Thursday, August 3, 2017

[Cerbung] Infinity #12


Dua Belas


Keesokan harinya, pagi buta, Olivia membantu Arlena menyiapkan sarapan. Sebetulnya, tujuan utamanya bukan itu. Ada maksud lain. Hanya saja ia dilanda keraguan besar untuk menyampaikannya pada Arlena. Tapi waktu terus bergulir. Maka ia memberanikan diri untuk bicara, sambil menyiapkan peralatan makan dan piring saji.

“Mm... Ma...”

“Ya?” Arlena menoleh sekilas. Ia masih sibuk mengaduk ayam suwir di penggorengan.

“Mm... Semalam Allen meneleponku,” sejenak Olivia mengangkat wajahnya. “Dia baru pulang dari Manado. Nanti sore mau jemput aku di kantor. Setelah itu... boleh kuajak ke sini?”

Arlena terdiam sejenak. Berpikir. Sejurus kemudian ia mengambil keputusan.

“Kalau Mama, sih, oke saja. Seperti Mama selama ini menerima teman-teman kalian main ke sini. Mau dimasakkan apa?”

Olivia mengembuskan napas lega. Ia tersenyum sedikit.

“Dia suka rawon.”

Arlena ternganga.

* * *

Setelah menutup pintu mobil dan menekan tombol alarm, Luken berbalik dan hendak melangkah masuk ke kantor. Tapi gerakan itu terhenti. Ia melihat Olivia keluar dari pintu belakang city car ayahnya. Dan ia memutuskan untuk menunggu gadis itu di tepi teras lobi.

“Selamat pagi, Pak,” ucap Olivia sambil mengangguk hormat begitu kakinya menjejak teras lobi.

Gadis itu tampak begitu cantik dalam balutan gaun batik merah hati. Modelnya sederhana saja dengan panjang selutut dan berlengan pendek, tapi membungkus tubuh semampainya dengan sangat elegan. Penampilan itu dipercantik dengan seuntai kalung mutiara yang sangat artistik. Tampak seperangkat dengan anting dan gelang yang melingkar di tangan kanan. Cantik, tapi tetap elegan dan tidak menyolok. Rias wajahnya pun kembali terlihat lebih berwarna.

“Pagi, Liv,” senyum Luken sambil melangkah lagi. “Tumben nebeng?”

“Iya, Pak, sengaja nggak bawa mobil. Nanti dijemput,” jawab gadis itu.

Luken sungguh-sungguh menyukai dan menghargai kedekatan Olivia dengan Prima. Seorang ayah seperti Prima memang benar-benar hebat di matanya. Pantas bila berhasil memenangkan sedemikian besar cinta dari anak-anaknya, terutama yang perempuan. Karena sepertinya laki-laki itu pun memiliki cinta yang luasnya tak terbatas. Tak terhingga.

Bahkan kelihatannya enteng sekali memaafkan istri yang sudah melenceng jauh seperti itu.

Luken menggeleng samar ketika menyadari bahwa pikirannya mulai melantur. Mereka sudah sampai di lantai atas. Olivia menyapa Sandra dengan nada sangat manis. Sejenak Sandra dan Luken bertukar tatapan. Sandra menemukan senyum samar dalam wajah Luken.

Seperti biasa, laki-laki itu duduk di depan Sandra, yang mejanya lebih dekat dari tangga. Sementara Olivia sibuk menyiapkan segala piranti kerjanya.

“Senin besok mungkin aku datang agak siang, Bu,” ucap Luken dengan suara rendah. “Bubaran kerja nanti aku mau langsung ke Purwakarta.”

“Ada acara, Pak?” Sandra mengalihkan tatapan dari layar laptopnya.

“Enggak...,” Luken menggeleng. “Cuma lagi ingin pulang saja. Sekalian Om James ingin ketemu Mama dan Papa.”

“Oh... Titip salam buat Bu Lyra dan Pak Yus, ya, Pak.”

“Ya, Bu, nanti aku sampaikan.”

Sekejap Sandra melirik ke samping kiri, kemudian secara tersamar mengacungkan jempol. Luken tersenyum simpul. Dan senyum itu melebar ketika berhasil menangkap gerakan bibir Sandra.

