Monday, July 31, 2017

[Cerbung] Infinity #11



Sebelas


Olivia menyimpan dua nama itu dalam lipatan-lipatan pekerjaannya. Allen dan Luken. Berusaha untuk tidak memikirkan hal lain kecuali pekerjaan. Mata dan hatinya jelas-jelas melihat bahwa Luken agak menarik diri setelah ‘membuatnya’ kelelahan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa walaupun ingin sekali meyakinkan bahwa laki-laki itu tidak bersalah. Dilihat dari sudut mana pun, hubungannya dengan Luken adalah profesional belaka.

Walaupun sudah diselipkan rapat-rapat, sesekali nama Allen masih muncul menyapanya melalui pesan pendek. Mengabarkan bahwa laki-laki itu sedang berada di suatu tempat dalam keadaan baik-baik saja. Terkadang mengirimkan foto dengan latar belakang field, di anjungan pengeboran, di ruang makan mess terapung bersama teman-temannya, atau di dalam helikopter. Senyum dan cahaya gemerlap dalam mata abu-abu kehijauannya tak pernah ketinggalan.

Terakhir pada hari Minggu, Allen mengirimkan pesan bahwa ia tidak jadi ke Toraja, tapi ke Bunaken dan Manado selepas dinasnya di field Papua. ‘Aku akan pulang Kamis, Liv. Sampai bertemu lagi hari Jumat.’

Sudah lebih dari tiga minggu ia tak bertemu Allen. Diakui atau tidak, ada kerinduan di dalam hatinya. Semangat Olivia mendadak menggelembung dan melambung ke titik tertinggi pada Kamis menjelang siang ini. Sulit sekali mengempiskannya walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga. Tentu saja radar Sandra langsung menangkap hal itu. Perempuan itu mengira bahwa cahaya dalam wajah Olivia bersemburat merona karena seorang Luken.

“Ada kemajuan, Pak?” ia iseng bertanya pada Luken saat Olivia ke toilet di lantai bawah.

Luken yang sedang memeriksa berkas di seberang Sandra mengangkat wajah sejenak. Melihat ekspresi Sandra, ia langsung paham maksudnya. Ia menghela napas panjang, kemudian menggeleng lemah.

“Nggak takut keburu disambar orang lain?”

Kalimat yang menggema dalam suara lirih itu membuat Luken tersentak. Ia kembali menatap Sandra. Wajahnya terlihat bimbang. Tapi ia kemudian memutuskan sesuatu.

“Nanti setelah saya pulang dari Purwakarta, Bu. Saya pikirkan lagi,” jawabnya kemudian, bertepatan dengan terdengarnya suara ketukan sepatu Olivia menapaki anak tangga.

Laki-laki itu berdiri begitu Olivia muncul. Ditolehnya gadis itu.

“Setengah jam lagi siap berangkat, ya, Liv,” ucapnya sambil masuk ke ruang kerja.

Olivia mengangguk walaupun Luken tidak melihatnya. Sandra mengulurkan map yang sudah selesai diperiksa Luken. Olivia menerimanya dan mulai memeriksa ulang semua kelengkapan meeting.

Sip!

Sambil menunggu Luken keluar dari ruang kerja, Olivia kembali sibuk dengan laptop. Sandra sendiri cukup sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tak sempat mengobrol apa-apa. Hampir setengah jam kemudian, Luken keluar dari ruangannya. Olivia sudah siap. Sebelum berangkat, Luken menoleh ke arah Sandra.

“Bu, kalau waktunya cukup, aku nanti langsung nengok Nessa. Tapi yang jelas balik lagi ke sini.”

“Baik, Pak,” angguk Sandra.

“Titip kantor, ya, Bu.” Luken menoleh ke arah Olivia, “Ayo, Liv.”

Keduanya kemudian beriringan menuruni tangga. Dengan sikap biasa, Luken membukakan pintu mobil untuk Olivia. Gadis itu mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dengan halus dan sopan.

“Nanti selesai meeting kita beli kado buat Nessa dulu, ya, Liv,” ujar Luken sambil menekan pedal gas SUV-nya. “Sekalian makan siang. Kayaknya meeting kita nggak lama.”

“Baik, Pak,” Olivia mengangguk patuh.

* * *

Sesuai prediksi Luken, pertemuan mereka dengan Mr. Janssen hanya makan waktu tak sampai 25 menit. Sambil masuk kembali ke mobil, Luken menoleh ke arah Olivia.

