Kamis, 31 Januari 2019

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #13-1









Sebelumnya



* * *


Tiga Belas


“Semua hal pasti ada pengorbanannya.”

Setiap kali Pingkan merasa tersisih karena Maxi terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya, setiap kali pula Pingkan berusaha mengingat baik-baik ucapan ayahnya.

Tapi, kali ini dia lupa akan nasihat sederhana itu. Pasalnya, ini sudah akhir pekan ketiga berturut-turut Maxi membatalkan acara malam Mingguan mereka. Yang pertama dulu karena harus mengawasi langsung pembuatan mesin baru yang dirancangnya, yang kedua karena harus menyelesaikan beberapa revisi tesisnya, dan yang ketiga sore ini.

Pingkan menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa. Setengah jam yang lalu, Maxi baru saja meneleponnya. Membatalkan acara mereka untuk nonton. Padahal tiket sudah ada di tangan.

“Maaf, Ke, aku harus mengawasi perakitan mesin baru di Tangsel.”

“Astaga, Max! Sudah hampir sebulan kita nggak ketemu!” semprotnya tanpa ampun. “Bisa nggak, sih, sedikiiit saja mengurangi kesibukanmu?”

“Maaf, Ke. Seharusnya memang tiga hari lalu blok mesin sudah selesai dirangkai. Tapi dari vendor-nya ada keterlambatan pengiriman. Kita butuh banget mesin ini. Jadi harus segera diselesaikan perakitannya. Tolonglah mengerti.”

Tapi Pingkan sudah menutup pembicaraan itu tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Kemarahan sudah merasuki hatinya. Kemarahan bercampur kerinduan. Dan, ia sulit sekali mengendalikan dan menyurutkannya.

* * *

Sembari menghela napas panjang, Maxi mengantongi kembali ponselnya. Pembicaraannya dengan Pingkan menemui jalan buntu. Pingkan marah, dan ia memahami betul hal itu. Tapi sayangnya, ia tak bisa membelah diri jadi dua orang yang sama, yang bisa berada di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Salah satu harus dikorbankan. Kali ini harus acara berduanya dengan Pingkan. Ia tak punya pilihan lain.

Seorang stafnya mendekat dan membahas posisi blok mesin yang sedang mereka rakit. Maxi segera berusaha untuk menyisihkan Pingkan dari benaknya. Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.

“Ini prediksinya, kapan kelarnya, Max?”

Maxi menoleh. Mendapati Nicholas sudah berdiri di dekatnya.

“Target saya malam ini harus selesai, Pak,” jawab Maxi. “Besok akan saya uji operasi. Mudah-mudahan hari Senin sudah bisa uji produksi, dan bisa beroperasi penuh mulai minggu depan.”

“Kamu jadi kerja nonstop begini, Max,” gumam Nicholas. Menatap Maxi dengan sorot mata prihatin.

“Nggak apa-apa, Pak.” Maxi hanya tersenyum tipis. “Rabu depan saya harus ke kampus. Anggaplah saya libur kerja.”

Nicholas menggeleng samar. Ia hanya bisa menepuk bahu Maxi, kemudian berlalu. Tanpa bisa menanggapi ucapan kekasih adik bungsunya itu.

* * *

Pingkan menghela napas panjang. Masih tidak puas dengan keadaan yang dihadapinya saat ini.

Hmm .... Ada kerjaan di pabrik Tangsel alasannya, ya?

Pingkan menatap ponsel yang masih digenggamnya. Tanpa pikir panjang, ia menghubungi seseorang. Ketika sudah tersambung, ia pun curhat dengan nada mengadu. Tapi apa yang didapatnya?

“Kamu ini... nggak perlulah ngecek-ngecek segala kayak gini. Betul dia ada di sini. Masih di pabrik. Nggak bakalan macem-macem itu Maxi. Nggak percayaan amat, sih! Lagipula memang perakitan mesin baru ini sudah jadi tanggung jawabnya. Dia juga, kan, yang merancang.”

Pingkan menggigit bibir. Justru omelan Nicholas-lah yang didapatnya. Omelan yang berhasil menyentil keegoisannya.