“Cantik banget,” ucap Sandra, tanpa suara.

Laki-laki itu kemudian berdiri sambil menenteng tas laptop. Melangkah masuk ke ruang kerjanya.

* * *

Tapi perkiraannya salah. Sungguh salah!

Ketika ia keluar dari ruangannya pada pukul empat, Olivia sudah membersihkan mejanya, sama seperti Sandra. Melihat laki-laki itu keluar, Sandra segera berpamitan. Olivia pun menatapnya.

“Bapak masih butuh sesuatu?” tanyanya sambil berdiri.

“Enggak, Liv,” Luken menggeleng. “Aku mau pulang. Langsung ke Purwakarta. Maaf, ya, nggak bisa temani kamu tunggu jemputan.”

“Oh, saya juga sudah mau pulang, kok, Pak,” senyum Olivia sambil meraih hobo bag dan tas laptopnya.

Keduanya kemudian turun bersamaan.

“Pak Prima pulang cepat?” Luken menoleh sekilas.

“Enggak, Pak,” geleng Olivia. “Saya dijemput teman.”

“Oh...”

Seketika, entah kenapa, radar di kepala Luken langsung berbunyi.

Teman?

Dan pertanyaan itu terjawab ketika Luken sudah masuk ke mobilnya setelah ia dan Olivia berpisah di teras lobi. Dari tempatnya duduk di dalam SUV, dengan jelas ia melihat seorang laki-laki menyambut Olivia dan membimbing gadis itu masuk ke dalam sebuah mobil crossover berwarna biru metalik. Ketika laki-laki itu melangkah memutari setengah mobil untuk masuk di sisi kemudi, Luken lebih jelas lagi melihat sosoknya. Tiba-tiba saja ia teringat ucapan penuh canda Oyas kemarin.

“Hati-hati, lho, Liv. Kalau bibitnya bule, bisa lebih gede lagi bayi lu.”

Mendadak saja perutnya terasa mulas.

Dia tidak dijemput Pak Prima, tapi laki-laki itu. Orang asing. Bule.

* * *

Bibir Allen tak hentinya mengukir senyum. Ia senang sekali menjumpai Olivia sangat cantik sore ini. Sudah bekerja seharian, tapi pesona itu tak sedikit pun luntur dari wajah gadis itu. Apalagi ia melihat bahwa Olivia mengenakan seperangkat perhiasan mutiara, cenderamata yang ia bawa dari Lombok. Terlihat sangat pas dengan gaun batik yang dikenakan.

“Allen, kamu benar-benar tidak keberatan kuajak ke rumahku?” celetuk Olivia, terdengar ragu-ragu.

“Tentu saja tidak!” jawaban laki-laki itu terdengar begitu penuh semangat. “Aku sudah lama sekali kehilangan suasana keluarga, Liv. Sejak aku bertualang begitu jauh dari rumah. Kadang-kadang aku membayangkan sebegitu kesepiannya Daddy. Walaupun dia berusaha selalu menyibukkan diri.”

“Maaf, Al, Mr. Byrne apakah tidak mau menikah lagi?”

Allen menggeleng. “Seluruh cintanya sudah habis untuk Mom dan kami, anak-anaknya.”

Sebersit keharuan muncul dalam benak Olivia. Entah kenapa, tiba-tiba saja bayangan Luken menyelinap masuk. Sudah sembilan tahun menduda, tapi masih tetap mempertahankan kesendiriannya.

Sepertinya cinta Pak Luken juga sudah habis untuk mendiang istrinya...

Pikiran itu entah kenapa membuatnya merasa sedih.

“Liv, kita harus ambil jalur yang mana sesudah lampu merah di depan?”

Suara berat Allen membuyarkan lamunan Olivia.

“Lurus saja, Pak,” jawabnya cepat.

“Pak?” Allen menoleh sekilas, mengumandangkan tawanya.

Seketika Olivia tersadar. Tersipu.

“Aku terlalu sering keluar berdua dengan boss-ku,” gerutunya kemudian.

Allen tersenyum lebar. “Kamu mengingatkanku pada Cassie, Liv.”