“Di PIM ada baby shop, nggak, Liv?”

“Ada, Pak,” angguk Olivia. “Saya pernah antar teman saya ke sana.”

“Oke, kita ke sana, sekalian makan siang, ya?”

“Baik, Pak.”

Pondok Indah Mall tidak jauh dari tempat mereka mengadakan meeting baru saja. Tak sampai lima belas menit kemudian, keduanya sudah masuk ke area parkir mall besar itu. Saat menyeberangi area parkir sekeluarnya dari mobil, otomatis tangan Luken menggandeng tangan Olivia, tapi melepaskannya lagi begitu keduanya memasuki mall. Dan sungguh, Olivia memakluminya.

Ia paham betul Luken bukanlah laki-laki yang suka mengambil kesempatan. Laki-laki itu selalu memperlakukannya dengan sangat sopan. Sebuah sikap yang membuatnya selalu merasa nyaman. Laki-laki itu mengikuti dengan sabar langkah cepat Olivia menuju ke sebuah baby shop.

“Bapak mau kasih kado apa, Pak?”

Luken sedikit tersentak ketika Olivia bertanya dengan nada halus. Ditatapnya gadis itu.

“Terserah, Liv. Pokoknya yang pantas.”

Akhirnya Olivia memilih sebuah tas perlengkapan bayi yang keren dan satu set gendongan beserta selimutnya. Ditunjukkannya pilihan itu pada Luken.

“Ini, Bapak mau pilih yang mana?”

“Mm... Semuanya saja, Liv,” Luken meringis.

Olivia tersenyum lebar. Sebenarnya kalau Luken memilih salah satu, yang lain akan dibayarnya sendiri, dijadikan kado juga untuk bayi Nessa. Tapi Olivia mengalah. Ketika Luken membayar kedua pilihan itu, dengan cepat Olivia memilih parsel berisi satu set produk perawatan bayi lengkap dan all in one training cup.

“Lho, kenapa nggak sekalian saja?” protes Luken ketika Olivia maju ke depan meja kasir.

“Ya, enggaklah, Pak. Masa kadonya Bapak borong semua? Saya kebagian apa?”

Luken menggelengkan kepala sambil tersenyum. Menyerah. Ia kemudian dengan sabar menunggu hingga barang-barang yang sudah dibayarnya dibungkus jadi kado yang cukup indah. Setelah selesai, ia meraih kedua bingkisan itu.

“Sini, Pak, jangan dibawa semua. Bapak bisa repot jalannya,” ujar Olivia sebelum mereka keluar dari toko.

Maka Luken menyerahkan kado miliknya yang lebih ringkas dan ringan. Keduanya kemudian keluar dari toko itu.

“Ke Warjok, ya, Liv,” Luken menoleh sekilas. “Aku lapar banget. Tadi pagi kesiangan bangun, nggak sempat sarapan.”

“Bapak jangan keseringan nggak sarapan begitu,” tegur Olivia halus. “Kasihan perutnya, Pak.”

“Hehehe... Iya, Liv. Sudah mulai tua.”

“Belum, ah!” tukas Olivia. “Masih segar bugar begitu.”

Luken tersenyum.

* * *

Untungnya Nessa dirawat di kamar VIP yang hanya dihuni oleh ia dan bayinya saja, sesuai dengan fasilitas dari kantor suaminya. Jadi Olivia dan Luken boleh menengok di luar jam berkunjung. Wajah perempuan seumuran Olivia itu tampak berseri-seri.

“Wihiii... Ibu baru itu auranya sudah lain,” ledek Olivia.

Nessa terkikik. Kebahagiaan tergambar nyata di wajahnya. Apalagi bayinya lucu sekali. Luken sudah gemas ingin menggendongnya. Tapi ia tidak berani meminta.

“Kapan nyusul?” bisik Nessa ketika Oyas, suaminya, mengobrol dengan Luken.

“Masih jauuuh...,” Olivia memasang wajah sedih.

“Si bule gimana?” Nessa meringis jahil.

“Hah???” Olivia terbelalak seketika. Dari mana Nessa tahu???

“Nggak usah ngeles, deh!” tukas Nessa lirih. “Gue sama Oyas lihat lu kapan hari di Kokas, di Sushi Tei. Saking asyiknya sampai nggak tahu gue sama Oyas cuma selang satu meja di belakang lu.”

