Kamis, 04 Juni 2015

[Cerbung] Rinai Renjana Ungu #14





Kisah sebelumnya : Rinai Renjana Ungu #13



* * *


“Oke, Mbak! Aku ke situ sekarang.”

Anna pun menutup pembicaraan dan mengantongi ponselnya. Beberapa saat kemudian dia sudah pamitan pada salah satu anak buahnya dan keluar dari pet shop. Tujuannya cuma satu. Warung Adita di seberang jalan.

Sesampainya di sana, Anna melenggang masuk dan segera menemukan Adita yang melambaikan tangan dari arah meja di sudut. Ke arah itulah dia melangkah.

“Hai!” ucapnya riang.

Tapi keriangan itu berubah jadi perasaan segan ketika mengetahui siapa yang duduk berseberangan meja dengan Anna, membelakanginya. Ditatapnya Adita sejenak dengan sorot mata bertanya. Tapi Adita balik menatapnya tanpa ekspresi. Sedetik kemudian Anna segera menyapa Lea.

“Ibu, selamat sore...,” Anna menjabat tangan Lea.

“Selamat sore juga,” senyum Lea.

Anna duduk di sebelah Adita. Lea kemudian menatap keduanya bergantian.

“Oke, Anna sudah datang,” ucap Lea dengan suara penuh semangat. “Jadi kapan kita bisa berangkat?”

Anna terbengong menatap Lea. Berangkat ke mana? Di telepon tadi Adita benar-benar tak menjelaskan apa-apa kecuali menyuruhnya datang ke warung secepatnya. Dia mengira Adita hanya sekadar ingin mengajaknya mengerumpi sambil menikmati sesuatu. Tapi...

Lea melebarkan senyumnya. Dia kemudian berdiri.

“Ayolah! Dita sudah tahu, Anna belum. Nanti Mama jelaskan di mobil.”

Ada nada tak terbantah dalam suara itu. Bagai terhipnotis, Anna dan Adita pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Lea, keluar dari warung.

Setelah mobil yang mereka tumpangi meluncur, barulah Lea mengutarakan maksudnya pada Anna. Reaksi Anna pun persis sama dengan Adita. Bengong sambil menatap Lea yang duduk di jok kiri depan. Dia baru tersadar ketika dirasanya senggolan lembut dari Adita. Ditolehnya Adita.

Maksudnya?

Adita hanya menggeleng pelan dengan wajah bingung. Anna makin menghenyakkan punggungnya ke sandaran jok.

Cari baju baru buat acara resepsi pernikahan

Anna menelan ludah.

Kalau Adita mungkin memang benar karena statusnya sudah jadi pacar Rafa. Sedangkan aku?

Anna menggelengkan kepala.

Tidak benar! Ini tidak benar! Steve... Aduh!

Mendadak otak Anna terasa kosong. Semuanya terlalu mengejutkan baginya. Hingga dia kehilangan semua perbendaharaan kata untuk menolak, atau berkelit, atau menjelaskan sesuatu.

Pada akhirnya, dia pun sama dan sebangun dengan Adita. Pasrah pada kehendak Lea. Kehendak baik yang entah benar-benar baik ataukah tidak. Anna tak lagi mampu memikirkannya.

* * *

“Jeng!”

Lea menoleh dan wajahnya makin sumringah ketika melihat siapa yang memanggilnya. Dia segera tenggelam dalam acara saling sapa dan mengobrol ringan dengan kedua rekan arisannya yang juga tengah mengunjungi butik itu.

Melihat kejadian itu, Anna tak menyia-nyiakan kesempatan. Ditariknya pelan tangan Adita. Sambil terlihat pura-pura sibuk memilih baju, keduanya kemudian beringsut menjauh.

“Mbak, ini apa-apaan sih?” bisik Anna.

“Aku juga kaget,” Adita balas berbisik. “Dia tiba-tiba saja datang dan punya maksud seperti ini. Aku nggak sempat konfirmasi lagi sama Mas Rafa.”

“Mbak Dita masih mending sudah jadian sama Mas Rafa. Sedangkan aku?”

Bisikan Anna itu membuat Adita tercenung.

Sedangkan aku? Malah lebih kacau lagi hubungannya!

Adita menghela napas panjang.