“Cassie?” Olivia menoleh cepat.

“Cassandra, adik bungsuku,” jawab Allen, tanpa kehilangan senyumnya. “Menikah tidak membuatnya kehilangan keceriaan seorang anak-anak. Apalagi dia sehari-harinya bergaul dengan anak-anak. Dia kesayangan Daddy.”

Seketika Olivia memahaminya. Seorang ayah dan anak perempuannya. Hubungan paling indah yang pernah ia lihat, alami, dan rasakan sendiri.

“Dan kamu harus tahu, suaminya mirip sekali dengan Daddy.”

“Oh, ya?” ada antusiasme yang cukup kental dalam suara Olivia.

“Ya,” angguk Allen. “Baik fisik maupun sifatnya.”

“Wow!”

“Dan aku bisa melihat bahwa ayahmu adalah cinta pertamamu, Liv. Seorang ayah yang baik hampir selalu jadi cinta pertama anak-anak perempuannya. Maka tidak heran bila nanti kamu mencari suami yang seperti ayahmu.”

Olivia kehilangan kata.

* * *

Seusai mampir makan, James meminta kunci mobil Luken. Dengan jelas dilihatnya Luken sering kehilangan fokus setelah menjemputnya di hotel tadi. Tanpa banyak mengelak, Luken pun menyerahkan kunci mobilnya. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Purwakarta dengan James berada di balik kemudi.

“Aku kadang-kadang berpikir bahwa Coffee Storage itu menyimpan kutukan sendiri bagi kita, Om,” celetuk Luken tiba-tiba.

“Hah?” James menoleh sekilas. “Kamu ini ngelindur apa bagaimana?”

“Kisah boss dan sekretaris terulang lagi,” desah Luken. “Kayaknya aku juga gagal.”

“Sudah pasti?”

“Ya, belum, sih...”

“Kamu ini laki-laki, kok, kayak terong direbus,” nada suara James terdengar begitu penuh celaan. “Mbok yao yang tegak, tegar.”

“Kehilangan itu sudah pasti rasanya sangat menyakitkan, Om,” gumam Luken. “Aku nggak akan kehilangan kalau nggak merasa pernah mendapatkannya.”

James terdiam. Sejak Luken kehilangan Irene, belum pernah ia mendengar suara Luken seputus asa ini. Walaupun ia tahu sebesar apa cinta Luken pada Irene. Ternyata semua yang terjadi pada Luken jauh lebih menyakitkan daripada yang ia tahu.

“Memangnya dia sudah ada yang punya?” tanyanya kemudian.

“Sepertinya sudah,” suara Luken terdengar patah. “Dia tadi dijemput laki-laki itu. Dan dia sengaja berdandan cantik hari ini.”

“Hm... Sudah pasti dia punya hubungan istimewa dengan laki-laki itu?”

“Aku nggak tahu,” Luken menggeleng lemah. “Tapi selama dua tahun jadi sekretarisku, Olivia hanya pernah berpacaran dengan laki-laki kucrut bernama Miko. Itu pun dia datar-datar saja, tidak seperti belakangan ini. Lain, Om.”

“Hm...”

Kabin mobil itu seketika diliputi keheningan. Luken menguap dan menggeliat. Entah kenapa tubuhnya terasa penat sekali saat ini. James menoleh sekilas.

“Kamu kalau mau tidur, tidur saja, Luk. Aku nggak akan kesasar, kok.”

Luken tertawa ringan. Tapi ia sudah tak punya daya lagi untuk membantah ucapan pamannya. Maka ia merebahkan sedikit sandaran jok agar ia bisa memejamkan mata dengan lebih nyaman.

* * *

Setelah memarkir mobilnya di belakang mobil Olivia di carport, Allen membuka pintu bagasi dan mengeluarkan sebuah kotak seukuran dua kali dos mie instan dan sebuah tas kertas dari dalamnya. Olivia menunggunya dengan sabar sambil tetap menyandang hobo bag dan menenteng tas laptop.

What’s that?” gadis itu mengerutkan keningnya.

“Oleh-oleh buat kalian,” senyum Allen. Mata abu-abu kehijauannya terlihat berbinar-binar. “Dan ini untukmu,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah tas kertas ke tangan Olivia.

