Senin, 07 Desember 2015

[Cerpen Stripping] My Journey #6








Sebelumnya :  Part Five : Canopus


Part Six


Something Surprising



Kutatap undangan itu untuk kesekian kalinya. Tetap saja tulisan calon mempelainya tak berubah. Yolanda Kumalasari dengan Eugene Eric Setiyadi. Bukan Canopus. Sama sekali bukan!

Dan calon pengantin cantik yang berbahagia itu sekarang sedang fitting gaunnya, dilayani Inke. Tak jauh dari mejaku. Ketika selesai, Inke keluar membawa gaun itu untuk finishing, sementara Yola mampir ke mejaku.

“Nanti aku transfer sisa pembayarannya sambil jalan pulang ya, Mbak?” Yola duduk di seberangku dengan wajah terlihat puas.

“Santai saja...,” aku tersenyum simpul. “Toh gaunnya masih nginep di sini.”

“Hehehe... Iya,” Yola tergelak ringan. “Oh ya, Mbak, nanti beneran datang ke nikahanku ya?”

“Oh, pasti...,” aku mengedipkan sebelah mata. “Bahkan kalau boleh sekalian saja aku datang ke pemberkatan kalian.”

“Wah! Boleh, Mbak! Boleh banget!” Yola terlihat antusias sekali. “Beneran ya, Mbak?”

Aku mengangguk. Tanpa dia minta pun aku sudah menandai tanggal pernikahan Yola dan Eugene (sekarang aku tahu bagaimana mengeja nama ‘Yujin’ dengan benar, hehehe...) dengan spidol merah. Tanda yang sudah tak lagi bisa diganggu gugat.

Beberapa saat kemudian Yola berdiri untuk berpamitan. Tapi sebelum mencapai pintu dia berhenti, berbalik, dan menatapku. Terlihat ragu-ragu.

“Mm... Mbak, boleh aku tanya?”

“Yup!” aku mengangguk.

“Mm... Masuk ke ranah pribadi sih... Mm... Mbak nggak pakai cincin apapun, aku lihat. Mm... Mbak masih single... atau... bagaimana?”

Wajah Yola terlihat rikuh di mataku. Pun ketika dia menggumamkan kalimat minta maaf. Aku pun tersenyum maklum.

“Kenapa memangnya?” aku balik bertanya.

“Mm... Kalau Mbak masih single, ada seorang best man yang kirim salam buat Mbak. Kalau sudah enggak, ya... abaikan saja,” Yola meringis.

Best man?” aku mengerutkan kening.

“He em,” Yola mengangguk. “Sepupuku kan best man-nya Eugene.”

“Yang mana?”

“Canopus.”

Seketika aku lupa menutup mulutku.

* * *

Aku pernah jatuh cinta! Sangat pernah! Dan rasanya persis seperti ini. Ketika semuanya terlihat indah bercahaya di sekelilingku, tapi terasa serba salah. Ketika otak, mata, dan perasaanku seolah tidak sinkron.

Jadi...

Aku benar-benar jatuh cinta padanya? Pada laki-laki yang baru dua kali kutemui? Yang begitu saja sudah memberi efek yang luar biasa pada kesehatan jantungku? Yang ternyata... uhuk! Dia masih single dan mengirim salam padaku?

Apakah aku masih boleh berharap saat ini? Perasaanku bilang ‘ya!’ dengan jelas, tapi otakku mengatakan sebaliknya.

“Jangan terlalu senang dulu! Kau ingat rasanya terbanting dari ketinggian kan???” begitulah otakku berseru-seru.

Maka aku memilih untuk berdiam diri sejenak. Menata hatiku. Meredakan debar jantungku. Menormalkan mataku. Menyelaraskan semua indera dengan otakku.

Huuuh... Haaah... Huuuh... Haaah... Huuuh... Haaah...

Perlahan kepalaku terasa mendingin begitu aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Begitu berulang kali. Hingga semuanya menjadi lebih tenang dan otakku mulai jernih.

Oke! Dia mengirim salam buatku. Oke! Dia mungkin memang tertarik padaku. Oke! Itu semua positifnya. Oke... Oke...

Lalu?

Aku memutuskan untuk menunggu sejenak.

* * *

“Mbak...”

Aku mengangkat wajah dari buku sketsaku. Badan Inke terlihat menyembul separuh di ambang pintu.

“Gaun Mbak Vin sudah jadi. Mau dibawa ke sini atau fitting dulu?”

“Hm...,” aku menimbang sejenak. Lalu aku berdiri. “Fitting dulu deh!”

Kemudian Inke dan aku beriringan menuju ke bagian belakang studioku, tempat bengkel kerja berdiri.

Betul, gaunku sudah jadi. Gaun yang hendak kupakai ke acara pernikahan Yola dan Eugene. Kutatap gaun pendek berwarna biru itu dengan puas. Modelnya sederhana saja. Berlengan pendek dengan bagian atas dari bahan brokat, dan bagian bawah berbahan sutra. Ada aksen bunga merekah di pinggang depan kiri.

Ketika coba kukenakan, gaun itu terasa memeluk tubuhku dengan begitu pas. Tak ada yang perlu diubah. Dan Mbak Tira, penjahitnya, menatapku dengan lega. Saat sedang mematut-matut diriku bersama gaun itu di depan cermin, Linda melangkah terburu-buru dari ruang depan.

“Mbak Vin, gaun Mbak Yola mau diambil sekarang bisakah?”

“Oh...,” aku menatap Linda dari cermin. “Bisa. Hm... Padahal aku sudah bilang akan diantarkan sore ini.”

“Aku suruh tunggu sebentar yang ambil ya, Mbak?”

“Suruh tunggu di studioku saja, Lin,” ucapku sambil menutup tirai bilik pas.

Dengan cepat kulepas gaun biruku dan berganti dengan blus dan celana capri yang tadi kupakai. Setelah rapi, aku pun segera kembali ke studio bersama Inke.

“Nanti tolong cepat dikemas gaunnya ya, In...”

“Siap, Mbak!”

Dan yang tidak siap sesungguhnya adalah aku! Ketika aku membuka pintu studio dan menemukan dia ada di sana. Duduk manis di atas sofa.

Dia! Yang beberapa hari ini membuat kacau otak dan perasaanku!

* * *

Bersambung ke bagian berikutnya :  Part Seven : The Best Man And Me

17 komentar:

  1. Surprise.... Tayang pas banget mengawali hari. 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih singgahnya, Mbak MM... Hari ini tamat ya...

      Hapus
  2. Pagi2 dpet sarapan yg manis dr mba lizz...jd nambah semangat d awal minggu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah berkenan berkunjung ke sini, Mbak Tri...

      Hapus
  3. Asik dibaca pas di sini hujan. Sambil ngopi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cemilannya? Hehehe...
      Nuwus mampire, Mbak Boss...

      Hapus
  4. Woh .... Jan melu deg2an tenan iki hlo sik maca!
    Isa bae sik nulis ya .... Jempol!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ish ! Kalah pagi rek kambek bu Tiwi ! :D

      Author'e cen jempolan kok ! Membuat q terkiwir2 pd Opus meong wakwakwakwak

      Hapus
    2. Jiaaah... Eike jadi maluuu...
      Makasih mampirnya, Mbak-Mbak cantik...

      Hapus
  5. semoga hatinya tak sekacau sidang MKD ya mbak Lis....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Iyaaa benar, Mbak Bekti!
      Makasih mampirnya ya...

      Hapus
  6. Menanti lanjutan. Wes tak injen ra njedul2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho'oh wingi kawanen thithik. Suwun mampire, Mbak...

      Hapus