“Aku nggak tahu bagaimana caranya menolak,” bisiknya kemudian. “Aku kaget.”

“Sama...,” gumam Anna.

Lea mendekat, membuat Anna dan Adita menyudahi rumpian nyaris tanpa suara itu.

“Sudah dapat pilihannya, girls?” ucap Lea dengan suara penuh dengan antusiasme.

Alisnya segera terangkat begitu menemukan Adita dan Anna menatapnya dengan ekspresi yang sama. Putus asa, sekaligus pasrah. Membuatnya segera berinisiatif untuk menyelamatkan situasi dengan mulai memilih gaun ini dan itu.

* * *

Rafael tergelak begitu penuturan Adita selesai.

“Dih! Malah ketawa!”

Terdengar nada protes dari seberang sana. Rafael mengulum senyum.

“Iya, memang aku yang pesan begitu sama Mama. Tapi soal Anna diajak juga, aku benar-benar nggak tahu.”

Sebuah helaan napas sampai ke telinga Rafael.

“Sudahlah, Dit. Kepalang tanggung. Kita sudah basah. Nyemplung saja sekalian.”

“Tapi... Aduh...”

“Kenapa?”

“Nggak tahu, deh! Waktu pertama kali kenal dulu kayaknya Mas Rafa itu orangnya serius, irit senyum. Lama-lama kok jadi keluar jahilnya?”

Rafael tergelak lagi. Tapi sesungguhnya dia tak mengerti datang dari mana ide untuk menjahili Adita itu.

“Mungkin aku ketularan kejahilanmu soal ide pasang iklan itu.”

“Ye... Itu sih kepepet, bukan jahil. Ya sudah, Mas. Sudah malam ini. Aku mau pulang dulu ya?”

“Hm... Oke! Hati-hati di jalan ya, Dit? Sampai ketemu Jumat malam.”

“Sip!”

Sebelum meletakkan ponselnya di atas meja, Rafael membuka lagi file foto yang tadi dikirimkan mamanya. Sepasang kemeja dan gaun batik sarimbit berwarna dasar merah bata tampak tergantung berdampingan. Warnanya bagus. Coraknya indah. Pilihan Adita, tulis mamanya.

Hm...

Rafael kemudian memejamkan mata. Tanpa bisa dicegah, muncul bayangan sosok Adita mengenakan gaun itu. Terlihat sangat pas. Cantik. Membuat Rafael terhenyak dan membuka mata kembali. Ditatapnya langit-langit kamar.

Bagaimana bila semuanya tak lagi profesional?

Rafael mengerjapkan mata.

* * *

Gaun batik cantik berwarna biru cerah itu tergantung diam di dinding kamar di bawah tatapan Anna. Semua yang baru saja terjadi seolah mimpi baginya.

Akan mengenakan busana sarimbit dengan ‘bukan siapa-siapa’?

Anna menggelengkan kepalanya. Sejenak kemudian dia tercenung ketika menyadari bahwa dia tengah terjebak dalam situasi rumit yang dia tak tahu bagaimana caranya bisa melepaskan diri.

Seorang laki-laki mengejarnya. Sementara dia sebenarnya jatuh cinta pada saudara kembar laki-laki itu. Saudara kembar yang sudah punya kekasih dan tak mau menoleh padanya. Dan ibu kedua laki-laki itu bahkan sudah menganggapnya sebagai calon menantu dengan sebuah keinginan yang tak bisa ditolak. Memberinya busana sarimbit dengan salah satu putranya. Laki-laki yang mengejarnya. Dan parahnya, dia seolah tak punya kekuatan untuk menolak.

Apa-apaan ini?

Tapi beribu gaung pertanyaan itu seolah jadi pusaran baru yang membuatnya makin pusing. Terngiang pula ucapan Adita sebelum mereka tadi berpisah.

“Kalau tak bisa menghindar, ya sudah. Nikmati saja...”

Maka dia pun menyerah. Diraihnya gaun itu. Dilepaskannya dari hanger, kemudian dilipatnya dengan rapi. Siap untuk dibawa ke laundry besok pagi.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya : Rinai Renjana Ungu #15


4 komentar:

  1. wah...kasihan Anna terjebak dalam pusaran cinta yang membingungkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Korban rivalitas saudara kembar. Makasih mampirnya, Bu Fabina...

      Hapus