“Oh, Allen...,” wajah Olivia terlihat menyerah. “Thank you so much.”

You’re welcome,” senyumnya tetap tidak ketinggalan.

Oliva kemudian mengajak laki-laki itu masuk lewat garasi. Motor Maxi ada. Begitu juga mobil Arlena. Sisi sebelah kanan masih kosong.

“Papa belum pulang,” gumamnya, menoleh sekilas pada Allen yang berjalan di sebelahnya.

Di ruang tengah, Carmela tengah duduk sendirian sambil menonton televisi. Wajah setengah mengantuknya jadi lebih cerah ketika melihat Olivia pulang.

“Mas Maxi mana, Mel?” gadis itu mengecup puncak kepala adik bungsunya.

“Ada, lagi mandi. Baru saja pulang.”

“Eh, kenalin. Itu Allen, teman Mbak Liv.” Olivia berbalik, “Allen, this is Carmela, my sister. The youngest.

Allen segera menyalami Carmela dengan hangat setelah meletakkan barang bawaannya di coffee table.

Hi, Carmela,” senyum Allen.

Hi! Nice to meet you,” ucap Carmela manis.

Nice to meet you, too,” suara Allen terdengar antusias. “You’re so sweet.”

Just like me!” sahut Olivia. Jahil.

Allen tertawa lebar.

Setelah membuat minuman, Olivia kemudian berpamitan untuk mandi. Carmela dengan senang hati menemani bule ganteng itu. Dengan bahasa Inggris yang cukup lancar, ia meladeni Allen. Sejenak kemudian keduanya sudah tertawa-tawa karena berbagi cerita-cerita kocak.

Laki-laki itu tidak menolak ketika Carmela menyodorkan satu stoples besar keripik singkong asin-manis buatan Minarti. Dan laki-laki itu kemudian seolah tidak bisa berhenti mengunyah.

“Oh, ini enak sekali!” gumamnya sambil mengambil keripik itu segenggam lagi.

“Mau yang pedas?” tawar Olivia iseng. Diraihnya stoples yang lain. “Tapi jangan banyak-banyak, nanti sakit perut.”

Setelah mencicipi sedikit dan langsung meneguk es teh lemonnya, Allen kembali pada keripik yang asin-manis.

“Enak,” komentarnya. “Tapi agak terlalu pedas untukku.”

Carmela tertawa melihatnya. Tak berapa lama Maxi muncul dari lantai atas dengan wajah segar. Carmela kemudian memperkenalkan keduanya. Segera saja ketiganya terlibat obrolan yang asyik.

Dibantu Carmela, Maxi membuka dos yang disodorkan lagi oleh Allen. Isinya berbungkus-bungkus makanan khas Manado seperti kacang goyang, halua kenari, dodol Amurang, abon cakalang, cakalang fufu (asap) dan rica (sambal) roa dalam kemasan botol. Wajah keduanya tampak girang. Carmela segera mengambil dua stoples kecil dan sebuah piring untuk tempat kacang goyang, halua kenari, dan dodol Amurang. Olivia muncul bersamaan dengan terdengarnya derum halus mobil Prima memasuki garasi.

Beberapa menit kemudian Prima dan Arlena muncul. Keduanya menyambut Allen dengan hangat. Tak lupa Prima memberikan masing-masing sebuah kecupan di kening Carmela dan Olivia sebelum naik ke kamar untuk menyegarkan diri. Arlena mengucapkan terima kasih berkali-kali atas semua oleh-oleh itu.

Pada satu detik, Allen menatap Olivia. “Suka kainnya?”

Olivia langsung mengangguk. Sesampai di kamar, ia tadi sempat membuka oleh-oleh khusus untuknya. Ada tiga potong kain tenun Bentenan khas Minahasa yang berbentuk seperti sarung. Ia sempat ternganga melihat keindahan kain-kain itu. Betapa masih banyaknya hasil budaya bangsa sendiri yang ia belum kenal!

“Indah sekali kain-kain itu, Allen,” desahnya. “Terima kasih.”

