Sabtu, 26 Januari 2019

[Cerbung] Sekeranjang Hujan #12-3









Sebelumnya



* * *



Sudah lewat dari pukul tujuh menjelang malam ketika Maxi menitipkan kunci mobil Pamudyo di pos satpam. Ia tak langsung pulang ke indekos, melainkan mampir sejenak untuk membeli makan malam di sebuah warung tenda. Sejam kemudian, barulah ia meluncurkan motornya masuk ke garasi indekos.

Sambil langsung naik ke kamarnya, ia menyapa beberapa rekan satu indekosnya yang sedang berkumpul di ruang tengah. Ada yang asyik menonton televisi, ada pula yang sedang menikmati makan malam. Sambil menghela napas lega, Maxi membuka pintu kamarnya.

Beberapa belas menit kemudian, setelah sedikit segar seusai mandi, ia meraih kantung berisi kotak kertas makan malamnya. Aroma sedap mi goreng seafood membuat rasa laparnya menjadi maksimal. Ia duduk lesehan di karpet, menghadap televisi. Makan, sambil menikmati tayangan berita terkini.

Saat mi gorengnya tinggal setengah porsi, terdengar dering lembut ponselnya. Maxi buru-buru mencari ponsel itu. Ada di dalam celana seragamnya di dalam ransel. Ketika benda itu ditemukannya, benda itu malah terdiam. Seketika Maxi terbelalak melihat ada belasan panggilan tak terjawab. Semuanya dari Pingkan. Ia buru-buru menelepon balik gadis itu.

“Ke, maaf, aku baru pulang,” ucapnya begitu didengarnya jawaban dari seberang sana.

“Dari Tangsel, ya?”

“Iya. Kok, kamu tahu?”

“He em. Andries yang bilang. Nicholas juga. Kamu sudah makan?”

“Ini, lagi makan.” Maxi melirik kotak kertasnya yang tergeletak di atas karpet.

“Makan apa, tuh?”

“Tadi mampir ke warung tenda, beli migor seafood.”

“Uh, enaknyaaa ....”

Maxi tertawa.

“Kamu lagi ngapain?” tanya Maxi. “Misscal-mu bejibun.”

“Mm .... Kelasku kosong tadi pagi. Dosenku absen. Jadi aku ke sini. Besok, kan, nggak ada kelas. Kupikir bisa ketemuan sama kamu. Aku nginep di tempat Andries.”

”Oh, jadi kamu di sini?” Suara Maxi jadi lebih antusias.

“Iya, tapi aku nggak bisa ke tempatmu sekarang. Andries sakit.”

“Oh ....”

“Dan, aku belum makan.”

Maxi hampir tersedak mendengar suara memelas Pingkan.

“Astaga, Ke .... Sudah jam segini! Pak Andries gimana? Belum makan juga?”

“Dia, sih, sudah. Kan, ada katering khusus. Aku tadi mau pesan lewat Great-food, tapi ketiduran.”

“Aku belikan, ya? Kamu tunggu di situ, aku kirim. Kamu mau makan apa?”

“Nggak usah, Max. Aku pesen via Great-food aja.”

“Enggak, aku belikan. Aku kirim ke apartemen. Kamu tunggu saja. Mau makan apa?”

Sederhana saja, Pingkan menyebutkan menu nasi goreng dari warung tenda tempat Maxi tadi membeli makanan. Maxi pun berjanji untuk segera datang.

Pemuda itu melupakan rasa letihnya dan segera bersiap untuk berangkat. Tapi, saat mengenakan jaket, matanya tertumbuk pada sisa mi gorengnya. Seketika laparnya terasa belum terpuaskan. Lagipula sayang, mi gorengnya masih setengah porsi. Setelah berpikir sejenak, ia pun memutuskan untuk menelepon warung tenda dan memesan seporsi nasi goreng untuk Pingkan. Nanti dia tinggal datang dan mengambil pesanannya.

Sekarang ....

Maxi duduk kembali dan menghabiskan makan malamnya. Secepat ia bisa.

* * *

Pingkan menghela napas lega setelah menelepon Maxi. Tapi sejenak kemudian rasa sesal menyelinap masuk ke dalam hatinya.

Maxi pasti capek banget.

Tadi, saat menemani Andries makan, abangnya itu sempat bercerita bahwa Maxi berangkat ke Tangsel bahkan sebelum jam kerja dimulai. Sampai Andries memutuskan untuk pulang menjelang pukul dua siang, Maxi belum kembali.

Pingkan beranjak dari sofa tempat ia sempat tertidur. Ditengoknya Andries di kamar. Ia langsung melotot ketika mendapati abangnya sedang duduk bersandar di kepala ranjang, sibuk dengan laptopnya.

“Andriesss ...,” desisnya. “Kamu, tuh, ya!”

Andries menoleh dengan wajah tenang, bahkan menyimpan senyum simpul. Tapi dimatikannya juga benda yang ada di pangkuannya. Pingkan bergegas menghampiri.

“Gini yang namanya istirahat?” tanya Pingkan dengan nada galak.

Andries tertawa ringan. Menyingkirkan laptop ke sisi kirinya.

“Aku sudah nggak apa-apa.”

“Ish!” cela Pingkan. “Sudah! Ayo, rebahan lagi, Dries. Siniin laptopmu!”

Pingkan naik ke atas ranjang dan meraih laptop Andries. Sang abang berusaha mencegahnya.

“Mau kamu apain laptopku?”

“Sita!” Pingkan berhasil mendapatkan laptop itu.

Andries pun tak bisa berbuat lain. Pingkan sudah memeluk laptop itu. Berdiri dengan tatapan galak.

“Kamu istirahat. Aku mau ke bawah sebentar, ambil makanan.”

Sang abang menyerah dan kembali berbaring. Dengan sebelah tangan, Pingkan menyelimuti Andries.

* * *

Maxi tak bisa menyembunyikan wajah letihnya, walaupun dibalut senyum dan pendar mata, ketika menyerahkan kantung berisi pesanan Pingkan. Seketika gadis itu merasa bersalah.

“Max, kamu capek banget kelihatannya,” gumamnya. “Maaf, ya, aku bikin kamu repot.”

“Enggaklah,” Maxi tersenyum. “Lebih repot lagi buat kamu sendiri kalau kamu sampai sakit gara-gara telat makan. Tapi aku nggak bisa lama-lama, ya. Sudah malam.”

Pingkan mengangguk.

“Pak Andries gimana kondisinya?”

“Yah ..., gitu, deh. Kalau kecapekan dia gampang banget dropnya. Harus dipaksa buat istirahat total.”

“Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku.”

Pingkan kembali mengangguk. Maxi pun berpamitan dengan tak lupa menitip salam untuk Andries.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)