tak mengapa bila kehilangan banyak hal. Entah kenapa baru saat ini dia bisa menemukan nilai tak terhingga dari diri seorang gadis. Benar-benar lain dari biasanya.

* * *

Rafael menatap bayangan siang diliputi awan kelabu di balik jendela kantornya. Menunggu tetes-tetes kesegaran meluncur menghujam bumi. Ketika ponselnya berbunyi, dia hanya menoleh malas ke arah benda itu. Sebuah SMS masuk. Ketika dia membuka dan membacanya, wajahnya mendadak berubah.

Siang, Mas... Kapan pulang ke Jakarta lagi untuk mencicipi puding yang baru saja launching?

Pelan Rafael mengukir senyum. Entah kenapa pesan itu mendadak menghapus kelelahan yang muncul di tengah hari ini setelah membaca rangkaian laporan produksi perusahaan. Dia tak bisa menjabarkan rasa yang muncul. Hanya saja tiba-tiba dia merasa punya tempat selain rumah untuk ‘pulang’.

Dihenyakkannya punggung pada sandaran kursi. Hidupnya seolah berubah belakangan ini. Seperti menaiki mobil autopilot yang membawanya memasuki relung-relung baru yang tak pernah bisa dikendalikannya. Tak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain berusaha menikmati.

Dan menunggu...

Rafael menghela napas panjang. Menunggu kepastian cerita Steve dan Anna. Lalu semuanya akan selesai.

Begitu saja?

Tiba-tiba saja ada yang terasa nyeri di hatinya.

Ataukah akan ada cerita lainnya?

Rafael mengerjapkan mata. Tak berani berharap lebih jauh. Dijangkaunya kembali ponselnya. Mengetikkan sesuatu. Kemudian menyentuh ringan kotak Send. Kemudian dia mengetikkan sesuatu yang lain. Sekali lagi menyentuh kotak Send.

Dan dia kembali tersenyum.

* * *

“Mbak, ada tamu cari Mbak Dita.”

Adita mengangkat wajahnya. “Siapa?”

“Ibu Lea,” jawab Toni.

Dan Adita seolah tersengat mendengar nama itu. Dia buru-buru bangkit dari duduknya di depan puluhan puding mungil aneka rasa dan rupa yang sedang dalam proses cetak. Sebelum dia meninggalkan pantry, dicoleknya bahu salah satu karyawannya.

“Fem, ini tinggal kasih lapisan atas sesuai kelompoknya. Tolong lanjutkan ya?”

“Baik, Mbak,” jawab Femmy sigap. “Eh, Mbak, tamunya mau disuguhi apa?”

“Nanti saja, aku urus sendiri.”

Perempuan cantik itu ditemukannya sedang duduk di depan jendela kaca di sudut. Ketika melihatnya datang, perempuan itu mengembangkan senyum paling indah yang pernah dilihat Adita. Dibalasnya senyum itu.

“Selamat sore, Tante...,” Adita menjabat tangan Lea.

“Sore, Adita... Maaf ya, Mama mengganggu kerja Adita.”

“Oh...,” senyum Adita. “Nggak apa-apa kok, Tante. Banyak yang bisa menangani. Oh iya, Tante mau minum atau makan apa?”

“Aduh... Nggak usah repot-repot, Nak.”

“Tante suka puding?” Adita menatap Lea dengan mata berbinar.

“Suka sekali!” jawab Lea antusias.

“Di sini sekarang ada menu baru. Aneka puding,” Adita meraih selembar daftar menu, kemudian menyodorkannya pada Lea. “Silakan pilih sendiri, Tante.”

“Wah...,” Lea berdecak ketika melihat gambar aneka puding yang sungguh menggiurkan itu. “Ini bagaimana ya? Mau menolak kok sudah ngeces duluan. Hehehe...”

“Silakan, Tante mau yang mana saja, nanti saya ambilkan.”

Akhirnya Lea menunjuk gambar tiga macam puding yang berbeda. Adita sendiri yang mengambilnya di pantry, ditambah dua gelas ice lemon tea. Segera saja Lea menikmati suguhan itu dengan mulut tak hentinya menggumamkan, “Hm... Hm... hm...,” hingga hampir lupa tujuannya semula hendak menemui Adita.

Dia baru teringat ketika melihat Adita tengah menatapnya sambil tersenyum. Sambil menarik piring puding kedua mendekat, dia pun mengutarakan maksud kedatangannya.

“Begini, Dita,” ucap Lea. “Siang tadi Mama dapat pesan dari Rafa. Hari Minggu ini kan ada kerabat yang mau menikahkan anaknya. Rafa ingin mengajakmu menghadiri acara itu, tapi baru bisa pulang Jumat sore. Terlalu mepet untuk mencari busana sarimbit denganmu. Makanya dia pesan agar Mama hari ini mengajakmu cari baju buat acara itu. Kebetulan tadi Steve juga punya maksud yang sama. Cuma dia masih agak rikuh karena Anna masih... ya begitulah... Belum terlalu menerima Steve. Kata Steve, kalau Mama yang mengajak, mungkin Anna akan susah untuk menolak. Bagaimana menurutmu?”

Adita hanya bisa terbengong menatap Lea.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : Rinai Renjana Ungu #14


8 komentar:

  1. benar2 baru bagian ini,... membuatku jatuh cinta sama penulisnya.

    BalasHapus
  2. kelak mau nggak ya aku ngajak pacar anakku blanja baju... #mikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo aku kayaknya oke aja, secara nggak punya anak cewek, hehehe...
      Nuwus mampire yo, Jeng...

      Hapus
  3. Kerenn... saya kok jadi penasaran mau icip2 pudingnya Adita juga :)
    ngarep.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Makasih kunjungannya, Mas Pical...

      Hapus