Selama hampir tiga tahun ini membina relasi istimewa dengan Maxi, pemuda itu benar-benar hanya fokus pada kuliahnya yang kini hampir usai, tesisnya, pekerjaannya, kekasihnya, dan sedikit lagi waktu yang tersisa untuk keluarganya. Tak ada hal lain lagi. Apalagi Andries dan Nicholas benar-benar ‘gas pol’ dalam menyiapkan Maxi untuk jadi salah satu pemimpin Royal Interinusa.

“Ada apa? Bengong sendirian di sini.”

Pingkan sempat sedikit tersentak mendengar suara berat tapi bernada lembut itu. Ia menoleh. Mendapati ayahnya tengah menatapnya sambil tersenyum. Laki-laki itu duduk di sebelahnya, kemudian melingkarkan lengan kukuhnya di sekeliling bahu Pingkan.

“Nggak jadi nonton?” tanya Harvey lagi.

Pingkan menggeleng. Tertunduk sedih.

“Maxi sibuk?”

Pingkan mengangguk.

“Ngurusin pekerjaan?”

Pingkan kembali mengangguk.

“Dan, kamu belum siap juga menghadapi hal seperti ini?”

Seketika Pingkan mengangkat wajahnya. Ia menoleh dan menatap Harvey.

“Maksud Papa?” gumamnya.

Harvey mengetatkan rengkuhannya pada bahu sang putri bungsu.

“Jawab dengan jujur, kamu merasa terlalu banyak berkorban dalam menjalani hubunganmu dengan Maxi?”

Tak perlu berpikir. Pingkan spontan mengangguk.

“Coba, bilang sama Papa, apa yang kamu rasakan?”

Pingkan menghela napas panjang sebelum menjawab. Dengan suara sangat lirih.

“Aku ... merasa ... cuma jadi prioritas nomor sekian dalam hidupnya. Di bawah studinya, di bawah pekerjaannya. Aku ...,” Pingkan mendegut ludah. “Entahlah, Pa. Aku cuma merasa begitu.”

“Oke.” Harvey mengangguk. “Sekarang, coba kita pikir, kenapa Maxi bisa seperti ini?”

Pingkan terdiam. Sesungguhnya, ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja, terkadang sulit untuk mencoba melihat masalah dari sudut pandang lain.

“Terkadang Papa pikir kita sudah terlalu banyak menuntut Maxi,” ujar Harvey dengan suara rendah. “Dia memang perlu membangun karier yang sesuai dengan minatnya. Dia memang sudah mendapatkannya di pabrik kita. Tapi di sisi lain, kita memberinya tanggung jawab yang lebih besar dan berat. Itu karena kita berharap dia akan menjadi bagian dari keluarga kita kelak. Bisa turut mengendalikan pabrik kita. Kaitannya sangat erat denganmu, Ke.

"Dia memilih untuk menerima tanggung jawab itu karena tak ingin mengecewakanmu, mengecewakan kita. Dia menebus tanggung jawab dan kesibukan itu dengan sebagian besar waktu yang dia punya. Jadi sekarang, siapa yang sebetulnya lebih banyak berkorban?”

Pingkan tercenung.

“Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, Keke sayang,” lanjut Harvey, tetap dengan suara lembutnya. “Seandainya kamu bersedia turut mengemban tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup pabrik, apakah akan sama kondisinya dengan yang kamu hadapi sekarang? Hmm .... Ya, mungkin sama. Tapi berbalik posisi. Kamu yang terlalu sibuk. Paham maksud Papa?”

Pingkan mengangguk.

“Konsekuensi, Keke,” lanjut Harvey lagi. “Ketika Maxi disodori tanggung jawab, dia memilih untuk menerimanya. Banyak hal terpaksa dikorbankan, terutama tenaga dan waktu. Tapi hingga detik ini dia tetap konsekuen dengan pilihannya itu. Menjalaninya dengan serius, dan tetap teguh untuk setia kepadamu. Masihkah kamu menganggap diri terlalu banyak berkorban?”

Seketika Pingkan tergugu.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

Silakan kunjungi juga cerpen berjudul "Simbah Wuyung" yang terbit kemarin di blog ini. Terima kasih.