Wajah Olivia seketika tampak ‘menderita’. Nessa terkikik lagi melihatnya.

“Kalau nggak salah itu klien kapan hari, ya? Pas ada Pak James.”

“Anaknya,” sahut Olivia dengan suara ogah-ogahan. “Dan itu cuma temen.”

“Temen tapi sudah menjamu camer, hihihi...,” wajah Nessa makin jahil.

“Neeesss...,” Olivia terlihat gemas.

Nessa terbahak. Tapi seketika mengaduh kesakitan. Jahitan caesar-nya yang masih segar terasa nyeri. Oyas dan Luken buru-buru menghampiri.

“Kenapa, Nes?” wajah Oyas terlihat khawatir.

“Enggak,” Nessa menggeleng. Meringis. “Nggak apa-apa.”

“Perut sudah diobras gitu, ketawa nggak kira-kira,” gerutu Olivia.

Oyas tertawa. Sudah memahami betul kelakuan istrinya. Luken hanya bisa menggelengkan kepala. Antara geli dan tidak tega melihat ekspresi Nessa. Tadi saja ketika Oyas menceritakan proses kelahiran baby Joy, ia antara mulas, ngeri, dan merinding.

Nessa masih bekerja hingga hari Senin kemarin. Mengabaikan rasa mulasnya yang sudah sesekali muncul. Selasa, ia sudah absen. Maju sekian hari dari permohonan cutinya. Luken langsung mengabulkan cuti mendadak itu begitu Oyas meneleponnya. Selasa malam, diputuskan bahwa Nessa harus dioperasi dengan berbagai pertimbangan medis demi keselamatan ibu dan bayi. Rabu pagi, Coffee Storage mendapat kabar bahwa mereka mendapat anggota keluarga baru. Seorang bayi perempuan montok dengan panjang 51 cm dan berat 3,7 kg. Sebongsor sang ayah.

“Hati-hati, lho, Liv,” Oyas nyengir. “Kalau bibitnya bule, bisa lebih gede lagi bayi lu.”

“Apa, sih?” Olivia mendelik.

Nessa langsung mencubit perut Oyas. Laki-laki itu terlambat menyadari keusilannya. Dan Luken telanjur mendengarnya. Hanya saja wajah laki-laki itu tetap disetel sedatar mungkin. Untungnya rengekan baby Joy memecahkan situasi canggung itu. Dengan hati-hati Oyas kemudian mengangkat bayinya dan memberikannya pada Nessa.

Melihat bahwa Nessa dan si bayi butuh waktu pribadi, Luken segera mengajak Olivia berpamitan. Hingga keduanya tiba di kantor, Luken lebih banyak diam. Laki-laki itu langsung masuk ke ruang kerjanya begitu sampai.

Sandra segera mewawancara Olivia soal Nessa dan bayinya. Gadis itu pun menceritakannya dengan antusias. Minus candaan Nessa dan celetukan ngawur Oyas, tentu saja.

“Sabtu sudah pulang belum dia, ya?” gumam Sandra.

“Kata Oyas, paket perawatannya lima hari, Bu,“ jawab Olivia. “Masuknya Selasa, berarti Sabtu pas pulang.”

“Hm... Aku nengok ke rumahnya saja Sabtu sore atau hari Minggu. Biar nggak kecele. Lagian Sabtu siang ada resepsi nikah keponakanku."

* * *

Hm... Jadi ada bule, ya?

Luken memutar kursinya. Menghadap ke jendela. Ia meluruskan tungkai dan menyandarkan punggung. Entah kenapa, pada saat seperti ini ia merasa sangat letih.

Salah satu klienkah?

Luken menggeleng samar.

Sepertinya bukan...

Rata-rata klien bulenya sudah berusia di atas 50 tahun. Ada yang di bawah itu, 30-40 tahunan, tapi ditemuinya saat di Eropa kemarin. Belum pernah bertemu langsung dengan Olivia.

Dan aku merasa... cemburu?

Laki-laki itu terhenyak.

Aku jadi baper??? Astaga...

Sebuah rasa yang benar-benar membuatnya frustrasi.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

2 comments:

  1. Lek Livi kedisikan disaut Allen ya kapok a pa Luken.
    Lo ya aq lak male melok emosi qiqiqiqiqiq
    Sangking pintere authore.

    ReplyDelete