Ketika Prima muncul kembali seusai mandi, Arlena, Olivia, dan Carmela beriringan untuk menyiapkan makan malam mereka. Tinggal menggoreng tempe yang sudah dibumbui Muntik dan disimpan di kulkas, menyiapkan tauge pendek bersih yang juga ada di kulkas, membelah telur asin, dan memanaskan kuah rawon. Dengan dibantu Carmela, Olivia menyiapkan perangkat makan terbuat dari keramik yang biasanya mereka pakai untuk menjamu tamu. Siang tadi Arlena juga menyuruh Muntik untuk membuat kolak pisang, ubi, dan kolang-kaling yang kini sudah aman berada di dalam kulkas.

Tepat pukul tujuh, Arlena menggiring tamu mereka menuju ke ruang makan. Setelah duduk di sebelah Olivia, sejenak Allen terkesima dengan kehangatan keluarga itu. Apalagi ketika melihat Indonesian beef black soup yang sangat disukainya. Lengkap dengan tauge pendek segar dalam mangkuk terpisah, tempe goreng yang masih hangat, telur asin, sambal, dan kerupuk udang.

Sup yang sungguh-sungguh eksotis!

“Ini jauh lebih enak daripada yang di sebelah kantormu itu, Liv!” seru Allen spontan setelah memasukkan sesendok nasi rawon ke dalam mulutnya. “Yang itu saja rasanya sudah enak, apalagi ini.”

“Syukurlah kalau kamu suka,” Olivia meringis untuk menutupi hasratnya menenggelamkan diri dalam samudera mata Allen.

“Anda memasak sendiri, Bu Arlena?” Allen bertanya dengan nada antusias.

Arlena terlihat sedikit tersipu. “Aku tidak terlalu bisa memasak, Allen. Ini semua yang menyiapkan adalah asisten rumah tangga kami.”

“Oh...,” Allen manggut-manggut. “Saya suka sambalnya. Tidak terlalu pedas. Jujur, saya ngeri melihat Mela mengambil sambal sesendok besar.”

Semuanya tertawa mendengar ucapan polos Allen. Arlena memang sudah wanti-wanti pada Muntik agar sambal yang dibuatnya tidak terlalu nendang seperti biasanya.

Makan malam itu berlangsung sangat menyenangkan bagi mereka, terutama bagi Allen. Laki-laki itu tak segan menambah lagi makannya sebanyak setengah porsi. Dan ia masih menemukan kejutan lain dalam bentuk dessert dingin manis dengan rasa dan aroma unik. Dengan sabar Olivia menjelaskan tentang apa saja yang terkandung dalam semangkuk kecil kolak itu.

“Suka nasi goreng, Allen?” celetuk Prima tiba-tiba.

“Ya,” angguk Allen. “Saya suka sekali.”

“Dia ahli membuat nasi goreng,” tatapan Prima jatuh pada Olivia.

Gadis itu seketika tersipu.

“Datanglah besok pagi ke sini agar bisa merasakan nasi goreng buatannya,” senyum Prima.

Seketika Olivia dan Allen bertukar tatapan. Allen kemudian kembali menatap Prima.

“Pak Prima, saya memang besok akan datang ke sini,” ucapnya dengan nada sangat sopan. “Agak siang, karena saya hendak mengajak Livi menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor saya.”

“Oh...,” Prima manggut-manggut. “Tinggal bilang saja padanya kalau ingin nasi goreng.”

Allen tersenyum lebar. Mengangguk dengan wajah berseri-seri. Dan Arlena terpaksa mengakui, bahwa bagian yang terindah dari wajah Allen adalah mata abu-abu kehijauan yang bersinar-sinar penuh semangat.

Pantas kalau Livi tertarik padanya.

Ia mengangguk samar.

Pantas sekali!

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

Thanks to Heiz R.



3 comments:

  1. You're welcome nyah

    ReplyDelete
  2. allen lek dibayangno kok koyok matt bomer yah... tapi sayang jeruk maem jeruk dianya. suwun mbak, dino iki pas prei, isine akeh. tuwuk lek moco.... seneeeennnn, lha kok touiine (baca: towine alias kadohan pol)

    ReplyDelete